
"Jawab aku dulu. Bagaimana kamu bisa di sini?" tanya Alisa, Rafi membuka mata nya dia menatap wajah Alisa.
"Saya sama sekali tidak bisa tidur tadi malam, saya meminta resepsionis membuka pintu ini untuk ku." ucap Rafi.
Alisa Menghela nafas panjang. "Huff kamu sungguh pria Aneh." ucap Alisa.
Alisa mau beranjak dari kasur namun Rafi menahan nya. "Kamu mau kemana?" tanya Rafi. "Aku mau ke kamar mandi." jawab Alisa.
Rafi bangun. "Kalau kamu masih ngantuk tidur saja." ucap Alisa. Rafi Menggelengkan kepala nya.
Alisa masuk ke kamar mandi meninggalkan Rafi yang masih setengah sadar.
Tidak beberapa lama dia keluar dari kamar mandi dia melihat Rafi duduk di sofa.
"Hari ini kamu tidak kerja?" tanya Alisa sambil duduk di depan cermin. "Saya tidak ada jadwal yang penting hari ini." jawab Rafi.
"Bagaimana kalau Ayah kamu tau?" tanya Alisa lagi.
Rafi diam. "Oh iya aku lupa hari ini kamu pasti punya janji kan untuk ke rumah calon mertua kamu?" tanya Alisa.
Rafi Menghela nafas panjang, aku baru saja melupakan nya, kenapa kamu harus mengingat itu?" ucap Rafi. Alisa terdiam.
Rafi memerhatikan Alisa.
"Kamu yang Sabar yah sama aku. Aku pasti akan memperjuangkan kamu." ucap Rafi memeluk Alisa dari belakang.
"Oh iya hari ini kamu gak kerja?" tanya Rafi. Alisa Menggeleng kan kepala nya.
"Aku hanya mengantar kan surat pengunduran diri siang nanti." ucap Alisa.
"Pengunduran diri? Kenapa? apa kamu akan segera keluar dari kantor Mile?" tanya Rafi. "Aku sudah memutuskan untuk kembali bekerja di perusahaan Papah, mereka juga tidak mempunyai teman di rumah." ucap Alisa.
Tiba-tiba Rafi melepaskan pelukannya.
"Maksud kamu apa?" tanya Rafi. Alisa menatap Rafi.
"Aku pulang ke rumah orang tua ku." ucap Alisa lagi. "Kalau kamu pergi, lantas aku Bagaimana? Kamu tidak memikirkan aku?" tanya Rafi.
Alisa Menghela nafas panjang. "Aku hanya butuh untuk menenangkan diri terlebih dahulu." ucap Alisa.
__ADS_1
Rafi Menggeleng kan kepala nya.
"Ini gak mungkin, aku tidak mau kamu pergi, pokoknya aku gak mau kamu pergi." ucap Rafi.
"Aku tidak bisa hidup jauh dari kamu." ucap Rafi.
"Aku harus pergi. Kamu selesaikan dulu masalah kamu dengan Enjel setelah itu aku akan kembali." Ucap Tiara.
"Kamu bercanda kan sayang? Aku bisa gila Kalau kamu gak ada di sini." ucap Rafi. "Aku gak bercanda." ucap Alisa lagi.
"Kamu melakukan ini untuk menghindari aku? Meninggal aku di sini sendirian? Kita baru saja jadian." ucap Rafi.
"Aku sayang banget sama kamu, jangan tinggalkan aku di sini." ucap Rafi. "Aku akan berbicara dan memohon ke pada orang tua kamu." ucap Rafi.
"No.. No.. No, jangan lakukan itu. Aku tidak mau melibatkan orang tua ku di keadaan seperti ini." ucap Alisa.
"Kamu harus tinggal di sini, saya yang akan membayar semua kebutuhan kamu, menanggung kehidupan kamu." ucap Rafi memohon.
Alisa tersenyum. "kenapa kamu tersenyum? Saya serius." ucap Rafi. "Kamu seperti anak kecil kalau nangis seperti ini, ayo bangun.." ucap Alisa karena Rafi bersiku lutut di lantai.
Alisa memeluk Rafi. "Aku mohon jangan pergi." ucap Rafi.
