Ta'Aruf Cinta

Ta'Aruf Cinta
S2-154


__ADS_3

"Bunda kan sama Umi sama sayang, mereka kompakan." Sahut Desta.


"Iya sayang, aku senang mereka akur, Jangan sampai ada kesalahan pahaman ya Yang." Sahut Khalisa.


"Iya sayang." Sahut Desta.


"Umi sama Bunda ngundang siapa aja ya sayang? sampai banyak gini?" tanya Khalisa.


"Coba, sebentar aku telepon Umi yah!" sahut Desta.


Desta menghubungi Umi Sarah, kenapa besek sampai lebih dari seratus box dan cup untuk rujak pun bisa sampai seribu cup.


"Assalamu'alaikum, Desta, ada apa?" tanya Umi Sarah.


"Wa'alaikumsalam, Umi, Desta mau tanya, ini Umi kenapa kirimin box besek banyak banget, Kira-kira ada seribu lebih, belum cup, emang Umi udah berapa orang sih?" tanya Desta.


"Sudah, kamu gak usah banyak tanya, yang penting beres, kalau undangan pasti banyak Desta, belum teman-teman Umi, Abi, belum Bunda Maryam dan Ayah Umar, teman kamu, teman Khalisa, banyak pasti, belum tetangga kita harus bagi juga!" sahut Umi Sarah.


"Ya Allah, Umi, ngundang banyak banget, mubazir lho kalau sisa!" sahut Desta.


"Udah, kamu tenang aja, gak bakal ada sisa, belum kamu undang Orang marawis dan pembantu kamu, pokoknya kamu tenang aja deh!" sahut Umi Sarah.


"Ya udah, tapi Desta, gak mau ada sisa ya Mi, mubazir." Sahut Desta.


"Iya, iya, ya sudah, Umi sibuk nih, buat ngundang Ibu-ibu pengajian!" sahut Umi Sarah.


"Iya Umi, Assalamu'alaikum." Salam Desta.


"Wa'alaikumsalam." Jawab Umi Sarah.


"Gimana sayang? banyak yah, ngundangnya?" tanya Khalisa.


"Iya sayang, kita disuruh terima beres dan ikutin semua kemauan Umi." Sahut Khalisa.


"Ya sudah, kalau gitu! kita yang bikin acara, orang tua kita yang sibuk ya Yang, he-he-he." Sahut Khalisa.


"Ya, begitulah, ha-ha-ha, eh, sayang, sini! aku ikut bantuin, kamu capek kan? lihat tuh, tangannya hitam!" minta Desta memegang jari Khalisa yang hitam karena mengupas bawang.


"Kalau masak begini sayang, udah, gak usah, kamu istirahat aja sana di kamar!" minta Khalisa.


"Enggak ah, yang gampang aja! biar cepat sayang!" minta Desta.


"Ya udah, kalau gitu bantu kupasin kentang aja, nih!" minta Khalisa.


"Oke!" sahut Desta.


Desta salah mengupas kentang, sampai Khalisa meledek Desta. Wajah dan tangan Desta yang putih, hitam semua. Khalisa tertawa terbahak-bahak melihat Desta memotong kentang.


"Sayang, kok begitu? begini sayang!" sahut Khalisa mengajari Desta.

__ADS_1


"Oh, oke!" sahut Desta.


"Ha-ha-ha, sayang, kamu gak ngerti-ngerti yah? ha-ha-ha, lucu banget sih, kamu? lihat tuh hitam semua!" sahut Khalisa.


"Awas yah, ngatain aku lagi! jahat banget sih, ketawain aku!" sahut Desta tersenyum malu.


"Sudah, sini! sini! aku aja ya sayang, kamu cuci aja tangannya, sampai ke wajah gitu!" sahut Khalisa.


"Wajar sih, kalau cowok gak bisa masak! Den Desta yang wajahnya putih, jadi kotor!" sahut Bi Aning.


"Tahu nih, Bi! dikerjain istri, istri aku tega banget deh!" sahut Desta.


"Kok aku sih? kan aku udah larang kamu sayang, apa lagi aku kasih ngupas bawang, kamu nanti tambah nangis!" sahut Khalisa.


"Iya, istriku, ternyata, begini yah, sulitnya memasak dan jadi Ibu rumah tangga!" sahut Desta.


"Ya jadi kamu juga pasti berat, kamu harus pikirin pekerjaan, ngurus Anak buah, pasti tanggung jawab kamu lebih besar, kita, sama-sama punya tanggung jawab sayang, buat masa depan Anak kita juga!" sahut Khalisa.


"Istriku, memang hebat! untung kamu putus sama mantan kamu yang sakit itu, tapi sayang, lucu lho, saat kita hadir, wajah Reza jadi pengantin tegang banget kaya patung! gini! ha-ha-ha." Sahut Desta tertawa ingat kondangan ke acara mantannya Khalisa dan memperagakan Reza depan Khalisa.


