
Tiara mengelus perut Tiara.
"Sayang.. Apa kamu Merindukan papah? Papah sangat merindukan kamu nak,." ucap Mile mencium perut Tiara.
"Oh iya Aku mau bilang kalau papah menukar dokter kandungan ku." ucap Tiara. "Dia sudah bilang." ucap Mile..
"Lalu bagaimana? Apa kamu setuju? Aku tidak suka pada dokter baru itu karena sangat kasar dan hanya baik di depan papah mertua saja." ucap Tiara.
"Perintah papah sama sekali tidak bisa di bantah. Kamu hanya perlu menurut saja pada dokter itu." ucap Mile.
"Tapi aku gak suka Mile, aku gak mau dengan dia." ucap Tiara.
"Tiara kamu tau sendiri Papah orang yang tidak bisa di bantah sama sekali, jangan pernah protes apapun pada papah." ucap Mile.
Tiara Menghela nafas panjang. "Aku gak mau." ucap Tiara dia langsung meninggalkan Mile. Mile melihat istrinya pergi hanya bisa diam.
Dia mengingat saat dia baru saja selesai memberikan laporan kepada papah nya.
"Mile kamu jangan pulang dulu, sebelum kamu pulang papah mau ngasih tau kalau dokter kandungan istri kamu sudah papah ganti." ucap Pak Daniel.
"Kenapa Pah? Dokter kandungan itu adalah pilihan Tiara sendiri. Dia nyaman ketika di periksa dengan dokter itu." ucap ucap Mile.
"Papah sudah tau kalau Tiara tidak menjaga kandungan nya dengan benar. Papah ingin yang terbaik pada Cucu Papah. Papah memilih dokter yang menjaga Tiara dengan ketat." ucap Pak Daniel.
"Tapi Pah Tiara sulit untuk nyaman dengan hal yang baru, di tambah lagi dokter kandungan yang tidak paham pada dia." ucap Mile.
"Tidak ada protes, Papah melakukan ini demi kebaikan dia dan juga janin nya." ucap Pak Daniel. Mile diam.
Tiara keluar dari kamar dia melihat Rafi Masih tidur di sofa.
"Anak Sama Papah nya sama saja, suka banget maksa orang yang gak suka." ucap Tiara dengan sangat kesal.
Tiara membuka Ponsel nya, mengirimkan Alisa pesan.
"Alisa, kamu mempunyai waktu luang untuk bertemu dengan kak Rafi sebentar?" tanya Tiara.
Alisa yang menunggu Mamah papah nya di bandara membuka Pesan dari Tiara.
"Aku tidak bisa Tiara, Lagian aku dengan pak Rafi tidak ada hubungan. Untuk apa aku menemui dia." ucap Alisa.
Tiara duduk di sofa di depan Rafi. "Alisa kenapa tidak bisa mencoba untuk mencintai kak Rafi sih? Kak Rafi kurang apa Sih?" ucap Tiara.
"Tampan Iyah, ganteng, baik, perduli, lembut dan sangat mencintai Alisa." ucap Tiara. Rafi bergeliat.
__ADS_1
"Kakak sudah bangun?" ucap Tiara. Rafi menoleh ke arah Adik nya.
"Nih minum dulu kak." ucap Tiara. "Ini sudah jam berapa?" tanya Rafi.
"Hampir jam Satu siang." jawab Tiara.
"Ya ampun kakak sudah telat. Kakak harus segera kembali." ucap Rafi. "Loh kenapa kak? Bukan nya kakak Masih kurang enak badan?" tanya Tiara.
"Sudah lebih baik kok, terimakasih yah dek." ucap Rafi mencium kening Tiara langsung pergi meninggalkan Tiara.
"Kabari aku kalau terjadi apa-apa kak." ucap Tiara. "Baik!!" jawab Rafi bersorak.
Tiara sangat mengkhawatirkan Rafi yang pergi dalam keadaan yang kurang baik. "Huff Seandainya saja Ayah dengan ibu tidak egois." ucap Tiara.
"Tiara.." panggil Mile. Tiara menoleh ke arah suara itu.
"Ada apa?" tanya Tiara dengan sangat judes.
