Ta'Aruf Cinta

Ta'Aruf Cinta
Part 63


__ADS_3

"Pak Desta, sudah ditunggu Pak Danu di ruang Meeting," sahut Karyawan Desta.


"Oke, makasih, nanti saya ke ruang meeting," sahut Desta.


Gimana aku mau fokus kerja sayang, kalau aku mikirin kamu terus ya Allah, tolong aktifin handphone kamu sayang.


🍁🍁🍁


Gak lama Syifa sampai rumah Khalisa, dan ingin buru-buru masuk ke rumah Khalisa, karena ingin melihat keadaan Khalisa.


"Pak Jamal, Khalisa ada?" tanya Syifa.


"Ada Neng, masuk yuk!" Pak Jamal membuka gembok gerbang, Boro melirik dan terdiam, tidak menegur sama sekali pada Syifa.


"Hallo Bang Joni, Bang Slamet, Bang Boro," sapa Syifa.


"Hallo Neng," sahut Bang Joni dan Bang Slamet.


"Boro, lo kok diam aja gak enak tuh," sahut Bang Joni.


"Bodo amat Bang," sahut Bang Boro.


"Saya masuk dulu ya Bang," sahut Syifa.


"Silakan Neng," sahut Bang Joni.


"Assalamu'alaikum, Bi, Khalisa," salam Syifa.


"Wa'alaikumsalam, eh Neng Syifa, dari tadi ditunggu sama Neng Khalisa," sahut Bi Aning.


"Saya tadi ke percetakan dulu, Khalisa mana Bi?" tanya Syifa.


"Ada di kamar Neng, kayanya lagi sedih Neng, datang-datang matanya bengkak, kaya habis nangis gitu, Neng langsung aja ke kamarnya yah, Bibi buatin minum," sahut Bi Aning.


"Iya Bi makasih yah," sahut Syifa.


"tahu kan kamarnya? jangan nyasar lagi yah, he-he," sahut Bi Aning meledek Syifa.


"Tahu Bi, Bibi bisa aja deh," sahut Syifa.


"Oh, iya, mau dibikin minum apa Neng?" tanya Bi Aning.


"Minum apa aja Bi, yang penting dingin, he-he," sahut Syifa.


"Oke, siap!" sahut Bi Aning.

__ADS_1


🍁🍁🍁


Gak lama, Syifa menghampiri kamar Khalisa. Syifa melihat Khalisa sedang tertidur lelap, Syifa melihatnya perihatin dan kasihan dengan wajah sedihnya.


"Khalisa," Syifa membuka kamar Khalisa yang tidak dikunci.


Ya Allah, kasihan banget lo Lis, wajah lo lesu gitu.


"Lisa, Lisa, ini gue Syifa, Lis," colek Syifa.


"Hmmm, ah, lo Fa, maaf yah gue ngantuk banget, udah lama?" tanya Khalisa langsung bangun.


"Sory yah, gue bangunin lo, gak lama kok, baru aja, maafin gue juga lama," sahut Syifa.


"Iya gak apa-apa," sahut Khalisa.


"Lo kenapa Lis? kok tadi di telepon nangis? Desta? atau siapa nyakitin lo?" tanya Syifa.


"Hiks-hiks-hiks, Mertua gue Fa, gue dipaksa makan salad sayur, gue benaran gak suka, terus gue lagi mual juga Fa, Mertua gue marah dan kesal sama gue, sampai gue diusir suruh pulang, gue salaman aja gak mau, hiks-hiks-hiks, gue sedih Fa," sahut Khalisa.


"Ya Allah, gitu banget si Mertua lo, gak tahu apa lo lagi hamil, lagi mual, malah dipaksa, kalau dipaksa ya tambah mual lah, lo udah bilang ke Suami lo belum?" sahut Syifa kesal.


"Belum, gue takut ganggu dia kerja, gue gak mau dia kepikiran gara-gara gue dan Uminya, biarin gue simpan sendiri aja Fa," sahut Khalisa.


"Lo gak boleh gitu, lo harus bilang lah, biar tahu tuh kelakuan emaknya kaya gimana? jadi gue yang kesal, ya Allah, mata lo udah bengkak gitu, kasihan sahabat gue, hiks-hiks-hiks, Lisa," sahut Syifa langsung memeluk Khalisa sambil menangis.


"Ya gue sedih lah, sahabat gue diginiin, gue baru lihat lo nangis Lis, sampai segitu sedihnya, sampai bengkak gitu, sabar ya Lis," sahut Syifa sambil menghapus air mata Khalisa.


"Hiks-hiks-hiks," Khalisa menudukan kepalanya di lutut kakinya sambil menangis dengan suara pelan.


"Lisa, udah Lisa, nanti gue jadi tambah sedih, hiks-hiks," Syifa terus memeluk Khalisa.


"Permisi Neng, ya Allah Neng Khalisa kenapa? Neng Syifa juga ikut nangis juga, Neng, udah Neng, gak baik nangis terus, kasihan dedek bayinya," sahut Bi Aning yang sambil meletakan minuman Syifa.


