Ta'Aruf Cinta

Ta'Aruf Cinta
S2-217


__ADS_3

"Buktiin Jok, lo bisa!" sahut Bang Sandi.


Masakan di meja makan pun siap dihidangkan Khalisa. Saat Khalisa mau memanggil suaminya Desta, Desta sudah tiba di meja makan dan mengagetkan Khalisa sambil memeluk Khalisa.


"Duuuaaarrr, ha-ha-ha." Sahut Desta tertawa sambil memeluk Khalisa.


"Astaghfirullah, sayang aku kaget, kamu kebiasaan, kalau aku sampai jantungan gimana?" tanya Khalisa.


"Jangan dong! kalau kamu jantungan, aku ikut jantungan juga, biar mati sama-sama, ha-ha-ha." Sahut Desta menggombal.


"Masya Allah, suami aku gombal terus sih, aku sampai terbang lho ke langit ke tujuh, sayang aku bau masakan, kamu emang gak kebauan ciumin aku?" tanya Khalisa.


"Biarin gombal dan Bucin, sama istri sendiri ini, gak peduli apa kata orang lain, sama sekali gak bau!" sahut Desta.


"Ya udah, aku udah siapin semua, nasi kuning, kamu makan ya sayangku, habis itu mandi obatin luka di tangan kamu! Bi Aning, ambil piring, sendokin nasi sama lauk buat Bapak-bapak di depan!" minta Khalisa.


"Siap Neng." Sahut Bi Aning.


"Emang para Bodyguard udah selesai fitnes yah?" tanya Desta.


"Sudah dari tadi sayang." Sahut Khalisa.


"Cepat banget, sayang, kalau badan aku kaya mereka gimana?" tanya Desta.


"Ya gak apa-apa lah, yang penting sehat, emang kamu mau badannya kaya mereka?" tanya Khalisa.


"Mau, biar aku bisa tendang orang yang selalu sakitin kamu, aku bisa angkat, aku ceburin deh, di laut, ha-ha-ha." Sahut Desta.


"Emang siapa yang mau nyakitin aku sayang, kamu ada-ada aja!" sahut Khalisa.


"Neng, Bibi permisi antar ini dulu ya Neng!" sahut Bi Aning.


"Siap Bi." Sahut Khalisa.


"Mmmm... enak banget sayang masakan istri aku ini, sekarang kamu sudah pintar masak yah?" tanya Desta.


"Sedikit-sedikit, aku belajar dari Bi Aning juga." Sahut Khalisa.


"Gak apa-apa sayang, aku selalu dukung kamu!" sahut Desta.


"Makasih ya sayang." Sahut Khalisa.


☀☀☀☀

__ADS_1


Di kediaman rumah Bunda Maryam. Dewa tidak mau makan kalau belum bertemu Papahnya. Semua gak ada yang bisa membujuk Dewa.


"Dewa, ayo makan! buka mulutnya!" minta Mirna.


"Dewa gak mau makan! Dewa mau ketemu Papah! Dewa gak mau!" sahut Dewa membuang sendok yang ada di tangan Mirna.


"Dewa! nakal nih, jangan susah dibilangin Mamah yah! Papah kamu jahat! gak usah ingat Papah lagi! ngerti!" sahut Mirna menjewer kuping Dewa.


"Mamah jahat! Mamah jahat! hiks-hiks-hiks...." sahut Dewa menangis.


"Mirna, sudah, biar Mba yang bujuk!" sahut Bunda Maryam.


"Dewa, Dewa gak boleh kaya gitu sama Mamah! Tante iam janji bakal temuin Dewa sama Papah, tapi Dewa makan yah!" minta Bunda Maryam.


"Bohong! Bohong! Bohong! hiks-hiks-hiks...." sahut Dewa tetap susah dibujuk.


"Sini! sini kamu! harus dikurung yah nih Anak! susah dibilangin!" sahut Mirna menarik Dewa ke kamar dan menguncinya.


"Buka! hiks-hiks-hiks.... Mamah! hiks-hiks-hiks....." Dewa mengedor-gedor pintu.


"Mirna, kenapa kamu kurung? kasihan dia belum makan, kalau sakit gimana?" tanya Ayah Umar.


"Aku bingung Mas, harus bagaimana, hiks-hiks-hiks... kenapa nasibku seperti ini!" sahut Mirna sambil menangis dan menggeprak di lantai.


"Coba sini kuncinya!" minta Ayah Umar.


Semua gara-gara Papah, Raja benci Papah, Raja gak mau ketemu Papah, Papah Raja sudah mati, gara-gara Papah, Adik Dewa menangis.


"Raja, ikut Om juga yuk! kita beli es cream, habis itu kita makan yah!" ajak Ayah Umar.


