Pria Dingin Itu Adalah Suami Ku

Pria Dingin Itu Adalah Suami Ku
Part 61


__ADS_3

"Ini sudah larut Malam kenapa kamu masih menonton?" tanya Mile. Namun Tiara tidak menjawab, Mile melihat kedepan dan ternyata Tiara ketiduran.


Mile Menghela nafas panjang.


Dia mengendong Tiara ke kamar.


"Kamu sangat jahat Bilmar, aku sangat membenci kamu." ucap Tiara mengigau. Mile membaringkan Tiara di kasur dengan pelan.


Keesokan harinya..


"Akhirnya kalian datang Juga, silahkan masuk." ucap buk Rosa menyambut Tiara dan suami nya.


"Terimakasih Buk." ucap Mile. "Ibu apa kabar? kenapa ibu tidak pernah datang melihat ku?" tanya Tiara.


"Maafin Ibu Nak, ibu sangat sibuk. Ibu sangat merindukan kamu." ucap buk Rosa. Mereka masuk ke dalam.


"Kamu semakin gemukan sekarang, ibu senang melihat nya." ucap Buk Rosa.


Tiara duduk di sofa.


"Ayah sama Kak Rafi mana Buk?" tanya Tiara.


"Mereka lagi mandi, sebentar lagi juga keluar." ucap buk Rosa.


"Tiara akhirnya kamu datang juga, kakak sudah menunggu Sangat lama." ucap Rafi memeluk adik nya.


"Lebay banget deh, Padahal kemarin kita baru saja jumpa." ucap Tiara. Rafi terkekeh.


Tidak beberapa lama Ayah nya datang. "Putri ku, kalian sudah sampai?" ucap pak Yuda, Tiara berdiri memeluk ayahnya.


"Ayah sangat rindu." ucap pak Yuda, Tiara tersenyum.


"Kalau Ibu sama Ayah Rindu kenapa tidak datang menjenguk ku?" tanya Tiara.


"Kamu minta maaf. Bukan nya tidak mau tapi ibu Sama ayah sama-sama sibuk." ucap Pak Yuda. Tiara Menghela nafas panjang.


"Bagaimana selama Tiara di sana baik-baik saja kan? Dia tidak merepotkan kamu? Atau dia tidak nakal kan?" tanya Pak Yuda pada Mile.


"Aku tidak Betah di sana Ayah, aku tidak mau di sana, aku sama sekali tidak bisa keluar." ucap Tiara.


Mile terdiam.


"Aku ingin di sini saja, aku tidak mau pulang ke sana." ucap Tiara. "Jangan berbicara seperti itu Tiara, itu akan membuat Ibu dan ayah kamu khawatir." ucap Mile.

__ADS_1


"Buk, Ayah, Tiara bersama saya aman tidak ada terjadi apa-apa, dia juga tidak pernah pergi-pergi Tampa seijin saja, jadi bapak sama Ibu jangan khawatir." ucap Mile.


Tiara memasang wajah cemberut.


"Itu tidak benar. Aku di sana seperti buronan saja, bahkan tidak jarang aku menjadi sasaran musuh Mile." ucap Tiara.


"Jangan bertingkah seperti anak kecil Tiara! Kamu sudah menjadi istri Mile, jadi kaku harus ikuti perintah nya." ucap pak Yuda.


Seketika Tiara terdiam mendengar Ayah nya Malah membela suami nya.


"Pokoknya Ayah ingin kamu berbakti pada suami kamu sendiri, jangan sampai Ayah Mendengar kamu bertingkah aneh-aneh." ucap pak Yuda.


"Ayah aku ini putri Ayah, apa ayah tega melihat aku tidak tenang setiap hari?" ucap Tiara.


"Justru karena kamu putri Ayah. Ayah ingin yang terbaik untuk kamu." ucap pak Yuda.


"Bukan ini cara nya yang terbaik Ayah, aku tidak mencintai Mile." ucap Tiara. "Tiara!" bentak Pak Yuda.


"Sudah-sudah jangan bertengkar lagi, Kamu sedang hamil anak nya Mile tidak mungkin kamu mengatakan hal seperti itu nak." ucap buk Rosa.


"Tidak ada yang perduli pada ku sama sekali." ucap Tiara. Dia mau pergi namun Ayah nya menahan.


