Ta'Aruf Cinta

Ta'Aruf Cinta
S2-181


__ADS_3

"Aku sudah tidak kuat Mas! aku minta cerai! hiks-hiks-hiks." Sahut Mirna.


"Apa? lo minta cerai? dengar Mirna! kalau lo minta cerai, lo bakal kehilangan Anak lo! dan kalau sampai lo bongkar semua ke Abang lo atau yang lain, habis lo sama gue!" sahut Jono.


"Hiks-hiks-hiks... kamu jahat! kamu jahat!" sahut Mba Mirna.


"Mangkanya, lo jangan macam-macam sama gue!" sahut Jono.


Raja dan Dewa masuk kamar dan menangis. Raja menggigit tangan Jono karena kesal, melihat Mamahnya dijambak.


"Uuuhhh..." Raja menggigit tangan Jono.


"Dasar kamu Anak nakal! berani kamu Raja, gigit tangan Papah! sini kamu!" Jono menyeret Raja yang menangis.


"Uuuhhh...." Raja langsung berlari keluar dan menangis di musholah dekat rumahnya. Raja bersembunyi agar Papahnya tidak menemuinya.


"Raja! di mana kamu Anak nakal!" sahut Jono mencari Raja.


Mumpung Jono keluar, aku bisa kabur membawa Dewa dari sini. Raja, kamu di mana Nak, Mamah akan bawa kamu Nak, Mamah akan menemukan kamu Raja, hiks-hiks-hiks.


Saat itu, Mirna kabur dari rumah. Mirna menggendong Dewa, sambil menangis mencari Raja. Mirna menyesal, kenapa dulu Mirna mau rujuk dengan Jono. Dewa bertanya di mana Raja Kakaknya sambil menghapus air mata Mirna.


"Kak ajah anah Mah? Mamah Anan nangis!" sahut Dewa dengan suara cadelnya.


"Enggak sayang, Mamah gak nangis, nanti kita cari Kak Raja yah!" sahut Mirna tersenyum.


☀☀☀☀


Di musholah, Raja ketakutan dan berkeringat dingin. Ada pengurus Marbut yang baik hati menghampiri Raja. Pengurus Marbut langsung menenangkan Raja, dan membawa Raja ke rumahnya.


"Hiks-hiks-hiks..." Raja menunduk dan menangis.


"Dek, kenapa menangis? masya Allah, badan kamu keringat dingin, kamu jangan takut Nak, Bapak gak jahat! jangan takut ya sayang!" minta Marbut itu.


"Hiks-hiks-hiks...." Raja terus menangis trauma sambil menunduk.


"Rumah adik di mana? Bapak Antar yah!" minta Marbut itu.


"Enggak! enggak! Raja atut Pak! jangan Pak!" sahut Raja menolak untuk pulang.


Ada apa dengan Anak ini? Anak siapa sebenarnya ini, kasihan sekali, apa dia tersiksa? batinnya seperti tersiksa, Anak ini selalu ketakutan.


"Kamu mau gak, ikut Bapak? tinggal sama Bapak, Bapak juga ada Anak perempuan, kalau boleh tahu, nama kamu siapa?" tanya Marbut itu.

__ADS_1


"Raja." Sahut Raja sambil menggenggam foto bersama Dewa.


☀☀☀☀


Akhirnya, Raja dibawa oleh Marbut itu. Istri Marbut itu kaget suaminya bawa Anak, dan merasa tidak setuju kalau Raja tinggal bersamanya.


"Pak, kamu bawa Anak siapa ini? aduh... kamu jangan buat masalah deh! kamu mau masuk penjara?" tanya Istri si Marbut itu.


"Bu, tolong berbaik hati lah, kasihan Anak ini, trauma sepertinya, Bapak bertemu Anak ini di musholah, Anak ini seperti tertekan, Bapak suruh pulang gak mau, takut!" sahut si Marbut itu.


"Aduh... terserah Bapak deh, kalau ada apa-apa, Ibu gak mau tahu!" sahut istri si Marbut itu.


"Rina, sekarang kamu punya teman baru, ini namanya Raja, Raja, kenalin Anak Bapak yah, namanya Rina, Rina, kamu ajak Raja main yah!" sahut si Marbut itu.


☀☀☀☀


Mirna sampai rumah Bunda Maryam. Mirna menangis sambil sujud di kaki Ayah Umar dan Bunda Maryam. Ayah Umar juga melihat banyak pukulan di badan Mirna.


"Assalamu'alaikum." Salam Mirna.


"Wa'alaikumsalam, Mirna!" sahut Ayah Umar.


"Mas, Mba, Mirna minta maaf atas semua yang Mirna lakukan di rumah Khalisa! semua bukan karena Mirna! hiks-hiks-hiks." Sahut Mirna sambil menangis.