"Ha-ha-ha, sayang, ih... gak boleh! kamu bisa aja kalau ngatain orang lain!" sahut Khalisa menepak pundak Desta sambil ikut tertawa.


"Aku gak ngatain, tapi fakta seperti itu, sayang! aku bayangin kalau pengantin ceweknya kamu, pasti lucu! ha-ha-ha." Sahut Desta meledek Khalisa.


"Ih, apaan sih, sayang, kok jadi aku? enak aja!" sahut Khalisa cemberut.


"Kamu gak boleh gitu sayang, biar bagaimana pun, itu mantan yang pernah kamu cintai! ha-ha-ha." Sahut Desta.


"Aaaa, sakit sayang! ini bekas tusukan lho ih! ntar sakit lagi gimana?" tanya Desta.


"Mmm... jangan!" Khalisa langsung manja dengan Desta.


"Ih... kok manja sih! ha-ha-ha." Ledek Desta.


"Aaa... he-he-he." Sahut Khalisa tertawa dan merangkul Desta.


"Istri aku manja yah!" sahut Desta mencium kening Khalisa.


"Bibi, benar-benar salut, sama kalian berdua! he-he-he." Sahut Bu Aning.


"Iya dong, Bi, sampai tua, sampai menutup mata, kita harus seperti ini! ya sayang!" sahut Desta.


"Iya sayang." Sahut Khalisa tersenyum.


☀☀☀☀


Di kediaman rumah Bunda Maryam. Bunda Maryam sibuk memegang ponselnya dan mencatat semua tamu undangan yang akan datang ke acara tujuh bulanan Khalisa.


"Sibuk banget Bun? nulis apa sih?" tanya Ayah Umar.

__ADS_1


"Ini undangan buat acara tujuh bulanan Khalisa Yah." Sahut Bunda Maryam.


"Coba lihat! Astaghfirullah, banyak sekali yang Bunda Undang? yang benar aja Bun!" sahut Ayah Umar.


"Udah, pokoknya Ayah diam aja, ini udah keputusan Bunda sama Besan kita, sekarang Ayah catat teman-teman Ayah buat datang!" minta Bunda Maryam.


"Iya, nanti Ayah catat! Bun, apa cukup nanti besek dan makanannya, kalau mereka gak kebagian malu lho Bun!" sahut Ayah Umar.


"Udah, Ayah tenang aja! gak usah pikirin itu, semua sudah diatur, sekarang Ayah tulis tamu-tamu Ayah!" minta Bunda Maryam.


"Iya, nanti Bun!" sahut Ayah Umar.


"Gak ada nanti-nanti, Bunda minta sekarang!" sahut Bunda Maryam.


"Astaghfirullah, Bunda!" sahut Ayah Umar.


"Ayah! cepatan!" minta Bunda Maryam.


"Iya, iya, Bun!" sahut Ayah Umar.


☀☀☀☀


Kediaman rumah Umi Sarah. Umi Sarah juga sibuk mengundang teman-teman pengajiannya. Umi Sarah meminta Abi Mahmud membantu menulis tamu undangan untuk acara tujuh bulanan Khalisa.


"Abi, sini!" panggil Umi Sarah.


"Ada apa Mi?" tanya Abi Mahmud.


"Begini Abi, Umi minta tolong, Abi tulis semua tamu undangan kita!" minta Umi Sarah.


"Iya Umi! ini banyak banget sih, tamunya? kaya mau jahatan nikahan aja!" sahut Abi Mahmud.


"Iya Abi, teman-teman kita kan banyak!" sahut Umi Sarah.


"Tapi gak gini juga Umi, sayang kata Abi uangnya! mendingan ditabung!" saran Abi Mahmud.


"Abi diam deh! Umi lakuin ini, biar semua orang tahu, kalau cucu kita kembar." Sahut Umi Sarah.


"Astaghfirullah, Umi, kita jangan sombong seperti! itu namanya takabur, yang penting doa Umi, doa buat Khalisa dan bayinya supaya lancar lahiran!" sahut Abi Mahmud.


Bersambung...


Terima kasih teman-teman dan readersku atas dukungan kalian, sudah setia ikutin cerita Ta'aruf Cinta, semoga ceritanya bisa menghibur dan gak ngebosenin yah, di tunggu episode selanjutnya makasih 🥰🥰🥰


Sambil menunggu cerita Ta'aruf cinta boleh yuk mampir ke ceritaku yang lainnya yuk, gak kalah seru dan romantis banget cekidot 🥰🥰🥰


- Cinta dan Detik Terakhir


- Cinta Cowok Dingin

__ADS_1


- Cinta Gadis bisu


__ADS_2