Pria Dingin Itu Adalah Suami Ku

Pria Dingin Itu Adalah Suami Ku
Part 245


__ADS_3

Sisi terdiam sejenak. Kin mendekati Sisi.


"Tatap mata saya Sisi, saya tidak bergurau atau hanya mempermainkan kamu, saya benar-benar sangat serius." ucap Kin.


Sisi menatap mata Kin. "Apa saya kurang serius?" ucap Kin. Sisi menghela nafas panjang. "Baiklah aku akan menerima Tuan, tapi Tuan harus menjaga hubungan kita ini terlebih dahulu." ucap Sisi.


Kin menatap Sisi sambil tersenyum dan mengangguk. Kin tiba-tiba menarik Sisi ke tempat tidur.


"Tuan! apa yang Tuan lakukan?" ucap Sisi. Kin hanya tertawa, sekarang dia berada di atas Sisi.


Kin mencium bibir Sisi dengan singkat.


"Apakah saya boleh tidur dengan kamu malam ini?" tanya kin.


"Sebaiknya jangan Tuan." ucap Sisi.


"Apa salah nya? Bukan kah sekarang kita sudah menjadi kekasih?" tanya Kin.


"Iyah sih." ucap Sisi.


"Lalu kenapa kamu masih memanggil ku dengan sebutan Tuan?" ucap Kin. "Aku harus manggil apa? Dari kecil aku sudah terbiasa dengan panggil itu." ucap Sisi.


"Sayang.. Kamu harus memanggil sayang." ucap Kin. Sisi Menggeleng kan kepala nya. "Tidak bisa tuan." ucap Sisi.


"Kalau kamu tidak mau itu artinya kamu mau hukuman dari ku." ucap Kin mau mencium bibir Sisi namun sisi dengan cepat menahan nya.


"Baiklah sa-sayang." ucap Sisi. Kin tersenyum. "Kamu lucu sekali." ucap Kin. Dia mencium bibir Sisi dengan cepat.


Kin berbaring di samping Sisi. "Tuan tidak bisa tidur di sini malam ini." ucap Sisi.


"Ingat yah kalau sekali lagi kamu memanggil dengan sebutan tuan saya akan menghukum kamu!" ucap Kin.


"Tuan jauh lebih Tua dari saya, kalau saya bilang "Kamu" itu tidak lah Sopan." ucap Sisi.


"Panggil aku dengan sebutan kakak ." ucap Kin.


"Kakak?" ucap Sisi. Kin menganguk.


"Apa yang salah?" ucap Kin.


Sisi menggeleng kan kepala nya.


"Kalau begitu kakak tidak bisa tidur di sini malam ini." ucap Sisi. "Lalu di mana aku akan tidur?" ucap Kin.


"Terserah kakak saja, aku tidak ingin Kakak di sini." ucap Sisi. "Apa kamu takut saya akan aneh-aneh?" tanya Kin.


"Pria seperti Kakak tidak bisa di percaya." ucap Sisi. Kin tertawa kecil.

__ADS_1


"Saya akan tidur di sini dan saya janji tidak akan menganggu tidur kamu." ucap Kin. Sisi menggeleng kan kepala nya.


"Tidak bisa." ucap Sisi mendorong Kin namun Kin menarik yang Sisi sehingga mereka berdua jatuh ke lantai bersamaan, sisi berada di atas kin sekarang.


"Ijinkan aku tidur di sini malam ini di sini sayang." ucap Kin. Sisi menatap mata kin.


"Ya sudah kalau begitu." ucap Sisi. Kin tersenyum. Sisi mau berdiri namun di tahan oleh Kin.


"Kamu mau kemana, berikan saya ciuman dulu." ucap Kin. Sisi menggeleng kan kepala nya. Kin tetap memaksa.


Namun tiba-tiba Ada yang mengetuk pintu. Sisi langsung panik dan berdiri. Dia menarik Kin memasukkan nya ke dalam kamar mandi.


"Sisi!!" panggil Ibu nya.


"Iyah Bu. Bentar." ucap Sisi.


"kakak jangan keluar, kakak tidak boleh bersuara." ucap Sisi.


setelah itu dia keluar membuka pintu kamar untuk Ibu nya.


"Iyah Bu, kenapa? Apa ibu belum tidur?" tanya Sisi.


