
"Iya Kak," sahut Khalisa.
"Sayang, kamu ke ruangan dia ditemanin Syifa yah, aku gak mau kamu sendirian, modus itu Dokter!" sahut Desta.
"Iya Kak, Syifa temanin gue yah!" minta Khalisa.
"Siap! sekalian cuci mata, he-he," sahut Syifa.
"Dasar mata cowok, gak boleh lihat cowok bening dikit," sahut Khalisa.
"Masih gantengan aku, ha-ha-ha," sahut Desta tertawa.
"Iya Kak, iya, gantengan Kakak," sahut Khalisa.
"Baru ini ketemu sama Dokter modus!" sahut Desta.
"Modus sama siapa Kak?" tanya Syifa.
"Ada deh," sahut Desta.
"Fa, mana rujaknya?" tanya Khalisa.
"Ini, he-he," sahut Syifa membuka bungkus rujak.
"Kok gak ada segar-segarnya Fa?" tanya Khalisa.
"Masa sih Lis?" tanya Syifa.
"Iya, lo lihat deh! sambalnya dikit banget," sahut Khalisa.
"Namanya juga pinggir jalan Lis, mmmm, iya asem yah, yah gimana dong!" sahut Syifa.
"Sayang, kalau asem jangan ah, buahnya gak segar itu, nanti kamu sakit perut," sahut Desta.
"Kak, kasihan Syifa udah beli, mubazir, hargai Syifa," sahut Khalisa.
"Lis, jangan di makan ah, ngeri gue," sahut Syifa.
"Insya Allah gak apa-apa," sahut Khalisa.
"Sayang kamu jangan bandel deh, nanti kenapa-kenapa sama perut kamu ah!" minta Desta.
"Satu aja Kak, boleh yah!" minta Khalisa.
"Ya udah satu aja, jangan banyak-banyak!" sahut Desta.
"Iya Kak, mmm, asem!" sahut Khalisa.
"Maaf ya Lis, besok kalau gue ke sini gue bawain lagi yah!" sahut Syifa.
"Besok kita udah pulang Fa, gak usah repot-repot Fa," sahut Khalisa.
"Yah, kalau pulang gue gak bisa ketemu Dokter ganteng itu dong!" sahut Syifa.
"Fa, lo gak usah takut, kalau jodoh, gak akan kemana kok, kalau emang Dokter Ari jodoh lo, pasti bertemu," sahut Khalisa.
"Syifa mau nomor telepon Dokter Ari?" tanya Desta.
"Masa iya aku duluan Kak yang chat," sahut Syifa.
__ADS_1
"Ya, pura-pura nanya apa kek gitu, bilang aja teman Khalisa, kan usaha!" sahut Desta.
"Boleh deh Kak," tanya Syifa.
"Tapi ingat jangan pernah ngelibatin Khalisa yah, kalau mau ketemuan sendiri aja!" sahut Desta.
"Kenapa Kak emangnya?" tanya Syifa.
"Dokter Ari itu modus sama Khalisa, cara pandangan tuh berbeda, awas aja kalau Dokter itu macam-macam," sahut Desta.
"Modus apa sih Kak? jangan suhzon gitu ah, gak baik," sahut Khalisa.
"Bukan suhzon, aku gak terima aja dia mandangin kamu, sayang aku masih tahan emosi, karena ngehargai dia, dia udah selamatin aku, dia Dokter aku, kalau bukan, aku gak terima," sahut Desta.
"Ya Allah Kak, biarin aja kaya gitu dia, yang penting kan hati aku buat Kak Desta," sahut Khalisa.
"Lo beruntung Lis banyak yang suka, karena lo baik, aura soleha lo kelihatan, he-he, ajarin gue dong jadi seperti lo!" sahut Syifa.
"Lo jangan gitu Fa, jadilah diri lo sendiri, bersyukur atas keadaan lo yang udah Allah kasih buat lo, yang wajib lo tiru itu hanya positifnya aja, gue masih punya kekurangan kok, gak semua manusia itu sempurna, kadang gue juga pernah salah, khilaf dan lainnya, gak semua baik pada diri gue kok," sahut Khalisa.
"Dengarin nih Fa, apa kata istri aku, ini yang makin aku cinta sama dia dan timbul rasa cemburu, bukan karena fisik, dia cantik atau apa, tapi karena hatinya," sahut Desta memegang tangan Khalisa.
"Iya Kak Desta, semoga kalian langgeng sampai akhir hayat yah, dan semoga aku bisa seperti kalian punya keluarga yang bahagia, meskipun masalah datang kalian bisa menghadapinya dengan sabar, pengertian, gak sama-sama egois, semoga Syifa bisa seperti Khalisa yang kuat dan tabah," sahut Syifa.
"Aamiin," sahut Khalisa dan Desta Desta bersamaan.
"Oh, iya, aku harus ambil obat Kakak, aku tinggal gak apa-apa ya Kak?" tanya Khalisa.
