Ta'Aruf Cinta

Ta'Aruf Cinta
S2-247


__ADS_3

Khalisa dan Bunda Maryam selesai memasak untuk sarapan pagi. Khalisa dan Bunda menyiapkan makanan semua di meja makan. Bunda Maryam melihat bangku kosong yang sering diduduki Ayah Umar sampai menetes air mata.


"Ada yang bisa Mirna bantu?" tanya Mirna.


"Sudah selesai semua Mba, ayo makan aja!" ajak Khalisa, langsung melihat wajah Bunda Maryam melamun.


"Mbak, kenapa?" tanya Mirna.


"Hah? gak apa-apa Mir." Sahut Bunda Maryam.


"Bunda ingat Ayah duduk di bangku itu yah?" tanya Khalisa.


"Hiks-hiks-hiks... Bunda ingat Ayah duduk di sini sambil makan dan tersenyum melihat Bunda sering marah-marah." Sahut Bunda Maryam menangis.


"Bunda, udah yah, jangan sedih lagi, apa Khalisa rubah posisi meja makannya? biar Bunda gak ingat Ayah lagi?" tanya Khalisa.


"Pagi semua, lho, Bunda kenapa?" tanya Desta.


"Bunda ingat Ayah Umar duduk di situ sayang." Sahut Khalisa.


"Bunda, yang sabar yah, emang berat banget kalau banyak kenangan di rumah ini tentang Ayah, tapi, Desta gak mau, Bunda sakit mikirin semuanya, lebih baik nanti posisi kita ubah gimana?" tanya Desta.


"Jangan Desta, biar seperti ini aja, Bunda gak mau diubah-ubah!" minta Bunda Maryam.


"Kalau gitu, Bunda jangan nangis dong, Bunda semangat, biar Khalisa, aku, Mba Mirna juga, gak ikut sedih berlarut!" minta Desta.


"Iya Desta, maaf yah!" sahut Bunda Maryam.


"Gak apa-apa Bun." Sahut Desta.


"Sekarang, Bunda duduk, terus makan yah!" minta Khalisa.


"Makasih Nak." Sahut Bunda Maryam.


"Mba, jangan sedih lagi ya Mba, kita semua, sayang sama Mba." Sahut Mirna.


"Makasih Mirna, kabar Siska gimana Mirna? katanya dia dari Singapore mau ke sini!" sahut Mirna.


"Siska siapa Bun?" tanya Desta.


"Kakak kandung Ayah Umar, dia kemarin gak sempat datang ke sini, karena ada urusan apa gitu, sekarang mau ke sini, mau ke makam Ayah Umar juga." Sahut Bunda Maryam.


"Kalian, berdua, kalau ada Siska sabar-sabar yah! dia emang agak bawel dan pedas ucapannya, Mba juga, aku yakin, Mba Siska pasti nyalahin Mba Maryam." Sahut Mirna.


"Kenapa bisa gitu Mba? emang Ayah meninggal gara-gara Bunda, aku gak terima kalau Bunda disalahin." Sahut Khalisa.

__ADS_1


"Tenang yah, Bunda, sama Khalisa, ada Desta yang selalu belain kalian." Sahut Desta.


"Iya Desta, makasih yah, Ayah Umar itu punya tiga saudara, Siska dan Mirna, Siska emang berbeda dari Ayah Umar dan Mirna, karena dia ngerasa paling sukses, jadi agak sombong dan agak angkuh." Sahut Bunda Maryam.


"Aduh, Desta jadi was-was dan Khawatir." Sahut Desta.


"Sayang, kamu tenang aja yah, gak apa-apa kok, kita udah biasa hadapin Tante Siska seperti apa." Sahut Khalisa.


"Janji yah, jangan sampai, Dede kembar kita kenapa-kenapa dan kamu sakit." Sahut Desta.


"Iya sayang." Sahut Khalisa.


"Dia juga, pasti gak mau nginap di sini, pasti di hotel, gak pernah mau dia tidur di sini, pas waktu Almarhum Mas Umar, gak pernah mau." Sahut Mirna.


"Sekaya apa sih dia? sombong banget!" sahut Desta.


"Sayang, sabar ah!" sahut Khalisa.


Desta akhirnya berangkat ke kantor dengan hati yang was-was, memikirkan istri dan Mertuanya. Desta bersikap positif agar gak terjadi apa-apa dengan Khalisa dan Bunda nya, karena dengar dari cerita Mirna, Desta khawatir.


Tapi, waktu aku nikah sama sekali, aku gak pernah kenal dan tahu namanya Siska, dia gak datang dipernikahanku. Ya Allah, lindungi istri, Anak-anakku yang di kandungan, dan Mertuaku ya Allah.


