Ta'Aruf Cinta

Ta'Aruf Cinta
S2-240


__ADS_3

"Siap-siap Den!" sahut Pak Mamad.


Gak lama, Desta mendapatkan telepon dari Pak Dani, sejak Pagi, Pak Dani ke rumah, tapi gak ada satu orang pun, Desta langsung menjelaskan ke Pak Dani, kalau sedang berduka. Jadi, Pak Dani bisa bekerja mulai besok, Bi Aning harus pulang untuk menemani Pak Dani bekerja untuk memasang closet.


"Assalamu'alaikum." Salam Pak Dani.


"Wa'alaikumsalam, eh, Pak Dani yah? tadi udah ke sini yah?" tanya Desta.


"Iya, tapi kosong gak ada orang, emangnya pada kemana Den, saya sudah membawa Closet baru tadi." Sahut Pak Dani.


"Maaf banget ya Pak, soalnya saya sedang berduka, Mertua saya baru saja meninggal, besok aja Bapak bisa datang lagi ke rumah yah!" minta Desta.


"Innalillahi WA Inalilahi Ro'jiun, maaf Pak Desta, saya gak tahu, saya turut berduka ya Pak, oke, siap, besok saya akan datang lagi, tadi bahan-bahan semua sudah saya beli ya Pak!" sahut Pak Dani.


"Makasih Pak, gak apa-apa, oke Pak, semua bahan berapa? besok saya titip ke Bi Aning yah!" sahut Desta.


"Habis 650 Pak." Sahut Pak Dani.


"Oh, oke deh, nanti uangnya saya titip, apa mau saya transfer?" tanya Desta.


"Besok aja Pak, saya gak punya ATM juga." Sahut Pak Dani.


"Oke, Pak." Sahut Desta.


"Ya udah, Pak, saya tutup yah, Assalamu'alaikum." Salam Pak Dani.


"Wa'alaikumsalam." Sahut Desta.


Desta langsung kembali ke kasur dan tidur. Badan semuanya terasa sakit, sore, Desta harus kembali ke rumah Bunda Maryam lagi.


☀☀☀☀


Di kediaman rumah Bunda Maryam, semua sibuk membuat kue-kue dan makanan untuk tahlilan nanti malam. Gak lama, datang karyawan pengadilan Agama yang menyerahkan surat perceraian yang telah jadi dan telah resmi ditanda tangani oleh Jono di penjara. Mirna langsung menandatangani surat perceraian itu dengan wajah berseri-seri.


"Dengan Mba Mirna?" tanya karyawan tersebut.


"Iya, saya sendiri, ada apa Mas, Mba?" tanya Mirna.


"Kami dari pengadilan Agama, surat perceraian Mba Mirna dan Mas Jono telah selesai, harap di tanda tangani Mba!" sahut Karyawan tersebut.


"Alhamdulillah, Mas Jono sudah menandatangani Mas, Mba?" tanya Mirna.

__ADS_1


"Sudah, kalian telah resmi bercerai, kami tahuas Jono di penjara, jadi saya dan rekan yang datang ke sana untuk meminta tanda tangan Mas Jono, Terima kasih Mba Mirna!" sahut karyawan tersebut.


"Terima kasih kembali." Sahut Mirna tersenyum dan resmi bercerai.


"Ada apa Mba? kayanya senang banget?" tanya Khalisa.


"Lisa, Alhamdulillah, Mba telah resmi bercerai Lis." Sahut Mirna.


"Alhamdulillah, bagus deh Mba, jadi Mba, udah gak ada ikatan lagi sama Mas Jono, Anak-anak gimana Mba?" tanya Khalisa.


"Anak-anak, Mba yang asuh, Jono sudah menyerahkan ke Mba juga Lis, semua berkat bantuan Ayah Umar, dia yang ngurusin masalah Mba cerai dengan Mas Jono." Sahut Mirna.


"Kalau Ayah masih ada, pasti beliau senang banget Mba, Khalisa sangat kehilangan sosok seorang Ayah seperti Ayah Umar." Sahut Khalisa.


"Sabar ya Lis, semua sudah takdir, mungkin Allah ambil dia, karena sayang sama dia, gak mau lama-lama Ayah Umar ngerasain sakit yang begitu lama." Sahut Mirna.


"Iya Mba, bahkan dia gak mau buat orang susah, dia simpan sendiri penyakitnya, karena dia khawatir sama kondisi aku, berkat Ayah, aku juga bisa kenal sama Kak Desta." Sahut Khalisa.


"Mba jadi ingat kata-kata dia, waktu habis pulang dari pengadilan Agama, dia mau jodohkan Mba sama Duda temannya Ayah, kadang Ayah lucu ya Lis, baru aja cerai, udah mau jodohin Mba, mungkin karena dia gak mau lihat Mba jadi janda, dan menderita." Sahut Mirna.


