
"Saya ingin anak saya hidup Bu, perjuangan saya di titik ini cukup menyakitkan, saya mohon lepas kan saya. Saya tidak akan pergi mengganggu ibu." ucap Tiara..
Wanita itu tertawa. "Saya sangat menyesal menjadi seorang ibu, sebaiknya saya sendiri Selama nya." ucap wanita itu.
"Apa yang ibu maksud? Sebenarnya ibu siapa?" tanya Tiara..
Dia tidak pernah melihat wajah yang sangat asing bagi nya.
"Kamu Akan tau sendiri siapa saya." ucap wanita itu.
"Bu lepaskan saya. Saya mohon Bu, jangan pergi Bu." ucap Tiara memohon. Namun wanita itu tak mendengar nya dia langsung pergi begitu saja.
"Sus siapa wanita itu?" tanya Tiara. Suster Menggeleng kan kepala nya. "Sebaiknya Ibu makan agar bayi yang di kandungan ibu tidak kenapa-kenapa." ucap Suster.
"Lepaskan tangan saya, saya akan makan sendiri." ucap Tiara.
"Maaf Bu say tidak bisa melakukan itu, saya akan menyuapi ibu." ucap Suster. Tiara sebenarnya tidak berselera untuk Makan, namun demi Kandungan nya dia harus memaksa nya untuk masuk.
Tidak terasa sudah sore. Mile baru saja pulang ke rumah nya. Dia keluar dari mobil membayang kan istri nya yang setiap hari menunggu dan menyambut nya dengan senyuman.
Namun karena kemarahan nya kini dia hanya bisa mengingat itu.
"Den Mile sudah pulang?" ucap Bibik Ja. Mile hanya diam saja.
"Kenapa wajah Den Mile sangat pucat sekali?" tanya Bibik Ja.
"Saya sangat lelah bik, saya ingin istirahat." ucap Mile.
"Bagaimana dengan non Tiara Den?" tanya Bibik Ja.
"Tidak ada informasi bik. Kita hanya bisa banyak berdoa agar Tiara baik-baik Saja." ucap Mile.
Bibik Ja tidak terlalu banyak bertanya karena kelihatan sekali kalau Mile lelah.
Di kediaman Kin. Dia baru saja pulang. Dia melihat Ibu nya Sisi sedang di dapur.
"Tuan Kin sudah pulang? Apa Tuan ingin minum kopi?" tanya Bibik.
"Tidak bik." jawab Kin. "Di mana Sisi? Apa dia belum pulang?" tanya Kin.
"Sudah Tuan namun dia pergi lagi dengan teman nya." ucap Bibik.
"Teman nya yang pria itu?" tanya Kin. Bibik menganguk. Kin menghela nafas panjang. "Gak tau kenapa pulang tadi dia sangat cemberut tuan." ucap Bibik.
__ADS_1
"Apa dia tidak mengatakan apapun? Bagaimana dengan hasil pidato nya?" tanya Kin.
"Nah itu dia tuan, saya sudah bertanya namun dia tidak menjawab Sama sekali." ucap Bibik.
Kin terdiam.
Di malam hari nya Kim berdiri di balkon dan melihat Sisi turun dari motor pria.
"Terimakasih yah, aku sangat senang hari ini, sampai jumpa besok." ucap Sisi.
"Ekhem-Ekhem!!" Tiba-tiba Kin sudah berdiri saja di belakang Sisi.
"Tuan Kin!" ucap Sisi.
"Lihat ini sudah jam berapa?" ucap Kin. Sisi melihat jam sudah jam sepuluh.
"Saya mengijinkan semua orang keluar tapi tidak saya ijinkan kembali di atas jam sembilan malam!" ucap Kin.
"Aku ada urusan dengan dia. Lagian aku juga pulang di anterin dia," ucap Sisi.
"Saya tidak suka ketika kamu di antar oleh pria lain di malam hari seperti ini." ucap Kin.
"Baik Tuan, saya meminta maaf." ucap Sisi. "Kalau begitu saya masuk dulu." ucap Sisi. "Saya belum selesai berbicara!" ucap Kin.
Sisi berhenti. "Ada apa Tuan?" tanya Sisi.
