
Akhirnya, Syifa sampai depan rumah Khalisa. Syifa memanggil Pak Jamal.
"Boro liat tuh siapa yang datang," sahut Slamet.
"Bidadari gue akhirnya datang lagi," sahut Boro bangun dan menghampiri Syifa.
"Lo mau ngapain?" tanya Slamet.
"Mau nyamperin, mumpung Bang Joni tidur tuh, gue mau samperin pujaan hati," sahut Boro.
"Pak Khalisa udah pulang?" tanya Syifa.
"Udah Neng, gak jadi kuliah?" tanya Pak Jamal.
"Gak ada kelas Pak," sahut Syifa.
"Neng, kita berjumpa lagi, udah pulang ngampusnya?" tanya Boro.
"Udah kok Bang, maaf tadi balas singkat," sahut Syifa.
"Gak apa-apa kok Neng," sahut Boro.
"Pak Jamal, Bang Boro, saya masuk dulu yah," sahut Syifa.
"Iya Neng, Silakan," sahut Pak Jamal.
"Siap Neng," sahut Bang Boro.
"Assalamu'alaikum," Syifa memencat bel sambil mengucapkan salam.
"Neng, masuk aja!" teriak Pak Jamal. Syifa langsung masuk dan mengucapkan salam kembali.
"Wa'alaikumsalam Neng, baru datang lagi Neng?" sapa dan salam Bi Aning.
"Iya Bi, Khalisa mana Bi?" tanya Syifa.
"Di kamar Neng, soalnya tadi mual-mual, kepala pusing," sahut Bi Aning.
"Wah, jangan-jangan hamil Bi, boleh minta tolong Bi di panggilin gak?" tanya Syifa.
"Kenapa gak langsung ke kamar aja Neng," saran Bi Aning.
"Ah, gak enak Bi, saya tunggu sini aja," sahut Syifa.
"Ya udah, Bibi panggilin ya Neng, sekalian minum apa?" tanya Bi Aning.
"Apa aja Bi, makasih ya Bi," sahut Syifa.
🍁🍁🍁
Bi Aning langsung mengarah ke kamar Khalisa, ternyata pintu kamarnya tidak di kunci, Bi Aning melihat Khalisa tertidur lelap, Bi Aning terpaksa membangunkan Khalisa.
"Permisi, Neng Khalisa, Neng," colek Bi Aning.
__ADS_1
"Mmmm, ada apa Bi?" tanya Khalisa sambil mengucek matanya.
"Maaf Neng, saya bangunin Neng, ada Neng Syifa, ia nunggu di ruang tamu Neng, maaf ya Neng, Bibi jadi bangunin," sahut Bi Aning.
"Hmm, gak apa-apa Bi, kenapa gak suruh ke atas aja, saya pusing banget kalau sampai naik-turun tangga Bi, Bibi suruh naik aja yah, sambil sediain minum, maaf ya Bi," minta Khalisa.
"Siap Neng, gak apa-apa, Bibi bikin minum sambil manggil Neng Syifa ya Neng, permisi," sahut Bi Aning.
"Neng, suruh naik ke atas yah, tahu kan kamarnya? soalnya Neng Khalisa pusing harus naik-turun tangga," sahut Bi Aning.
"Oh, gitu, waktu itu pernah sih, diajak ke kamarnya, soalnya banyak kamar, nanti saya coba deh Bi," sahut Syifa.
🍁🍁🍁
Syifa mencoba melangkah ke kamar Khalisa, tapi Syifa salah masuk ruangan, ia malah masuk ruangan untuk Salat. Syifa menghubungi Khalisa tapi gak aktif, Khalisa pun menunggu kok gak sampai-sampai.
Kok gue ke sini sih? ini kan ruangan salat, astaga, lagian ini rumah atau istana sih, udah kaya labirin, banyak belokan, Khalisa kenapa gak aktif sih.
"Bi, kok Syifa belum nongol yah," Khalisa langsung mengisi daya ponselnya.
"Biar Bibi cari Neng," sahut Bi Aning.
"Makasih Bi," sahut Khalisa.
"Bi, ia nyasar di ruangan salat sebelah, soalnya dia teleponin aku nih, hp aku low," sahut Khalisa.
"Bibi!" panggil Syifa.
"Neng kemana aja sih? kok bisa ke ruangan salat, Neng Khalisa nungguin lho," sahut Bi Aning.
"Gak tahu aku bisa nyasar ke sini, habis pusing saya Bi, muter-muter kaya labirin aja nih rumah," sahut Syifa.
"Iya Neng, waktu pertama kali juga Bibi sering salah kamar, tapi Neng Khalisa mah hafal yah, gak pernah nyasar," sahut Bi Aning.
