Pria Dingin Itu Adalah Suami Ku

Pria Dingin Itu Adalah Suami Ku
Part 129


__ADS_3

"Mamah." ucap Alisa memeluk mamah nya yang terbaring di kasur. "Alisa... Mamah sangat merindukan kamu." ucap Mamah nya.


"Mamah kenapa bisa sakit? Mamah periksa ke dokter yah, agar Mamah cepat sembuh." ucap Alisa.


"Mamah tidak kenapa-kenapa, Mamah hanya merindukan kamu." ucap Mamah nya. Alisa merasa kan badan mamah nya yang cukup panas.


"Aku janji akan merawat mamah di rumah sakit. Pokoknya malam ini Mamah harus ke rumah sakit yah." ucap Alisa.


Karena sudah di bujuk begitu lama akhirnya Mamah nya pun pergi ke rumah sakit.


Ternyata sampai di sana dokter menyarankan untuk di rawat untuk malam itu dan besok pagi Agar keadaan nya cepat pulih.


Mamah nya sudah tidur beristirahat di dalam ruangan itu. Alisa keluar dari ruangan itu.


"Sekarang bapak sudah Percaya kan kalau orang tua ku sakit? Sekarang bapak bisa pulang." ucap Alisa.


"Kenapa kamu mengusir saya? saya tidak melakukan kesalahan-kesalahan apa pun." ucap Rafi.


Alisa Menghela nafas panjang.


"Aku akan tinggal di sini sampai Mamah ku sembuh." ucap Alisa. "Kamu bilang cuti hanya dua hari saja." ucap Rafi.


"Aku mungkin akan meminta tambahan cuti lagi ke kantor.' ucap Alisha.


Rafi terdiam sejenak. "Saya tidak akan pulang sendirian. Saya datang ke sini bersama kamu, pulang pun saya harus bersama kamu!" ucap Rafi.


"Tapi malam ini aku akan tidur di rumah sakit." ucap Alisa.


"Aku juga Akan menemani kamu di sini dan juga calon mertua ku." ucap Rafi tiba-tiba Alisa menutup mulut Rafi.


"Jangan berbicara dengan keras! Aku takut papah dan mamah mendengar nya." ucap Alisa kesal. "Kenapa kamu harus kesal seperti ini? bukan kah itu benar?" ucap Rafi.


"Siapa bilang? Kita pacaran hanya karena paksaan bapak saja. Aku sama sekali tidak mencintai bapak. Pria seperti bapak tidak pernah masuk ke tipe ku." ucap Alisa. Rafi langsung diam.


Tiba-tiba Papah nya keluar. Alisa berdiri jauh dari Rafi.


"Malam ini biar Papah yang jagain Mamah di rumah sakit, kamu sama teman kamu istirahat di rumah saja." ucap papah nya.


"Tapi Pah."


"Sudah jangan khawatir kan Mamah. Kan ada papah di sini, kamu pasti sangat lelah." ucap papah nya.


"Sebelum nya kita belum kenalan bukan?" ucap Papah nya pada Rafi. Rafi tersenyum dia menyalim tangan papah nya Alisa.

__ADS_1


"Nama Saya Rafi Om." ucap Rafi.


"Kamu bisa panggil saya Om Sean." ucap papah nya Alisa.


"Bawa teman kamu pulang Alisa." ucap Papah nya.


Alisa mengangguk mereka pun pulang dari rumah sakit.


Tidak beberapa lama akhirnya sampai di rumah.


"Aku tidak habis pikir sama pola pikir kamu. Kamu memiliki orang tua yang sangat kaya raya, kelihatan nya juga pasti memiliki usaha, namun kenapa kamu memilih untuk bekerja di perusahaan orang lain?" ucap Rafi.


Alisa diam.


"Oh iya nih kamar bapak." ucap Alisa.


"Kamar ku? Lalu kamar kamu di mana?" tanya Rafi.


"Ada di sebelah ini." ucap Alisa menunjuk Pintu kamar yang sebelah pintu kamar Rafi.


"Sebelum nya sudah ada perjanjian dari awal kalau kita tidak boleh pisah tempat tidur, aku tidak akan bisa tidur kalau tidak ada kamu di samping ku." ucap Rafi.