"Gak apa-apa sayang, jangan lama-lama kamu di sana, habis ngambil obat udah, langsung pulang yah, gak boleh kebanyakan ngobrol!" minta Desta.
"Iya Kak, gak lama kok, ayo Fa!" sahut Khalisa.
"Ayo Lis!" ajak Syifa.
"Wa'alaikumsalam." Jawab Desta.
🍁🍁🍁
Khalisa dan Syifa keluar ruangan Desta, dan berjalan ke arah ruangan Dokter Ari. Dokter Ari mempersilahkan Khalisa dan Syifa duduk.
"Assalamu'alaikum," salam Khalisa dan Syifa.
"Silakan duduk Bu Khalisa, ini temannya atau saudara?" tanya Dokter Ari.
"Ini teman saya Syifa," sahut Khalisa.
"Silakan Syifa duduk! sebentar saya tulis dulu yah!" sahut Dokter Ari gugup karena melihat Khalisa.
Sadar Ari, sadar, jangan gugup gini dong! dia istri orang.
"Dok! kalau saya nanya-nanya masalah apa pun boleh kan?" tanya Syifa.
"Hah? oh, boleh-boleh," sahut Dokter Ari tersenyum.
"Pasti dibalas kan Dok? gak bayar?" tanya Syifa.
"Enggak kok, he-he, Suster! tolong siapkan obatnya, ini resepnya yah! makasih!" sahut Dokter Ari.
"Dok, lama yah?" tanya Khalisa.
__ADS_1
"Enggak kok, mohon di tunggu yah! emang kalian dekatan rumahnya?" tanya Dokter Ari.
"Enggak Dok! dulu dekat, sekarang enggak, Khalisa kan udah sama suami, rumah orang tuanya Khalisa yang dekat sama saya!" sahut Syifa.
"Oh, di mana rumahnya?" tanya Dokter Ari.
"Rumah siapa?" tanya Khalisa.
"Rumah Syifa, yah rumah Syifa," sahut Dokter Ari.
"Rawa Sari Dok!" sahut Syifa.
"Oh, lumayan jauh yah?" tanya Dokter Ari yang masih memandangi Khalisa.
Kok benar Kak Desta yah, matanya selalu kearah aku, ya Allah, lama banget sih susternya.
"Lis, lo kenapa gak lahiran di sini? kan kalau udah kenal enak, ya gak Dok?" tanya Syifa.
"Bu Lisa sedang hamil? berapa bulan? kok gak kelihatan?" tanya Dokter Ari.
"Baru baru lima minggu Dok," sahut Khalisa.
Syifa lemes banget, ampun deh, aduh lama banget sih.
"Bu Khalisa mau sekalian daftar di sini?" tanya Dokter Ari.
"Udah daftar di tempat lain Dok, maaf!" sahut Khalisa.
"Oh, gitu, gak apa-apa, kalau misalkan di sana peralatan kurang bisa kok dioper ke sini!" sahut Dokter Ari.
"Dok, nanganin orang lahiran juga?" tanya Syifa.
"Iya, semua bisa kok," sahut Dokter Ari.
"Kalau jadi istrinya Dokter enak dong gak bayar, he-he," sahut Syifa.
"Sssst___ Syifa!" colek Khalisa.
"Emang kamu mau jadi istri saya Syifa?" tanya Dokter Ari.
"Ha-ha-ha, bercanda-canda, jangan ambil hati yah!" Dokter Ari langsung melirik ke Khalisa
"Permisi Dok! ini obat pesanan Dokter sesuai resep," sahut Suster.
"Makasih yah, Bu Khalisa, ini obatnya, di sini sudah ada vitamin, ada obat cream, dioleskan ke Pak Desta pagi dan sore di lukanya yah, terus untuk obatnya sudah ada tulisan 3xsehari, itu jangan sampai gak diminum obatnya yah!" sahut Dokter Ari tersenyum.
"Makasih Dokter, kalau gitu, saya permisi yah!" sahut Khalisa.
"Oke! Syifa tadi saya bercanda, jangan masukin hati yah," sahut Dokter Ari.
"Kata Syifa benaran juga gak apa-apa Dok, he-he," sahut Khalisa sambil tersenyum, Dokter Ari ikut tersenyum dan bergetar melihat senyuman Khalisa.
"Apaan sih Lis, he-he," sahut Syifa.
🍁🍁🍁
Khalisa dan Syifa keluar ruangan Dokter Ari. Dokter Ari memandangi Khalisa dan Syifa dari kejauhan sambil tersenyum.
__ADS_1
Bersambung....
Terima kasih atas dukungan kalian semua, readersku dan teman- teman udah setia ikutin cerita Ta'aruf Cinta, semoga ceritanya bisa menghibur dan gak ngebosenin ya, di tunggu episode selanjutnya 🥰🥰🥰