Ta'Aruf Cinta

Ta'Aruf Cinta
S2-235


__ADS_3

Hah? ini di mana? Astaghfirullah, sudah sampai? kok gak dibangunin ya gue? aduh, jadi gak enak ini gue.


"Udah segar Bang?" tanya Bang Pandi.


"Gue ketiduran, aduh, jadi gak enak gue sama Den Desta sama Neng Khalisa." Sahut Bang Sandi.


"Gak apa-apa Bang, Den Desta sama Neng Khalisa, sengaja kok gak bangunin, karena gak tega lihat Bang Sandi kecapean." Sahut Bang Joni.


"Ya ampun, gue jadi ngerasa gak enak, benaran dah." Sahut Bang Sandi.


"Gak apa-apa Bang." Sahut Bang Pandi.


"Gimana Bang, tangannya?" tanya Bang Joni.


"Alhamdulillah, gak apa-apa, ini gue dikasih obat." Sahut Bang Sandi.


"Set, gede-gede benar Bang, obatnya." Sahut Joko.


"Tahu deh, ketelan atau enggak." Sahut Bang Sandi.


"Minum air segalon Bang, ha-ha-ha." Canda Bang Joni.


"Ntar gue mau minta maaf ah, gak enak benaran." Sahut Bang Sandi.


☀☀☀☀


Di rumah sakit, Ayah Umar sedang diperiksa oleh Dokter Ari dan suster-susternya. Setelah lama Dokter Ari dan suster keluar, nyawa Ayah Umar sudah tidak bisa tertolong lagi, karena kelamaan dibiarkan dan jarang konsultasi, jadi semakin parah.


"Dokter Ari, gimana keadaan suami saya?" tanya Bunda Maryam panik.


"Maafkan saya Bu, Tuhan berkendak lain. Pak Umar telah meninggal." Sahut Dokter Ari.


"Dokter Ari pasti bohong kan? jangan bercanda sama saya!" sahut Bunda Maryam sudah berlinang air mata dan syok.


"Penyakitnya sudah lama sekali tidak diobati, Pak Umar selama ini tidak pernah mengecek penyakitnya itu, Ibu tabah yah!" sahut Dokter Ari berlinang air mata.


"Innalillahi WA Inalilahi Roji'un... Ayah... hiks-hiks-hiks..." teriak Bunda Maryam sambil menangis.


"Innalillahi WA Inalilahi Roji'un, hiks-hiks-hiks." Mirna pun menangis dan syok.


"Ayah.... bangun Ayah! bangun! kenapa Ayah tinggalin Bunda! Ayah! ini bercanda kan? Mirna, Mas mu Mirna... hiks-hiks-hiks......" Bunda Maryam menangis histeris dan syok.


"Mas.... bangun Mas! maafin Mirna! semua gara-gara Mirna Mas! hiks-hiks-hiks... Mirna banyak menyusahkan Mas, Mas banyak bantu Mirna, Mas! bangun!" teriak Mirna, Raja dan Dewa pun ikut menangis.


"Ayah, Ayah belum lihat wajah Bunda, kenapa Ayah pergi begitu aja Ayah! hiks-hiks-hiks..." Bunda Maryam syok dan pingsan.

__ADS_1


☀☀☀☀


Di kediaman rumah Khalisa, saat Khalisa ingin minum, tiba-tiba gelas yang dia minum jatuh. Firasat Khalisa gak enak pada Ayahnya.


"Astaghfirullah." Sahut Khalisa dan Desta.


"Sayang, kok pecah dan jatuh? ada apa ini? firasatku gak enak sayang." Sahut Khalisa.


"Mungkin tangan kamu licin sayang, gak ada apa-apa kok, insya Allah." Sahut Desta sambil memanggil Bi Aning.


"Bi, tolong bantu bersihkan yah, pecahan belingnya, lalu di pel!" sahut Desta.


"Siap Den." Sahut Bi Aning.


"Makasih Bi." Sahut Desta.


"Hiks-hiks-hiks... perasaan aku gak enak sayang." Sahut Khalisa.


"Coba kamu baca sholawat dan banyak istighfar sayang." Minta Desta.


Gak lama, Mba Mirna menghubungi Khalisa. Mba Mirna mengabarkan kabar duka, kabar itu, membuat Khalisa syok dan Desta kaget.


"Sayang, handphone kamu bunyi, ada yang telepon!" sahut Desta.


"Mba Mirna sayang." Sahut Khalisa.


"Assalamu'alaikum, Khalisa, hiks-hiks-hiks...." Mirna mengucapkan salam sambil menangis.


"Wa'alaikumsalam, Mba, ada apa Mba? kenapa nangis?" tanya Khalisa sudah mulai berlinang air mata dan takut.


"Ayah kamu, hiks-hiks-hiks... Ayah kamu meninggal Khalisa!" sahut Mirna.


"Innalillahi WA Inalillahi Roji'un..." Khalisa langsung pingsan.