"Ibu mimpi buruk. Ibu tidur di sini yah malam ini." ucap ibu nya dan langsung naik ke kasur.


"Hmm bantal ini kenapa bau Tuan Kin? Apa kamu memakai parfum yang sama seperti Tuan Kin?" ucap Ibu nya.


"Huff akhirnya ibu tidur juga." ucap Sisi setelah memastikan Ibu nya tidur. dia membuka pintu kamar mandi.


"Kakak harus segera keluar," ucap Sisi.


"Berikan saya ciuman." ucap Kin. Sisi melihat ke Ibu nya dulu dan langsung mencium bibir Kin, namun Kin menahan dan ******* bibir Sisi.


Sisi membalas nya sebentar namun langsung melepaskan nya karena ibu nya berbicara tiba-tiba.


Melihat wajah Sisi yang panik membuat Kin tertawa kecil. Sisi di ledek membuat nya Kesal.


Dia langsung mendorong keluar. Setelah kin berhasil keluar Sisi Menghela nafas panjang dan langsung tidur di samping Ibu nya.


Kin masuk ke kamar nya dia Senyum-senyum sendiri dan langsung berbaring.


"Untuk kedua kalinya aku jatuh cinta kepada wanita. Ini rasanya sangat indah sekali." ucap Mile. Dia melihat baju anak nya yang masih ada di tempat tidur.


"Papah Rindu nak, apa kamu sudah tidur sekarang? papah yakin kamu pasti bergadang." ucap Kin. Dia mau Menelpon Tiara namun takut suami nya salah paham akhirnya dia memilih untuk menahan rasa rindu.


Padahal di tempat lain Mile berusaha menahan kantuk nya karena Tian belum tidur.


Sementara Tiara sudah tidur. "Ini sudah jam sebelas malam nak, kenapa kamu belum tidur?" ucap Mile.

__ADS_1


Mile melihat Handphone nya berbunyi ada pesan masuk. Dia membuka dan ternyata itu adalah Mina.


Mile Membawa Anak dan juga Handphone nya keluar.


"Loh kamu belum tidur?" tanya Bu Vina. Mile melihat mamah nya.


"Belum mah, Tian belum mau tidur. Aku membawa nya keluar takut mengganggu Tiara yang lagi tidur di dalam." ucap Mile.


"Oohhh ya udah sini mamah gendong Siapa tau dia bisa tidur." ucap Bu Vina.


"Mamah yakin?" ucap Mile, Bu Vina menganguk.


Tian di gendong oleh Bu Vina.


"Cucu Nenek." ucap Bu Vina. Tian di bawa ke kamar yang ada pak Daniel.


"Lihat deh Pah." ucap Bu Vina. Pak Daniel melihat Tian membuat nya tersenyum.


"Ya ampun badan nya padat sekali mah." ucap pak Daniel membawa ke Gendongan nya.


Bu Vina tersenyum.


Sementara Mile berjalan ke balkon membalas pesan dari Mina.


"Kamu kenapa Di sini sendirian sayang? Tian mana?" tanya Tiara pada Mile. Mile terkejut dia langsung memasukkan Handphone ke kantong nya.


"Tian lagi sama mamah dan papah di kamar nya." ucap Mile.


"Oohh, kamu istirahat saja." ucap Tiara.


"Kamu yang seharusnya istirahat sayang, kamu pasti sangat kelelahan." ucap Tiara.


Mile menganguk. "Ya udah kalau begitu ayo ambil Tian, mungkin dia sudah tidur, tidak enak juga mengganggu Mamah dan papah." ucap Tiara. Mile mengangguk.


Mile mengangguk. Dan benar saja Tian sudah tidur bersama nenek dan kakek nya begitu pulas, namun harus di bawa oleh Tiara karena nanti dia pasti bangun mau minum.


Keesokan harinya...


Tiara bangun karena mendengar suara Mile yang mengajak Tian main.


"Kamu sudah bangun?" ucap Tiara. Mile tersenyum.


"Kamu pasti kurang tidur yah karena Tian?" ucap Tiara. Mile tersenyum.


"Gak apa-apa sayang, ini sudah tugas ku sebagai seorang ayah." ucap Mile. Tiara tersenyum.


"Kamu lanjut tidur aja." ucap Mile, Tiara Menggeleng kan kepala nya.

__ADS_1


__ADS_2