Ta'Aruf Cinta

Ta'Aruf Cinta
S2-237


__ADS_3

Khalisa mengambil wudhu dan membacakan surat yasin samping Ayah Umar yang berbaring. Air mata terus berderai tak henti-hentinya, sampai meneteskan di buku yasin yang Khalisa baca. Setelah selesai membaca Yasin, Khalisa memeluk Ayahnya sambil menangis.


"Neng, sudah Neng, ikhlaskan! jangan sampai air mata kamu netes ke kulit Ayah Umar, kasihan dia Neng, nanti gak tenang!" sahut Umi Sarah membelai kepala Khalisa dan menciumnya.


"Hiks-hiks-hiks... Umi, Khalisa benar-benar gak sanggup, Khalisa belum lihat terakhir Ayah, Ayah juga belum lihat bayi ini lahir Umi, padahal dia sangat menanti-nanti." Sahut Khalisa.


"Iya Neng, ikhlasin, semua udah kehendak Allah, Bunda Maryam, ikhlasin yah!" sahut Umi Sarah menenangkan Khalisa dan Bunda Maryam yang melamun saja tidak berbicara sepatah kata pun.


"Lihat Bunda kamu, kok diam aja yah?" tanya Bunda Maryam.


"Bunda, Bunda kenapa?" tanya Khalisa.


Bunda Maryam, menatap satu persatu orang-orang di sekitar. Menatap Khalisa sedih, Desta dan yang lainnya dan berjalan ke kamar. Alhamdulillah, ada Ustadz Arif yang mengobati Bunda Maryam.


"Bunda Kenapa?" tanya Desta.


"Sayang, Bunda kenapa?" tanya Khalisa memeluk Desta.


"Tolong, sebagian jaga Jenazah Ayah Umar yah, jangan sampai ditinggal." Minta Ustadz Arif.


"Astaghfirullah, coba lihat saya Bunda Maryam! lihat saya!" minta Ustadz Arif sambil membacakan Ayat kursi.


"Hiks-hiks-hiks...." Bunda Maryam tiba-tiba menangis.


"Khalisa, kamu ikhlasin Ayah kamu pergi yah! saya minta jangan ditangisin, dia jadi berat buat ninggalin kalian, Desta semua keluarga ikhlasin Ayah Umar pergi yah! dia masuk ke badan Bunda Maryam, masya Allah, sungguh keajaiban Allah, baru ini saya nanganin seperti ini!" sahut Ustadz Arif.


"Astaghfirullah, kita semua ikhlas kok Ustadz." Sahut Desta.


"Khalisa ikhlas Ustadz." Sahut Khalisa.


Ustadz Arif langsung membacakan Bunda Maryam, Ayah Umar berpesan untuk mengikhlaskan dia pergi, dan Khalisa harus menjaga Bunda Maryam dan rukun bersama Mirna ucap Ustadz Arif dari mata batin Ustadz Arif. Gak lama, Bunda Maryam pingsan dan tertidur. Khalisa dan Mirna menjaga Bunda Maryam.


"Ayah kalian sudah pergi dengan tenang, jadi kalian harus benar-benar ikhlas yah, insya Allah, beliau mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah." Sahut Ustadz Arif.


"Makasih Ustadz, memang Ayah Umar belum ngasih pesan buat kita, tahu-tahu sudah tiada." Sahut Khalisa.

__ADS_1


"Astaghfirullah, sungguh mulia Allah memberi kesempatan dan ini sungguh keajaiban yang saya rasakan, mungkin beliau hatinya suci, bersih sehingga dikasih kesempatan melalui Bunda Maryam untuk mengikhlaskan dia pergi." Sahut Ustadz Arif.


"Astaghfirullah, Umi jadi merinding." Sahut Umi Sarah.


"Gak apa-apa kok, tolong, hal ini, dirahasiakan sama orang-orang yah, takut yang lain takut, atau bisa jadi gosip, biar keluarga saja yang tahu masalah ini." Sahut Ustadz Arif.


"Makasih Ustadz." Sahut Desta, Abi Mahmud dan lainnya.


"Sama-sama, Bunda Maryam juga, jangan terlalu banyak melamun, sepertinya dia belum ikhlas suaminya meninggal, tolong, kalau sadar dinasihatin yah!" minta Ustadz Arif.


☀☀☀☀


Gak terasa, hari sudah pagi. Masih banyak orang-orang sibuk dengan pemandian Ayah Umar dan pemakaman Ayah Umar. Khalisa menasehati Bundanya agar ikhlas melepas Ayah pergi, meskipun terasa berat. Alhamdulillah, Bunda Maryam mengerti, meskipun berat dan banyak kenangan bersama Ayah Umar yang tak akan pernah terlupakan.


"Assalamu'alaikum." Salam Syifa dan Emaknya.


"Wa'alaikumsalam." Jawab semuanya.