"Mungkin ia udah diciptakan jadi istri nyonya besar Bi, jadi terbiasa, he-he," sahut Syifa.
"Neng bisa aja," sahut Bi Aning.
"Heh, nyasar kemana sih? kok bisa sampai sini? lo belum salat kali yah, jadi disuruh salat dulu," sahut Khalisa tiba-tiba datang.
"Bibi tinggal ya Neng," sahut Bi Aning.
"Iya Bi, makasih ya, pusing gue kalau udah masuk rumah lo, udah kaya labirin, kalau gak ada orang, bisa-bisa gue gak keluar ini," sahut Syifa.
"Pusing apa sih, dari tangga tinggal ke kanan, lurus, muter dikit, belok kanan," sahut Khalisa.
"Lo mah biasa, lah gue gak biasa, tadi gue ke kiri," sahut Syifa.
"Ya udah, kalau ke sini hafalin yah," sahut Khalisa.
"Kata Bi Aning, waktu pertama kali, lo gak pernah nyasar yah, hebat lo, calon istri saudagar kaya mah," sahut Syifa.
__ADS_1
"Ha-ha-ha, bisa aja lo, lagian orang gampang kok, nyasar kan masih dalam rumah ini, he-he," sahut Khalisa.
"Lis, Ac kamar lo nyala terus yah, dingin banget gue gak kuat," sahut Syifa.
"Astaga, noranya, tinggal matiin aja sayang, itu di situ remotnya," sahut Khalisa.
Khalisa langsung ke wastafel, Khalisa muntah-muntah dan mual. Syifa sejak tadi utak-atik kecilin Ac gak bisa-bisa.
"Lis, kenapa lo? mual yah? lo periksa aja, Jangan-jangan lo hamil," sahut Syifa.
"Iya nanti sore, lo bisa gunain alat kehamilan gak? ajarin dong," minta Khalisa.
"Gila lo, emang gue pernah pakai alat gituan apa, gue aja gak ngerti, udah lebih akurat periksa ke Dokter," saran Syifa.
"Kok Ac nya tambah dingin banget yah, katanya dingin, kok ditambah gede sih?" tanya Khalisa.
"Gue gak ngerti ah, gak pernah pakai gituan, mana gue tahu tambah gede, he-he," sahut Syifa.
"Ya, ampun Syifa, gue jitak juga nih, sini Neng gue ajarin," sahut Khalisa.
"He-he, iya kaya gimana?" tanya Syifa.
"Nih, kalau kecilin yang ini tombol-nya, kalau gede yang ini, kalau matiin yang ini, ngerti gak?" sahut Khalisa.
"Oke, oke Lis, gue ngerti, nora banget gue yah," sahut Syifa.
"Kebanyakan makan micin sih, kurangin micin kenapa," saran Khalisa.
"Eh, masakan tuh kalau tanpa micin, kurang rasa, bakso aja gak enak kalau tanpa micin," sahut Syifa.
"Hadeuh, Syifa, Syifa," sahut Khalisa.
Gak lama, Desta chat Khalisa dan mengirimkan foto kalau ia ingin salat jumat, senyuman manis Desta membuat Khalisa rindu, padahal belum sehari ditinggal udah rindu.
"Sayang, aku salat jumat dulu yah, itu foto aku mau salat jumat, i love you sayang," sahut Desta.
"love you to Kak, Foto Kakak bikin aku rindu, hotelnya dekat laut ya Kak?" tanya Khalisa.
"Iya sayang sama, aku juga kangen rindu sama kamu, iya dekat laut, pokoknya indah banget sayang, jadi pengen liburan sama kamu ke sini," sahut Desta.
"Ajak dong Kak," minta Khalisa di chatnya.
"Pasti sayang, aku berangkat dulu yah sayang, jangan lupa periksa ke Dokter, minta antar Umi, Bunda, atau Mba Mirna ya sayang," saran Desta.
"Iya Kak, hati-hati, kayanya Bunda sama Mba Mirna aja deh, kalau Umi aku gak enak, kalau hasilnya negatif, aku takut mengecewakan Umi, kalau emang benar-benar positif, aku baru beri kabar Umi," sahut Khalisa.
"Gimana terbaiknya kamu aja, aku selalu berdoa dan mendukung istriku," sahut Desta.
Bersambung...
Terima kasih atas dukungan kalian semua, readersku dan teman- teman udah setia ikutin cerita Ta'aruf Cinta, semoga ceritanya bisa menghibur dan gak ngebosenin ya, di tunggu episode selanjutnya 🥰🥰🥰
__ADS_1