Ta'Aruf Cinta

Ta'Aruf Cinta
S2-214


__ADS_3

"Ya itu mah gak kamu sayang, tapi yang benar aja masa turun banget delapan puluh lima juta, dari harga tiga ratus lima puluh juta, kamu cicil delapan puluh lima juta, kamu gak salah?" tanya Khalisa.


"Enggak sayang, hitung-hitung kita amal, kasihan kalau harganya tinggi, insya Allah, rezeki kita akan bertambah, jika kita ikhlas menolong orang lain." Sahut Desta.


"Ya udah sayang, itu hak kamu, aku bangga sama kamu sayang, kamu gak takut rugi, hanya untuk menolong orang lain." Sahut Khalisa.


"Iya sayang, insya Allah, rezeki kita lebih dari itu, lagian sayang kan kalau gak dipakai, mendingan dijual jadi terpakai sama Bang Joni." Sahut Desta.


"Iya sayang, besok kamu jangan kerja dulu yah, tangan kamu kan masih sakit, biar pulih dulu!" minta Khalisa.


"Iya sayang, aku juga mau selidikin yang kemarin hadang aku itu, kalau benar suruhan Mamahnya Joni, biar aku laporin sekalian ke polisi." Sahut Desta.


"Iya sayang, kamu hati-hati yah, aku gak mau kamu kenapa-kenapa!" minta Khalisa.


"Insya Allah." Sahut Desta.


Desta dan Khalisa mandi dan salat Isya bersama. Setelah salat isya, mereka makan malam bersama. setelah makan, Khalisa langsung mengobati tangan Desta dengan cream.


"Sakit gak sayang?" tanya Khalisa.


"Enggak sayang, makasih yah, kamu udah perhatian sama aku." Sahut Desta.


"Aku kan istri kamu, jadi udah tugas aku melayani kamu, saat kamu terluka, sakit, atau apa, aku akan selalu ada buat kamu." Sahut Khalisa.


"Sama sayang, aku juga, mmmuuuaacchh... Aku sayang banget sama kamu." Sahut Desta.


"Aku juga sayang sama kamu, dua bulan lagi, bakal ada keluarga baru sayang, aku udah gak sabar pengen gendong dan cium si kembar." Sahut Khalisa.


"Sama sayang, Papahnya juga udah kangen, ingin gendong, main bareng, oh, iya, kapan kamu mau beli peralatan si kembar?" tanya Desta.


"Nanti aja sayang, kalau sudah delapan bulan." Sahut Khalisa sambil mengelus perutnya.


"Iya sayang, pokoknya kita beli semua perlengkapan si kembar, jangan sampai ada yang gak kebeli, oh, iya, yang bak mandi itu gimana yah? aku lupa nanya Bi Aning, padahal udah aku telepon!" sahut Desta.


"Besok kamu tanyain aja lagi sayang, kita kan tadi sibuk ngurusin masalah Mba Mirna." Sahut Khalisa.


"Iya, kalau udah dibikin kan, kalau Emaknya Syifa datang, jadi gak ribut, ha-ha-ha." Sahut Desta.


"Sayang, gak boleh ketawain ah, dia kan orang tua, wajar sayang, dia kan gak pernah pakai toilet kaya kita, jadi belum biasa." Sahut Khalisa.


"Lucu sayang, untung Bi Aning baik, sabar, kalau Bi Aning galak, udah berantem dan marah kali sayang, disemprot gitu!" sahut Desta.


"Iya, Bi Aning sabar banget sayang, ngomongin Emaknya Syifa, aku jadi keingat Syifa, aku belum jengukin dia sayang, kangen Syifa aku." Sahut Khalisa.

__ADS_1


"Besok kamu mau ke sana?" tanya Desta


"Mau sayang, sekalian belanja kebutuhan sehari-hari, soalnya isi kulkas kosong semua, yang semenjak Mba Mirna ambil makanan, kosong belum diisi, besok ya sayang." Sahut Khalisa.


"Iya sayang." Sahut Desta.


"Sekarang, kamu istirahat yah!" sahut Khalisa.


"Kamu juga ya sayang, wajah kamu udah lesu banget." Sahut Desta.


"Iya sayang." Sahut Khalisa.


☀☀☀☀


Di kediaman rumah Bunda Maryam. Raja menangis karena kangen dengan Bapak si Marbut. Raja bermimpi Bapak si Marbut sakit.


"Bapak... hiks-hiks-hiks..." Raja terbangun dengan keringat yang bercucuran.


"Astaghfirullah, Raja kenapa Nak? Raja nyebut Bapak siapa?" tanya Mirna.


"Raja kangen Bapak, Bapak sakit Mah, hiks-hiks-hiks..." sahut Raja sambil menangis.


