
Keesokan paginya, Desta dan Khalisa sarapan bersama. Desta melihat chatan Ayah Umar mengenai Mirna.
"Sayang, maaf yah, aku belum bisa masakin buat kamu." Sahut Khalisa.
"Gak apa-apa sayang, aku ngerti kok, ada chat sayang, dari Ayah." Sahut Desta.
"Apa kata Ayah?" tanya Khalisa.
"Kata Ayah, aku sore di suruh ke rumah, Ayah mau minta tolong masalah Mba Mirna." Sahut Desta.
"Ada apa ya sayang?" tanya Khalisa.
"Ayah sih, belum ngasih tahu permasalahannya apa, mungkin gak enak kalau di handphone, lebih baik langsung." Sahut Desta.
"Tapi sayang, kamu harus hati-hati yah, firasat aku gak enak." Sahut Khalisa.
"Tuh, kan, udah ah, jangan dipikirin! aku gak mau kamu dan Dedek bayi kita kenapa-kenapa." Sahut Desta.
"Iya sayang, insya Allah, enggak." Sahut Khalisa.
"Enggak apa?" tanya Desta.
"Enggak kenapa-kenapa dengan aku sayang. " Sahut Khalisa.
☀☀☀☀
Desta akhirnya berangkat kerja, Khalisa mencium tangan Desta. Desta mencium kening Khalisa dan mengelus perutnya Khalisa.
"Ingat yah sayang, kamu harus jaga diri baik-baik, gak boleh sampai kenapa-kenapa, secepatnya aku akan pulang, Bi, tolong jaga istri saya yah, gak apa-apa kan, kalau Bibi harus dorong Khalisa, kalau ada apa-apa, telepon saya langsung." Sahut Desta.
"Siap Den!" sahut Bi Aning.
"Sayang, aku gak usah pakai kursi roda yah, biarin aku jalan pelan-pelan aja, aku gak mau nyusahin orang!" minta Khalisa.
"Pakai ah! jangan bandel deh, nurut pesan Dokter Candra, selama dua minggu atau seminggu kamu harus pakai kursi ini! aku mohon nurut sama aku yah!" minta Desta menggenggam tangan Khalisa dan menatap Khalisa.
"Iya, iya, sayang, udah sana! udah siang!" sahut Khalisa.
"Hmmm... satu lagi, Bang Joni, Pak Jamal, selagi saya kerja, tolong siapa pun jangan pernah kasih masuk! kecuali, Umi, Abi, atau Bunda, Ayah, selain itu tolak yah! misalkan orang lain, kaya temannya Khalisa atau siapa, chat saya dulu! jangan asal kasih masuk! ini semua demi keamanan! Bang Joni, bantu-bantu jaga rumah yah!" minta Desta.
"Siap Den!" sahut Bang Joni dan Pak Jamal.
"Oke! makasih! perketat yah!" sahut Desta.
"Sayang, udah kaya istana negara aja!" sahut Khalisa.
"Harus sayang! aku sebagai suami, harus siap siaga! gak mau terjadi apa-apa sama kamu! kamu tahu gak, aku sudah pasang cctv di seluruh ruangan." Sahut Desta.
"Oh, gitu Den? jadi kalau saya mau apa-apa, ke rekam ya Den?" tanya Bi Aning.
"Iya Bi, setiap malam saya pantau, aktivitas apa aja, dan siapa aja yang datang, sudah yah! saya berangkat dulu!" sahut Desta.
__ADS_1
"Iya sayang, hati-hati yah!" sahut Khalisa.
"Assalamu'alaikum." Salam Desta.
"Wa'alaikumsalam." Sahut Khalisa dan yang lainnya.
☀☀☀☀
Di kediaman rumah Syifa. Emaknya Syifa datang ke rumah Khalisa. Dokter Ari dan Syifa kaget, Enaknya sudah ada di depan pintu.
"Assalamu'alaikum." Salam Emaknya Syifa.
"Wa'alaikumsalam." Sahut Dokter Ari dan Syifa.
"Lah, Ari mau kemane?" tanya Emaknya Syifa.
"Mau kerja lah Emak!" sahut Syifa.
"Lo berdua gimane sih, katanye mau antar gue ke rumah Khalisa!" sahut Emaknya Syifa.
"Emak, ini kan masih pagi, Ari mau kerja dulu, gak enak sama Dokter Candra, lagian Destanya juga kerja kan, nanti sore ya Mak, Emak di sini aja dulu sama Syifa sama Adhel, tuh, ngelihatin Neneknya yah!" sahut Dokter Ari.
"Ya udeh, kalau gitu, lo telepon dulu nanti, nanti kita ke sana kaga ada orangnye!" sahut Emaknya Syifa.