"Hiks-hiks-hiks...." Mirna masih menangis.


"Mirna, sudah lah, ngapain kamu nangis seperti itu, jangan kamu tangisin lelaki itu, karena dia, kamu jadi seperti ini." Sahut Bunda Maryam.


"Aku bingung Mba, aku bingung dengan Anak-anak, Raja membenci Papahnya, sedangkan Dewa ingin ketemu Papahnya, apa aku egois Mba, gak mempertemukan Dewa dengan Papahnya?" tanya Mirna.


"Kamu gak egois, situasi ini sedang rumit dan masih belum pas buat temuin Dewa dengan Papahnya, dari pada bahaya, mungkin kalau Raja sudah mengerti kekerasan yang dilakukan Suami kamu, mangkanya dia trauma dan benci Papahnya, sedangkan Dewa masih belum mengerti, dia masih butuh kasih sayang seorang Bapak, karena dulu kan Dewa yang dekat sama Jono, kamu sabar dulu yah!" minta Bunda Maryam.


"Iya Mba, sampai kapan penderitaan ini berakhir." Sahut Mirna.


"Kamu banyak berdoa, tawakal, dan meminta sama Allah, siapa tahu, dari semua masalah ini, pasti ada hikmahnya." Sahut Bunda Maryam tersenyum.


"Iya Mba, kalau Dewa nangis lagi, minta sama Papahnya gimana Mba?" tanya Mirna.

__ADS_1


"Dewa masih kecil, kamu iyakan saja, kamu alihkan apa kek, biar lupa sama Jono! Mba yakin, kamu bisa Mirna!" sahut Bunda Maryam.


"Insya Allah, Mba." Sahut Mirna tersenyum.


"Udah, jangan nangis lagi, sarapan yuk!" ajak Bunda Maryam.


Bunda Maryam mengajak Mirna sarapan bersama, Mirna melihat Raja dan Dewa sedang bercanda dengan Ayah Umar. Mirna berharap, semoga Dewa lupa dengan Papahnya.


"Kamu lihat Mirna! Mas Umar bisa kan bujuk Dewa." Sahut Bunda Maryam tersenyum.


"Iya Mba, semoga Dewa lupa dan gak ingat Ayahnya lagi!" sahut Mirna.


"Kalau bujuk Anak, jangan pakai kekerasan, Anak makin susah ngerti, boleh keras, tapi jangan sampai kamu main tangan kaya tadi!" minta Bunda Maryam.


"Habis, Mirna emosi Mba, gak sabar!" sahut Mirna.


"Kalau kamu gak sabar, jadinya apa? malah melawan kan, coba belajar sabar ya Mirna!" minta Bunda Maryam.


"Insya Allah, Mba." Sahut Mirna.


☀☀☀☀


Di kediaman sel penjara, Jono menangis, Jono menyesali atas perbuatannya. Jono sangat tersiksa di penjara dan selalu dipukuli oleh sesama tahanan dalam sel.


"Hiks-hiks-hiks.... Aku menyesali, apa yang aku lakukan selama ini ya Allah, Aku gak pernah bersyukur atas nikmatmu." Jono menangis dan menyesali.


"HEH, BERISIK! DARI PADA LO NANGIS, GAK ADA GUNA, MENDINGAN LO PIJITIN NIH, KAKI KITA! CEPAT! CEPAT!" perintah salah satu tahanan dalam sel.


Akhirnya, Jono mau memijat teman-temannya dalam tahanan. Polisi memanggil Jono, karena ada yang membesuk, ternyata Ibunya.


"Saudara Jono! ikut! ada yang mau besuk kamu!" sahut polisi.


Jono keluar didampingi oleh kedua polisi, agar tidak kabur. Ibunya Jono menangis dan memeluk Jono. Ibunya Jono sangat dendam pada keluarga Mirna dan akan membalaskan dendam pada keluarga Mirna. Tapi entah kenapa, Jono melarang Ibunya agar balas dendam.


"Jono! Astaghfirullah, Nak, kenapa kamu jadi seperti ini, Ibu gak terima Nak! gak terima! hiks-hiks-hiks..." sahut Ibunya Jono menangis.


Bersambung...


Terima kasih teman-teman dan readersku atas dukungan kalian, sudah setia ikutin cerita Ta'aruf Cinta, semoga ceritanya bisa menghibur dan gak ngebosenin yah, di tunggu episode selanjutnya makasih 🥰🥰🥰🥰


Sambil menunggu cerita Ta'aruf cinta boleh yuk mampir ke ceritaku yang lainnya yuk, gak kalah seru dan romantis banget cekidot 🥰🥰🥰


- CINTA DAN DETIK TERAKHIR

__ADS_1


- CINTA COWOK DINGIN


- CINTA GADIS BISU


__ADS_2