Pria Dingin Itu Adalah Suami Ku

Pria Dingin Itu Adalah Suami Ku
Part 159


__ADS_3

"Tempat ini sesuai banget sama kepribadian kamu." ucap Enjel. "Maksud kamu?" tanya Rafi.


"Humm Cocok banget sama kamu, pantesan saja semua orang tidak kamu ijinkan masuk ke sini. Tapi aku janji aku tidak mengacaukan apapun." ucap Enjel.


Rafi menganguk sambil tersenyum.


Tidak beberapa lama makanan mereka pun datang. Makan bersama di meja makan. Tidak beberapa lama selesai makan Enjel merapikan meja.


Kembali dari dapur namun dia tidak melihat Rafi di meja makan. "Sayang..." Ucap Enjel sambil duduk di samping Rafi yang menonton televisi.


Namun Rafi tidak melepaskan tangan Enjel dari lengan nya. "Kenapa Sayang? Apa kamu tidak merindukan aku? Aku hanya ingin menggandeng tangan kamu saja." ucap Enjel.


"Kita belum menikah. Tidak sebaiknya seperti ini, aku takut yang tidak diinginkan terjadi." ucap Rafi. Enjel Menghela nafas panjang.


"Kenapa sih kamu selalu seperti ini? Sudah lama kita bersama namun kamu sama sekali tidak memberikan tanda kasih sayang pada ku." ucap Enjel.


"Bukan maksud ku seperti itu, sebelum kita menikah kita harus menjaga nama baik satu sama lain." ucap Rafi. "Sungguh tidak masuk akal banget sih kamu. Ini hanya urusan kita berdua, tidak mungkin orang lain akan tau kalau kita menjaga rahasia." ucap Enjel.


Rafi menatap wajah Enjel.


"Aku minta maaf Enjel. Tapi aku sangat menghargai kamu, aku ingin menjaga kamu." ucap Rafi.


"Tapi kalau kamu mau melakukan nya aku rela memberikan nya pada kamu, aku sudah percaya sama kamu." ucap Enjel.


Rafi langsung duduk menjauh dari Enjel.


"Pikir kan kebaikan diri kamu sendiri Enjel. Kamu yang akan menanggung semua nya nanti." ucap Rafi. "Aku sama sekali tidak keberatan Rafi. Aku sangat mencintai kamu." ucap Enjel.


"Sebaiknya kita istirahat saja, aku juga masuk ke kamar." ucap Rafi, namun tiba-tiba Enjel mencium bibir Rafi sehingga membuat Rafi sangat terkejut sekali.


Namun Rafi tiba-tiba mendorong Enjel dari nya dan langsung berdiri. "Aku ke kamar." ucap Rafi langsung meninggalkan Enjel yang sudah sangat kesal.


"Cihh apa-apaan ini, apa dia Pria sungguhan?" ucap Enjel dengan sangat kesal. "Bisa-bisa nya dia tidak bernafsu sama sekali." ucap Enjel.


Rafi masuk ke dalam kamar nya langsung mengunci pintu. Dia memegang bibir nya dan langsung mengambil tisu.


"Argh..Sial!" Dia terus membersihkan bibir nya.

__ADS_1


Dia duduk di lantai bersandar ke kasur nya.


"Alisa... Kenapa kamu selalu membuat saya seperti ini? Move on dari kamu bukan lah hal yang mudah." ucap Rafi. Dia membuka handphone nya melihat Foto Alisa.


"Kamu adalah wanita yang paling jahat. Kamu sangat baik kepada orang lain namun tidak kepada ku. Apa yang kamu mau Alisa." ucap Rafi.


Keesokan harinya...


"Halo kak, aku dengan Mile di undang ke rumah Ayah dan ibu. Apa kakak sudah ke sana?" tanya Tiara.


"Hummm." ucap Rafi.


"Kakak lagi apa? apa kakak baru saja bangun tidur?" tanya Tiara.


"Kakak tidak bisa tidur semalaman." ucap Rafi.


"Tapi sekarang kakak harus siap-siap ke rumah ayah dan ibu membawa Enjel. Kalau tidak, mereka akan sangat marah." ucap Tiara.


"Baiklah-baiklah." ucap Rafi. Rafi mematikan ponsel nya dia bangun dan melihat kamar nya sudah sangat berantakan sekali.


"Aaaarrr.. Kepala ku sangat pusing sekali." ucap Rafi memijat-mijat pelipis nya.


