
"Mas sebenarnya tahu, kalau Mamah bohong, tapi udah lah, karena hal itu, Mas gak mau makan uang Mamah lagi, kita akan usaha sendiri, tanpa mereka, kita bisa." Sahut Dokter Ari.
"Iya Mas, ini, malah orang lain yang berbaik hati nolong kita, sampai sekarang juga Mamah sama Papah kamu gak nengokin kita!" sahut Syifa.
"Mungkin, Mamah agak kesal, karena Mas banyak nolak tawaran Mamah, Adek gak usah pikirin yah!" minta Dokter Ari.
"Iya Mas." Sahut Syifa.
☀☀☀☀
Di kediaman rumah Bunda Maryam. Khalisa, Mirna, dan Umi Sarah telah selesai membuat kue-kue untuk tahlilan. Mereka juga menghitung uang sholawat untuk selametan Ayah Umar sampai tujuh hari.
"Khalisa, ini uang sholawat ada satu juta tiga ratus, kamu kasih Bunda Maryam yah!" minta Umi Sarah.
"Makasih ya Umi, nanti Khalisa kasih Bunda." Sahut Khalisa.
"Sama-sama Neng, untuk tahlilan pertama, kita kue-kue, kacang rebus, sama buah semangka dan Aqua, untuk besok sampai tujuh hari, baru kita bikin besek yah!" sahut Umi Sarah.
"Iya Umi, Khalisa ikutin aja, soalnya Khalisa kurang begitu paham, Bunda ditanya, tapi jawabnya terserah, Khalisa kan jadi bingung, untung ada Umi." Sahut Khalisa.
"Ya udah, ada Umi di sini, jadi beres semua!" sahut Umi Sarah.
"Hallo, ini kue pisang udeh pada mateng ye, coba kalian rasain enak kagak?" tanya Emaknya Syifa.
"Mmm... enak kok Mak." Sahut Khalisa.
"Iya, enak." Sahut Umi Sarah.
"Iya, enak Mak." Sahut Mirna.
"Alhamdulillah, syukur dah, Emak ahli, kalau bikin beginian, Emak kan jualan kalau pagi." Sahut Emaknya Syifa.
"Berapaan Mak satunya?" tanya Umi Sarah.
"Dua rebuan aje Umi, kalau mau pesan, boleh, nanti ye!" sahut Emaknya Syifa.
"Siap." Sahut Umi Sarah.
"Bunda Maryam kemane?" tanya Emaknya Syifa.
"Lagi, istirahat di kamar Mak." Sahut Khalisa.
"Kayanye, Bunda Maryam belum ikhlas dah, Ayah Umar meninggal, dari tadi sedih mulu." Sahut Emaknya Syifa.
"Bukan gak ikhlas, cuma belum biasa aja dia tanpa Ayah Umar." Sahut Umi Sarah.
"Iya Umi, soalnya, di sini banyak kenangan bersama Ayah, Ayah kan sering wara-wiri di rumah Ini." Sahut Khalisa.
"Kamu harus terus menghibur Bunda ya Neng, biar gak melamun sendiri." Sahut Umi Sarah.
"Emang ayah Umar sakit ape? perasaan lewat depan rumeh Emak baik-baik dan sehat aje tuh!" sahut Emaknya Syifa.
"Sakit jantung Mak, Khalisa juga baru tahu, Ayah gak pernah terus terang sama penyakitnya itu!" sahut Khalisa.
"Mungkin dia gak mau buat kamu susah, atau sedih Neng!" sahut Umi Sarah.
__ADS_1
"Iya Umi, Ayah emang gak mau nyusahin kita, kita jadi nyangka Ayah, selama ini sehat-sehat aja!" sahut Khalisa.
"Mirna emang, sebagai Adiknya, gak tahu Kakaknya sakit?" tanya Umi Sarah.
"Gak tahu Umi, Mas Umar tertutup sama Mirna." Sahut Mirna.
"Bi Aning masih masak nasi Lis?" tanya Umi Sarah.
"Iya Mi." Sahut Khalisa.
"Neng, nanti habis tahlilan, Emak pulang ye, besok Emak kemari lagi, buat bantuin Neng." Sahut Emaknya Syifa.
"Iya Mak, gak apa-apa." Sahut Khalisa.
"Umi sama Abi juga pulang Neng, besok ke sini lagi!" sahut Umi Sarah.
"Iya Umi, gak apa-apa." Sahut Khalisa.
"Nanti, habis tahlilan aja." Sahut Umi Sarah.
"Iya Umi." Sahut Khalisa.
"Umi ke Abi Mahmud dulu yah, mau bawain kue pisang buatan Emak." Sahut Umi Sarah.
"Bisa aje Umi." Sahut Emaknya Syifa.
"Dewa mau!" minta Dewa.
"Raja mau Mah!" minta Raja.
"Mba, aku ke kamar Bunda dulu yah, siapa tahu udah bangun, aku gak mau Bunda melamun terus!" sahut Khalisa.
