
Setelah selesai membaca Al-Quran, Khalisa terus menangis dan menatap wajah Desta dan mencium keningnya.
"Kak Desta, bangun Kak, buka mata kamu, hiks-hiks-hiks, Kak Desta janji sama aku, mau antar aku USG, Kakak mau lihat perkembangan bayi kita, Kak, bangun Kak! aku mohon! jangan pernah tinggalin aku Kak! bangun Kak! hiks-hiks-hiks, Kakak tahu gak, Dedek kita sangat kuat, selama aku di rumah sakit, aku sama sekali gak ngerasain mual, mungkin tahu Papahnya sedang sakit, dan ia semangatin aku, hiks-hiks-hiks, Kakak bangun! buktiin sama Umi, kalau tuduhan Umi tuh salah, bangun Kak buktiin! hiks-hiks..." sahut Khalisa sambil mencium kening Desta.
Gak lama, Umi Sarah masuk, dan menyuruh Khalisa keluar dari ruangan, karena Umi Sarah ingin berdua sama Desta.
"Jangan di tangisin mulu! sebagai istri harusnya doain suaminya, bukan nangis mulu! saya mau berdua sama anak saya! sana kamu keluar dulu!" sahut Umi Sarah.
🍁🍁🍁
Khalisa pun keluar dari ruangan sambil memandangi wajah Desta yang berbaring, karena keinginan Umi Sarah, akhirnya Khalisa keluar sambil meneteskan air mata.
"Kenapa kamu Nak?" tanya Bunda Maryam.
"Kak Desta belum sadar juga Bun." Sahut Khalisa.
"Terus kenapa kamu keluar? katanya mau temanin Desta?" tanya Bunda Maryam.
"Gak apa-apa Bun, pengen keluar aja sebentar," sahut Khalisa.
Pasti Umi yang nyuruh Khalisa keluar, Umi itu bikin Abi malu aja! Abi harus gimana Umi, ya Allah.
"Khalisa, sama Abi yuk masuk!" ajak Abi Mahmud.
"Enggak Abi, Khalisa mau di sini dulu! Abi duluan aja," sahut Khalisa tersenyum.
"Abi masuk duluan Yah, Besan." Sahut Abi Mahmud.
"Silakan, silakan!" sahut Ayah Umar.
Saat Abi Mahmud masuk ke dalam ruangan, Abi Mahmud menegur Umi Sarah dengan kesal.
"Umi! Umi ini benar-benar kelewatan yah, Umi udah bikin malu Abi depan keluarga Pak Umar tahu gak," sahut Abi Mahmud.
"Apa sih Abi, datang-datang marah gak jelas, sikap Umi sama Khalisa seperti membencinya, jangan gitu dong Umi, Astaghfirullah, harus berapa kali Abi bilang, hah?" sahut Abi Mahmud.
"Khalisa ngadu? kalau Umi suruh keluar, hah?" tanya Umi Sarah.
"Ia gak ngadu apa-apa, bahkan nutupin dari keluarganya, Khalisa itu anaknya baik Umi, jangan lah Umi seperti itu!" sahut Abi Mahmud.
"Permisi, Bapak sama Ibu tolong jangan ribut di dalam ruangan! saya mau periksa Pak Desta, saya mohon bisa keluar sebentar!" perintah Dokter.
"Maaf Dok! iya silakan!" Abi dan Umi Sarah keluar dari ruangan.
Saat Desta diperiksa, Desta sadar dan menyebut-nyebut nama Khalisa.
"Khalisa- Khalisa-Khalisa." Panggil Desta.
"Coba Suster panggil saudara yang bernama Khalisa!" perintah Dokter.
"Saudara yang bernama Khalisa, bisa masuk ke dalam ruangan! karena Pak Desta sudah sadar memanggil nama Khalisa." Sahut Suster.
"Alhamdulillah," serempak mengucapkan Alhamdulillah, begitu pun Khalisa dengan raut wajah gembira.