"Syifa, hiks-hiks-hiks... Ayah gue udah meninggal, gue udah gak ada sosok Ayah lagi, padahal gue belum ngelahirin Fa." Sahut Khalisa.


"Makasih ya Fa, lo emang sahabat terbaik gue. Makasih." Sahut Khalisa.


"Sabar ye Neng, Bunda Maryam, semuanye udeh takdir, Saya juga kaget lho, dengar Ayah Umar meninggal." Sahut Emaknya Syifa.


"Makasih ya Mak, sudah datang." Sahut Khalisa.


"Makasih Mak, hiks-hiks-hiks...." Bunda Maryam menangis dan memeluk Emaknya Syifa.


"Sabar, sabar, ikhlas ye Bun!" sahut Emaknya Syifa.


Ayah Umar sedang dimandikan, Bunda Maryam, Khalisa dan keluarga ikut memandikan, kecuali Umi Sarah. Khalisa, Desta, Bunda Maryam, Mirna, memandikan Ayah Umar dan melihat sekujur badan beliau kaku, mereka mengingat masa-masa saat bersama Ayah Umar. Membuat air mata mereka menetes dan sesak di dada.


Ayah, Khalisa sudah ikhlas, Ayah yang tenang di sana yah, hiks-hiks-hiks.... Khalisa gak tega melihat badan Ayah terbujur kaku, dulu Khalisa, sering membantu Ayah, untuk mengerik badan Ayah jika masuk angin,semoga di sana, Ayah bisa lihat Anak kembar Khalisa lahir ya Yah.


Sekarang, Bunda harus terbiasa hidup tanpa Ayah di sisi Bunda, entah, Bunda kuat atau tidak jalanin semuanya Ayah, seakan ini mimpi buat Bunda, biasanya, Bunda ngomel, Ayah selalu menasehati, tapi sekarang udah gak ada nasihat-nasihat Ayah lagi, gak ada tertawa Ayah lagi, Bunda ikhlas Ayah pergi, semoga Ayah tenang yah di sana, Bunda sangat mencintai Ayah.

__ADS_1


Ayah, Desta ikhlas Ayah pergi, Desta janji, akan menjaga Khalisa sampai Desta mati, sepenuh jiwa raga Desta, makasih Ayah, berkat Ayah, Desta bisa kenal sama Khalisa, bisa menikah dengan putri Ayah yang soleha, semoga surga tempat Ayah di sana.


Selamat jalan Mas, maafkan Mirna, gara-gara Mirna, Mas pergi buat selamanya, Mas adalah Kakak terbaik Mirna, Mas selalu ada buat Mirna, saat Mirna susah, Mas selalu ada, semoga Mas tenang ya Mas di sisinya, Mirna sayang sama Mas.


Selamat jalan sahabat terbaikku, hanya kamu yang mengerti saat susah dan senang, saya bangga sama kamu, jasa-jasa kamu yang selalu membantu saya dalam keadaan saya dari bawah, sampai akhirnya kita menjadi satu keluarga, karena menikahkan kedua Anak kita, sampai kita sebentar lagi punya cucu, tapi, saya yakin, kamu pasti melihat jika cucu kembar kita lahir. Saya berdoa semoga surga tempat kamu di sana.


☀☀☀☀


Setelah selesai dimandikan, Ayah Umar dibawa dan siap untuk dikafani dan disalatkan. Satu persatu keluarga menciumi wajah Ayah Umar, setelah dikafani.


"Ayo siapa yang mau cium sebelum disalatkan!" minta Ustadz Arif.


"Ayah.... selamat jalan Ayah, hiks-hiks-hiks..." sahut Bunda Maryam.


"Jangan sampai netes ya air mata!" sahut Ustadz Arif.


Semua sudah mencium dan Ayah Umar dimasukkan ke keranda dan langsung disalatkan. Bunda, Khalisa dan lainya langsung menangis, setelah Ayah Umar digotong dan dibawa ke pemakaman.


"Ayah.... hiks-hiks-hiks..." Bunda Maryam menangis sambil menggandeng Khalisa. Dan di samping Khalisa ada Umi Sarah.


☀☀☀☀


Akhirnya, Ayah Umar telah dikuburkan. Bunda Maryam masih memegangi nisan Ayah Umar, sambil menangis. Khalisa, Desta, masih berdiri menunggu Bunda Maryam. Sedangkan yang lainnya sudah pada pulang.


Bersambung...


Terima kasih teman-teman dan readersku atas dukungan kalian, sudah setia ikutin cerita Ta'aruf Cinta, semoga ceritanya bisa menghibur dan gak ngebosenin yah, di tunggu episode selanjutnya makasih 🥰🥰🥰🥰


Sambil menunggu cerita Ta'aruf cinta boleh yuk mampir ke ceritaku yang lainnya yuk, gak kalah seru dan romantis banget cekidot 🥰🥰🥰


- CINTA DAN DETIK TERAKHIR


- CINTA COWOK DINGIN


- CINTA GADIS BISU

__ADS_1


__ADS_2