Ta'Aruf Cinta

Ta'Aruf Cinta
S2-182


__ADS_3

"Astaghfirullah, Astaghfirullah, ya udah, kamu istirahat saja Mirna, besok kita lapor polisi untuk visum kamu dan Raja." Sahut Ayah Umar.


"Atit, atit, uuuhhh...." sahut Dewa dengan suara cadelnya sambil menangis.


"Ayah, apa kita gak sebaiknya obati Dewa?" tanya Bunda Maryam sambil meneteskan air mata.


"Kasihan Dewa Mas, kamu sakit ya sayang? sabar ya Nak." Sahut Mirna.


"Jangan diobatin! biar buat bukti visum besok! sana, bawa Anak kamu istirahat!" sahut Ayah Umar.


Mirna langsung membawa Dewa ke kamar dan menggendongnya. Dewa terus-menerus mengingat kejadian itu, dan terus menangis memanggil nama Kakaknya Raja.


Ya Allah, cobaan apa yang kau berikan padaku, hingga suamiku tega sekali padaku, ya Allah, Raja, kamu di mana Nak? Mamah Khawatir, hiks-hiks-hiks, Raja kamu di mana sayang? maafin Mamah dan Papah sayang, hiks-hiks-hiks.


"Ayah, di mana Raja? Bunda khawatir dengan Raja, Anak itu, kalem penurut, beda dengan Dewa, malah sudah malam, Bunda gelisah dan Khawatir, semua gara-gara suaminya, yang gak tahu diri!" sahut Bunda Maryam.


"Iya, rasanya Ayah ingin hajar Jono! Ayah akan minta bantuan Desta, supaya bantu mencari Raja!" sahut Ayah Umar.


"Sekarang Ayah istirahat aja, besok Ayah Chat ke Desta yah! minta tolong!" minta Bunda Maryam.


"Iya Bunda, Bunda juga istirahat aja! besok Ayah jelaskan ke Desta!" sahut Ayah Umar.


"Iya, Ayah." Sahut Bunda Maryam.


☀☀☀☀


Di kediaman rumah Mirna, Jono membanting-banting barang dan marah-marah sendiri. Jono tegang dan ketakutan Mirna kabur dari rumah.


Mirna, lo main-main sama gue Mirna? awas aja lo Mirna, gue bakal temuin lo. Tapi gimana kalau Mirna udah sampai rumah Kakaknya? mati gue, mati gue! Aaaaa.... gue bakal kabur dari kota ini, sebelum gue kabur, gue bakal rampok rumah Khalisa, gue bakal ambil semua uang dan perhiasan dia! ha-ha-ha, gue kaya! gue kaya! gue bakal jadi orang kaya.

__ADS_1


☀☀☀☀


Di kediaman rumah pengurus marbut mushollah. Raja hanya menangis dan mengeluarkan air mata, Raja tidak mau berbicara sama sekali. Raja hanya diam dan menangis. Raja selalu mengingatkan kejadian itu. Saat Rina menghampiri dan memandangi Raja, Raja malah berpaling.


"Kenapa Rina? Raja masih belum bisa diajak ngobrol yah? kamu sabar yah! ajak terus jangan pernah putus asa, Raja seperti itu, karena trauma." Sahut si Marbut itu.


"Pak, itu!" sahut Rina memberi tahu di tangan Raja ada bekas pukulan dan memar.


"Astaghfirullah, Raja, coba Bapak lihat tangan kamu Nak, sakit ya Nak?" tanya si Marbut itu.


"Raja, mau pulang!" minta Raja.


"Rumah kamu di mana Nak? biar Bapak antar!" sahut si Marbut.


"Gak tahu, hiks-hiks-hiks, Mamah, Mamah!" sahut Raja memanggil Mamahnya.


"Bu! Ibu!" panggil si Marbut kepada istrinya.


"Ada apa sih, Pak? udah malam nih, kenapa sama Anak ini?" tanya istri si marbut.


"Anak ini terluka, memar, seperti dipukuli, dia ingin pulang katanya, tapi tidak tahu rumahnya." Sahut si marbut itu.


"Pak, pulangin aja lah, lapor Rt. Ibu gak mau kena masalah, hidup kita sudah susah, jangan ditambah susah lagi, sejak kehadiran dia!" sahut istrinya si Marbut.


"Bu, jangan lapor Rt, malah ribet urusannya, kita bilang saja, ini Anak saudara, dititipkan, Ibu ikhlas yah, merawat dia! sepertinya, dia Anak pintar, Ibu coba lihat wajahnya, ganteng, siapa tahu besarnya, bisa menjadi orang sukses." Sahut Si marbut itu.


"Iya juga sih, Pak, tapi kita uang dari mana lho? kita aja susah!" sahut istrinya si marbut.


"Dia bisa bantu Ibu jualan mie Ayam, Raja bisa cuci piring atau sapu-sapu Bu." Sahut si marbut.

__ADS_1


"Apa bisa Pak? sejak tadi aja, diam aja! gak mau ngomong, gimana caranya biar dia ngomong Pak?" tanya istrinya si marbut.


"Ibu harus sabar, wajar dia seperti itu, karena trauma, seperti dipukul, Ibu obatin dulu tangan dia yah!" sahut si marbut.


"Heh, Raja, lo ngomong dong! jangan mewek terus diam, lo besok ikut Ibu yah! kerja! kalau lo mau makan gratis, lo harus kerja!" sahut istri si marbut.


"Raja mau pulang!" sahut Raja.


"Pak, gimana Pak? Anaknya mau pulang terus!" sahut istrinya marbut.


"Gak apa-apa Bu, mungkin dia belum biasa, Rina, kamu ajak ngobrol terus Raja yah!" sahut si marbut itu.


"Rajanya diam aja! malas Pak!" sahut Rina.


"Rina, kamu gak boleh kaya gitu, meskipun Raja seperti ini, kamu harus usaha yah, ajak main dia! kasihan tuh!" sahut si marbut.


"Iya, Pak." Sahut Rina.


Bersambung...


Terima kasih teman-teman dan readersku atas dukungan kalian, sudah setia ikutin cerita Ta'aruf Cinta, semoga ceritanya bisa menghibur dan gak ngebosenin yah, di tunggu episode selanjutnya makasih 🥰🥰🥰


Sambil menunggu cerita Ta'aruf cinta boleh yuk mampir ke ceritaku yang lainnya yuk, gak kalah seru dan romantis banget cekidot 🥰🥰🥰


- Cinta dan Detik Terakhir


- Cinta Cowok Dingin


- Cinta Gadis Bisu

__ADS_1


__ADS_2