"Saya Suster," sahut Khalisa.
"Silakan masuk!" perintah Suster.
"Kok yang di sebut malah Khalisa sih? bukan Uminya!" sahut Umi Sarah, semua pandangan tertuju pada Umi Sarah.
"Saya di mana Dok? istri saya mana?" tanya Desta pelan.
"Sabar ya Pak Desta, akan segera di panggil!" sahut Dokter.
"Kak Desta," panggil Khalisa sambil melihat Desta yang sudah berbaring sadar.
__ADS_1
"Sayang," panggil Desta.
"Alhamdulillah, Kakak udah sadar, hiks-hiks-hiks, aku sempat panik Kak, terima kasih Ya Allah telah mengabulkan doa-doaku, hiks-hiks," Khalisa sambil mencium tangan Desta.
"Maafin aku ya sayang, udah bohong sama kamu, aku cuma ingin kasih pelajaran aja buat Yuda, tapi entah kenapa ia tiba-tiba langsung nusuk gitu aja, tanpa aku tahu, maafin aku ya sayang, jangan nangis, Allah sayang sama aku, aku masih di kasih hidup, karena aku masih punya tanggung jawab, kamu dan Dedek bayi kita," Desta mengelus perut Khalisa, dan sedikit menetes air mata ke bantal.
"Kakak juga jangan sedih, Dedek bayinya kuat nemenin Papahnya sampai sadar, mual dan pusing aku juga gak terasa sama sekali, jangan bohongin aku lagi ya Kak, aku gak mau Kakak bohong," sahut Khalisa.
"Masya Allah, Dedeknya pengertian banget yah, maafin Papah ya sayang, makasih kamu udah bisa kuatin Mamah kamu, iya sayang aku janji gak akan bohongin kamu lagi, maafin aku belum bisa temanin kamu USG jadinya," sahut Desta menggenggam tangan Khalisa.
"Kakak sembuh aja dulu, USG nya nanti aja kalau Kakak udah sehat, jangan pernah tinggalin aku ya Kak, aku gak sanggup kalau harus kehilangan Kakak, gak kebayang aku Kak," sahut Khalisa tersenyum.
"Berkat doa kamu sayang, aku sembuh, aku juga gak bakal bisa hidup tanpa kamu, kamu pucat sekali sayang, mata kamu bengkak, kamu nangis seharian yah, maafin aku ya sayang, udah buat kamu sedih," Desta terus menggenggam tangan Khalisa dan membuat Khalisa sedih.
"Hiks-hiks-hiks..." Khalisa tidak kuat membendung air mata lagi.
"Sayang, kenapa? hey? kenapa sayang? cerita sama aku?" Desta menghapus air mata Khalisa.
Gak lama, Umi Sarah masuk ke ruangan dan memeluk Desta.
"Desta, kamu udah sadar Nak? kenapa kamu bisa jadi seperti ini Nak?" tanya Umi Sarah.
"Alhamdulillah, sudah Umi, ini berkat doa Umi dan istri aku Khalisa," sahut Desta tersenyum.
"Kamu bisa gak tinggalin saya berdua sama anak saya!" sahut Umi Sarah.
"Iya Umi." Sahut Khalisa.
"Jangan pergi! kamu di sini aja, jangan tinggalin aku!" Desta menarik tangan Khalisa dengan erat.
"Kenapa sih Nak, Umi kan pengen ngomong sama kamu berdua, tanpa orang lain." Sahut Umi Sarah.
"Uhuk-uhuk-uhuk, apa Umi? apa Desta gak salah dengar? Umi bilang Khalisa orang lain? ucapan Umi udah nyakitin hati Desta Mi, ini istri aku Mi, keluarga Umi, hiks-hiks, kenapa Umi bisa bilang Khalisa orang lain?" tanya Desta.
"Umi kelewatan banget yah bicaranya, Desta baru sadar, udah dibuat sakit lagi sama Umi, Umi lihat Khalisa menangis, Umi udah buat istri Desta menangis, itu sama aja Umi udah bikin Desta menangis juga!" sahut Desta.
