
"Iya Fa, gue kan sahabat lo, lo jangan sungkan-sungkan yah!" sahut Khalisa.
Gak lama, Desta dan Dokter Ari masuk ruangan. Khalisa memberi salam pada Dokter Ari, begitu pun Dokter Ari. Khalisa melihat mata Dokter Ari merah, seperti habis nangis.
"Assalamu'alaikum." Salam Desta dan Dokter Ari.
"Wa'alaikumsalam. jawab Khalisa dan Syifa.
"Mba Khalisa, terima kasih, sudah menjenguk Adhel, saya minta doanya aja ya Mba, semoga Anak saya bisa sembuh!" minta Dokter Ari.
"Pasti kok, saya akan selalu doain buat Dedek Adhel yang cantik, biar cepat sembuh, Dokter Ari dan Syifa yang sabar yah! aku yakin pasti ada keajaiban buat Dedek Adhel." Sahut Khalisa.
"Makasih Mba, Mas, atas doanya buat Adhel!" sahut Dokter Ari.
"Sama-sama, kami pamit pulang ya Ri, Syifa! soalnya udah mau malam, saya juga takut Khalisa kenapa-kenapa, dia juga lagi hamil besar." Sahut Desta.
"Iya, Mas, dijaga baik-baik, Dedek kembarnya yah!" sahut Dokter Ari.
"Iya, Lis, Kak Desta, hati-hati yah!" sahut Syifa.
"Syifa, ingat pesan gue, lo harus kuat dan tetap semangat!" sahut Khalisa memeluk Syifa.
"Insya Allah, Lis, makasih yah!" sahut Syifa.
☀☀☀☀
Akhirnya, Khalisa dan Desta sampai di mobil, Khalisa dan Desta kembali pulang. Saat di perjalanan, Khalisa meminta izin pada Desta, untuk membantu Syifa.
"Sayang," panggilan halus Khalisa.
"Iya, sayang, ada apa?" tanya Desta.
"Kasihan Syifa ya Yang, tadi aku sampai nangis sayang, gak kuat lihatnya!" sahut Khalisa.
"Sama sayang, aku juga, tapi mau gimana lagi, semua itu, udah cobaan yang Allah berikan pada mereka, jadi mereka harus terima sayang." Sahut Desta.
"Iya Yang, Dokter Ari cerita gak? kalau Adhel akan melakukan kemoterapi dan perawatan oleh Dokter Chandra?" tanya Khalisa.
"Iya, Dia cerita kok, memang kenapa?" tanya Desta.
"Tadi Syifa bilang, kalau bayar Dokter Chandra itu biayanya besar, Dokter Ari bingung cari uang nanti buat bayar Dokter Chandra, aku mau minta izin sama kamu, kita bantu Syifa ya Yang, aku ingin Adhel sembuh!" minta Khalisa.
"Dokter Ari, gak ngomong mau minta dibantu sayang, sayang, kalau mereka bilang sama kita, gak apa-apa kita bantu, tapi kalau mereka gak bilang, jangan! aku takut Dokter Ari salah paham!" sahut Desta.
"Kok salah paham? kan kita membantu?" tanya Khalisa.
"Ngerti sayang, tapi disangka kita meremehkan mereka, kita tunggu sampai mereka ngomong sama kita ya sayang, aku gak mau, sampai ada salah paham!" sahut Desta.
"Iya, sayang." Sahut Khalisa.
__ADS_1
☀☀☀☀
Kediaman rumah Umi. Umi pasang wajah cemberut dan kesal. Desta tidak jadi datang dan ditunda besok, Umi sudah penasaran dengan keputusan Desta.
"Kenapa ditekuk gitu Umi wajahnya?" tanya Abi Mahmud.
"Gimana gak kesal, Umi udah nunggu-nunggu Desta ngabarin, keputusan Desta itu gimana? awas aja, kalau gak mau selamatan di rumah Umi, Umi itu ingin yang terbaik, supaya mewah selamatan di sini, seperti empat bulan kemarin!" sahut Umi Sarah.
"Umi, sepertinya, kita gantian mengalah! biarkan Besan kita yang bikin acara, kita kan gak repot Mi!" sahut Abi Mahmud.
"Gak bisa Bi! pokoknya harus di rumah Umi!" sahut Umi Sarah.
"Umi, Umi ngalah dong! jangan sampai Anak-anak kita stres, gara-gara selamatan aja!" sahut Abi Mahmud.
"Tunggu keputusan Desta aja deh!" sahut Umi Sarah.
☀☀☀☀
Kediaman rumah Bunda Maryam. Bunda Maryam justru mengerti keadaan Desta dan Khalisa batal ke rumahnya. Bunda malah mikirin nasib Syifa, dan kasihan sama Anaknya Syifa. Bunda ingin mengajak Ayah Umar menjenguk Syifa ke rumah sakit.
