
Di kediaman rumah Syifa. Dokter Ari telah sampai rumah Syifa. Syifa langsung menanyakan kembali kabar Khalisa, soalnya dia buru-buru pulang, gak pamit Khalisa.
"Assalamu'alaikum." Salam Dokter Ari.
"Wa'alaikumsalam, eh, Mas, sudah pulang, Mas udah sampaikan salam aku buat Khalisa kan?" tanya Syifa.
"Sudah kok, katanya gak apa-apa, dia ngerti, kamu kan punya Anak kecil." Sahut Dokter Ari.
"Alhamdulillah, semoga Khalisa selalu diberi ketabahan ya Mas, aku juga gak nyangka Ayah Umar pergi secepat itu, pas aku buka lainnya, wajahnya bersih, kaya bercahaya." Sahut Syifa.
"Mungkin, selama hidupnya, Ayah Umar baik, Allah itu maha adil, kata Dokter Chandra dia jarang cek ke Dokter, karena gak mau menyusahkan keluarganya, mangkanya, rasa sakit Ayah Umar, dia pendam dan rasakan sendiri, harusnya kalau dia rajin cek ke Dokter, kita bisa langsung cek, dan bisa operasi jantung Ayah Umar, tapi sudah telat, sudah menyebar ke peredaran darah dan sulit disembuhkan atau operasi." Sahut Dokter Ari.
"Iya Mas, aku jadi gak tega benaran, mana pas meninggal gak ada pesan atau apa sama sekali." Sahut Syifa.
"Mungkin, dia mau los pergi gitu aja, gak mau lihat keluarganya berat dan gak mau lihat air mata keluarganya, yang aku tangkap sih, kaya gitu." Sahut Dokter Ari.
Diluar ada suara mengetuk pintu, ternyata Ibu yang operasi waktu itu, yang ditolong oleh Bi Aning, dia datang ke rumah Syifa, untuk mengucapkan terima kasih, dan mau memberi uang untuk Dokter Ari.
"Assalamu'alaikum." Salam Ibu dan Anak.
"Wa'alaikumsalam, eh, Ibu, masuk-masuk!" minta Dokter Ari.
"Siapa Mas?" tanya Khalisa.
"Ini, Ibu-ibu yang waktu itu operasi butuh donor, Alhamdulillah, Ibu sekarang sehat yah!" sahut Dokter Ari.
"Alhamdulillah, berkat Dokter Ari, saya sehat kembali, saya mau kasih uang ini, secukupnya, kalau gak Dokter Ari tolong, mungkin Anak saya bisa sebatang kara." Sahut Ibu tersebut.
"Ya Allah, Ibu, itu sudah kehendak Allah, Ibu selamat berkat Allah, saya hanya perantara, jadi, Ibu ambil kembali yah, karena Anak Ibu lebih butuh, lagian ada seseorang yang sangat baik hati mau mendonorkan darahnya ke Ibu." Sahut Dokter Ari.
__ADS_1
"Siapa Dok, apa saya bisa bertemu langsung sama orangnya? jika Dokter tidak mau menerima, sebenarnya saya kecewa, tapi saya berterima kasih sama Dokter, mau membantu saya tulus." Sahut Ibu tersebut.
"Kan memang sudah tugas saya menjadi Dokter, buat saling menolong Bu, untuk sembuh atau enggak, sudah ada kuasanya, saya ikhlas, senang, bisa lihat Ibu sehat, tanpa imbalan apa pun." Sahut Dokter Ari.
"Iya Dok, apa saya boleh bertemu sama orang yang mendonorkan darah pada saya?" tanya Ibu tersebut.
"Boleh, tapi majikannya sedang berduka Bu, jadi gak ada di rumah, ada di rumah orang tua majika." Sahut Dokter Ari.
"Innalillahi Wa'innalillahi Roji'un, saya turut berduka, tolong lah Dok, saya ingin bertemu!" minta Ibu tersebut.
"Saya aja, baru pulang Bu, saya begadang, rasanya masih capek banget, saya cuti sehari, gak masuk kerja, kalau mau besok malam aja, sore kan saya pulang kerja, Ibu ke sini aja, sekalian Tahlilan." Minta Dokter Ari.
"Oh, gitu, maaf Dok, saya gak tahu, kalau gitu, besok gak apa-apa Dok! maaf ini, jadi mengganggu." Sahut Ibu tersebut.
"Silakan minum Bu, maaf cuma sirup, cemilannya ini aja." Sahut Syifa membawa dua gelas sirup dan biskuit coklat." Sahut Syifa.