"Mba Mirna, kenapa bilang ke Kak Desta soal sifat Tante Siska?" tanya Khalisa.


"Emang, salah ya Lis?" tanya Mirna.


"Maaf ya Lis, abis Mba, suka emosi sama Tante kamu yang satu itu, buat apa dia ke sini, waktu nikahan kamu aja, dia gak mau datang, Ayah kamu sakit, juga dia gak datang, pas meninggal baru dia datang, Mba Khawatir." Sahut Mirna.


"Khawatir kenapa Mir?" tanya Bunda Maryam.


"Mba, jangan mikir macam-macam deh, Bunda, gak usah mikir macam-macam yah!" sahut Khalisa sambil memberikan kode pada Mba Mirna, agar Mba Mirna jangan ngomong apa-apa tentang Tante Siska yang membuat Bunda Maryam sedih.


"Assalamu'alaikum." Salam Emaknya Syifa pagi-pagi udah datang.


"Wa'alaikumsalam." Jawab Khalisa, Bunda Maryam dan Mbak Mirna.


"Eh, Emak udah datang? rajin banget Mak?" tanya Khalisa.


"Iya, semue pekerjaan rumah udeh beres, Emak langsung kemari aje, sambil bantu-bantu, he-he-he." Sahut Emaknya Syifa.


"Makasih, ya Mak, udah mau datang pagi-pagi, Emak sebaiknya makan dulu aja yah! saya sama Khalisa udah masak nasi goreng." Sahut Bunda Maryam.


"Tadi udeh makan sayur lontong, udeh kenyang Emak, ngeteh aje deh." Sahut Emaknya Syifa.


"Khalisa bikinin ya Mak." Sahut Khalisa tersenyum dan bangun dari bangku.

__ADS_1


"Makasih Neng." Sahut Emaknya Syifa.


"Mirna, tolong kamu sendokin sarapan buat Bapak-bapak di depan, tapi kamu lihat dulu, udah pada bangun belum." Minta Bunda Maryam.


"Saye lewat belum, masih pade ngampar, kaya ikan cue." Sahut Emaknya Syifa.


"Oh, gitu? mau di bangunin gak enak, soalnya pada begadang semalam Mak." Sahut Bunda Maryam.


"Oh, gitu, sebaiknye dibangunin aje, gak enak same tetangge." Sahut Emaknya Syifa.


"Iya juga Mak, Mirna, tolong bangunin gih!" minta Bunda Maryam.


"Jangan-jangan, biar Emak aje, status kalian kan janda nih, gak enak, colek-colek, pan tahu ndiri, tetangge sini usil, ade aje yang diomongin, kalau sama Emak gak akan takut mereka." Sahut Emaknya Syifa.


"Eh tuh, Abi Mahmud udah bangun Mba." Sahut Mirna.


"Bentar ye." Sahut Emaknya Syifa.


"Eh, Emak, pagi-pagi udah datang, rajin banget." sahut Abi Mahmud.


"Iye, eh, iye, ini Emak mau bangunin Bapak-bapak di sini, gak enak sama orang." Sahut Emaknya Syifa.


"Biar saya aja Mak, Emak ke dalam aja yah, soalnya mereka saya yang ajakin begadang." Sahut Abi Mahmud.


"Ya udeh, bagus deh." Sahut Emaknya Syifa.


Abi Mahmud membangunkan semua Bapak-bapak yang begadang. Mereka pulang masing-masing dan membawa kue dan bungkusan nasi goreng buat mereka yang sudah begadang.


"Abi, makan dulu yuk!" ajak Bunda Maryam.


"Kayanya, saya pulang dulu deh, Besan, nanti sore saya datang lagi ke sini, saya sudah telepon Pak Mamad buat ke sini, sekalian ngantar Umi Sarah ke sini." Sahut Abi Mahmud.


"Kalau gitu, Abi ngeteh aja, atau susu? Khalisa buatin!" minta Khalisa.


"Jadi ngerepotin!" sahut Abi Mahmud.


"Abi, jangan gitu ah, Abi itu orang tua Khalisa juga, lihat Abi, Khalisa jadi ingat Ayah." Sahut Khalisa.


Bersambung...


Terima kasih teman-teman dan readersku atas dukungan kalian, sudah setia ikutin cerita Ta'aruf Cinta, semoga ceritanya bisa menghibur dan gak ngebosenin yah, di tunggu episode selanjutnya makasih 🥰🥰🥰🥰


Sambil menunggu cerita Ta'aruf cinta boleh yuk mampir ke ceritaku yang lainnya yuk, gak kalah seru dan romantis banget cekidot 🥰🥰🥰


- CINTA DAN DETIK TERAKHIR

__ADS_1


- CINTA COWOK DINGIN


- CINTA GADIS BISU


__ADS_2