
"Kamu gak usah khawatir sayang, doakan aja aku baik-baik aja, dan selalu dalam lindungan Allah SWT, kamu jangan terlalu panik kaya gitu!" sahut Desta tersenyum.
"Ya pasti khawatir dan panik lah, mana ada istri yang gak khawatir," sahut Khalisa.
"pokoknya nya kamu tenang aja, gak akan terjadi apa-apa sama aku, aku harus beri pelajaran si Yuda, gak hargai wanita sama sekali, padahal dia punya adik juga perempuan lho," sahut Desta.
"Oh dia punya adik perempuan juga kak? harusnya dia bisa mikir, gimana kalau terjadi sama adiknya, apa dia marah? pasti marah lah," sahut Khalisa.
"Iya mangkanya aku pengen kerumahnya sayang, mau selesain semua," sahut Desta.
"Kak, makan yuk udah jadi nih telur dadar buatan Khalisa untuk suami tercinta," sahut Khalisa menyiapkan ke meja makan.
"Wah, kayanya enak banget nih, aromanya udah tercium, mmm," sahut Desta.
"Aku gak tahu rasanya Kak, Bi ayo makan dulu, panggil Pak Jamal," sahut Khalisa sambil mengambilkan nasi untuk Khalisa.
"Panggil Pak Jamal Bi! suruh makan sini sama-sama!" perintah Desta.
"Baik Den, Neng," sahut Bi Aning.
"Mmm,, enak banget sayang, masya Allah istriku pintar juga masaknya ya yah," sahut Desta tersenyum.
"Masa sih Kak?" tanya Khalisa tersenyum.
"Iya sayang aku benaran, apapun masakan istriku pasti enak," sahut Desta.
"Alhamdulillah kalau Kakak suka, aku cuma bisa apa yang aku masak Kak, gak bisa masak steak yang disuruh Umi, masak-masakan kaya gitu aku gak pernah," sahut Khalisa.
"Gak apa-apa sayang, Umi itu cuma nguji kamu, kamu bisa apa enggak, kalau pun kamu mau steak kaya gitu, kita bisa beli gak usah masak," sahut Desta.
"Tapi ngujinya langsung level tinggi, kok Bibi lama banget sih ya Kak?" sahut Khalisa.
"Bi, mana Pak Jamal? gak mau makan bareng?" tanya Desta.
"Maaf Den, Neng, Pak Jamal nanti aja katanya, malu kalau tiap hari makan di sini mulu," sahut Bi Aning.
"Kok gitu? kan saya bilang, di sini keluarga, anggap aja rumah sendiri, kenapa harus malu sih? kalau emang gitu ya udah, Bibi aja yah makan di sini, nanti sisain buat Pak Jamal," sahut Khalisa.
"Tahu, kaya sama siapa aja Pak Jamal, ayo, ayo Bi cobain telur dadar buatan istri saya, enak banget lho," sahut Desta memuji Khalisa.
"He-he, pasti enak atuh buatan Neng Khalisa mah, saya ambil ya Neng, Den," sahut Bi Aning.
"Kalian pada muji-muji aku, nanti aku bisa terbang nih!" sahut Khalisa tersenyum.
"Enak banget masakan Neng, benaran Neng, Bibi gak bohong, he-he," sahut Bi Aning.
"Alhamdulillah, kalau gitu mah," sahut Khalisa sambil tersenyum.
__ADS_1
"Kok Den Desta gak pakai baju kantor? libur ya Den?" tanya Bi Aning.
"Iya mau ada urusan Bi," sahut Desta.
"Oh gitu ya Den," sahut Bi Aning.
"Ya udah sayang, aku berangkat yah, takut Yuda pergi dan gak ada dirumahnya," sahut Desta pamit ke Khalisa.
"Ya udah hati-hati ya sayang, cepat pulang, terus kabarin," sahut Khalisa.
"Bi, saya pamit yah, abisin Bi makannya! ha-ha-ha," sahut Desta.
"Hati-hati ya Den," sahut Bi Aning.
🍁🍁🍁
Khalisa mengantar Desta sampai garasi mobil, dan Khalisa melihat gerbang terkunci, biasanya sudah dibuka oleh Pak Jamal. Pak Jamal langsung membuka gembok kunci gerbang.
"Sayang, kok gerbang nya masih dikunci? biasanya sudah dibuka sama Pak Jamal?" tanya Khalisa.
"Mulai sekarang, malam atau siang tetap di gembok, kita gak tahu apa yang terjadi, Pak Jamal juga manusia, gak bisa selamanya menjaga, untuk kali ini kamu nurut sama aku yah! aku gak mau terjadi apa-apa sama kamu," sahut Desta.