"Sayang ayo buruan bangun, dari tadi Tante sama Om sudah menelpon ku." ucap Enjel dari balik pintu. Rafi membuka pintu.


"Kamu bisa ke sana terlebih dahulu, saya Masih banyak aktivitas." ucap Rafi.


"Apa maksud kamu sayang? Tante dan Om mengundang kamu juga. Keluarga ku juga datang." ucap Enjel.


"Aku sibuk Enjel." ucap Rafi, namun tiba-tiba handphone nya berdering.


"Halo Bu." dia cukup diam lama mendengar kan Ibu nya berbicara setelah itu mati. Dia menatap Enjel dengan tatapan malas sekolah. Namun tidak ada pilihan lain dia harus kembali ke rumah nya.


Di dalam mobil. "Ada apa?" tanya Mile melihat wajah Tiara seperti orang kebingungan. Tiara Menggeleng kan kepala nya.


"Humm menurut Kamu apa sebaiknya aku bantu berbicara pada orang tua ku untuk membatalkan Perjodohan kak Rafi? aku kasihan melihat nya." ucap Tiara.


Mile Menggeleng kan kepala nya.

__ADS_1


"Sebaiknya kamu jangan ikut campur, mereka tau yang terbaik. Kamu sedang hamil jangan membuat beban fikiran kamu." ucap Mile.


"Tapi Mile." ucap Tiara namun Mile langsung memegang tangan Tiara.


"Dengar kata-kata saya." ucap Mile. "Huff baiklah-baiklah." ucap Tiara. Mile tersenyum dia mengelus rambut Tiara.


"Istri yang sangat penurut." ucap Mile.


Tidak beberapa lama akhirnya mereka sampai di rumah pak Yuda. "Selamat datang di rumah Ayah. silahkan duduk." ucap Pak Yuda menyambut Mile dengan sangat baik.


"Apa kabar Ayah dengan ibu?" ucap Tiara.


"Alhamdulillah baik nak, Kamu bagaimana kabar nya?" tanya Bu Rosa pada Mile.


"Baik Bu." Dia menyalim tangan Mertua nya.


"Mana Istri kamu? Ibu sudah sangat merindukan dia." ucap bu Rosa. "Aku di sini Bu." ucap Tiara.


Dia membawa beberapa barang-barang di tangan nya, Bibik langsung datang membantu nya. "Ibu sama ayah sangat merindukan kamu nak." ucap Bu Rosa memeluk Tiara.


"Huff Ayah dan ibu ketika di depan Mile terlihat sangat sayang dan perduli pada ku, padahal mereka sama sekali tidak mengingat ku." batin Tiara.


"Ayo silahkan duduk." ucap Pak Yuda. Tidak beberapa lama keluarga Enjel datang. Mile tidak melihat istrinya dari tadi. "Bu aku ijin ke toilet sebentar yah." ucap Mile. Bu Rosa menganguk.


Mile pun meninggalkan mereka, saat mau ke toilet tidak sengaja dia melihat Tiara yang duduk di balkon sambil termenung.


"Tiara.. apa yang kamu lihat?" tanya Mile.. Namun tiba-tiba Tiara menyembunyikan sesuatu yang ada di tangan nya dan langsung berdiri.


"Enggak kok, kamu kok bisa di sini?" tanya Tiara. "Tadi mau ke toilet, saya melihat kamu di sini." ucap Mile.


"Aku ingin sendiri saja disini, aku sangat merindukan suasana rumah." ucap Tiara..


Mile mendekati Tiara. "Kalau kamu merindukan suasana rumah ini, Atau kamu mau tinggal di sini untuk sementara waktu tidak masalah bagi saya." ucap Mile.


"Lalu kalau aku di sini, kamu di mana?" tanya Tiara. "Di sini juga." ucap Mile. Tiara tertawa. "Kamu harus bekerja setiap hari nya, aku tidak mau kamu kelelahan hanya di perjalanan saja." ucap Tiara.


Mile memeluk Tiara dari depan.

__ADS_1


"Saya sama sekali tidak keberatan, kalau ini yang kamu mau." ucap Mile. Tiara Menggeleng kan kepala nya.


"Aku tidak ingin kok, tinggal dengan kamu jauh lebih menyenangkan, dan calon anak kita akan nyaman juga." ucap Tiara.


__ADS_2