Ta'Aruf Cinta

Ta'Aruf Cinta
S2-145


__ADS_3

"Sayang, kamu kenapa? kata Bi Aning kram?" tanya Desta sambil mengelus perut Khalisa dan menciumnya.


"Maaf ya sayang, aku gak bisa masakin kamu, iya perut aku kram, gak bisa lama-lama berdiri!" sahut Khalisa.


"Kita ke Dokter yah, aku libur kerja aja, aku gak mau sampai kamu kenapa-kenapa, aku gak mau!" sahut Desta.


"Jangan sayang, kamu harus kerja, ini udah enakan kok sandaran, kamu kerja aja yah!" minta Khalisa.


"Mungkin karena turun-naik tangga yah, ya udah, kita pindah kamar di bawah aja yah! aku gak mau kamu sampai sakit lagi, sekarang kita berobat habis sarapan, kerja aku gampang, nanti kalau sudah ngantar kamu, baru aku berangkat kerja! yang penting kesehatan kamu dan Dedek kembar kita dulu sayang!" minta Desta.


"Sayang, aku gak apa-apa, iya kita pindah di kamar bawah dulu aja yah!" minta Khalisa.


"Enggak, pokoknya harus ke Dokter!" sahut Desta.


"Sa-yang," sahut Khalisa tidak bisa menolak.


"Sssttt, kamu gak boleh ngebantah yah!" minta Desta.


"Permisi, Den, Neng, ini sarapannya, sama minumannya, susunya untuk Neng Khalisa." Sahut Bi Aning meletakan sarapan, minuman dan susu untuk Khalisa.


"Makasih ya Bi." Sahut Khalisa.


"Makasih Bi." Sahut Desta.


"Sama-sama Neng, Den, Neng gimana perutnya? masih sakit?" tanya Bi Aning.


"Sedikit Bi." Sahut Khalisa.


"Mau Bibi bikinin kamu gak Neng, Jamu alami, khusus buat orang hamil, kalau mau, Bibi buatkan!" tawar Bi Aning.


"Boleh Bi, katanya pahit ya Bi?" tanya Khalisa.


"Bahaya gak tuh? aku gak mau kamu kenapa-kenapa lho!" sahut Desta.


"Jamunya gak ada efek sampingnya Den, alami, bahan-bahannya juga alami, dari rempah-rempah kok, itu bisa menghilangkan kram, dan lainnya." Sahut Bi Aning.


"Ya udah, kalau gak bahaya gak apa-apa, aku gak mau sampai ada apa-apa sama istri saya Bi!" sahut Desta.


"Gak apa-apa kok sayang, dulu Bunda juga sering buat untuk Mba Mirna, bikinin aja ya Bi, nanti uang buat beli bahan-bahannya bilang ya sama aku!" sahut Khalisa.


"Siap Neng, Den, Bibi permisi dulu yah!" sahut Bi Aning.

__ADS_1


"Iya Bi, makasih yah!" sahut Khalisa.


"Ke Dokter tetap yah, gak boleh enggak!" sahut Desta.


"Iya, iya suamiku..." sahut Khalisa.


"Aku besok aja deh, masuk kerjanya, hari ini, biar di handle yang lain aja dulu kerjaan aku!" sahut Desta.


"Jangan dong sayang, aku gak mau ah, nanti malah gak beres!" sahut Khalisa.


"Kamu tenang aja sayang, gak apa-apa kok, yang handle orang kepercayaan aku, jadi, kamu gak usah khawatir yah, yang penting, kamu dan Dedek kembar kita selalu sehat dan baik-baik aja!" sahut Desta.


"Ya udah, kalau gitu sayang." Sahut Khalisa.


"Nanti, biar baju-baju kita di bantu Bi Aning yah, buat pindah kamar di bawah, kemarin aku udah bilang, kamunya ngeyel sih!" sahut Desta.


"Maksudnya biar aku bergerak sayang, jadi biar sehat turun-tangga, eh, malah gak kuat!" sahut Khalisa.


"Mangkanya jangan bandel yah!" sahut Desta.


☀☀☀☀


"Sayang, kamu istirahat aja, aku mau bawa baju-baju kita, pindah ke bawah, sama ambil barang-barang kita, habis itu, kita berangkat ke rumah sakit yah!" sahut Desta.


"Iya sayang, aku tidur sebentar ya sayang." Sahut Khalisa.


"Iya sayang, gak apa-apa, kamu bobo aja, sini aku mau ngomong dulu sama Dedek kembar kita! Assalamu'alaikum, Dedek selamat pagi Nak, sedang apa kalian, jangan nakal ya Nak, kasihan Mamahnya, jangan bikin Mamah sakit Nak, Papah sayang banget sama kalian berdua Nak, mmmuachh..." sahut Desta mencium perut Khalisa sambil mengelus dan mencium kening Khalisa.


