
"Sayang, aku gak enak deh, gak ikut begadang." Sahut Desta.
"Gak apa-apa sayang, mereka juga ngerti, kalau kamu besok kerja, udah tidur yuk! kasurnya gak seempuk kasur kita di sana sayang." Sahut Khalisa.
"Kok, kamu ngomong gitu? gak apa-apa sayang." Sahut Desta.
"Ya udah, sini tidur! bantalnya udah wangi kok!" sahut Khalisa.
"Iya sayang, di depan ramai banget, pada begadang." Sahut Desta.
"Sayang, biarin aja, kalau kamu ikutan begadang, yang ada kamu lemas, ngantuk, pekerjaan kamu berantakan, aku gak mau!" minta Khalisa.
"Iya istriku." Sahut Desta tersenyum.
Gak lama, Desta dan Khalisa tertidur lelap. sekitar jam dua malam, Desta bermimpi Ayah Umar. Ayah Umar berpesan pada Desta, kalau Desta harus benar-benar menjaga Khalisa dan kandungannya, dan Bunda Maryam. Ayah Umar bilang dalam mimpi, sangat bangga sama Desta dan percaya sama Desta. Dan dalam mimpi itu, Ayah Umar menjauh tersenyum sambil melambaikan tangan dan lama-lama menghilang, Desta memanggil-manggil Ayah Umar dan mengejarnya. Khalisa mendengar Desta berteriak-teriak memanggil Ayah Umar.
"Astaghfirullah, sayang, sayang bangun! kamu kenapa?" tanya Khalisa menatap Khalisa.
"Astaghfirullah, hanya mimpi, aku mimpiin Ayah Umar sayang, dia banyak nitip pesan sama aku, kalau aku harus jaga kamu, Bunda Maryam, terus Ayah Umar bilang, sangat bangga sama aku dan percaya, lalu dia pergi menghilang." Sahut Desta.
"Astaghfirullah, sayang, itu hanya bunga tidur, mungkin, emang iya, Ayah sangat percaya sama kamu, Ayah kan selalu bilang sama aku sewaktu dia hidup, bangga punya mantu seperti kamu sayang." Sahut Khalisa sambil mengusap keringat Desta dengan tisu.
"Iya sayang, tanpa Ayah pesan atau minta, aku bakal selalu jaga kamu sampai kapan pun, dan Dedek kembar kita, kalau Bunda pasti sayang, karena Bunda orang tua aku juga, pasti aku jaga." Sahut Desta.
"Iya sayang, aku percaya sama kamu, lebih baik, kita salat malam berjamaah yuk! kita do'akan Ayah, semoga Ayah tenang di sana, di surga." Sahut Khalisa.
"Iya sayang." Sahut Desta.
Akhirnya, Desta dan Khalisa wudhu bersama dan salat berjamaah. Mereka melihat Bunda Maryam, Mirna, Raja, dan Dewa tidur nyampah dan terlihat sangat lelah, Khalisa menghampiri, dan menyelimuti mereka semua. Di luar juga Bapak-bapak dan Abi Mahmud masih pada ngobrol dan main catur.
"Kasihan Bunda sayang, kayanya lelah sekali, seakan masih belum ikhlas dengan kepergian Ayah." Sahut Khalisa.
"Iya sayang, itu pasti, tapi, kita akan berusaha sayang, agar Bunda gak stres, agar Bunda bisa semangat dan bangkit lagi!" sahut Desta tersenyum.
"Iya sayang, ya udah, yuk, kita lanjut salat!" minta Khalisa.
"Iya sayang." Sahut Desta.
Setelah selesai salat malam dan mendoakan Ayah Umar, Khalisa mencium tangan Desta. Dan mereka tidur kembali. Gak terasa pagi pun tiba. Desta bersiap-siap untuk mandi dan salat. Setelah salat berjamaah bersama, Khalisa menyiapkan makanan untuk Desta di dapur. Saat Khalisa ke dapur, ada Bunda Maryam hanya tersenyum tanpa menyapa. Lalu Khalisa menyapanya.
__ADS_1
"Bunda, tumben, pagi-pagi gini, udah di dapur? tanya Khalisa.
"Iya Nak." Sahut Bunda Maryam langsung pergi gitu aja dan tersenyum.
"Kok aneh, seperti tingkah Ayah, setiap pagi kan Ayah selalu di dapur untuk membuat teh. Astaghfirullah, aku mikirin apa sih, lebih baik masak, buat Kak Desta dan yang lain.
"Neng, masak apa? kok tumben pagi-pagi banget udah bangun?" tanya Bunda Maryam.
"Bunda? bukan tadi kita baru ketemu? terus Bunda bawa teh manis, senyum sama Khalisa, hanya ngomong singkat." Sahut Khalisa tambah heran.