"Aku mohon mengerti pak, ini rumah orang tua ku." ucap Alisa. "Mereka tidak di sini. Jangan membuat alasan." ucap Rafi.


Rafi terdiam sejenak.


"Kalau bukan memikirkan kesehatan Tiara aku sudah mengadukan semua sifat bapak kepada ku. Aku juga sudah memberi tahu kepada keluarga Bapak." ucap Alisa.


"Kamu berbicara apa? saya melakukan ini karena saya sangat mencintai kamu. Kamu sangat berarti di hidup saya." ucap Rafi.


"Kejadian di awal kita bertemu itu hanya tidak sengaja, aku tidak berfikir semua nya seperti ini, kalau aku tau lebih baik aku tidak datang ke sana dengan Tiara." ucap Alisa.


Rafi diam. "Bapak tidak bisa memaksa kan seseorang untuk mencintai bapak. Kalau bapak mencintai aku itu adalah hak Bapak. Tapi jangan pernah mengganggu hidup ku." ucap Alisa.


Dia langsung masuk ke dalam kamar nya.


Rafi bersandar ke pintu kamar dan perlahan duduk di lantai.


"Kenapa kamu sangat tega Alisa? Kenapa?" ucap Rafi.


Di tempat lain Mile baru saja keluar dari ruangan kerja nya dia berjalan ke arah kamar nya. Dia masuk melihat Tiara ternyata belum tidur juga.


"Kamu kenapa belum tidur?" tanya Mile naik ke kasur.

__ADS_1


Tiara mematikan ponsel nya dia menoleh ke arah suami nya.


"Aku minta maaf soal mobil itu, aku benar-benar tidak sengaja." ucap Tiara. "Sudah lupakan saja, lagian saya juga minta maaf sudah berlebihan marah sama kamu." ucap Mile.


Tiara mendekati suami nya.


"Aku tidak mau kalau kamu marah sama aku, aku sangat takut sekali." ucap Tiara. Mile mengelus rambut istri nya.


"Saya hanya stres melihat Mobil itu, namun sekarang sudah bagus lagi." ucap Mile. Tiara tersenyum dia memeluk suaminya.


"Sudah ayo tidur, ini sudah larut malam." ucap Mile.


"Aku mendengar kalau hari Selasa kamu ada kerjaan di luar, apa itu benar?" tanya Tiara.


"Siapa yang bilang?" tanya Mile. "Vandi." ucap Tiara.


"Iyah. Namun hanya dua hari saja." ucap Mile. Tiara diam.


"Kamu tidak perlu khawatir. Setelah selesai saya pasti akan pulang cepat." ucap Mile.


"Kamu selalu bohong kalau mau pergi kemana pun. Kamu bilang hanya dua hari bisa jadi saja kamu di sana satu Minggu lebih." ucap Tiara.


Mile tersenyum dia memegang dagu istri nya.


"Kalau saya tidak pulang itu arti nya pekerjaan saya belum selesai. Pekerjaan saya tidak lah mudah. Kalau saya gagal semua musuh akan menyerang keluarga saya." ucap Mile..


"Sebenarnya apa yang kamu kerjakan di luar sana? Kenapa kamu seperti di benci oleh banyak orang?" tanya Tiara.


Mile tersenyum tipis.


"Kamu tidak perlu tau, Saya minta kamu hanya fokus menjaga kesehatan kamu, Anak kita." ucap Mile.


Tiara mengangguk. "Tapi kamu janji kan akan pulang Cepat?" tanya Tiara. Mile mengangguk.


"Selama saya di luar, kamu pulang ke rumah orang tua kamu dulu gak apa-apa kan?" tanya Mile.


"Aku hanya ingin main ke sana, kalau tinggal di sana seperti nya lebih baik jangan." ucap Tiara.


."Kenapa begitu? Selama kamu sudah menikah kamu tidak pernah tidur di sana lagi." ucap Mile.


"Karena mereka tidak menginginkan itu. Mereka tidak merindukan ku." ucap Tiara. Mile terdiam sejenak..


"Aku tidak mau membahas nya, lebih baik kita tidur." ucap Tiara.

__ADS_1


__ADS_2