"Malam ini saya ada acara di rumah Papah, apa kamu mau ikut?" tanya Mile.
"Aku tidak mau. Aku tidak ingin kesana sebelum dokter ku di ganti." ucap Tiara. Mile mendekati Tiara.
"Papah hanya ingin yang terbaik untuk calon Cucu nya Tiara. Kamu tau sendiri Papah sangat menginginkan Cucu." ucap Mile.
"Jangan banyak protes Tiara. Kalau saya bisa melakukan sesuatu saya akan melakukan seperti yang kamu minta." ucap Mile.
Tiara menatap wajah Mile.
"Sudah lah tidak perlu membahas nya, aku pusing memikirkan itu, kamu pergi saja ke sana, aku akan keluar." ucap Tiara.
"Kamu mau kemana? Kamu tidak boleh keluar." ucap Mile.
"Aku pusing hanya di rumah saja." ucap Tiara. "Kalau begitu kamu ikut dengan saya ke rumah papah." ucap Mile.
"Aku juga gak mau." ucap Tiara. "Jangan keras kepala Tiara!" ucap Mile menaikkan nada bicara nya.
Tiara sampai terkejut.
"Sekarang kamu siap-siap ikut dengan saya ke rumah Papah." ucap Mile. "Aku gak mau." Tiara tetap menolak.
"Jangan membuat saya emosi Tiara! " ucap Mile dengan tatapan tajam.
Tiara akhirnya takut dia pun langsung ke kamar.
__ADS_1
Tepat jam Empat sore.
Mile sudah menunggu di mobil. Tiara keluar dari rumah masuk ke dalam mobil dengan wajah yang cemberut.
"Saya bukan supir kamu Tapi suami kamu, duduk di depan!" ucap Mile. "Aku tidak bisa duduk di samping pria yang berbicara dengan nada tinggi." ucap Tiara.
Mile mengusap wajah nya, di mencoba menahan emosi nya.
"Kamu jangan membuat saya emosi Tiara. Saya sangat lelah. Emosi saya mudah terpancing." ucap Mile.
"Aku tidak perduli, kamu tidak sayang sama aku sehingga kamu membentak ku dan tidak mau memihak ku." ucap. Tiara.
Mile keluar dari mobil mengelilingi mobil nya dan membuka pintu mobil bagian Tiara.
"Kamu mau pindah ke depan sendiri atau saya gendong kamu ke depan?" tanya Mile.
"Aku mau duduk di belakang saja, aku tidak terbiasa duduk di depan." ucap Tiara. Mile tiba-tiba menutup pintu mobil dengan sangat kasar sehingga membuat Tiara terkejut.
Mile duduk di samping Tiara dan mobil di bawa oleh supir.
Sepanjang perjalanan Mile hanya diam saja. Sekarang wajah dingin tanpa ekspresi itu kelihatan lagi.
Tidak beberapa lama akhirnya sampai di depan rumah orang tua nya. Mile tidak mengatakan apapun dia langsung turun, Tiara juga ikut turun dari mobil.
"Non Tiara tunggu di ruang tamu saja. Den Mile mau menemui rekan kerja nya." ucap Bibik.
Tiara melihat Mile di ikuti oleh bodyguard nya.
"Mari ikut saya non." ucap Bibik. Mereka duduk di ruang tamu.
"Tiara.." Bu Vina datang. Tiara tersenyum dia memeluk Mamah mertua nya.
"Kamu ke sini kok gak ngabarin mamah sih? Mamah mau keluar sekarang, kamu gak apa-apa sendiri kan?" tanya Bu Vina.
"Aku bisa menemani dia kok mah. Mamah berangkat saja." ucap Roy.
"bagus deh kamu di sini, Titip kakak ipar kamu yah. Mamah sudah sangat telat sekali." ucap Bu Vina. Roy Menganguk.
"Hati-hati yah Tante." ucap Tiara.
Bu Vina menganguk dia pun meninggalkan menantu dengan anak nya itu di ruang tamu.
"Boleh ikut duduk di sini?" ucap Roy basa-basi.
__ADS_1
"Ini adalah rumah kamu, tidak perlu di bertanya seperti itu." ucap Tiara. Roy tersenyum.