Ta'Aruf Cinta

Ta'Aruf Cinta
Part 93


__ADS_3

"Iya gak apa-apa, asalkan jangan ikut campur terlalu dalam ya sayang, bukan aku ngelarang, takutnya masalah, kamu lagi yang kena, aku gak mau," sahut Desta.


"Iya Kak enggak," sahut Khalisa.


"Aku boleh minta satu permintaan gak?" tanya Desta.


"Apa Kak?" tanya Khalisa.


"Mulai hari ini jangan panggil aku Kak lagi? kamu panggil aja yang, atau sayang, gimana? kalau Dedek bayi udah lahir, panggil Papah, aku panggil kamu pasti Mamah," minta Desta.


"Iya Kak.. eh, yang he-he, masih kaku aku," sahut Khalisa tertawa kecil.


"Gak apa-apa, nanti juga terbiasa," sahut Desta tersenyum.


"Aduh Den Desta sama Neng Khalisa, romantis banget," sahut Bi Aning tersenyum.


"Emang Bibi sama Pak Jamal gimana? romantis kan?" tanya Khalisa.


"Enggak Neng, pas pacaran doang, kalau udah nikah mah boro-boro romantis, he-he," sahut Bi Aning.


"Masa sih Bi, aku lihat Pak Jamal romantis lho, masa enggak sih?" tanya Desta.


"Pak Jamal mah gak ada romantisnya, kalau romantis kalau ada maunya aja, tapi saya sekarang gak pikirin itu Neng, saya tuh mikirin anak aja, sampai sekarang gak punya anak, hiks-hiks," sahut Bi Aning menangis.


"Ya Allah, maaf ya Bi, kita berdua jadi buat Bibi sedih, Bibi gak usah nangis yah, mungkin belum kehendak Allah memberi Bibi anak, anggap aja aku, Kak Desta, itu anak Bibi yah, jangan anggap kita orang lain atau majikan," sahut Khalisa tersenyum.


"Benar istri saya Bi, anggap aja kita berdua anak Bibi yah, udah jangan nangis ah," sahut Desta tersenyum.


"Makasih Neng, Den Desta, Bibi sangat berterima kasih banget, Den Desta sama Neng Khalisa mau Bibi anggap anak sendiri, kalian baik, saya beruntung punya majikan seperti kalian," sahut Bi Aning.

__ADS_1


"Di sini kita sama Bi, gak ada drajatnya tinggi karena Bibi kerja sama kita, kita anggap Bibi udah kaya keluarga, makan kita sama-sama, bahagia bersama, sedih bersama, kita lewatin bersama, gak ada pikiran aku membedakan Bibi, mangkanya aku suruh Bibi makan bersama kita, jadi sekarang Bibi jangan sungkan-sungkan sama kita yah," sahut Khalisa tersenyum.


"Alhamdulillah, makasih ya Neng, Neng hatinya benar-benar tulus, baik, pokoknya lengkap deh, baru ini saya dapat majikan udah ngerasa seperti keluarga sendiri," sahut Bi Aning.


"Ini Bi, ini yang membuat aku semakin cinta sama dia, hati aku udah timbul rasa cinta, cemburu, dan takut kehilangan, meskipun dia itu selalu berpikir positif sama orang, gak ngerasa kalau dirinya ada yang merhatiin dan suka," sahut Desta memegang tangan Khalisa.


"Mulai deh, masih cemburu sama Dokter Ari Kak?" tanya Khalisa.


"Tuh kan, Kak lagi, Kak lagi," sahut Desta cemberut.


"Maaf, lupa, lupa sayang, lupa!" sahut Khalisa tersenyum sambil memegang tangan Desta erat.


"Nah, gitu dong," sahut Desta mencium tangan Khalisa dengan lembut.


"Neng, Den, saya permisi ke dapur yah," sahut Bi Aning sambil mengangkat piring dan gelas kotor.


"Gak usah Neng, Neng jangan banyak capek, harus banyak istirahat yah, biar Bibi aja," sahut Bi Aning tersenyum.


"Makasih ya Bi," sahut Khalisa.


"Sama-sama Neng," sahut Bi Aning.


"Benar Bi Aning sayang, kamu jangan capek-capek yah, aku gak mau kamu capek dan mengganggu Dedek bayinya," sahut Desta.


Gak lama ponsel Khalisa berdering lagi, ternyata Umi Sarah menghubungi Khalisa. Tapi Desta melarang Khalisa untuk mengangkatnya, justru Desta yang mengangkatnya.


"Siap yang telepon lagi sayang?" tanya Desta.


"Umi yang, gimana nih? aku angkat yah?" tanya Khalisa.