"Sini Nak, Raja mimpi seram yah, Raja tahu gak, kalau mimpi itu bunga tidur sayang, yang Raja maksud Bapak siapa Nak?" tanya Mirna.


"Raja mau ke sana? Mamah gak tahu tempatnya Nak, emang Raja tahu tempatnya?" tanya Mirna.


"Gak tahu Mah." Sahut Raja.


"Nanti kalau Om Desta main ke sini, sama Om Desta aja yah! sekarang Raja tidur, udah malam! Dedek Dewa udah tidur nyenyak tuh!" sahut Mirna.


"Ini Mah..." sahut Raja memberikan kertas pada Mirna alamat si Marbut itu.


"Ini apa sayang?" tanya Mirna.


"Dari Kakak Rina!" sahut Raja.


"Ini alamatnya Nak?" tanya Mirna.


"Gak tahu!" sahut Raja.


"Ya udah, nanti Mamah telepon Om Desta, Mamah minta alamat yang jelas deh! sekarang bobo yah!" minta Mirna.


"Iya Mah." Sahut Raja.

__ADS_1


Ya Allah, Anak aku sampai lengket sekali sama orang yang udah nemuin dia, sama Papahnya sendiri aja, Raja gak seperti ini, mungkin Bapak yang dimaksud Raja itu sangat baik, ikhlas mengurus Raja, aku akan berterima kasih juga sama dia.


Mirna mendengar Dewa memanggil-manggil nama Papahnya, Dewa kangen dengan Papahnya, meskipun Dewa pernah dipukuli, tapi Dewa tidak pernah ada dendam sama sekali ke Papahnya, beda dengan Raja, kalau Raja sangat membenci Papahnya.


"Papah... Papah... Papah..." Dewa memanggil Papahnya dalam keadaan terpejam.


"Sayang, sayang, kenapa sayang, husstttt...." sahut Mirna memegang kening Dewa yang berkeringat.


"Dewa kenapa sayang? hah? Dewa kangen Papah yah? hiks-hiks-hiks..." Mirna langsung menangis sambil membelai Dewa.


"Dewa kangen Papah, huuuu... Dewa kangen Mah!" sahut Dewa menangis.


"Dewa, Papah lagi dihukum Nak, kamu sabar ya Nak, kalau Dewa mau bertemu Papah, nanti Mamah antar Nak, hiks-hiks-hiks..." sahut Mirna.


"Kapan Papah pulang Mah, kapan? Dewa mau ketemu Papah! hiks-hiks-hiks...." Dewa merengek meminta ketemu Papahnya.


"Dewa! dia bukan Papah kita! Papah kita sudah mati! dia jahat! bukan Papah kita! jangan kangen Papah lagi! Raja benci Papah!" sahut Raja terbangun dan kesal mendengar Dewa bangun dan menangis.


"Raja, Raja, gak boleh gitu Nak, sejahat apapun Papah kita, kita gak boleh dendam sama Papah kita, jangan benci sama Papah ya Nak! hiks-hiks-hiks..." minta Mirna sambil menangis.


"Raja benci Papah! benci! benci! benci!" sahut Raja.


"Kakak jangan gitu Kak, kasihan Papah!" sahut Dewa.


"Dengar! dia bukan Papah kita!" sahut Raja sambil tidur mengambil guling dan menutupi kupingnya.


"Dewa, Dewa sekarang bobo yah! biarin Kak Raja bobo!" sahut Mirna.


Ya Allah, salah satu Anakku membenci Papahnya, dan satu lagi sayang sama Papahnya, meskipun Mas Jono jahat, aku gak boleh egois untuk mempertemukan Dewa dan Papahnya, karena gak ada yang namanya Mantan Anak, atau mantan Bapak, Raja tetap Anaknya Mas Jono, Mas Jono masih berhak bertemu dengan Anaknya.


"Mirna, kamu belum tidur?" tanya Ayah Umar.


"Belum Mas, kedua Anak ini terbangun dan mimpi buruk." Sahut Mirna.


Bersambung...


Terima kasih teman-teman dan readersku atas dukungan kalian, sudah setia ikutin cerita Ta'aruf Cinta, semoga ceritanya bisa menghibur dan gak ngebosenin yah, di tunggu episode selanjutnya makasih 🥰🥰🥰🥰


Sambil menunggu cerita Ta'aruf cinta boleh yuk mampir ke ceritaku yang lainnya yuk, gak kalah seru dan romantis banget cekidot 🥰🥰🥰


- CINTA DAN DETIK TERAKHIR


- CINTA COWOK DINGIN

__ADS_1


- CINTA GADIS BISU


__ADS_2