
"Bunda, udah dong, kita pulang yuk!" minta Khalisa memegang pundak Bunda Maryam.
"Kamu duluan aja! biar Bunda di sini temanin Ayah kamu, kasihan Ayah kamu pasti kedinginan." Sahut Bunda Maryam.
"Bunda, malah justru Bunda kaya gini, bikin Ayah gak tenang di sana, Aku mohon Bunda, pulang!" minta Khalisa.
"Sayang, kamu sebaiknya pulang bersama Mba Mirna aja, biar Bunda, aku yang jagain!" minta Desta.
"Iya Lisa, ayo, pulang sama Mba aja!" minta Mba Mirna.
"Iya Mba, sayang, aku titip Bunda yah!" minta Khalisa.
"Iya sayang." Sahut Desta tersenyum.
Akhirnya, Khalisa, Mba Mirna pulang bersama. Sedangkan Desta menunggu Bunda Maryam, sampai benar-benar mau pulang, Desta lalu menasehati Bunda Maryam.
"Bun, maaf yah, bukan Desta sok nasihatin Bunda, atau apa, gak baik kalau Bunda larut dalam kesedihan, artinya, Bunda bisa menyiksa Ayah di sana, kasihan Ayah Bun, kalau Bunda seperti ini, emang berat dan sulit kehilangan orang yang kita cintai dan sayangi, tapi takdir gak bisa kembali lagi, dari pada Bunda menangisi terus, lebih baik Bunda banyak-banyak kirim doa buat Ayah." Sahut Desta.
"Bunda gak menyangka Desta, Ayah secepat ini pergi, Bunda banyak salah sama Ayah dan belum sempat minta maaf pada Ayah." Sahut Bunda Maryam.
"Desta mengerti perasaan Bunda, bukan hanya Bunda, tapi semua ikut kehilangan, tapi Bunda harus belajar ikhlas, sabar, dan tawakal, Bunda mau lihat Ayah nangis tersiksa di sana?" tanya Desta.
"Hiks-hiks-hiks... gak mau Desta, Bunda gak mau!" sahut Bunda menangis.
"Kalau Bunda sayang sama Ayah, kalau Bunda gak ingin Ayah nangis di sana, Bunda harus ikhlas, hanya doa yang Ayah butuhkan, supaya beliau tenang dan bisa ingat Bunda." Sahut Desta.
"Iya Desta, insya Allah, Bunda kuat dan ikhlas." Sahut Bunda Maryam.
"Nah, sekarang Bunda pulang yuk! kasihan Ayah Bunda, kalau Bunda nangis terus pasti efek ke Khalisa, Bunda gak mau kan, Khalisa kenapa-kenapa bayinya? ikhlas yah!" Desta membujuk Bunda Maryam dengan lembut.
"Iya Desta, hiks-hiks-hiks... Bunda sudah tidak punya siapa-siapa lagi, hiks-hiks-hiks..." Bunda menangis dan memeluk Desta.
"Kata siapa Bunda gak punya siapa-siapa? Bunda masih punya aku, Khalisa, Umi, Abi, Mba Mirna, ada Raja, Dewa, dan nanti ada keluarga baru lagi kan." Sahut Desta tersenyum.
"Hmmm..." sahut Bunda Maryam tersenyum dan mau pulang.
"Kita semua bakal selalu ada buat Bunda, kapan pun itu!" sahut Desta.
"Makasih ya Desta, Bunda bangga punya mantu seperti Desta, pasti Ayah juga bangga." Sahut Bunda Maryam.
"Alhamdulillah, sekarang senyum dong, jangan nangis lagi, lebih baik, kita bantuin yang lain, buat tahlilan nanti malam." Sahut Desta.
"Iya Desta." Sahut Bunda Maryam.
__ADS_1
☀☀☀☀
Akhirnya, Bunda Maryam mau diajak pulang Desta. Bunda Maryam dan Desta pamit dan mencium nisan Ayah Umar. Desta sangat bersyukur dirinya bisa membujuk Bunda Maryam pulang. Khalisa sudah sampai di rumah sejak tadi, Khalisa duduk membantu yang lain untuk tahlilan nanti malam.
"Khalisa, kamu gak usah bantuin, kamu istirahat aja Neng, wajah kamu pucat gitu!" sahut Umi Sarah.
"Gak apa-apa Umi, kan sambil duduk, oh, iya, Umi nginap di sini?" tanya Khalisa.
"Umi sama Abi, habis tahlilan pulang ya Neng, belum ngambil baju juga, tapi Umi janji bakal ke sini lagi." Sahut Umi Sarah.
"Iya, gak apa-apa Umi, Khalisa nginap di sini sampai tujuh hari Ayah Umi, soalnya kasihan Bunda." Sahut Khalisa.