"Iya Mak." Sahut Dokter Ari.
"Iya, Syifa belum nanya-nanya kabar Khalisa, kangen juga Syifa." Sahut Syifa.
"Iya, nanti Mak." Sahut Syifa.
☀☀☀☀
Di kediaman rumah si marbut. Istri si marbut menarik Raja untuk ikut bekerja berjualan mie Ayam. Raja hanya menangis dan diam.
"Eh, lo jangan nangis mulu tong! sekarang lo sapu nih! bisa gak?" bentak istrinya si Marbut.
"Sini! biarin Rina yang nyapu Bu! kasihan Raja!" sahut Rina.
"Rina, kamu gak usah belain Anak ini! Anak ini udah numpang! jadi, dia harus mau bantu-bantu!" sahut Istrinya si marbut.
"Raja, kamu belum bisa nyapu yah! kamu lihatin aku yah!" minta Rina sambil tersenyum, Raja memperhatikan Rina.
"Raja mau pulang! Raja angen Adik, Mamah!" minta Raja.
"Eh, lo mau pulang kemana? rumah aja lo kaga tahu! udah, lo kerja aja di sini!" bentak istrinya si marbut.
Raja langsung lari, Rina mengejarnya. Raja terjatuh sampai dengkulnya berdarah. Rina langsung menggendong Raja. Rina seperti punya Adik sendiri.
"Tuh, kan, kamu bakal sih, pakai lari! kamu diam tahan yah!" sahut Rina menyobek bajunya, dan membalut dengkul Raja yang berdarah.
"Uhhhh..." Raja menangis.
__ADS_1
"Udah, kamu jangan nangis! cengeng tahu! ayo naik dipunggung aku!" ajak Rina menggendong Raja.
"Haduh, Rina! ngapain sih, kamu gendong-gendong dia! eh, kamu bakal sekali sih, kalau kamu ketabrak mobil gimana?" bentak istrinya si marbut menjewer kuping Raja.
"Bu, jangan Bu! jangan!" minta Rina.
"Kamu, jangan belain Anak ini! Anak ini sudah nakal!" sahut Istri si marbut.
"Dia seperti Adik Rina sendiri Bu, jangan sakitin dia!" minta Rina.
"Ah... kamu ini! ya udah, cepatan cuci piring, ajarin tuh!" sahut Istri si marbut.
"Raja, ikut Kakak!" minta Rina menggandeng Raja.
"Mamah, Mamah!" sahut Raja mengucek matanya memanggil Mamahnya.
☀☀☀☀
Di kediaman rumah Bunda Maryam. Mirna berteriak teringat Raja sambil menangis. Mirna memeluk Dewa yang ikut menangis.
"Raja.... hiks-hiks-hiks..." Mirna menangis.
"Ada apa Mirna? kamu sudah bangun?" tanya Bunda Maryam.
"Aku teringat Raja Mba, di mana sekarang dia! hiks-hiks-hiks, sudah makan apa belum, aku khawatir, dia manggil-manggil aku Mba, Astaghfirullah, Raja, kamu di mana Nak!" sahut Mirna.
"Kamu sabar yah, insya Allah, Anak kamu ketemu, sekarang kamu sarapan dulu gih! Mba bikinin nasi goreng!" sahut Bunda Maryam.
"Uuuhhh... kakak Raja di mana? Ewa angen kak!" sahut Dewa menangis.
"Dewa, jangan nangis yah! Kakak Raja, pasti baik-baik aja, Dewa doain yah, supaya Kakak Raja bisa ketemu! kita makan yuk!" ajak Bunda Maryam.
"Ayo Mah! ayo!" ajak Dewa.
"Mirna, cepat! kita siap-siap ke kantor polisi, untuk visum kamu, tapi kamu harus sarapan dulu! mata kamu, sudah bengkak gitu!" minta Bunda Maryam.
Akhirnya, Mba Mirna turun dan ikut makan bersama. Tapi Mirna melamun tidak dimakan. Ayah Umar langsung menegur Mirna agar tidak stres.
"Mirna, kenapa tidak dimakan? ayo makan!" minta Ayah Umar.
Bersambung...
Terima kasih teman-teman dan readersku atas dukungan kalian, sudah setia ikutin cerita Ta'aruf Cinta, semoga ceritanya bisa menghibur dan gak ngebosenin yah, di tunggu episode selanjutnya makasih 🥰🥰🥰
Sambil menunggu cerita Ta'aruf cinta boleh yuk mampir ke ceritaku yang lainnya yuk, gak kalah seru dan romantis banget cekidot 🥰🥰🥰
- Cinta dan Detik Terakhir
- Cinta Cowok Dingin
- Cinta Gadis Bisu
__ADS_1