Rafi menatap wajah Alisa. "Kamu serius Alisa." ucap Rafi. "Aku sangat serius, mana mungkin pacar ku yang ganteng seperti ini aku tinggal kan. Bisa-bisa dia merengek-rengek tidak henti." ucap Alisa.
"Kamu serius kan Alisa? Kamu tidak akan pergi kan?" tanya Rafi.
"Serius dong, aku tidak akan meninggalkan kamu. Aku akan menunda Niat ku untuk pergi dengan orang tua ku" ucap Alisa. Rafi tidak bisa menahan lagi dia langsung mencium bibir Alisa.
Di rumah Mile.
"Pagi Bik Ja." ucap Tiara yang baru saja turun dari atas. "Pagi juga Bumil." jawab Bibik Ja sambil tersenyum.
"Mile sudah berangkat kerja ya Bik?" tanya Tiara. "Sudah non dari pagi tadi." ucap Bibik Ja.
"Aku bangun siang karena merasa sangat lelah sekali." ucap Tiara.
"Nok Tiara duduk di sini dulu. Ini ada beberapa makanan yang harus non Makan dan juga Susu." ucap Bibik Ja.
"Loh ini semua dari mana?" tanya Tiara.
__ADS_1
"Ini adalah saran dari dokter untuk non Tiara makan agar sehat, harus habis." ucap Bibik Ja.
Tiara menghela nafas panjang. Tidak ada pilihan dia harus menghabiskan itu semua.
"Oh iya ini ada jadwal olahraga dari dokter untuk non Tiara." ucap Bibik Ja memberikan satu lembar kertas.
"Ya ampun, ini kenapa sangat padat sekali." ucap Tiara. "Kata nya sih ini perintah dari Tuan Daniel.. Kalau tidak di turuti dia akan marah." ucap Bibik Ja.
"Tapi Bibik tau sendiri kalau saya tidak bisa makan banyak, apalagi nasi dan juga makanan ini sangat asing gak enak. Dan tentang olahraga aku pasti sangat kelelahan bik, bergerak sedikit saja aku sudah seperti maraton mengelilingi kompleks ini." ucap Tiara.
"Humm kalau Soal makanan masih bisa saya bantu non, tapi kalau olahraga ada yang mengawasi, utusan dari tuan langsung." ucap Bibik Ja.
Tiara Menghela nafas panjang. "Huff mereka hanya sayang kepada janin yang di kandungan ku Tampa memikirkan aku." ucap Tiara.
"Tapi menurut saya ini untuk kesehatan non juga, tidak ada salah nya jika mencoba dulu non." ucap Bibik Ja.
"Baiklah bik, aku juga tidak ada pilihan lain. Wajar saja mereka seperti itu." ucap Tiara. Bibik Ja tersenyum.
Ponsel nya tiba-tiba berdering telpon dari Ibu nya.
"Ibu? kenapa dia menelpon ku? Apa dia mau memarahi ku lagi?" batin Tiara.
"Di jawab saja non. Saya akan ke dapur dulu." ucap Bibik Ja.
"Iyah halo Bu." jawab Tiara.
"Kamu di mana? Apa kamu tau kakak kamu ada di mana?" tanya Bu Rosa.
"Aku di rumah Bu, mana mungkin aku tau kak Rafi di mana." ucap Tiara. "Keluarga Enjel sudah menunggu nya, Ibu menelpon nya tidak di jawab, kamu kabarin dia." ucap Bu Rosa.
Panggilan pun langsung mati. Tiara menghela nafas panjang.
Dia menelpon Rafi namun tidak di jawab, dia menelpon Enjel namun ternyata Enjel juga sedang menunggu Rafi.
Tiara akhirnya menelpon Alisa.
"Tapi lebih baik aku tidak perlu menelpon nya itu akan mengganggu mereka, aku sih yakin kalau kak Rafi dan Alisa sedang bersama." ucap Tiara.
Dia mengirim kan pesan kepada orang tua nya kalau kak Rafi ada kerjaan di luar, dia tidak bisa datang hari ini akhirnya dia pun memutuskan untuk mematikan telpon nya.
__ADS_1
"Kak Rafi tidak pernah mementingkan diri nya sendiri, untuk kali ini dia harus memikirkan perasaan nya." ucap Tiara.