"Kok melamun Bun? kenapa?" tanya Ayah Umar.
"Tadi Desta ngabarin, gak jadi ke sini, karena jenguk Anaknya Syifa yang di rawat, katanya kena penyakit leukimia Yah!" sahut Bunda Maryam.
"Astaghfirullah, kasihan banget Bun! sekecil itu, kena penyakit berbahaya!" sahut Ayah Umar.
"Iya, Yah, semoga bisa sembuh deh ya Yah." Sahut Bunda Maryam.
"Besok kita jenguk yuk, Yah!" ajak Bunda Maryam.
"Kan besok Desta ke sini! kalau kita gak ada gimana?" tanya Ayah Umar.
"Kan Desta sore, paling pulang kerja, kita paginya, atau siang!" sahut Bunda Maryam.
"Oh, gitu? ya udah, kalau gitu!" sahut Ayah Umar.
"Makasih Ayah!" sahut Bunda Maryam.
☀☀☀☀
Di kediaman rumah sakit, Syifa melihat Dokter Ari cemas dan bingung. Syifa langsung mendekati Dokter Ari.
"Mas, Mas kenapa?" tanya Syifa.
"Enggak apa-apa kok Dek, cuma ngantuk aja!" sahut Dokter Ari.
"Mas, jangan bohong sama aku, bilang Mas ada apa?" tanya Syifa.
"Iya, kemarin Mas udah bilang Dokter Candra, obat untuk kesembuhan Adhel sangat mahal dan langka, Adhel juga harus kemoterapi, sampai sembuh." Sahut Dokter Ari.
__ADS_1
"Berapa Mas biayanya?" tanya Syifa.
"Lima belas juta sayang, sedang Mas hanya punya uang tabungan tiga juta, itu pun buat makan!" sahut Dokter Ari.
"Ya Allah, hiks-hiks-hiks, kita harus gimana Mas? aku bingung!" sahut Syifa.
"Nanti Mas akan usahakan, Mas akan cari dua belas juta lagi!" sahut Dokter Ari.
"Tapi, dari mana Mas? Mas, apa aku pinjam sama Khalisa aja yah!" sahut Syifa.
"Apa? Adek mau pinjam sama Mba Khalisa? mau taro di mana muka Mas, Dek?" tanya Dokter Ari.
"Mas jangan egois, Khalisa itu, sahabat aku, dia pasti mau bantu! ini semua demi Adhel Mas!" sahut Syifa.
"Mas akan usahakan Dek, Mas usahakan! tolong kamu jangan pinjam sama Mba Khalisa, kita jangan sampai merepotkan orang lain!" sahut Dokter Ari.
"Astaghfirullah, Mas, aku ingin Adhel cepat ditolong! gak mau Adhel kenapa-kenapa! ngerti gak sih!" sahut Syifa.
"Kamu yang harus ngerti! izinkan aku buat usaha! aku kepala keluarga, jadi kamu harus sabar, nurut sama suami!" sahut Dokter Ari.
"Maafin aku Mas, aku panik, aku hanya ingin gak mau kehilangan Adhel, hiks-hiks-hiks." Sahut Syifa.
"Aku juga sama sayang, gak mau! hiks-hiks-hiks, kamu harus sabar, Adhel, hiks-hiks-hiks, tolong Papah Nak, bantu Papah doa agar bisa cari uang buat kamu Nak! ya Allah, tolong aku ya Allah, sembuhkan Anakku..." sahut Dokter Ari menangis sambil membelai Anaknya.
"Adhel, sembuh ya Nak, bantu Mamah sama Papah! hiks-hiks-hiks." Sahut Syifa.
"Kamu yang kuat ya Dek, berdoa!" sahut Dokter Ari.
"Iya Mas." Sahut Syifa.
☀☀☀☀
Khalisa dan Desta sudah sampai rumah. Khalisa melamun memikirkan Syifa, Khalisa berharap Dokter Ari mau menerima bantuan dari Khalisa.
"Sayang, udah malam, kok belum tidur?" tanya Desta.
"Aku gak bisa tidur sayang, selalu terbayang wajah Adhel, aku sedih sayang, aku ingin dia sembuh!" sahut Khalisa sambil menetes air matanya.
"Kamu jangan terlalu dipikirkan, nanti malah kamu yang sakit sayang!" sahut Desta.
Bersambung...
Terima kasih teman-teman dan readersku atas dukungan kalian, sudah setia ikutin cerita Ta'aruf Cinta, semoga ceritanya bisa menghibur dan gak ngebosenin yah, di tunggu episode selanjutnya makasih 🥰🥰🥰
Sambil menunggu cerita Ta'aruf cinta boleh yuk mampir ke ceritaku yang lainnya yuk, gak kalah seru dan romantis banget cekidot 🥰🥰🥰
- Cinta dan Detik Terakhir
- Cinta Cowok Dingin
__ADS_1
- Cinta Gadis Bisu