__ADS_1


"Sini! biar aku yang angkat aja!" sahut Desta mengambil ponsel Khalisa.


"Assalamu'alaikum, Khalisa," salam Umi di telepon.


"Wa'alaikumsalam, Umi ada apa lagi? kenapa telepon Khalisa? tadi kenapa telepon Desta Umi matiin, dan sekarang Umi telepon Khalisa, mau marah-marah lagi sama istri Desta?" tanya Desta.


"Umi hanya ingin tahu kepastian dari Khalisa, apa benar kamu gak mau ketemu Umi lagi?" tanya Umi Sarah.


"Untuk apa? Khalisa gak ada kaitannya dan gak tahu apa-apa, dia hanya mengikuti apa kata suami, jadi Umi jangan berpikiran Khalisa yang nyuruh aku, itu enggak sama sekali, justru Khalisa ingin aku selalu memaafkan Umi," sahut Desta.


"Desta, kamu jangan seperti ini sama Umi, Umi janji gak akan seperti itu lagi, maafin Umi Desta, Umi akan merubah sifat Umi," minta Umi Sarah.


"Desta gak perlu janji Umi, gak perlu omongan, buktikan, kan berulang kali Umi seperti itu, emang salah Khalisa apa Umi? Desta mau tanya sama Umi?" tanya Desta.


"Umi cuma gak rela kamu nikah dan belum siap kamu nikah, itu aja Nak, Umi gak membenci Khalisa, Umi hanya kesal sekarang kasih sayang kamu untuk Khalisa, tapi benaran Umi sebenarnya sayang sama kalian berdua, hiks-hiks-hiks," sahut Umi Sarah.


"Astaghfirullah Umi, kenapa dulu Umi bilang ikhlas menerima Khalisa? harusnya Umi gak seperti itu, kasih sayang Desta ke Umi itu gak akan pernah pudar sampai kapan pun Umi, meskipun Desta sudah mempunyai istri, Desta tetap sayang sama Umi, Khalisa itu sayang lho sama Umi, anaknya baik, soleha, Khalisa itu anggap Umi udah seperti Ibunya sendiri, tapi kenapa Umi selalu siksa batinnya, kasihan Umi, dia istri Desta, udah jadi tanggung jawab Desta, kalau Umi nyiksa Khalisa, itu sama aja Umi nyiksa anak Umi sendiri, Khalisa sedang hamil, kalau dia gak kuat dan frustasi gimana bayi yang ada di kandungannya Umi, Umi gak mau kan, kalau cucu Umi sampai kenapa-kenapa," sahut Desta.


"Umi minta maaf Desta, Umi salah, Umi akan buktiin sama kamu, kalau Umi akan berubah, Umi akan sayangi Khalisa, izinkan Umi bicara sama Khalisa yah Nak, tolong Umi! hiks-hiks-hiks," Umi Sarah menangis.


"Assalamu'alaikum, Umi," salam Khalisa.


"Wa'alaikumsalam, Khalisa, maafin Umi ya Neng, Umi udah keterlaluan sama kamu, udah nyiksa batin kamu, Umi sadar, Umi udah salah besar, waktu itu Umi hanya belum ikhlas melepas Desta, tapi sekarang Umi udah ikhlas Neng, Umi ikhlas, hiks-hiks-hiks, Umi sadar, kalau kamu anak baik, soleha, Umi minta maaf selalu melampiaskan kesal Umi ke kamu, Umi bakal buktiin ke Desta, kalau Umi mulai hari ini dan selamanya udah sadar, dan sayang sama kalian berdua, kamu mau kan Neng, maafin Umi, apa perlu Umi bersujud di kaki kamu biar percaya, hiks-hiks-hiks," sahut Umi Sarah.


"Gak perlu Umi, Khalisa udah maafin Umi sejak kemarin, Khalisa ngerti kok Umi, Umi takut Kak Desta gak sayang lagi sama Umi yah, Umi salah, namanya kasih sayang orang tua itu akan melekat pada anak sampai kapan pun Umi, meskipun Kak Desta sudah nikah sama aku, Umi itu tetap nomor satu di hatinya Kak Desta, Khalisa pun sama anggap Umi itu orang tua Khalisa juga, Khalisa sayang sama Umi, Khalisa udah lupain masalah kemarin kok Umi, Allah aja maha Pemaaf, masa Khalisa enggak sih, he-he," sahut Khalisa tersenyum.


Bersambung....


Terima kasih atas dukungan kalian semua, readersku dan teman- teman udah setia ikutin cerita Ta'aruf Cinta, semoga ceritanya bisa menghibur dan gak ngebosenin ya, di tunggu episode selanjutnya 🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2