"Iya Neng, gak apa-apa, emang kamu bawa baju?" tanya Umi Sarah.
"Di kamar aku masih banyak, baju-baju aku Umi." Sahut Khalisa.
"Nah, nanti Desta gimana?" tanya Umi Sarah.
"Nanti aku tanya Kak Desta dulu, dia mau ikut nginap atau enggak." Sahut Khalisa.
"Iya Lisa, sampai tujuh hari, kamu temanin Mba sama Bunda yah." Sahut Mirna.
"Iya Mba." Sahut Khalisa.
"Boleh Bi, masih ada kamar kok di sini." Sahut Khalisa.
"Emang kamu kenapa di rumah Ning? takut?" tanya Umi Sarah.
"Enggak Umi, biar Aning bantuin Neng Khalisa di sini, Aning sepi kalau di rumah, kalau gak ada Neng Khalisa dan Den Desta." Sahut Bi Aning.
"Iya Bi, bantu-bantu di sini yah!" minta Khalisa.
"Assalamu'alaikum." Salam Desta dan Bunda Maryam.
"Wa'alaikumsalam." Jawab semuanya.
"Alhamdulillah, Bunda akhirnya mau pulang juga, Bunda gak apa-apa kan?" tanya Khalisa.
"Gak apa-apa Nak." Sahut Bunda Maryam.
"Alhamdulillah, Bunda sekarang istirahat yah, biar pikiran Bunda tenang, biar Khalisa antar!" minta Khalisa.
"Bunda mau bantuin kalian aja, pasti repot yah!" minta Bunda Maryam.
__ADS_1
"Besan, gak apa-apa kok, semua sudah beres kita kerjain buat tahlilan nanti, Besan istirahat aja dulu, nanti kalau sudah matang masak kita panggil, buat makan siang." Sahut Umi Sarah.
"Enggak Umi, saya kalau di kamar kepikiran Ayah terus, biarin saya ikut bantu-bantu yah, biar gak kepikiran Ayah terus." Sahut Bunda Maryam.
"Tapi, Bunda jangan capek-capek yah!" minta Khalisa.
Setelah lama masak-masak, Umi Sarah dan Bunda Maryam menyiapkan untuk makan siang Bapak-bapak yang capek habis bantu mengubur. lima Bodyguard, Dokter Ari, Yuda, Abi, dan Bapak-bapak lainnya masih mengobrol-ngobrol. Syifa pulang duluan, sedangkan Emaknya Syifa masih ikut bantu-bantu. Syifa sudah pamit pada Khalisa, karena gak tega ninggalin Adhel sama Kakaknya.
"Semuanya, ayo makan siang dulu!" minta Umi Sarah sudah mempersiapkan semuanya.
Semuanya pada makan, ada yang bercanda, tertawa. Khalisa melihat Bunda Maryam makan sedikit demi sedikit dan perlahan.
"Bunda, kok makannya gitu?" tanya Khalisa.
"Bunda ingat Ayah, kalau makan seperti ini Neng, hiks-hiks..." Sahut Bunda Maryam.
"Besan jangan gitu dong, nanti Besan sakit gimana? ikhlaskan ya Besan, emang selalu teringat, tapi jangan terlalu larut Besan, gak baik." Sahut Umi Sarah.
"Bunda, ayo makan dong! apa Khalisa suapin yah Bunda." Minta Khalisa.
"Gak usah Nak, Bunda bisa sendiri, kamu makan aja!" minta Bunda Maryam.
"Udah dong Bunda, kok netes terus sih, air mata Bunda, udah yah, nanti Khalisa sedih juga Bunda." Sahut Khalisa mengusap air mata Bundanya.
"Mmm... enak banget lho Besan, ini spesial saya yang masak." Sahut Umi Sarah tersenyum.
"Makasih ya Umi." Sahut Bunda Maryam.
"Iya, ayo, dimakan dong!" minta Umi Sarah.
"Ayo Bunda, enak banget lho." Sahut Khalisa.
"Nah, gitu dong, sabar ya Besan, Besan gak usah khawatir, ada saya, Khalisa, Desta dan lainnya yang semangatin Besan." Sahut Umi Sarah.
Bersambung...
Terima kasih teman-teman dan readersku atas dukungan kalian, sudah setia ikutin cerita Ta'aruf Cinta, semoga ceritanya bisa menghibur dan gak ngebosenin yah, di tunggu episode selanjutnya makasih 🥰🥰🥰🥰
Sambil menunggu cerita Ta'aruf cinta boleh yuk mampir ke ceritaku yang lainnya yuk, gak kalah seru dan romantis banget cekidot 🥰🥰🥰
- CINTA DAN DETIK TERAKHIR
- CINTA COWOK DINGIN
__ADS_1
- CINTA GADIS BISU