"Iya sayang," sahut Khalisa.
"Pak Jamal, nanti tolong kunci lagi yah! jangan sampai enggak! ingat pesan saya, kalau ada yang datang dan asing harus lapor dulu ke istri saya, kecuali yang datang Umi atau keluarga Khalisa," perintah Desta.
"Kamu hati-hati ya sayang!" sahut Khalisa.
"Iya sayang," sahut Desta mencium kening Khalisa dan Khalisa mencium punggung tangan Desta.
🍁🍁🍁
Desta pun akhirnya berangkat, ia tidak menggunakan mobil sedan yang dia pakai, tapi menggunakan mobil jeepnya.
"Pak tolong digembok lagi yah, tadi kenapa gak sarapan bareng?" tanya Khalisa.
"Gak enak Neng, masa tiap hari sih? he-he," sahut Pak Jamal.
"kenapa harus gak enak sih Pak, kan saya bilang, anggap aja di sini keluarga Bapak, dan ini rumah Bapak juga, lain kali jangan nolak yah Pak!" perintah Khalisa.
"Baik Neng, maaf ya, he-he," sahut Pak Jamal.
"Ya udah gak apa-apa, sekarang Bapak makan dulu gih! dimeja makan aja sama Bi Aning, gak ada siapa-siapa ini!" perintah Khalisa.
"Siap Neng!" sahut Pak Jamal.
"Bi, siapin makan buat Pak Jamal yah, aku mau ngambil cucian kotor di kamar," sahut Khalisa.
"Alah, tadi gak mau, pura-pura aja sih, ya udah tunggu!" sahut Bi Aning.
__ADS_1
"Jangan gitu ah Bi! Pak Jamal selamat makan yah, saya tinggal ke atas dulu!" sahut Khalisa.
🍁🍁🍁
Gak lama Syifa datang ke rumah Khalisa, pas sampai gerbang Pak Jamal gak ada, dan ada mobil Desta, Syifa berpikir apa Ada Desta gak kerja.
Kok ada mobil Kak Desta yah? apa ia gak kerja? satpamnya mana lagi? kok di pos gak ada sih? gue chat Khalisa.
🍁🍁🍁
Gak lama ponsel Khalisa berbunyi, karena tidak mengangkatnya karena ia sedang mencuci dibawah, ponsel gak ia bawa di kamar.
Khalisa angkat dong! aduh panas banget lagi, kemana sih lo? apa tidur kali yah sama Kak Desta? mobilnya aja ada, gue balik aja kali yah? Khalisa ini gue Syifa.
"Kenapa Mba?" tanya tukang sayur keliling.
"Enggak Bang, ini mau ketemu teman saya, tapi gerbang digembok," sahut Syifa.
"Oh temannya Mba Khalisa yah? iya, ya kok belum nongol? biasanya beli sayuran lho, ditunggu aja Mba!" sahut tukang sayur sudah mengenal Khalisa.
Khalisa keren juga, sama tukang sayur kenal, he-he, apa nanti gue kalau berumah tangga sama kaya Khalisa, kenal tukang sayur.
Lalu Sifa melihat Pak Jamal keluar dari rumah Khalisa menuju pos jaganya, Syifa berteriak memanggil Pak Jamal.
"Pak Jamal__ ini saya Syifa temannya Khalisa, bukain dong!" sahut Syifa menggebrak-gebrak kunci gerbang.
"Siap Neng, udah lama nunggu?" tanya Pak Jamal.
"Lama banget Pak, ya ampun, Khalisa ada Pak?" tanya Syifa.
"Ada, lagi nyuci, maaf Neng saya kunci lagi yah!" sahut Pak Jamal.
"Kok harus dikunci sih kenapa?" tanya Syifa.
"Perintah Den Desta Neng," jawab Pak Jamal.
"Kak Desta ada dirumah?" tanya Syifa.
"Gak ada, lagi keluar ada urusan," sahut Pak Jamal.
"Lho, gak naik mobil?" tanya Syifa.
"Ya naik atuh Neng, kan Den Desta mobilnya banyak di garasi, garasi belakang besar, itu kira-kira ada lima mobil," sahut Pak Jamal.
"Wow, banyak juga, he-he," sahut Syifa.
Bersambung..
Hallo Readersku dan teman-teman, terima kasih atas dukungan kalian yah, sudah setia nunggu ceritanya, semoga gak bosan dan makin suka yah, selamat membaca 😍😍😍
__ADS_1