
"Sststt!! Jangan kuat-kuat bik." ucap Tiara.
Bibik Ja langsung menutup mulutnya.
"Ini adalah Obat dari dokter Baru itu, aku tidak yakin dengan obat yang di berikan oleh dia. Sangat berbeda sekali dengan obat yang di berikan oleh dokter Sisi." ucap Tiara.
"Kenapa non Tiara berbicara seperti itu?" tanya Bibik Ja.
"Nanti Bibik akan tau sendiri." ucap Tiara. Bibik Ja hanya diam saja. Tidak terasa sudah sangat malam.
"Mile kemana sih? kenapa dia tak kunjung datang." ucap Tiara dia sangat sedih.
"Awas saja kalau dia datang, aku tidak akan memaafkan dia." ucap Tiara. Bibik Ja tersenyum mendengar Tiara berbicara seperti itu.
"Sabar saja Non, nanti sebentar lagi pasti pulang." ucap Bibik Ja.
Sementara Rafi di tengah perjalanan dia memikirkan Keluarga Enjel. "Orang tua Enjel sangat baik sekali." batin Rafi.
"Kalau seperti ini aku sangat tidak tega untuk jujur." batin Rafi. Dia melihat Ponsel nya berharap ada balasan dari Alisa, namun sampai sekarang tidak ada.
"Kemana dia yah? apa aku harus menghubungi orang tua nya?" tanya Rafi. Dia kebingungan apa yang terjadi pada Alisa.
Tidak beberapa lama akhirnya dia sampai di apartemen nya. Baru saja selesai mandi dia melihat ponsel nya namun tak kunjung ada balasan dari Alisa.
"Apa yang terjadi pada nya?" tanya Rafi. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke rumah Alisa. Tidak beberapa lama akhirnya sampai juga di sana.
Dia melihat ke arah rumah yang sudah sepi itu.
"Seperti nya mereka sudah tidur." batin Rafi, tapi dia gak mau pulang sebelum memastikan Alisa ada di dalam.
Dia memberanikan diri untuk mengetuk pintu rumah. Tidak beberapa lama di buka oleh mamah nya Alisa. "Nak Rafi! Ada apa malam-malam ke sini?" tanya Mamah nya Alisa.
"Aku ingin bertemu dengan Alisa Tante." ucap Rafi.
__ADS_1
"Alisa? Seperti nya dia di kamar nya. Dia baru saja pulang olahraga dengan papah nya sehingga dia kecapean dan akhirnya tertidur." ucap mamah nya Alisa.
"Tidur Tante?" Ucap Rafi. "Iyah, emang nya kenapa nak?" tanya Mamah nya Alisa kebingungan. "Pesan dan telpon saya sama sekali tidak di jawab." ucap Rafi.
"Oohh tadi saat olahraga ponsel nya tidak sengaja jatuh dan sekarang rusak."
Rafi terdiam sejenak memikirkan itu. Dia memegang tengkuk nya yang terasa sangat pegal sekali.
"Oohh gitu yah Tante, saya hanya khawatir. Kalau begitu saya pulang dulu yah." ucap Rafi menyalim tangan Mamah nya Alisa.
"Hati-hati." Rafi menganguk setelah dia pergi Mamah nya Alisa kebingungan. "siapa mah yang datang? Ini sudah malam namun ada saja yang datang." ucap pak Sean.
"Rafi Loh Pah. Dia datang mencari Alisa. Dia khawatir karena Nomor Alisa tidak aktif."
"Oohhh. Wajar saja dia khawatir. Dia pasti tidak tau kalau ponsel Alisa jatuh." ucap pak Sean.
"Ya udah kalau begitu lebih baik kita masuk yok." ucap Pak Sean mengajak istrinya.
"Huff aku bisa lega sekarang, tapi aku sangat malu pada orang tua Alisa. Mereka pasti berfikir yang tidak-tidak." ucap Rafi sambil mengendarai mobil nya.
Sementara di rumah sakit Mile baru saja sampai di depan rumah sakit. "Ini sudah jam sebelas malam, Tiara pasti sudah tidur." ucap Mile.
