
Bibik Ja tersenyum "Aku tidak sejahat itu." ucap Tiara. Mereka tertawa. "Humm seperti nya gembira sekali, ada apa ini?" tiba-tiba Bu Vina mendengar dan masuk ke dalam.
"Mamah di sini? kenapa Mamah gak bilang mau ke sini?" tanya Tiara. Bu Vina duduk di samping tempat tidur Tiara.
"Orang tua kamu mau ke sini, jadi mamah gak enak kalau mereka duluan sampai." ucap Bu Vina.
"Ibu dengan Ayah mau ke sini?" tanya Tiara. Bu Vina menganguk. "Kenapa mereka bisa tau aku di sini?" tanya Tiara.
"Papah yang mengabari mereka. Kamu juga pasti butuh orang tua kamu saat sedang sakit seperti ini." ucap Bu Vina. Tiara menghela nafas berat.
Bu Vina menoleh ke arah Mile yang hanya diam saja. "Ternyata kamu sangat perhatian juga yah sama istri." ucap Bu Vina. Mile hanya diam.
"Kamu sarapan gih sama Bibik. Biar Mamah yang nemenin Tiara di sini." ucap Bu Vina.
Mile menatap istrinya. Tiara mengijinkan suami nya pergi. Mile dengan Bibik pun keluar dari sana.
"Bik." panggil Mile. "Iyah Tuan." jawab Bibik.
"Menurut Bibik, istri nya Papah bagaimana pada Tiara?" tanya Mile. "Maksud Tuan bagaimana? Saya tidak mengerti." ucap Bibik Ja.
"Saya tidak pernah percaya pada wanita itu!" ucap Mile.
Bibik Ja tersenyum.
"Kalau di lihat-lihat Non Tiara lebih dekat dengan Ibu dari pada orang tua nya sendiri Tuan. Non Tiara juga bisa berbicara dengan santai dengan Ibu." ucap Bibik.
"Maksud saya, apa Bibik berfikir kalau ada rencana di Balik sifat nya yang seperti itu?" ucap Mile. Bibik Ja Menggeleng kan kepala nya.
"Kalau Soal itu saya tidak tau Tuan." jawab Bibik. Mile diam. "Walaupun dia baik pada Tiara. Tapi Bibik harus tetap mengawasi dia." ucap Mile.
"Baik Tuan." ucap Bibik. Mereka berjalan ke tempat makan.
"Bagaimana keadaan kamu sekarang nak?" tanya Bu Vina pada Tiara.
"Sudah lebih baik Mah, hanya pusing sedikit. Mual dan pegal-pegal." ucap Tiara. "Itu hal biasa. intinya kamu tidak boleh stress. Dokter bila fisik kamu cukup Lemah." ucap Bu Vina.
__ADS_1
"Iyah Mah." ucap Tiara. Bu Vina memegang tangan Tiara.
"Melihat kamu sekarang ini membuat mamah teringat beberapa tahun yang lalu saat mamah Masih mengandung Roy." ucap Bu Vina.
"Kenapa Mah? Apa sering sakit juga sama seperti aku?" tanya Tiara. Bu Vina menganguk.
"Dulu waktu Mamah mengandung sering sekali stres. Papah mertua kamu tidak ada di samping Mamah dia bekerja di luar negeri." ucap Bu Vina.
"Mamah selalu di teror oleh orang yang tidak mamah kenal, nyawa mamah selalu incaran semua orang yang bermusuhan dengan papah mertua kamu." ucap Bu Vina.
"Apa Mile saat itu ada dengan mamah!?" tanya Tiara. Bu Vina menggeleng kan kepala nya.
"Suami kamu tidak pernah mau tinggal dengan mamah. Dia sangat membenci Mamah." ucap Bu Vina.
"Kalau boleh tau, apa yang membuat Mile membenci mamah? Sementara Mamah sangat baik." ucap Tiara. "Mungkin menurut Mile Mamah adalah penghancur keluarga nya. Padahal Ibu nya sendiri yang memilih pria lain dan meninggalkan Papah nya." ucap Bu Vina.
