
"Kak, pagi ini mau di masakin apa?" tanya Khalisa.
"Apa aja sayang, asal buatan istri sendiri pasti aku makan," sahut Desta.
"Kalau telur ceplok gimana?" tanya Khalisa.
"Iya sayang apa aja kok, wah ini baju aku udah disiapin aja, makasih ya istriku," sahut Desta.
"Sama-sama Kak, aku siapin sarapan dulu yah buat Kakak," sahut Khalisa.
"Iya sayang nanti aku nyusul ke bawah," sahut Desta.
🍁🍁🍁
Sambil memakai seragam Desta bercermin di kaca sambil memasang dasi kantor. Waktu belum nikah Umi nya yang selalu memakaikan Dasi Desta.
"Neng mau Bibi bantu gak?" tanya Bi Aning.
"Gak usah Bi, dikit lagi kok," sahut Khalisa.
"Wah, kayanya enak Neng," sahut Bi Aning.
"Nanti Bibi makan bareng kita yah, sekalian cobain masakan aku enak atau enggak," sahut Khalisa.
"Jangan Neng, Bibi mah dibelakang aja, gak enak sama Den Desta," sahut Bi Aning.
"Bi, ingat gak kemaren Kak Desta ngomong apa? jangan anggap kita majikan Bibi, tapi Ibu kita," sahut Khalisa.
"Iya Neng," sahut Bi Aning.
"Wah, wah, baunya enak banget nih, jadi gak sabar," sahut Desta tiba-tiba muncul dan tersenyum.
"Kak, maaf sedikit lagi yah, Kakak jangan di sini nanti bajunya bau asap," sahut Khalisa.
"Gak apa-apa, kan ada minyak wangi, aku pengen lihat istriku masak," sahut Desta sambil memandangi Khalisa.
"Kak, kalau dilihatin nanti aku gak konsen, aku jadi salah tingkah tahu," sahut Khalisa.
"Biarin aja, aku suka salah tingkah kamu, ha-ha-ha," sahut Desta tetap memandangi Khalisa.
"Kak itu Bi Aning jadi senyum-senyum sendiri, aku kan malu ih," sahut Khalisa.
"Biarin ya Bi, orang mau senyum masa gak boleh, Bibi keingat muda sama Pak Jamal yah? ha-ha-ha," sahut Desta.
"Ah, Den Desta bisa aja, Bibi jadi malu," sahut Bi Aning.
__ADS_1
"Sarapan pagi sudah siap, ayo Kak, Bibi panggil Pak Jamal sekalian yah, gak apa-apa kan Kak Bibi sama Pak Jamal makan bersama kita?" tanya Khalisa.
"Ya gak apa-apa lah, panggil Pak Jamal ya Bi," sahut Desta.
"Makasih ya Den," sahut Bi Aning.
"Makannya aja belum udah makasih aja, ha-ha-ha," sahut Desta sambil tertawa.
Bi Aning lalu memanggil Pak Jamal, dan Pak Jamal pun datang.
"Den, emang benar Bapak boleh ikut makan di sini?" tanya Pak Jamal.
"Benar kok Pak, jangan sungkan-sungkan di sini ya Pak, anggap aja kita keluarga," sahut Desta.
"Aduh, jadi gak enak ini Den, berasa gak pantas saya," sahut Pak Jamal.
"Gak pantas apa, kita sama-sama manusia kok, diciptakan sama, jadi jangan bilang gak pantas," sahut Desta.
"Iya Pak, jangan pernah anggap kita majikan, karena kita gak pernah anggap Bapak, sama Bi Aning pembantu, kita anggap itu keluarga," sahut Khalisa.
"Makasih ya Non, Aden," sahut Pak Jamal.
"Jangan panggil saya Non Pak, Neng aja kaya Bi Aning," minta Khalisa.
"Sungguh mulia hati Neng sama Aden gini, baik banget, saya baru ini bekerja mempunyai majikan sebaik Neng dan Aden," sahut Pak Jamal.
"Kan setiap orang itu berbeda Pak, kalau kita ya begini sering berbagi," sahut Desta.
"Aamiin," sahut Desta dan Khalisa menjawab bersamaan.