"Iya Lis." Sahut Mirna.
Akhirnya, Khalisa menghampiri kamar Bunda Maryam. Khalisa memberi uang sholawat untuk Bunda Maryam. Tapi, Bunda Maryam tidak mau menerima, menyuruh Khalisa saja yang megang.
"Assalamu'alaikum, Umi." Sahut Khalisa tersenyum.
"Wa'alaikumsalam." Jawab Bunda Maryam.
"Bunda kenapa lagi? masih mikirin Ayah yah?" tanya Khalisa.
"Bunda gak apa-apa Neng, Bunda hanya ingat kenangan-kenangan bersama Ayah." Sahut Bunda Maryam.
"Ya Allah, Bunda boleh mengingat Ayah, tapi, Bunda jangan sampai sakit dan melamun, Khalisa gak mau Bunda sakit!" sahut Khalisa.
"Iya Nak, Bunda gak apa-apa." Sahut Bunda Maryam.
"Bun, ini, ada uang sholawat Ayah, satu juta tiga ratus, banyak ya Bun, karena banyak sekali orang-orang yang peduli sama Ayah." Sahut Khalisa.
"Alhamdulillah, kamu simpan aja! Bunda lagi gak bisa megang uang, pikiran Bunda lagi gak tenang Neng." Sahut Bunda Maryam.
"Ta-tapi, Bun, ini hak Bunda." Sahut Khalisa.
"Iya, tolong kamu simpan baik-baik ya Nak, Bunda percaya sama kamu!" sahut Bunda Maryam.
__ADS_1
"Ya udah, kalau gitu, ini cukup buat tahlilan Ayah, sampai tujuh hari Bun." Sahut Khalisa.
"Iya Nak, Alhamdulillah." Sahut Bunda Maryam.
"Khalisa simpan ya Bunda." Sahut Khalisa.
"Iya Nak." Sahut Bunda Maryam.
"Hiks-hiks-hiks... Bunda gak usah sedih, masih ada Khalisa yang selalu ada buat Bunda." Sahut Khalisa memeluk Bunda sambil menangis.
"Makasih sayang, jangan nangis ah!" minta Bunda Maryam.
"Bunda juga dong!" minta Khalisa.
"Iya sayang." Sahut Bunda Maryam sambil menghapus air mata Khalisa.
"Assalamu'alaikum, eh, pada kenapa ini? Besan sama mantu, kok nangis?" tanya Umi Sarah.
"Wa'alaikumsalam." Jawab Khalisa dan Bunda Maryam.
"Gak apa-apa Umi." Sahut Khalisa.
"Udah dong, kalian semangat, jangan sedih-sedih lagi yah! Umi mau minta ajarin nyalahin air kran gimana? soalnya mati, Umi mau mandi." Sahut Umi Sarah.
"Iya Umi, ayo! Khalisa ajarin, oh, iya, Bunda gak mau pegang uang ini, Bunda nyuruh Khalisa buat simpan Umi." Sahut Khalisa.
"Iya gak apa-apa, kamu aja yang simpan yah! Umi juga percaya sama kamu! Besan, saya tinggal dulu yah!" sahut Umi Sarah.
"Iya Umi, makasih!" sahut Bunda Maryam.
"Emang, Mba Mirna gak ada Umi?" tanya Khalisa.
"Gak tahu kemana? sama Anak-anaknya kali, Abi Mahmud juga gak ngerti, apa lagi Emak dan Bi Aning." Sahut Umi Sarah.
"Umi, tinggal pencet tombol merah aja, itu lagi ngisi, belum penuh, kalau udah penuh bak penampungan, otomatis kran dinyalahin bakal keluar, dia gak keluar karena habis air di penampungan." Sahut Khalisa.
"Oh, gitu, beda sama rumah Umi, atau kamu yah, tinggal buka kran keluar air dan gak habis-habis, kamu ada sendal gak? kok kotor sih bukan ubin, semen gini!" sahut Umi Sarah.
"Sebentar ya Mi, Emak-Emak! pinjam sendalnya dong!" minta Khalisa.
"Buat ape? Emak nyeker dong!" sahut Emaknya Syifa.
"Ntar Emak cuci kaki aja, Umi Sarah gak biasa injak semen di rumah Khalisa, ngeres katanya." Sahut Khalisa.
Bersambung...
Terima kasih teman-teman dan readersku atas dukungan kalian, sudah setia ikutin cerita Ta'aruf Cinta, semoga ceritanya bisa menghibur dan gak ngebosenin yah, di tunggu episode selanjutnya makasih 🥰🥰🥰🥰
Sambil menunggu cerita Ta'aruf cinta boleh yuk mampir ke ceritaku yang lainnya yuk, gak kalah seru dan romantis banget cekidot 🥰🥰🥰
- CINTA DAN DETIK TERAKHIR
- CINTA COWOK DINGIN
- CINTA GADIS BISU
__ADS_1