"Umi minta maaf Nak!" sahut Umi Sarah.
"Padahal kemarin Umi udah janji gak akan ulangin, tapi sekarang kenapa terjadi lagi, aku benar-benar kecewa, kenapa sih Umi jadi kaya gini?" tanya Desta.
"Karena ia udah bikin kamu di tusuk, ia udah bikin kamu koma, ia udah selingkuh sama Yuda," sahut Umi Sarah.
"Umi, kalau gak tahu permasalahannya, Umi gak boleh nuduh Khalisa kaya gitu, semua gak ada kaitan dengan Khalisa, Desta yang salah, Desta cuma mau kasih pelajaran buat Yuda, karena udah bikin sakit kaki Khalisa, tapi nyatanya ia malah nusuk Desta, sekarang Desta mohon sama Umi keluar, karena Desta kecewa dengan Umi!" sahut Desta.
"Tega banget kamu ngusir Umi Nak, durhaka kamu Nak sama Umi," sahut Umi Sarah langsung keluar.
"Kak, jangan kaya gitu Kak, yang ada Umi tambah benci sama aku!" sahut Khalisa.
"Sayang, udah sayang! biarin aja, biar dia sadar!" sahut Desta.
"Kak, aku gak mau ah, Kakak kaya gini, aku susul! aja!" sahut Khalisa beranjak menyusul Umi.
"Sayang, please sayang! jangan biarin! jangan tinggalin aku! aku mau kamu di sini!" sahut Desta terus mengenggam tangan Khalisa.
"Desta, kenapa Umi sampai nangis?" tanya Abi Mahmud yang tiba-tiba masuk.
"Tanya aja sama Uminya sendiri Bi, masa Umi bilang Khalisa orang lain, Khalisa bukan orang lain Abi," sahut Desta.
"Astaghfirullah, emang mulut Umi kamu emang seperti itu! tapi Abi mohon Desta jangan kaya gitu sama Umi yah?" sahut Abi Mahmud.
"Desta harus gimana Abi, terima aja gitu? istri Desta di gituin? Desta baru sadar Bi, Umi malah kaya gitu, gak ngerti perasaan anaknya," sahut Desta.
"Abi, biar Khalisa panggil yah!" sahut Khalisa.
__ADS_1
"Sayang, jangan!" sahut Desta.
"Kak, kita gak boleh seperti itu, biar aku bujuk Umi yah!" sahut Khalisa.
"Abi lihat! begitu mulianya istriku, tidak ada rasa dendam sama sekali," sahut Desta.
"Iya Nak, Abi jadi merasa bersalah, gimana keadaan kamu? masih sakit? ada Mertua kamu lho, tapi gak bisa masuk semua, jadi bergantian, sahut Abi Mahmud.
"Oh, Abi tolong panggil dong! mungkin mereka mau nengok Desta," minta Desta.
"Iya Nak, sekalian mau lihat Khalisa sama Umi, takut ada apa-apa," sahut Abi Mahmud.
🍁🍁🍁
Saat Abi Mahmud keluar, Umi Sarah dan Bunda Maryam bertengkar, Ayah Umar, Khalisa, dan Mba Mirna memisahkan.
"Tapi Besan jangan begitu sama anak saya, ada Ibunya lho di sini, kok berani marah-marahin anak saya! anak saya tulus mau manggil besan biar baikan sama Desta, ini kok malah marah-marah, saya gak terima," sahut Bunda Maryam.
"Bun, udah dong ah, malu sama orang!" sahut Ayah Umar.
"Ada apa ini?" tanya Abi Mahmud.
"Besan, tolong bilangin sama Umi Sarah, jangan suka bentak-bentak anak saya gitu dong! kan anda orang berpendidikan, masa tingkah kaya anak kecil, anak Abg? malu sama umur, kita udah tua, saya gak terima Khalisa sampai bengkak lho matanya nangis terus, saya diam tadi bukan berarti takut!" sahut Bunda Maryam.