"Sama-sama Bu, ayo minum!" minta Syifa.
"Ibu punya Anak baru satu?" tanya Ibu tersebut.
"Iya Bu, masih tiga bulan." Sahut Syifa.
"Saya juga satu ini Bu, harapan saya, Bapaknya sudah meninggal, kalau waktu itu, saya gak ditolong, saya gak tahu nasib Anak ini." Sahut Ibu tersebut.
"Astaghfirullah, semoga Ayahnya tenang di surga ya Bu, Alhamdulillah, suami saya dikasih kesempatan untuk bisa menolong Ibu, Anaknya sudah sekolah?" tanya Shifa.
"Tahun depan mau masuk SD Bu." Sahut Ibu tersebut.
Setelah lama ngobrol-ngobrol, Ibu dan Anak tersebut pulang dan pamit. Syifa benar-benar bangga sama Ibu tersebut, susah payah cari uang buat biaya hidup, mangkanya Dokter Ari tidak mau menerima uang tersebut, karena menolong ikhlas.
__ADS_1
"Adek salut sama Ibu itu Mas, berjuang sendiri buat biaya hidup bersama Anaknya, Syifa masih bersyukur punya Emak dan Bapak." Sahut Syifa.
"Iya Dek, hidup harus disyukuri, rezeki orang masing-masing berbeda, meskipun keadaan kita sederhana, asalkan kita hidup bahagia, tenang, nyaman." Sahut Dokter Ari.
"Mas, Adek bersyukur kok, atas nikmat yang Allah berikan pada Adek, meskipun hidup kita gak terlalu mewah, Adek bahagia punya suami tegar seperti Mas, Adek gak pernah minta apa-apa kok, asalkan Mas sayang sama Adek dan Adhel, itu udah cukup buat Adek bahagia." Sahut Syifa.
"Kalau jabatan Mas naik, mungkin kita bisa lebih mewah kaya Mas Desta, Adek sabar yah, Mas janji, Mas akan bahagiakan Adek dan Adhel, Mas juga akan berusaha terus buat Adik dan Adhel." Sahut Dokter Ari.
"Adik udah bilang, Adik mau sederhana aja, gak mau hidup terlalu mewah, asalkan kita gak kekurangan, Adhel bisa sekolah tinggi, Adik bahagia Mas, Adik selalu dukung Mas, susah senang, Adik akan bersama Mas." Sahut Syifa.
"Sebenarnya, Mamah Mas, ngasih rumah mewah buat kita, tapi maaf ya Dek, Mas tolak, Mas gak mau kaya dari orang tua, Mas mau belajar dari bawah, seperti Mas Desta, Mas Desta itu, inspirasi Mas, agar Mas berusaha dan semangat tanpa bantuan orang tua, harusnya kita yang bantu orang tua, bukan kita yang minta sama orang tua, mangkanya, Mas mau buktiin, Mas bisa seperti apa kata Mas Desta waktu nasihatin Mas." Sahut Dokter Ari.
"Iya Mas, mereka berdua, benar-benar inspirasi buat kita, mereka gak pernah pelit bagi ilmu buat kita, Khalisa selalu banyak memberi inspirasi buat Adek, agar menjadi cewek yang sangat tegar dan sabar, banyak hal-hal yang Adik pelajarin dari Khalisa, Khalisa ngajarin Adik buat mandiri juga." Sahut Syifa.
"Iya Dek, Mas juga bangga sama mereka, rintangan demi rintangan, mereka hadapi berdua, meskipun rasanya berat, tapi Mas salut sama mereka, ketegaran dan kesabaran mereka yang membuat mereka utuh dan selalu bersama suka dan duka, kita harus contoh mereka berdua sayang." Sahut Dokter Ari.
"Tapi Mas, kenapa saat kita butuh uang buat pengobatan Adhel, Mamah kamu gak mau bantu, bilangnya gak ada uang dan pura-pura sedih, tapi nyatanya Mamah itu kaya dan banyak uang." Sahut Syifa.
Bersambung....
Terima kasih teman-teman dan readersku atas dukungan kalian, sudah setia ikutin cerita Ta'aruf Cinta, semoga ceritanya bisa menghibur dan gak ngebosenin yah, di tunggu episode selanjutnya makasih 🥰🥰🥰🥰
Sambil menunggu cerita Ta'aruf cinta boleh yuk mampir ke ceritaku yang lainnya yuk, gak kalah seru dan romantis banget cekidot 🥰🥰🥰
- CINTA DAN DETIK TERAKHIR
- CINTA COWOK DINGIN
- CINTA GADIS BISU
__ADS_1