
"Kami kami akan melakukan semua yang bisa kami lakukan Pak. Harap banyak berdoa dan sabar yah." ucap dokter.
"Apa salah satu tidak bisa di selamat dokter?" tanya Bu Vina.
"Iyah dokter selamat Ibu nya saja." ucap Rafi. Dokter Menggeleng kan kepala nya.
"Janin dan Ibu nya sama-sama sangat lemah. Kita hanya bisa menunggu sampai besok, jika ada kemajuan bisa salah satu di selamat kan." ucap dokter. mendengar itu hati mereka semua sangat Sedih.
"Apa bisa di jenguk Dok?" tanya Bu Vina.
"Hanya satu orang saja yang bisa melihat ke dalam." ucap dokter.
"Kalau bisa Suami nya Saja." ucap Dokter. Mile berdiri dia mengikuti dokter masuk ke dalam.
Dia melihat wajah Tiara yang sangat pucat. jarum infus di tangan nya. Alat bantu pernapasan di hidung nya.
"Tiara kamu harus sembuh Tiara. Maafkan saya. saya sangat mencintai kamu." ucap Mile.
Mile mengelus perut Tiara.
Cukup lama dia di dalam. Setelah itu dia keluar.
Mile mengunjungi Kin yang berada di. rumah sakit itu juga namun beda lantai. Dia melihat Kin yang terbaring lemas Sama seperti istri nya.
Karena Mile datang Kin terbangun. Dia melihat ke arah Mile sambil tersenyum tipis namun tidak bisa banyak bergerak karena masih sangat sakit.
"Bagaimana keadaan Tiara?" tanya Kin.
"Dia adalah istri ku, kenapa kau mempertanyakan dia." ucap Mile. Kin terdiam.
Mile duduk di samping tempat tidur. "Ada apa dengan raut wajah mu itu." ucap Kin.
"Tiara koma, dia tak kunjung sadar. Dokter mengatakan kalau tidak ada kemajuan sampai malam nanti Tiara dan kandungan nya akan meninggal." ucap Mile.
"Kenapa kau tidak meminta dokter melakukan tindakan?" tanya Kin.
"Sebenarnya dokter mengatakan untuk mengeluarkan janin Tiara. Namun saya melarang nya." ucap Mile.
"Kenapa?" ucap Kin.
"Kau sudah menyelamatkan nyawa saya, saya yakin Tiara kuat dan saya sangat sayang kepada anak dan istri ku. Ketika Tiara tau anak nya meninggal nanti dia pasti akan sangat sedih, saya tidak bisa melihat dia sedih." ucap Mile.
"Aku terpaksa meminta dokter membohongi semua keluarga ku." ucap Mile.
__ADS_1
"Kau sungguh pria yang bodoh!" ucap Kin.
"Saya minta selamat Tiara! Saya ikhlas anak itu pergi." ucap Kin. Mile Menggeleng kan kepala nya.
"Saya tidak bisa membayangkan bagaimana sengsara nya hidup Tiara ketika anak nya sudah tidak ada. Banyak cobaan yang harus dia hadapi untuk mempertahankan anak nya." ucap Mile.
Kin terdiam. "Kalau begitu ijinkan saya membawa nya keluar untuk di selamat kan." ucap Kin.
Mile menatap Kin.
"Tidak bisa!" ucap Mile. "Pikir kan keselamatan Tiara Mile. Kau mengatasi keluarga mu di sini, dan saya akan membawa nya." ucap Kin.
Mile berfikir seperti itu demikian namun keluarga nya tidak setuju satu pun. Dan mereka berdua berencana untuk membawa kabur Tiara.
Demi keselamatan dua nyawa akhirnya mereka setuju.
Mile berusaha mengelabuhi keluarga nya meminta pertolongan dokter. Tidak sia-sia sekarang Kin dan Tiara serta dokter yang akan mendampingi sudah di bandara.
Mereka menunggu Mile.
Tidak beberapa lama Mile datang.
"Kamu pasti Kuat Tiara. Aku akan berdoa yang terbaik untuk kamu, maafin aku gak bisa ikut mendampingi kamu." ucap Mile.
Dua hari kepergian Tiara. Keluarga Tiara mendatangi Mile marah-marah karena mengirimkan Tiara ke luar negeri tanpa ada ijin.