Tiara terdiam sejenak. "Dan Sampai sekarang Mile tidak akan pernah mau berbicara dengan mamah, dia menganggap mamah tidak ada." ucap Bu Vina.
Kenapa tidak menjelaskan nya lebih awal kepada Mile kalau orang tua nya yang berselingkuh?" ucap Tiara.
"Mile sama seperti papah nya, cukup Keras kepala. Dia sama sekali tidak pernah percaya dengan kata orang lain." ucap Bu Vina.
"Bagaimana keadaan kamu sekarang? Kamu gak kenapa-napa kan? Bagaimana kandungan kamu?" tanya Bu Rosa.
Tiara Menghela nafas panjang, dia sama sekali tidak menunjukkan raut wajah bahagia walaupun orang tua nya sudah datang.
"Aku baik-baik saja Bu." ucap Tiara. "Alhamdulillah kalau begitu nak. Ibu dan Ayah sangat khawatir." ucap Bu Rosa.
"Tiara sudah semakin baik, mungkin hari ini dia sosok dia sudah boleh pulang ke rumah." ucap bu Vina.
"Maaf yah Bu sudah menyusahkan ibu jauh datang ke sini mengurus anak kamu." ucap Pak Yuda. "Saya melakukan nya dengan senang hati Pak." ucap Vina.
"Hufff Mile sama Bibik kok belum pulang sih, aku sangat malas Disini." ucap Tiara. Mendengar pembicaraan mereka membuat Tiara muak.
Namun tidak beberapa lama Bibik dan juga Mile datang.
__ADS_1
"Ibu dengan Ayah sudah datang?" Mile menyalim Tangan mereka.
Berbincang-bincang cukup lama di Sana membuat Tiara semakin pusing. Mile paham dengan raut wajah Tiara namun dia tidak bisa melakukan apapun.
Di rumah Alisa.
"Mamah lagi apa?" tanya Alisa yang baru saja bangun dan melihat Mamah nya sibuk di dapur.
"Baru bangun? lihat nih sudah jam berapa." ucap Mamah nya.
"lagian aku gak kerja lagi mah. Aku nanya Mamah lagi apa?" ucap Alisa lagi.
"Oohh ini buat kue. Papah kamu tiba-tiba minta kue buatan mamah. Sudah lama mamah gak bisa masak karena sering sakit." ucap Mamah nya.
"Aku bantuin yah Mah." ucap Alisa.
"Tidak perlu, ini sudah hampir selesai kok. Lebih baik kamu mengabari pria yang tidak berhenti memikirkan kamu sampai-sampai dia datang ke sini karena mencari kamu." ucap mamah nya..
"Maksud Mamah apa?" tanya Alisa.
"Apa lagi kalau bukan Rafi. Dia khawatir karena kamu tidak membalas pesan nya dan tidak aktif. Dia datang tadi malam." ucap pak Sean masuk ke dapur.
"Rafi datang ke sini?" ucap Alisa. Orang tua nya menganguk.
"Kenapa Mamah dan Papah gak bangunin aku?" tanya Alisa.
"Seperti nya kamu sangat kelelahan sekali itu sebabnya kami tidak membangun kan kamu." ucap Mamah nya.
"Huff dia pasti berfikir yang tidak-tidak." ucap Alisa. Orang tua nya hanya tersenyum saja.
"Oh iya kamu sama Rafi udah pacaran yah?" tanya Mamah nya. "Kok Mamah nanya seperti ini?" tanya Alisa.
"Mamah hanya ingin tau saja." ucap Mamahnya. "Jujur Saja, Mamah tidak Akan marah kalau kamu berpacaran sama pria seperti Rafi." ucap Mamah nya.
"Kalau malu tidak perlu di jawab. kami tau kok kalau anak satu-satunya Mamah sama papah sedang jatuh cinta." ucap Orang tua nya.
__ADS_1
Alisa tersenyum malu. "Papah dengar-dengar Rafi adalah salah satu pengusaha muda yang sudah sangat sukses. Orang tua nya juga orang terpandang. Mamah sama papah sangat merestui kamu dengan dia." ucap Orang tua nya.
"Tapi orang tua nya gak suka sama aku Pah." batin Alisa, dia tidak berani mengatakan nya langsung.