Dia pun naik ke atas. Tidak beberapa lama sampai di ruangan Tiara. Dia melihat Bibik Ja yang langsung bangun karena dia datang.
"Akhirnya den Mile pulang juga. Non Tiara tidak berhenti menanyakan den Mile." ucap Bibik Ja.
"Saya ada pekerjaan yang tidak bisa di tinggal kan." ucap Mile.
Bibik Ja diam. "Bagaimana keadaan nya sekarang?" tanya Mile. "Sudah baikan Den." ucap Bibik.
"Kalau begitu Bibik pulang dan istirahat di rumah. Saya akan menemani nya di sini." ucap Mile.
"Den Mile yakin? Den Mile pasti sangat lelah sehabis bekerja." ucap Bibik. "Bibik tidak perlu khawatir, terimakasih sudah mau menemani Tiara selagi saya tidak ada." ucap Mile.
__ADS_1
"Baik Den, itu sudah tugas saya. kalau begitu saya Pamit pulang." ucap Bibik Ja. Mile mengangguk. "Non Tiara mungkin akan sedikit cerewet den. Den Mile yang Sabar yah." ucap Bibik Ja.
Mile hanya mengangguk walaupun dia tidak mengerti apa yang di maksud oleh Bibik Ja.
"Apa yang di maksud oleh Bibik Ja? Tiara cerewet? Aku harus sabar?" ucap nya kebingungan.
"Dari mana saja Kamu?" tanya Tiara. Mile terkejut dia menoleh ke arah Tiara.
"Kamu sudah bangun? Bagaimana keadaan kamu? Apa ada yang sakit?" tanya Mile. Namun Tiara menepis tangan Mile.
"Jangan menyentuh ku! jawab dulu kamu dari mana." ucap Tiara.
"Bekerja Tiara. Papah juga pasti sudah bilang sama kamu kalau saya bekerja." ucap Mile. "Kamu sungguh keterlaluan, aku sakit hampir mati namun kamu malah memilih untuk bekerja, kamu tidak sayang aku." ucap Tiara.
"Kamu berbicara apa sih Tiara? Saya benar-benar tidak bisa meninggal pekerjaan saya. Saya juga khawatir kan kamu ." ucap Mile.
Tiara membuang pandangan nya. "Kalau saya tidak menyiapkan pekerjaan saya, papah akan Marah." ucap Mile. "Kamu lebih sayang sama pekerjaan kamu. Ini sudah tengah malam namun kamu baru Saja datang." ucap Tiara.
"Maaf kan saya Tiara. Apa yang harus saya lakukan agar kamu memaafkan saya." ucap Mile.
"Aku tidak mau kamu ada di sini, aku tidak mau melihat kamu." ucap Tiara. Mile menghela nafas panjang.
"Huff ternyata ini yang di maksud oleh Bibik Ja." batin Mile.
"Jangan seperti itu Tiara. Saya sudah mengusahakan untuk ke sini walaupun saya sangat lelah." ucap Mile.
"Kalau kamu lelah lebih baik kamu pulang saja." ucap Tiara. Mile menarik nafas, dia harus sabar.
"Saya tidak Akan kemana-mana." ucap Mile. "Kalau begitu Aku yang akan keluar. Aku tidak mau melihat kamu!" ucap Tiara mau beranjak namun di tahan oleh Mile.
"Saya sudah minta maaf, saya juga sudah di sini. Setiap hari saya selalu pulang larut Malam, kamu pasti sudah tau itu." ucap Mile.
"Setidaknya kamu memberikan aku kabar, kamu Sama sekali tidak Mengabari aku." ucap Tiara. Mile menatap mata Tiara dengan tatapan melas.
__ADS_1
"Saya bekerja tidak memegang ponsel saya Tiara. Mengerti saya Tiara. Saya sudah mengakui saya salah. Saya sangat mengkhawatirkan kamu." ucap Mile.
"Huff aku tidak percaya." ucap Tiara. Mile memegang tangan Tiara dan mencium nya. "Saya tau kamu pasti sangat marah di saat seperti ini saya tidak ada. Namun saya tidak melakukan nya dengan sengaja." ucap Mile.