"Iya Mirna, kamu jelasin sama kami!" sahut Ayah Umar.


"Mba ambil air minum, Dewa mau minum juga Nak?" tanya Bunda Maryam. Raja hanya menggeleng kepala.


Kenapa dengan Anak ini, seperti tekanan batin.


"Raja mana Mirna? kenapa gak kamu bawa? kamu cerita kalau sudah tenang yah?" tanya Ayah Umar.


"Diminum dulu Mirna, biar tenang kamu!" minta Bunda Maryam.


"Makasih Mba." Sahut Mirna.


"Sebenarnya, ada apa kamu? malam-malam kamu ke sini? bawa baju segala?" tanya Ayah Umar.


"Sebenarnya, Mirna dengan Mas Jono sedang ada masalah rumah tangga Mas, Mba, Mirna sudah tidak kuat sama Mas Jono, hiks-hiks-hiks, Mirna disiksa, Mirna dipukulin, Mirna disuruh nyolong di rumah Khalisa." Sahut Mirna bercerita sambil menangis.


"Dasar, laki-laki gak tahu diri! Mas sudah pernah bilang sama kamu! jangan rujuk! jangan rujuk! susah sih, kamu! sekarang, kamu rasakan apa yang terjadi." Sahut Ayah Umar.


"Astaghfirullah, Mba sudah menduga, kamu mencuri di rumah Khalisa, pasti ada maksud." Sahut Bunda Maryam.

__ADS_1


"Mba, maafin Mirna, Mirna ingin cerai dari Mas Jono! hiks-hiks-hiks." Sahut Mirna.


"Sekarang Raja mana? tadi dia telepon Mas, tapi langsung mati, mana Raja?" tanya Ayah Umar.


"Raja hilang Mas, Raja kabur dari Papahnya, saat Mas Jono mau menyeretnya, sekarang aku gak tahu Raja di mana? tolong bantu Mirna Mba, Mas, tolong bantu cari Raja, kasihan Anakku, hiks-hiks-hiks." Sahut Mirna terus menangis.


"Lelaki itu, sampai menyeret Anaknya sendiri? Astaghfirullah, ini gak bisa dibiarin, harus lapor ke polisi ini, ini namanya penganiayaan." Sahut Ayah Umar.


"Astaghfirullah, Raja, kamu di mana Nak, Ayah, tolong Ayah, cari Raja Ayah, Bunda sedih, Bunda khawatir!" minta Bunda Maryam.


"Astaghfirullah, Mirna, Mirna, Mas bingung harus gimana? kamu gak pernah nurut sama Mas! hiks-hiks-hiks..." Sahut Ayah Umar menangis.


"Hiks-hiks-hiks... Mas, sekali lagi maafin Mirna! Mba, maafin Mirna! hiks-hiks-hiks." Sahut Mirna.


"Sudah Mirna! sekarang kamu istirahat! ajak Anak kamu! pasti kedua Anak kamu itu tertekan, sejak tadi Dewa hanya diam." Sahut Bunda Maryam.


"Dewa, maafin Mamah ya sayang, kerena Mamah sama Papah jadi seperti ini, Dewa jangan sedih ya Nak, bantu Mamah buat mencari Kak Raja ya Nak!" sahut Mirna memeluk Dewa.


"Tunggu! Mirna, tangan kamu memar, biru semua, biar Mba obatin luka kamu!" sahut Bunda Maryam.


"Besok, kita lapor ke kepolisian! jangan diobatin! biar ini menjadi bukti, atas kekerasan lelaki gak ada otak itu! biar dia di penjara, kalau perlu seumur hidup!" sahut Ayah Umar kesal.


"Tapi Ayah, Mirna kesakitan, kalau tidak diobati!" sahut Bunda Maryam.


"Tahan saja dulu! tolong Bunda nurut kata Ayah! biar Mirna ngerasain! makan tuh cinta Jono!" sahut Ayah Umar.


"Dewa juga Ayah!" sahut Bunda Maryam.


"Kalau ketemu Ayah, habis dia! apa lagi berani menginjakkan kaki di rumah ini, Ayah teriak maling! biar digebukin warga! mati sekalian dia!" sahut Ayah Umar.


"Istighfar Ayah! istighfar!" sahut Bunda Maryam.


Bersambung...


Terima kasih teman-teman dan readersku atas dukungan kalian, sudah setia ikutin cerita Ta'aruf Cinta, semoga ceritanya bisa menghibur dan gak ngebosenin yah, di tunggu episode selanjutnya makasih 🥰🥰🥰


Sambil menunggu cerita Ta'aruf cinta boleh yuk mampir ke ceritaku yang lainnya yuk, gak kalah seru dan romantis banget cekidot 🥰🥰🥰


- Cinta dan Detik Terakhir


- Cinta Cowok dingin


- Cinta Gadis Bisu

__ADS_1


__ADS_2