"Sayang, kamu kenapa? sayang? Inalillahi WA Inalilahi Roji'un... hiks-hiks-hiks..." Desta menangis sambil membangunkan Khalisa.


"Halo, Khalisa!" panggil Mirna di telepon.


"Iya Mba, Khalisa pingsan, nanti kita langsung ke rumah sakit aja!" minta Desta.


"Gak usah Desta, kamu langsung ke rumah aja, tadi Abi kamu sudah sewa ambulans, sekarang mau dibawa ke rumah." Sahut Mirna.


"Iya Mba, nanti saya dan Khalisa menyusul." Sahut Desta menghapus air matanya sendiri.


"Innalillahi WA Inalilahi Roji'un, Den, yang tabah yah, ini ada minyak angin, coba Aden pakaiin ke Neng Khalisa, agar siuman." Minta Bi Aning.

__ADS_1


"Makasih ya Bi." Sahut Desta sambil melirik ke atas dan menahan air mata.


"Saya ikut melayat ya Den!" minta Bi Aning sambil memijat kaki Khalisa.


"Iya Bi, saya harus kuat, demi istri saya, saya gak tahu kalau siuman reaksinya gimana, kenapa berat sekali ya Allah, cobaan ini! Astaghfirullah." Sahut Desta.


"Yang sabar ya Den, kuat!" minta Bi Aning.


"Hiks-hiks-hiks.... sayang, ini cuma mimpi kan? ini gak benaran Ayah meninggal? sayang jawab! hiks-hiks-hiks..." Khalisa panik dan membentak Desta seakan gak yakin Ayah meninggal dan gak menyangka.


"Kamu yang kuat ya sayang, istriku kuat! Allah lebih sayang sama Ayah Umar, dari pada sakitnya berlarut, kuat! kuat!" sahut Desta memeluk Khalisa.


"Aku belum lihat wajah Ayah, buat yang terakhir kalinya sayang, Ayah kenapa tega, ninggalin kita semua, Ayah gak sayang sama Bunda, Anak kita belum lahir sayang, dia belum lihat cucunya, padahal dia bilang, ingin sekali melihat cucu kembarnya ini, hiks-hiks-hiks... Ayah..." Khalisa membayangkan ketika Ayah Umar berseri wajahnya ingin sekali melihat cucu kembarnya.


"Bi Aning, tolong bilangin yang lain, kita semua berangkat ke rumah Bunda Maryam yah, minta tolong Pak Jamal kunci-kunci semua rumah!" minta Desta.


"Siap Den, Neng Khalisa, yang tabah ya Neng, semoga Allah, memberikan tempat yang tenang buat Ayah Umar." Sahut Bi Aning.


"Makasih Bi." Sahut Khalisa pelan.


Khalisa, Desta, dan semuanya berangkat ke rumah Bunda Maryam. Di sepanjang jalan, Khalisa menangis tak henti-hentinya. Mobil Bang Joni mengikuti Desta dari belakang bersama yang lainnya. Sedangkan Bi Aning, ikut bersama Desta. Setelah sampai rumah Bunda Maryam, Khalisa langsung menangis dan memeluk Ayahnya yang ditutupi kain dan banyak orang mengaji di rumahnya.


"Ayah.... kenapa Ayah tinggalin Khalisa Ayah, Ayah kan mau lihat cucu Ayah, Khalisa juga belum bisa bahagiakan Ayah, Khalisa belum melihat terakhir senyuman Ayah, Ayah, hiks-hiks-hiks...." sahut Khalisa menangis sambil memeluk Ayahnya.


"Yang tabah Neng, semoga Ayah bisa tenang di sisiNya, sabar Neng, istighfar!" sahut Umi Sarah memegang pundak Khalisa.


"Umi... Ayah udah gak ada, seakan ini seperti mimpi Umi, hiks-hiks-hiks... Bunda..." sahut Khalisa menghapus air mata Bundanya yang syok.


"Ayah kamu ninggalin kita Nak, Bunda benar-benar gak menyangka, kenapa secepat ini, hiks-hiks-hiks..." sahut Bunda Maryam.


"Besan, kuat yah, ikhlaskan, Neng Khalisa, ikhlaskan yah Neng!" sahut Umi Sarah.


"Khalisa, maafin Mba, semua gara-gara Mba, kalau gak kejadian Dewa diculik, gak akan seperti ini!" sahut Mba Mirna.


Desta berlinang air mata dan langsung membacakan surat yasin di depan mayat Ayah Umar.


Bersambung...


Terima kasih teman-teman dan readersku atas dukungan kalian, sudah setia ikutin cerita Ta'aruf Cinta, semoga ceritanya bisa menghibur dan gak ngebosenin yah, di tunggu episode selanjutnya makasih 🥰🥰🥰🥰


Sambil menunggu cerita Ta'aruf cinta boleh yuk mampir ke ceritaku yang lainnya yuk, gak kalah seru dan romantis banget cekidot 🥰🥰🥰


- CINTA DAN DETIK TERAKHIR


- CINTA COWOK DINGIN

__ADS_1


- CINTA GADIS BISU


__ADS_2