Desta langsung memanggil Bi Aning untuk membantu membawa barang ke kamar bawah.


☀☀☀☀


Di kediaman rumah sakit, Adhel Anak Syifa koma, Adhel segera ditangani oleh Dokter Candra. Syifa menangis tersedu-sedu sambil memeluk Dokter Ari. Semua keluarga Ari, Syifa berkumpul dan berharap keajaiban akan datang untuk Adhel. Gak lama, Bunda Maryam dan Ayah Umar pun datang untuk menjenguk. Bunda Maryam ikut menangis karena tidak tega melihat bayi sekecil itu menderita.


"Mas, gimana nasib Adhel? hiks-hiks-hiks." Sahut Syifa.


"Kamu yang sabar ya Dek, aku yakin Dokter Chandra bisa menanganinya." Sahut Dokter Ari meneteskan air mata.


"Ari dan Syifa sabar yah!" Sahut Ayah dan Bunda Ari ikut prihatin.


"Sabar Neng, sabar!" sahut Emaknya Syifa.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum." Salam Bunda Maryam dan Ayah Umar.


"Wa'alaikumsalam." Jawab salam Syifa, Ari dan lainnya.


"Gimana Syifa, keadaan Anak kamu?" tanya Bunda Maryam.


"Adhel kejang-kejang Bun, sudah di tangani Dokter Chandra." Sahut Syifa.


"Astaghfirullah, kasihan sekali, ya Allah, angkat penyakitnya, kasihan ya Allah." Sahut Bunda Maryam meneteskan air mata.


"Yang sabar yah, Syifa dan Dokter Ari." Sahut Ayah Umar.


"Makasih Ayah, Bunda udah mau jenguk, kemarin Khalisa sama Kak Desta ke sini!" sahut Syifa.


"Iya, dia udah bilang kemarin, dia juga mau selamatan tujuh bulanan, kalau Syifa masih sibuk, gak datang gak apa-apa, Bunda doain biar Adhel cepat diangkat penyakitnya dan bisa menghadiri acara selamatan Khalisa.


"Aamiin, insya Allah Bun.


Gak lama, Dokter Chandra keluar, memberi tahu, kalau Adhe segera dioperasi transplantasi sumsum tulang belakang. Dan Biaya itu mencapai lima puluh juta bahkan lebih, resiko operasi sumsum tulang belakang juga gak menjamin selamat, hanya keajaiban Allah yang bisa diharapkan. Dokter Chandra harus mencari pendonor yang mau mendonorkan untuk Adhel.


"Gimana Dokter Chandra, Adhel gimana? hiks-hiks-hiks?" tanya Syifa sambil menangis.


"Begini, Nyonya Syifa, Dokter Ari, kita harus melakukan operasi transplantasi sumsum tulang belakang, hanya itu yang bisa kita lakukan untuk Adhel, tapi semua itu kehendak Allah, itu pun gak menjamin berhasil, usaha kita gak ada yang tahu, dan biaya itu juga sangat mahal, sekitar lima puluh juta bahkan lebih, jika sama orang lain saja berobat di Malaysia atau cina, bisa delapan ratus juta, karena sama Dokter Ari aja, kalau setuju secepatnya tanda tangan yah! dan satu lagi, salah satu keluarga harus siap menjadi pendonor Adhel.


"Astaghfirullah, hiks-hiks-hiks." Syifa pingsan mendengar ucapan Dokter Chandra.


"Syifa! Syifa! hiks-hiks-hiks." Dokter Ari menangis dan menggendong Syifa yang pingsan ke ruangannya.


Ya Allah, apa salahku ya Allah, hiks-hiks-hiks, kenapa cobaan ini begitu berat! Anakku harus operasi, ya Allah, aku gak sanggup, hiks-hiks-hiks, Adhel, Papah harus gimana Nak? gimana cari uang sebanyak itu, ya gusti! hiks-hiks-hiks." Dokter Ari menangis sambil menatap wajah Syifa yang pingsan, yang sedang diolesi minyak oleh Ibunya Ari.


Bersambung...


Terima kasih teman-teman dan readersku atas dukungan kalian, sudah setia ikutin cerita Ta'aruf Cinta, semoga ceritanya bisa menghibur dan gak ngebosenin yah, di tunggu episode selanjutnya makasih 🥰🥰🥰


Sambil menunggu cerita Ta'aruf cinta boleh yuk mampir ke ceritaku yang lainnya yuk, gak kalah seru dan romantis banget cekidot 🥰🥰🥰


- Cinta dan Detik Terakhir


- Cinta Cowok Dingin


- Cinta Gadis Bisu

__ADS_1


__ADS_2