Mile hanya bisa pasrah. Sekarang dia tidak perduli lagi karena belum mendapatkan kabar apapun dari Kin.
"Mile Apa yang kau lakukan? Kenapa kamu mengirimkan istri mu bersama Kin keluar negeri?" tanya Bu Vina.
"Saya tidak memiliki pilihan lain, saya harus melakukan itu demi keselamatan Tiara." ucap Mile.
"Papah mu sangat marah sekali, namun mamah tidak mengijinkan dia masuk ke sini, Roy menahan dan menenangkan dia." ucap Bu Vina.
Mile menatap wajah Bu Vina.
"Kamu tidak perlu sedih, mamah yakin kalau Tiara dan anak kamu selamat." ucap Bu Vina sambil tersenyum.
"Apakah mamah tidak marah kepada ku?" ucap Mile. Bu Vina di panggil untuk pertama kalinya sangat terharu. Bu Vina menggeleng kan kepala nya.
"Mamah tidak pernah marah sama kamu, hanya sedikit kesal saja, namun Mamah Masih sangat sayang." ucap Bu Vina.
"Apa saya boleh manggil mamah dan saya minta maaf atas kesalahan saya." ucap Mile.
__ADS_1
"Boleh dong, mamah sangat senang kamu memanggil dengan sebutan mamah. Karena selama ini terlalu kasar." Bu Vina sambil tersenyum.
"Maafin aku Mah." ucap. Mile memeluk pinggang Bu Vina.
Bu Vina tersenyum dia mengelus kepala Mile.
"Humm sekarang mamah hanya sayang sama kak Mile saja." ucap Roy. Mile dan Bu Vina menoleh ke arah Roy.
Wajah Mile langsung berusaha.
"Kak Mile masih saja membenci ku, kalau begitu aku minta maaf sama kakak karena aku terkadang sengaja membuat kakak marah dan mau merebut semua yang kakak punya." ucap Roy.
Mile hanya diam. "Aku sangat jengkel kepada kakak itu sebabnya terkadang aku membuat kakak benci sama ku. Maafin aku Dong." ucap Roy.
Mile menatap Roy yang tersenyum.
"Kamu bukan saudara saya." ucap Mile.
"kalau bukan saudara kembalikan mamah ku." ucap Roy.. Namun Mile menahan nya.
"Baiklah-baiklah aku akan memaafkan kamu dan juga tidak akan marah lagi. Sekarang kita adalah saudara." ucap Mile.
"Yeiiii!" Roy memeluk Mile. Bu Vina melihat itu sangat senang sekali.
"Oh iya Kak bagaimana keadaan kakak ipar?" tanya Roy. "Belum ada kabar." ucap Mile langsung sedih.
"kakak jangan terlalu sedih, kakak hanya banyak berdoa." ucap Roy.
"Kamu sudah berjuang. Kin Juga sudah membantu kamu. Kalau Tiara benar-benar tidak selamat itu sudah Jalan tuhan." ucap Bu Vina.
Mile menganguk.
Di tempat lain Alisa bingung melihat Rafi yang terlihat sangat stres sekali.
"Sayang kamu berfikir dengan tenang dulu, Tiara pasti selamat. Kamu harus percaya pada Kin dan juga suami nya." ucap Alisa.
"Bagaimana bisa saya Percaya pada pria seperti mereka yang sudah menghancurkan hati adik saya!" ucap Rafi jadi marah pada Alisa.
"Tapi mereka melakukan itu karena sangat sayang pada Tiara. Ke luar negeri bukan lah hal yang mudah. Mempunyai resiko yang sangat tinggi." ucap Alisa.
"Saya bisa membawa nya, tidak harus pria itu. Dia yang menghancurkan hidup Adik saya!"' ucap Rafi. Alisa Menghela nafas panjang.
"Jangan marah-marah seperti itu Rafi. Kita hanya bisa berdoa untuk sekarang." ucap Bu Rosa. Rafi menatap ibu dan ayah nya.
__ADS_1
"Seandainya saja ayah dan ibu sayang kepada dia, pasti dia tidak akan seperti ini. Kedua pria itu tidak bisa di percaya." ucap Rafi.