"Mau kemana kamu? Duduk di situ." ucap pak Yuda.


Buk Rosa, Rafi dan juga Tiara seketika panik, takut Ayah nya keceplosan membicarakan itu di depan Mile.


"Aaarggghh! Kamu membuat ayah emosi saja." ucap Pak Yuda kesal.


Buk Rosa mencoba jadi penengah di antara anak Dan suami nya, setelah lumayan tenang mereka makan siang bersama.


Seusai makan Tiara meninggalkan meja Makan dan langsung ke kamar nya. Sampai di kamar dia duduk di pinggir kasur.


Dia membuka Laci Meja nya. Tiara mengambil jam tangan yang sudah lama di sana. Jam tangan pria yang tentunya sangat mahal sekali.


"Siapa kamu? Aku mohon datang lah, aku ingin pertanggung jawaban kamu pada ku, aku mohon." ucap Tiara dia langsung menangis.


"Aku tidak ingin mengandung anak ini, aku tidak mau. Aku tidak menginginkan ini." ucap Tiara. Tiba-tiba dia mengingat kejadian malam itu membuat nya semakin sedih.


"Ini sungguh tidak adil bagi ku, kenapa tuhan sangat jahat pada ku."


Tiara berbaring dia memegang jam tangan itu. "Awal nya aku sama sekali tidak berniat untuk mengetahui siapa kamu, tapi sekarang aku ingin persetujuan mu mengeluarkan janin ini dari perut ku."


Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar nya.

__ADS_1


"Masuk!" ucap Tiara dari dalam sambil menghapus air mata nya.


Ternyata itu adalah Mile.


Mile melihat Tiara menutup Laci dan duduk menyilang di atas kasur.


"Kalau kamu ngajak aku pulang, aku tidak mau." ucap Tiara.


Mile duduk di kursi dia menatap istrinya.


"Jangan mempermalukan saya di depan keluarga kamu, saya tidak suka cara kamu." ucap Mile. Tiara menatap Mile.


"Kalau kamu tidak suka tinggal kan aku." ucap Tiara.


Mile Menghela nafas panjang.


"Saya sama sekali tidak pernah mempermalukan kamu di depan keluarga saya, di depan Keponakan saya. atau siapa pun, mereka menghargai kamu layak nya istri ku. Tapi kamu memperlakukan saya seperti tidak ada harga diri dan hati." ucap Mile.


Tiara diam. "Saya tau kalau kamu tidak mencintai saya. Kalau saya bisa memilih saya tidak ingin jalan seperti ini, semua nya sudah terlanjur tidak ada pilihan bagi saya." ucap Mile.


"Dan sekarang di badan kamu ada penerus keluarga Minor. Kamu tidak akan bisa pergi begitu saja dari keluarga saya." ucap Mile.


Tiara menatap Mile..


"Aku tidak ingin anak ini, aku tidak menginginkan nya, Ambil dia dari perut ku." ucap Tiara sambil memukul perut nya.


Mile menahan tangan Tiara. "Apa yang sedang merasuki kamu? Kenapa kamu begitu keras kepala? Kamu sudah dewasa bukan seperti ini cara nya menyelesaikan masalah." ucap Mile.


"Aku tidak mempunyai masalah, aku tidak mau hidup dengan orang yang tidak mengerti aku, pergilah!" ucap Tiara.


Mile mendekap Tiara begitu Kuat.


"Tenang lah, tenang. Saya di sini untuk kamu." ucap Mile mengelus kepala Tiara. Tiara langsung menangis.


"Kenapa tuhan tidak adil? Kenapa?" ucap Tiara.


Mile terus mengelus Badan Tiara sampai dia tenang.


"Jangan khawatir, saya janji Akan selalu ada di sisi kamu." ucap Mile. Tiara terdiam dia terisak-isak di dada Mile.


Sudah merasa Tiara baikan, Mile melepaskan pelukannya.


"Dari semalam kamu selalu menangis sehingga kantung mata kamu bengkak. Berhenti lah menangis," ucap Mile menghapus Air mata Tiara.

__ADS_1


Tiara membuang pandangan nya, dia mengawas kan tangan Mile dari wajah nya.


__ADS_2