"Umi kenapa bikin malu sih Umi, Astaghfirullah," sahut Abi Mahmud.
"Pak Mahmud, saya gak rela anak saya jadi batin, mendingan saya bawa pulang! Khalisa kamu ikut Bunda pulang!" sahut Bunda Maryam.
"Enggak Bunda, Khalisa gak mau pulang, Khalisa sekarang udah jadi istri Kak Desta, yang boleh mengizinkan Khalisa pulang hanya Kak Desta," sahut Khalisa.
"Bunda, jangan gitu ah!" sahut Ayah Umar.
Khalisa berlari ke ruangan Desta memeluk Desta sambil menangis.
"Khalisa!" panggil Bunda Maryam kesal.
"Kak Desta, hiks-hiks-hiks," Khalisa menangis dan langsung memeluk Desta.
"Astaghfirullah, kamu kenapa sayang, hey ada apa ini?" tanya Desta.
"Bunda marah sama Umi, gara-gara Umi bentak-bentak Khalisa depan Bunda, Bunda mau bawa pulang aku Kak, karena kesal sama Umi, hiks-hiks-hiks, aku gak mau ninggalin Kakak," sahut Khalisa sambil memeluk Desta.
"Astaghfirullah, Umi!!!! kan udah aku bilang, jangan bujuk Umi biarin aja, enggak boleh ada yang bawa kamu pulang gak boleh! kamu istri aku! hiks-hiks-hiks," Desta menangis dan menggenggam Khalisa erat sambil mendekatkan hidungnya ke hidung Desta. Khalisa dan Desta sama-sama menangis dan berderai air mata, seakan air mata mereka menjadi menyatu yang gak bakal bisa dipisahkan.
"Besan tolong maafin saya! saya Khilaf! besan jangan bawa Khalisa saya mohon! Desta sedang sakit!" sahut Umi Sarah.
🍁🍁🍁
Bunda Maryam membuka ruangan Desta, dan langsung menarik Khalisa. Desta tetap erat memegangi Khalisa meskipun masih terasa sakit. Bunda Maryam tidak berhasil membawa Khalisa pulang, saat Khalisa memeluk Desta dan menangis dan tidak tega.
"Khalisa! ayo pulang!" perintah Bunda Maryam.
"Enggak Bunda! Khalisa gak mau pulang!" sahut Khalisa.
"Pulang! untuk apa kamu di sini! hanya batin, Bunda gak terima kamu di bentak-bentak!" sahut Bunda Maryam.
"Bun! Bunda jangan bawa istri saya Bun! saya berhak menahan Khalisa, karena Khalisa istri saya, tolong Ibu, maafin Umi saya! saya mohon! hiks-hiks-hiks," sahut Desta erat memegang Khalisa.
"Kamu bisa jemput Khalisa nanti, kalau Umi kamu udah sadar! ayo Lisa!" sahut Bunda Maryam,
"Hiks-hiks-hiks... Gak mau Bunda! gak mau!" Khalisa langsung memeluk Desta sambil menangis.
"Hiks-hiks-hiks... jangan ambil istri saya Bun jangan! saya sangat mencintai ia, ia sedang mengandung anak saya, jangan bawa Khalisa saya mohon! hiks-hiks-hiks," Desta menangis.
Semua yang melihat Khalisa dan Desta ikut berlinang air mata, sampai Bunda tidak tega melihat permohonan Desta yang berusaha ingin sujud di kaki Bunda Maryam sambil menahan sakitnya beranjak dari kasur.
__ADS_1
Bersambung...
Terima kasih atas dukungan kalian semua, readersku dan teman- teman udah setia ikutin cerita Ta'aruf Cinta, semoga ceritanya bisa menghibur dan gak ngebosenin ya, di tunggu episode selanjutnya 🥰🥰🥰