Ta'Aruf Cinta

Ta'Aruf Cinta
S2-202


__ADS_3

"Iya Lis." Sahut Mirna.


Desta dan Ayah Umar sudah kembali. Mereka mau memberi kesaksian besok di persidangan. Khalisa, Mba Mirna, dan Bunda Maryam sangat senang sekali mendengar kabar itu.


"Assalamu'alaikum." Salam Ayah Umar dan Desta.


"Wa'alaikumsalam." Jawab Khalisa, Mirna dan Bunda Maryam.


"Gimana Yang tadi?" tanya Khalisa.


"Alhamdulillah, dia mau jadi saksi dan minta uang lima ratus ribu katanya." Sahut Desta.


"Ya Allah, Desta uang lagi yah? Mba janji, nanti kalau Mba dapat kerja, Mba lunasin hutang-hutang Mba, Mba akan usaha cari kerja jika Raja sudah ketemu." Sahut Mirna.


"Gak usah pikirin Mba, Desta ikhlas membantu." Sahut Desta.


"Makasih ya Desta, meskipun rasanya Mba malu sama kamu!" sahut Mirna.


"Gak apa apa Mba." Sahut Desta tersenyum.


"Ayah, makasih banyak sama kamu Desta, kalau gak ada kamu, Ayah gak tahu jadinya." Sahut Ayah Umar.


"Makasih ya Nak Desta, Bunda juga banyak makasih sama kamu." Sahut Bunda Maryam.


"Sama-sama Bun, Yah, kita kan keluarga, jadi harus saling tolong-menolong." Sahut Desta.


"Makasih ya sayang, kayanya kamu lelah banget yah?" tanya Khalisa.


"Nginap aja di sini dulu Lis!" minta Bunda Maryam.


"Kayanya enggak deh, Bun, bukti-bukti di rumah semua, mau mempersiapkan semua, maaf ya Bun!" sahut Desta.


"Oh, iya, gak apa-apa, ya udah kalian semua tunggu sini! Bunda mau buat siomay buat cemilan kalian, pulangnya nanti aja ya Lis, Nak Desta!" minta Bunda Maryam.


"Aku boleh bantu gak Bun?" tanya Khalisa.


"Boleh dong!" sahut Bunda Maryam.


"Aku juga deh!" sahut Mirna.


"Yang cowok-cowok di depan aja yah, tunggu matang!" sahut Khalisa.


"Kalau gitu, Desta ikut Ayah! kita main catur!" ajak Ayah Umar.


"Boleh Yah!" sahut Desta tersenyum.


☀☀☀☀

__ADS_1


Di kediaman rumah Syifa. Syifa menyiapkan semua makanan untuk Dokter Ari. Emaknya Syifa sedang menggendong Adhel.


"Wah, kayanya mantap nih!" sahut Dokter Ari.


"Tadi dibantu Emak masak." Sahut Syifa.


"Ari cobain dah masakan Emak, pasti nambah terus, jengkolnya tuh!" sahut Emaknya Syifa.


"Makasih ya Mak, udah bantuin Syifa masak." Sahut Dokter Ari.


"Mmmm.... enak banget! mantap nih, Mak." Sahut Dokter Ari.


"Tuh kan, Emak bilang ape, enak kan? siape dulu Emak." Sahut Emaknya Syifa.


Maafin Syifa Mas, kalau yang masak Emak, pakai micin, Syifa jadi gak enak.


"Dek, kamu gak makan?" tanya Dokter Ari.


"Adek udah Mas, Mas aja!" sahut Syifa.


"Benaran? Emak gak mau makan juga?" tanya Dokter Ari.


"Emak mah, udeh makan berkali-kali, udeh, Ari aje makan yang banyak ye!" sahut Emaknya Syifa.


"Nambah Mas?" tanya Syifa.


"Oke!" sahut Syifa.


"Kamu harus banyak belajar sama Emak Dek." Sahut Dokter Ari.


