
Setelah makan, Desta pamit berangkat kerja. Desta mencium tangan keluarganya dan keluarga Khalisa. Setelah itu, Khalisa kembali ke belakang untuk membereskan piring-piring yang kotor.
"Neng, mau ngapain? jangan Neng! udah, Bibi aja!" minta Bi Aning.
"Bantu angkat piring ke wastafel kok Bi, gak apa-apa kok, perempuan hamil, gak boleh manja, he-he-he." Sahut Khalisa.
"Nanti Bibi yang diomelin Umi, Neng." Sahut Bi Aning.
"Masa angkatin piring aja, diomelin, enggak lah Bi!" sahut Khalisa.
"Ngapain Neng? jangan capek-capek Neng!" minta Umi Sarah.
"Enggak Umi, Khalisa biar olahraga aja, cuma angkat piring sama gelas aja kok!" sahut Khalisa.
"Oh, ya udah, jangan capek-capek ya Neng!" sahut Umi Sarah.
"Gak diomelin kan? he-he-he." Sahut Khalisa.
"Enggak Neng, tapi Bibi Mah, udah takut aja Neng!" sahut Bi Aning.
"Emang Umi macan, ditakutin." Sahut Khalisa.
"Neng, Mirna belum bangun?" tanya Bunda Maryam.
"Belum Bun." Sahut Khalisa.
"Kebiasaan, orang mau pulang juga!" sahut Bunda Maryam.
"Bunda mau pulang? gak nginap lagi sampai besok?" tanya Khalisa.
"Enggak Neng, rumah gak ada yang urus! Ayah juga minta pulang, banyak urusan." Sahut Bunda Maryam.
"Oh, gitu Bun? kalau mau pulang, nanti diantar Bang Joni aja ya Bun!" sahut Khalisa.
"Gak apa-apa Neng?" tanya Bunda Maryam.
__ADS_1
"Iya, gak apa-apa dong Bun." Sahut Khalisa.
"Kayanya, suara Dewa nangis Neng, baru bangun kayanya!" sahut Bunda Maryam.
☀☀☀☀
Gak lama Mirna turun dengan kedua Anaknya. Dewa habis ngambek dan menangis. Bunda Maryam dan Khalisa bertanya pada Mba Mirna.
"Kenapa lagi sih?" tanya Bunda Maryam.
"Bandel suruh mandi susah!" sahut Mba Mirna.
"Jangan digebukin juga Mba, kasihan kan, kalau emang gak mau mandi biarin aja tunggu sampai mau!" saran Khalisa.
"Orang ngompol masa dibiarin sih, Lis." Sahut Mba Mirna.
"Ngompol? emang gak pake pampers?" tanya Bunda Maryam.
"Kehabisan Mba, maaf ya Khalisa, kasurnya keompolan, sepreinya sudah Mba taro kamar mandi." Sahut Mba Mirna.
"Mba Mirna bukan di kamar aku kok Bun, kamar sebelahnya, Mba kasih Bi Aning aja, jangan di taro kamar mandi, kasurnya diangkat aja! nanti di laundry aja gampang!" sahut Khalisa.
"Kamu menghina Mba Khalisa? cuma gara-gara ompol kamu laundry, kamu jangan sombong Khalisa, mentang-mentang kamu punya suami kaya! Mba kecewa sama kamu!" sahut Mba Mirna.
"Mba Mirna, kok Mba marah sih, emang apa salahnya kalau aku laundry, kan bersih, masa iya kasur sebesar itu, aku yang cuci atau Bi Aning, gak kuat! Mba kok tersinggung!" sahut Khalisa.
"Jelas Mba tersinggung, cuman gara-gara ompol aja, kamu mau cuci laundry, Mba, saya pulang!" sahut Mba Mirna.
"Mba tunggu jangan marah! maaf kalau emang Mba tersinggung, jangan seperti ini Mba!" sahut Khalisa.
"Khalisa! lepasin! lepasin gak!" bentak Mba Mirna.
"Mirna, kamu apa-apaan ini? kamu jangan seperti Anak kecil!" sahut Ayah Umar.
"Mirna mau pulang!" sahut Mba Mirna.
__ADS_1
"Mirna! kok kamu jadi seperti ini sih? Khalisa gak sama sekali nyinggung lho, kamu aja yang baper!" sahut Bunda Maryam.
"Ada apa ini? ribut-ribut! Mirna, kenapa kamu marah-marah sama Khalisa? Khalisa salah apa?" tanya Umi Sarah.
"Tanya aja sama Khalisa sendiri!" sahut Mba Mirna.
"Kamu yang sopan sedikit Mirna! saya orang tua lho!" sahut Umi Sarah.
"Umi, Umi, udah! udah!" Abi Mahmud meredamkan emosi Umi.
"Hiks-hiks-hiks, Mba jangan seperti itu sama Khalisa! Khalisa minta maaf!" Mba Mirna mendorong Khalisa sampai terjatuh dan pendarahan.
"Khalisa, Khalisa, maafin Mba Khalisa, hiks-hiks-hiks." Sahut Mba Mirna.
"Jangan pegang menantu saya! pergi kamu! kalau sampai terjadi apa-apa sama Khalisa, saya gak akan segan-segan laporin kamu ke polisi!" sahut Umi Sarah.
"Aduh... Bunda, sakit! hiks-hiks-hiks, Khalisa gak mau kedua kalinya, Khalisa gak mau Anak Khalisa mati!" sahut Khalisa menangis.
☀☀☀☀
Khalisa langsung dibawa Umi ke rumah sakit. Umi sangat marah dengan kelakuan Mirna. Umi langsung menelpon Desta untuk menjenguk Khalisa di rumah sakit. Desta menyetir sambil mengebut ke arah rumah sakit. Sambil berlinang air mata. Desta gak mau terjadi apa-apa dengan Khalisa. Khalisa sedang ditangani oleh Dokter Chandra, karena Dokter Ari libur, Dokter Chandra lah yang menggantikan. Bunda Maryam terus memarahi Mirna. Ayah Umar tidak ikut, karena menjaga Raja dan Dewa.
"Mba, maafin Mirna, Mirna khilaf! Mirna gak sengaja Mba!" sahut Mba Mirna meneteskan air mata.
"Mba, sangat kecewa sama kamu! lihat aja, kalau sama Anak dan cucu Mba gak selamat, kamu harus mempertanggung jawabkan semua! ngerti kamu! sana kamu!" bentak Bunda Maryam.
Bersambung...
Terima kasih teman-teman dan readersku atas dukungan kalian, sudah setia ikutin cerita Ta'aruf Cinta, semoga ceritanya bisa menghibur dan gak ngebosenin yah, di tunggu episode selanjutnya makasih 🥰🥰🥰
Sambil menunggu cerita Ta'aruf cinta boleh yuk mampir ke ceritaku yang lainnya yuk, gak kalah seru dan romantis banget cekidot 🥰🥰🥰
- Cinta dan Detik Terakhir
- Cinta Cowok Dingin
__ADS_1
- Cinta Gadis Bisu