"Pak, Bi, saya kan seminggu lagi mau berangkat Dinas ke Yogya, saya titip istri saya yang cantik ini yah, jangan sampai terjadi apa-apa sama dia," sahut Desta memegang tangan Khalisa.
"Iya Den, siap Bibi bakal jaga Neng Khalisa dengan baik, gak akan terjadi apa-apa, iya kan Pak?" sahut Bi Aning.
"Iya Den, gak usah khawatir, kan ada saya sama istri saya yang jaga Neng Khalisa," sahut Pak Jamal.
"Makasih ya Bi, Pak, saya bakal kangen banget sama istri saya ini, dua minggu itu waktu yang cukup lama buat saya," sahut Desta menatap Khalisa.
"Pasti Den, namanya jauh dari istri tercinta pasti berat, saya aja kalau jauh dari istri saya gelisah," sahut Pak Jamal.
"Ha-ha-ha, pasti Bi Aning mudanya wanita tercantik ya Pak?" sahut Desta.
"Iya Den, wanita yang paling cantik di hati saya," sahut Pak Jamal.
"Alah, gombal, depan saya gak pernah kok bilang saya cantik, malah saya di bilang embrot," sahut Bi Aning.
"Wah, jangan gitu Pak, Bi Aning cantik kok, saya aja kalah cantiknya sama Bibi," sahut Khalisa.
__ADS_1
"Iya Bi Aning cantik gitu kok, masa dibilang embrot," sahut Desta menambahkan.
"Saya kan bercanda Den, Neng," sahut Pak Jamal.
"Alah, alasan aja," sahut Bi Aning.
"Sayang, sudah jam tujuh, aku berangkat yah, aku usahakan pulang cepat yah," sahut Desta.
"Iya Kak hati-hati yah, dasi Kakak miring, sini aku perbaikin," Khalisa melihat Desta tersenyum saat Khalisa memperbaiki dasinya, Desta menatap Khalisa dengan raut wajah bahagia.
"Senangnya diperhatikan, jujur aku sulit pakai dasi, eh ada istri aku yang perhatian," sahut Desta, Khalisa tersenyum malu.
🍁🍁🍁
Akhirnya Desta pamit berangkat ke kantor, Khalisa mencium punggung tangan Desta, dan Desta mencium kening Khalisa.
"Ya Allah Neng, bahagianya saya melihat Aden Desta dan Neng Khalisa, rumah tangga yang sangat romantis," sahut Bi Aning.
"Bibi bisa aja, Bibi juga harus romantis dong sama Pak Jamal," sahut Khalisa.
"Bibi mah udah tua Neng, gak pantas romantisan," sahut Bi Aning.
"Kata siapa udah tua gak boleh romantis, justru saya kagum sama orang yang meskipun sudah tua, masih aja romantis, aku ingin seperti itu, sampai tua bakal tetap romantis," sahut Khalisa tersenyum.
"Kalau saya lihat mah, Den Desta mah bakal romantis sampai tua, buktinya masih muda aja udah romantis, apa lagi udah tua," sahut Bi Aning.
"Iya Bi," sahut Khalisa.
"Emang kaya saya, masih muda di sayang, udah tua malah di katain terus, kan suami aneh itu," sahut Bi Aning.
"Bukan aneh Bi, mungkin Pak Jamal malu, aku yakin Pak Jamal itu orangnya romantis banget," sahut Khalisa.
"Itu kalau menurut Neng, kalau menurut saya ia tidak romantis," sahut Bi Aning.
"Kok gitu sih Bi? tanya Khalisa.
" Gitu gimana Neng?" sahut Bi Aning.
"Jangan gitu, coba Bibi pelan-palan rayu Pak Jamal," sahut Khalisa.
"Malas ah Neng, biarin aja saya udah gak butuh romantis Neng, udah tua juga malu," sahut Bi Aning.
"Oke, oke Bi, maaf ya Bi," sahut Khalisa.
"Kenapa minta maaf Neng?" tanya Bi Aning.
"Minta maaf aja, he-he-he," sahut Khalisa.
__ADS_1
"Neng gak salah kok, masa harus minta maaf," sahut Bi Aning.
Bersambung..