"Tuh, dengerin suami Neng!" sahut Emaknya Syifa.


"Emang Syifa gak nurut Mak? kalau gak nurut, omelin aja!" sahut Dokter Ari.


"Adek nurut kok Mas." Sahut Syifa.


☀☀☀☀


Di kediaman rumah si Marbut. Si Marbut galau memikirkan Raja, dia tidak mengharapkan uang sama sekali, yang penting Raja bisa kembali ke keluarganya. Namun istrinya selalu bersikeras mengharapkan uang.


"Bapak belum tidur?" tanya istri si Marbut.


"Belum Bu, Bapak masih gak rela dan berat pisah dengan Raja." Sahut si Marbut.


"Bapak gak usah berat, dia Anak orang ini, yang penting tuh, duit Pak! duit! kalau kita dapat uang lima juta, bisa buat modal, nerusin Rina sekolah, mikirin apa lagi sih Pak!" sahut istri si Marbut.


"Cukup Bu! Bapak ikhlas balikin Raja ke keluarganya, Bapak gak mengharapkan apapun dari keluarganya!" sahut si Marbut.

__ADS_1


"Bapak gimana sih, kan bukan kita yang minta, tapi mereka yang ngasih Pak!" sahut istrinya si Marbut.


"Bapak mau tidur Bu, capek!" sahut si Marbut.


Si Marbut itu ke kamar Raja dan Rina. Si Marbut mencium kening Raja sambil meneteskan air mata. Seakan gak rela kehilangan Raja.


Meskipun kamu bukan Anak Bapak, Bapak tetap sayang sama kamu Raja, Bapak udah anggap kamu Anak Bapak sendiri, rasanya berat, kalau Bapak harus melepaskan kamu, tapi Bapak gak mau egois, Bapak ingin kamu bertemu Mamah, Papah kamu, Bapak ikhlas Nak, balikin kamu gak mengharapkan apa-apa.


☀☀☀☀


Di kediaman rumah Khalisa. Khalisa dan keluarga menikmati siomay yang Bunda Maryam bikin. Khalisa ingin selamanya seperti ini, hangat dan bahagia.


"Sayang, kamu bisa gak bikin kaya gini?" tanya Desta.


"Bisa dong! tadi Bunda udah ajarin!" sahut Khalisa.


"Kalau gitu, besok kamu bikin!" sahut Desta.


"Besokannya atau sore ya sayang, kan besok repot ke persidangan." Sahut Khalisa.


"Sorenya aja!" minta Desta.


"Insya Allah." Sahut Khalisa.


"Pasti rasanya beda, kalau Khalisa yang bikin!" sahut Bunda Maryam.


"Apapun masakan istri, Desta tetap suka kok Bun." Sahut Desta.


"So sweet..." Sahut Mba Mirna sambil menyuapi Dewa.


Kamu beruntung Khalisa, punya suami yang setia, sayang sama kamu, dan keluarga, Mba jadi iri sama kalian, nasib Mba jelek, kapan Mba bisa kaya kamu dan Desta.


"Mba, kok melamun aja? kenapa?" tanya Khalisa.


"Mba iri sama kalian, kalian punya keluarga yang utuh, sedangkan Mba, punya suami gak baik, tapi Mba bahagia, kamu gak salah pilih punya suami." Sahut Mirna.


Bersambung...


Terima kasih teman-teman dan readersku atas dukungan kalian, sudah setia ikutin cerita Ta'aruf Cinta, semoga ceritanya bisa menghibur dan gak ngebosenin yah, di tunggu episode selanjutnya makasih 🥰🥰🥰


Sambil menunggu cerita Ta'aruf cinta boleh yuk mampir ke ceritaku yang lainnya yuk, gak kalah seru dan romantis banget cekidot 🥰🥰🥰


- Cinta dan Detik Terakhir


- Cinta Cowok Dingin


- Cinta Gadis Bisu

__ADS_1


__ADS_2