"Tidak ada yang baik. Semua nya berantakan." ucap Sisi. Kin langsung diam. Sisi masuk ke Kamar nya.
"Sisi! Sisi!" Kin mengikuti Sisi ke dalam kamar nya, untung saja suasana rumah itu sudah sangat sepi.
"Ada apa lagi Tuan?" tanya Sisi.
"Kenapa kami berbicara dengan saya seperti ini? Sisi yang saya kenal tidak seperti ini." ucap Kin. Sisi menatap wajah Kin.
"Aku membuat pidato tentang Tuan, aku mau pidato karena tuan, namun tuan sama sekali tidak mau mendengar nya dan langsung pergi." ucap Sisi.
"Saya minta maaf." ucap Kin. "Tidak ada yang perlu di bahas lagi tuan. Tuan harus istirahat, aku juga harus istirahat." ucap Sisi.
Sisi mendorong Kin keluar dari kamar nya. Kin Menghela nafas panjang. Tidak hanya sekali Sisi ngambek seperti ini. Namun Kin selalu sabar menghadapi nya.
Tiba-tiba handphone nya berdering. "Iyah ada apa?" tanya Kin.
"Kamu sudah mendapatkan informasi nya Tuan." Ucap Anak buah nya.
__ADS_1
"Baiklah tunggu saya di sana, saya akan segera ke sana." ucap Kin. Dia meninggalkan rumah nya. Tiba-tiba Sisi membuka pintu dan melihat di depan sudah tidak ada siapa-siapa.
"Tuan Kin Sudah tidak memperdulikan aku lagi." ucap Sisi.
"Kamu berbicara apa nak?" tiba-tiba ibu nya datang. Sisi langsung terdiam.
"Enggak kok Bu, aku hanya mengingat pidato ku tadi.
"Ibu lihat kamu seperti ribut dan mengabaikan Tuan Kin, ada masalah apa?" tanya Ibu nya.
"Enggak ada kok Bu." ucap Sisi.
"Kamu tidak bisa membohongi ibu, kamu jujur saja." ucap ibu nya.
"Aku kesal pada Tuan Angga Bu, dia tidak mendengar kan pidato ku sampai selesai." ucap Sisi.
"Ya ampun si hanya masalah sepele kamu kurang ajar kepada tuan Angga, ibu tidak pernah mengajari kamu seperti itu." ucap Bibik.
"Tapi Bu, aku sangat senang kalau seandainya Tuan Kin ada di sana." ucap Sisi.
"sudah-sudah jangan mempermasalahkan itu, kita di sini hanya orang lain, ibu dan kamu hanya jadi pekerja di sini, kita harus sadar diri. Dan jangan sampai tuan Angga membenci kita dan tidak mau membantu kita." ucap Ibu nya.
"Iyah Bu aku minta maaf." ucap Sisi.
"Sebaiknya kamu tidur sana." ucap Ibu nya. Sisi Menganguk.
Keesokan harinya... Dia terbangun karena alarm Handphone nya.
"Hoammm.." Dia bergeliat namun sangat kaget ternyata di samping nya ada Kin.
"Tuan Kin kenapa bisa ada di sini?" batin sisi. Dia mencoba mengingat tadi malam. Seingat nya dia mengunci pintu namun bagaimana bisa Kin masuk.
Dia perlahan Mengawas kan selimut agar kin tidak bangun namun tiba-tiba tangan nya di tahan.
"Kamu mau kemana?" tanya Kin, sambil membuka mata nya.
"Aku mau mandi tuan. Kenapa Tuan ada di sini?" tanya Sisi.
"Saya emang nya di mana?" tanya Kin.
"Ini di kamar saya Tuan." ucap Sisi.
"Oohh, seperti nya saya sangat mabuk sehingga salah kamar. Pin pintu kamar kamu dengan pintu kamar saya hampir sama. Maafin saya." ucap Kin.
__ADS_1
Dia pun segera keluar dengan setengah sadar. Sisi hanya bisa membiarkan Kin pergi begitu saja.
"Dia mabuk? Kenapa tidak tercium bau alkohol?" batin Sisi. "Ah sudahlah aku tidak perduli lagi." ucap Sisi. Kin berbaring melanjutkan tidur nya namun tiba-tiba dia teringat informasi pencarian semalaman