"Bunda baru aja bangun, kamu halusinasi kali sayang, baru aja ke dapur." Sahut Bunda Maryam.
"Bunda serius? tadi wajah Bunda lho, Khalisa gak bohong." Sahut Khalisa.
"Di kira, Bunda juga bohong, orang Bunda baru bangun kok." Sahut Bunda Maryam.
"Ada apa Lis, Mba?" tanya Mirna.
"Ini, Khalisa halu, orang Bunda baru ke dapur dan bangun kok, disangka Bunda lagi nyeduh teh." Sahut Bunda Maryam.
"Biasanya, yang sering nyeduh teh pagi-pagi, itu, Mas Umar." Sahut Mirna.
"Benar juga sih, dia suka nyeduh teh, kalau pagi gini, katanya, kalau belum tujuh tujuh hari, atau seratus seratus hari, arwahnya masih ada di sini." Sahut Bunda Maryam.
"Benar Mba, mungkin dia kangen sama Khalisa." Sahut Mirna.
"Ah, Bunda sama Mba Mirna apa-apa aja deh, bantuin aku masak dong!" minta Khalisa.
"Bunda mau salat subuh dulu Neng, Mirna, jama'ah kita yuk!" sahut Bunda Maryam.
"Iya Mba, ayo!" minta Mirna.
"Bunda sama Mirna, salat subuh dulu, kalau misalkan capek, tunggu Bunda aja ya Neng." Sahut Bunda Maryam.
"Iya Bun." Sahut Khalisa.
Setelah lama, Bunda dan Mirna telah selesai salat subuh. Bunda langsung membantu Khalisa, sedangkan Mirna membopong Raja dan Dewa ke kamar.
"Mba pindahin, Anak-anak dulu ke kamar yah!" minta Mirna.
__ADS_1
"Iya Mba." Sahut Khalisa.
"Mmm... bumbu resep kamu enak juga? siapa yang ajarin?" tanya Bunda Maryam.
"Khalisa sendiri Bun." Sahut Khalisa.
"Anak Bunda pintar sekarang yah!" sahut Bunda tersenyum dan memegang kepala Khalisa.
"Bun, malam Kak Desta mimpiin Ayah, katanya, Ayah berpesan, agar Kak Desta jaga Khalisa selalu, dan Bunda, terus Ayah bilang percaya sama Kak Desta, Ayah bangga sama Kak Desta, lalu pergi tersenyum dan hilang." Sahut Khalisa.
"Iya, gak apa-apa, mungkin, Ayah, ingin menyampaikan sesuatu waktu itu, tapi keburu Allah ambil nyawa Ayah, sering-sering doa buat Ayah ya Neng." Sahut Bunda Maryam.
"Iya Bun, Bunda juga semangat, jangan sedih-sedih lagi yah!" minta Khalisa.
"Insya Allah, Neng." Sahut Bunda Maryam.
"Bun, Abi Mahmud sama Bapak-bapak lainnya masih tidur di luar yah?" tanya Khalisa.
"Kayanya masih, biarin aja, pada ngantuk kali, kan mereka begadang." Sahut Bunda Maryam.
"Alhamdulillah, ya Bun, banyak yang peduli sama Ayah Umar, yang datang melayat banyak, yang tahlilan banyak, dan yang begadang juga lumayan, mereka sangat peduli sama Ayah." Sahut Khalisa.
"Karena, Ayah, dimasa hidupnya, selalu menolong orang-orang susah, tapi, dia gak mau bilang ke siapa-siapa, kalau dia sudah monolong orang, tanpa pamrih, mangkanya itu, banyak yang peduli dan sayang sama Ayah." Sahut Bunda Maryam.
"Iya Bun, Khalisa beruntung banget, punya seorang Ayah, seperti Ayah Umar, dia jodohkan Khalisa dengan maksud baik, gak sembarangan milih calon buat Khalisa, meskipun, waktu itu, Khalisa sempat melawan Ayah." Sahut Khalisa.
"Iya Nak, mungkin, Ayah sudah kenal Desta lama, jadi tahu semuanya, apa lagi Abi Mahmud kan sahabat Ayah." Sahut Bunda Maryam.
Bersambung...
Terima kasih teman-teman dan readersku atas dukungan kalian, sudah setia ikutin cerita Ta'aruf Cinta, semoga ceritanya bisa menghibur dan gak ngebosenin yah, di tunggu episode selanjutnya makasih 🥰🥰🥰🥰
Sambil menunggu cerita Ta'aruf cinta boleh yuk mampir ke ceritaku yang lainnya yuk, gak kalah seru dan romantis banget cekidot 🥰🥰🥰
- CINTA DAN DETIK TERAKHIR
- CINTA COWOK DINGIN
- CINTA GADIS BISU
__ADS_1