"Iya Mba, semoga Ayah tenang di sana yah, semoga Ayah ditempatkan di surga nanti ya Mba, hiks-hiks..." Sahut Khalisa.


"Aamiin..." sahut Khalisa dan Mba Mirna.


"Yang mana? Bodyguard?" tanya Khalisa.


"Ih... bukan Lis, yang bekas mantannya teman kamu? itu siapa Lis?" tanya Mba Mirna.


"Oh... itu Kak Yuda, temannya Desta, bekas mantannya Syifa, kenapa Mba? cie, Mba Mirna naksir yah? ha-ha-ha...." Sahut Khalisa tertawa.


"Tadi, Mba mau kepeleset, eh, Yuda nolongin Mba, kayanya dia suka juga sama Mba, gimana nih Lis?" tanya Mirna.


"Ha-ha-ha... Khalisa dukung Mba, apa pun keputusan Mba, tapi dia bekas mantan napi, Mba harus terima kekurangan dia juga, dia udah taubat kok, tapi, aku sama Kak Desta, menyuruh Kak Yuda buat berusaha dapatin Mba, jadi, biar dia berjuang sendiri!" sahut Khalisa.


"Bagus Lis, biar berjuang, gak apa-apa mantan napi juga, yang penting udah taubat, bisa jadi Papahnya Raja dan Dewa Lis, Lis, tapi kenapa Emaknya Syifa jadi benci banget lihat Yuda, padahal kan udah taubat." Sahut Mirna.


"Mungkin, hatinya masih kesal Mba, karena Anaknya disakitin, dan dia pernah nusuk Desta dulu, Emak itu, kalau udah benci sama orang, susah buat maafin Mba." Sahut Khalisa.


"Kok gitu banget sih, kadang Mba kesal tahu sama dia!" sahut Mirna.


"Sabar, mungkin udah faktor umur." Sahut Khalisa.

__ADS_1


"Tapi, gak gitu juga Lis, Bunda juga faktor umur, tapi gak gitu-gitu banget." Sahut Mirna.


"Kan sifat orang beda-beda Mba, gak semua sama Mba." Sahut Khalisa.


"Benar juga kamu Lis." Sahut Mirna.


"Sekarang, Mba fokus sama kebahagiaan Mba yah, terutama, Raja dan Dewa, supaya Ayah lihat Mba senang, kalau Mba bahagia." Sahut Khalisa tersenyum.


"Aamiin... makasih ya, kamu udah dukung Mba, kamu udah seperti Adik Mba sendiri, kenapa, Mba gak mau dipanggil Tenten, meskipun Mba Tante kamu, karena Tante dan keponakan seakan agak jauh, Mba ingin lebih dekat sama kamu, seperti Adik dan Kakak, mangkanya, Mba mau, kamu panggil Mba aja, jangan Tante." Sahut Mirna.


"Iya Mba, Khalisa ngerti kok, Khalisa juga, udah anggap Mba, seperti Kakak sendiri, Khalisa sayang sama Mba." Sahut Khalisa sambil memeluk Mirna.


"Mamah jajan!" minta Dewa.


"Mau jajan apa sih? jangan sendiri, nanti kamu diculik lagi!" sahut Mirna.


"Udah, gak apa-apa Mba, antar aja gih!" sahut Khalisa.


"Pintaran Raja, Raja jarang jajan!" sahut Mirna.


"Raja, mau kumpulin uang, Raja gak mau jajan!" sahut Raja.


"Tuh, Kakak Raja aja pintar, gak mau jajan Nak." Sahut Mirna.


"Aaaaa.... gak mau! Dewa mau jajan!" sahut Dewa.


"Ini, jajan sama Mamah yah!" sahut Khalisa memberi uang sepuluh ribu pada Dewa dan Raja.


"Bilang apa, Dewa sama Raja!" minta Mba Mirna.


"Makasih, Kakak Khalisa." Sahut Raja dan Dewa.


"Sama-sama sayang." Sahut Khalisa tersenyum.


Bersambung...


Terima kasih teman-teman dan readersku atas dukungan kalian, sudah setia ikutin cerita Ta'aruf Cinta, semoga ceritanya bisa menghibur dan gak ngebosenin yah, di tunggu episode selanjutnya makasih 🥰🥰🥰🥰


Sambil menunggu cerita Ta'aruf cinta boleh yuk mampir ke ceritaku yang lainnya yuk, gak kalah seru dan romantis banget cekidot 🥰🥰🥰


- CINTA DAN DETIK TERAKHIR

__ADS_1


- CINTA COWOK DINGIN


- CINTA GADIS BISU


__ADS_2