"Saya berusaha buat nahan air mata Bi, tapi susah, air mata Khalisa selalu netes, udah gitu, pagi-pagi aja di rumah, tetangga gosipin aku, katanya Ta'aruf aneh dan abal-abal gak ikutin ajaran Islam, sampai Bunda nangis tadi pagi tuh, ditambah Ibu Mertua aku maksa buat aku makan salad sayur dan kecewa sama aku, mangkanya Khalisa mendingan pulang ke sini dulu, kalau di rumah pasti semua pada nanya dengan mata aku yang bengkak ini," sahut Khalisa.


"Tetangga gosipin lo Ta'aruf abal-abal? biarin aja Lis, yang penting lo kan gak zina, yang seperti lo bilang sama gue, mungkin iri kali, mau Ta'aruf gak ikutin ajaran Islam kek, gak usah ngurusin orang sih, ngaca dulu kenapa ia Ta'aruf dengan fanatik akhirnya hancur keluarganya, emang tuh Bu Wiwi mulutnya kaya gitu, kaya anaknya benar aja," sahut Syifa.


"Gue gak peduli Fa, apa kata orang, cuma hati gue tuh terasa sakit lihat Bunda nangis," sahut Khalisa.


"Sabar aja Neng, orang mau kata apa tentang Neng, yang penting Allah kan tahu, Neng sama Den Desta gak ngapa-ngapain, nanti dosa Neng pindah ke mereka, karena saya tahu dan kenal banget sama Den Desta, mungkin Den Desta pengen punya momen yang indah mangkanya adain prewedding sama dansa, kalau saya dengar gitu waktu bicara sama Abi sama Umi, Den Desta itu gak peduli apa kata orang yang penting ia bisa bahagiakan calon istri, waktu itu sih yang Bibi dengar gitu di rumah Umi Sarah, waktu Bibi masih kerja di sana," sahut Bi Aning.


"Iya Lis, udah jangan dipikirin lagi yah, lo yang selalu ngajarin gue buat tegar, sabar, nah, lo juga harus tegar dan sabar yah," sahut Syifa.


"Iya Neng, kalau masalah Umi kaya gitu, gak usah dipikirin, yang penting Den Desta sayang sama Neng, jangan sedih lagi ya Neng," sahut Bi Aning.

__ADS_1


"Makasih ya Bi, Syifa, udah semangatin, beruntung nya dikelilingi orang-orang baik seperti kalian," sahut Khalisa.


"Nah gitu dong, ini namanya sahabat gue," sahut Syifa memeluk Khalisa.


"Bibi permisi ya Neng-Neng cantik, Neng Khalisa mau Bibi buatin minum gak?" sahut Bi Aning tersenyum.


"Enggak Bi, makasih, ini masih ada air putih, he-he," sahut Khalisa tersenyum.


"Lis, bentar ada yang telepon," sahut Syifa.


Ternyata Bundanya Khalisa menghubungi Syifa, karena nomor Khalisa ditelepon gak aktif.


"Assalamu'alaikum," sahut Bunda dalam telepon.


"Wa'alaikumsalam, maaf ini siapa?" tanya Syifa.


"Ini Bunda Syifa, Bundanya Khalisa, Khalisa sama kamu? kok handphonenya gak aktif? Suami dan Mertua menghubungi dan Khawatir sama ia," sahut Bunda Maryam.


"Khalisa ada di rumahnya Bun, mau ngomong sama Khalisa?" tanya Syifa.


"Boleh," sahut Bunda Maryam.


"Lis, Bunda lo, mau ngomong," sahut Syifa.


"Hallo, Bun, ada apa? kok telepon ke Syifa sih? Bunda tahu dari mana nomor Syifa?" tanya Khalisa.


"Dari Suami kamu, kamu kenapa gak pulang sih Nak? nomor kamu gak aktif tahu gak? Mertua kamu telepon beberapa kali juga, kenapa bikin khawatir orang sih Nak?" tanya Bunda Maryam.


"Astaghfirullah, hp Khalisa mati low Bun, belum di charge, Khalisa ke sini ngajari Syifa masak, iya Bun, karena di sini kan lengkap bahan-bahannya, maafin Khalisa ya Bun, nanti Khalisa hubungi Kak Desta," sahut Khalisa.


"Cepat hubungi Suami kamu tuh, ia khawatir, mungkin sampai telepon ke rumah orang tuanya, karena kan tahu kamu di sana, eh kata Mertua kamu udah pulang, jangan begitu Nak, gak baik ah," sahut Bunda Maryam.


"Iya Bun, maaf yah, ini udah Lisa Charger kok," sahut Khalisa.


"Ya udah, Bunda tutup yah, Assalamu'alaikum," sahut Bunda Maryam.


"Wa'alaikumsalam." sahut Khalisa.


Bersambung...


Terima kasih atas dukungan kalian semua, readersku dan teman- teman udah setia ikutin cerita Ta'aruf Cinta, semoga ceritanya bisa menghibur dan gak ngebosenin ya, di tunggu episode selanjutnya 🥰🥰🥰


Teman-teman dan readersku, sambil menunggu episode Ta'aruf Cinta, kalian bisa mampir ke cerita romantis dari sahabat Author Author ku yang keren keren ini, yang ceritanya juga gak kalah menarik, penasaran langsung aja baca ya, cekidot 😍


Citoz

__ADS_1



__ADS_2