
Akhirnya, mereka sampai, raut wajah Khalisa sangat bahagia sekali.
"Gimana hasilnya Nak?" tanya Ayah Umar.
"Positif yah, Khalisa hamil," sahut Khalisa.
"Alhamdulillah, sebentar lagi Ayah sama Bunda bakal punya cucu, kamu sudah beri tahu Desta dan mertua kamu?" tanya Ayah Umar.
"Besok Khalisa ke rumah beliau Yah, jangan sekarang dulu ya yah, buat kejutan aja," sahut Khalisa.
"Oh, begitu, ya sudah kalau begitu, Bunda bikinin kopi tuh buat Bang Joni," sahut Ayah Umar.
"Saya bikinin kopi ya Bang, kalau misalkan mau istirahat ada kok kamar kosong di sebelah," sahut Bunda Maryam.
"Iya Bu, gampang mau ngadem dulu, enak banget cuacanya di sini yah," sahut Bang Joni.
🍁🍁🍁
Bang Joni dan Ayah Umar kembali mengobrol sambil main catur.
"Bun, Mba Mirna kok belum pulang? Khalisa khawatir lho," sahut Khalisa.
"Nanti juga dia pulang, mungkin macet," sahut Bunda Maryam.
"Coba Khalisa chat yah," sahut Khalisa.
"Mba, kok belum pulang? Khalisa di rumah Bunda, mau nanya banyak hal sama Mba, Khalisa hamil Mba," sahut Khalisa di chat.
"Alhamdulillah, macet sayang, ini aja Dewa rewel banget, masih jauh soalnya," sahut Mba Mirna.
"Oh, gitu Mba, ya udah, Mba dan keluarga hati-hati yah, kabar-kabarin ya Mba," sahut Khalisa.
"Kamu chat Mirna?" tanya Bunda Maryam.
"Iya Bun, macet di jalan," sahut Khalisa.
"Benar kan kata Bunda," sahut Bunda Maryam.
"Om Joni sama Ayah akrab banget Bun," sahut Khalisa.
"Iya, biarin aja, Ayah kamu dapat teman baru," sahut Bunda Maryam.
🍁🍁🍁
Syifa dan Edwin masih berada di Ancol, Syifa melihat raut wajah Edwin merenung dan sedih. Syifa langsung menegurnya.
"Kak, kenapa kok melamun sih?" tanya Syifa.
"Tidak apa-apa, saya masih kepikiran Khalisa, kenapa ia tidak mau temuin saya," sahut Edwin.
"Kan Syifa udah jelasin, ia gak mau ketemu Kakak, kalau gak sama suaminya," sahut Syifa kesal.
"Iya saya tahu, tapi udahlah lupain," sahut Edwin.
"Kakak masih cinta sama Khalisa?" tanya Syifa.
__ADS_1
"Enggak, kan aku udah ada kamu," sahut Edwin.
"Kakak jangan bohong," sahut Syifa.
"Aku tidak bohong, buat apa aku harus cinta sama cewek yang udah nikah sama orang lain, aku mau menikah dengan kamu, minggu depan kita ke Mesir, kita temui orang tua saya," sahut Edwin.
"Minggu depan Kak? serius?" tanya Syifa bergetar.
"Yah, minggu depan, kamu serius sama saya kan?" tanya Edwin.
"Serius Kak," sahut Syifa.
"Besok aku mau bertemu orang tua kamu, jadi kamu tidak usah nginap di rumah Khalisa, biar saya tahu rumah kamu, oke!" sahut Edwin.
"Iya Kak, aku benar-benar bahagia Kak," sahut Syifa.
"Mungkin kamu jodoh saya," sahut Edwin.
"Insya Allah Kak," sahut Syifa.
🍁🍁🍁
Gak lama Mba Mirna dan keluarganya pulang, dan Anak-anak Mba Mirna yang sangat bawel.
"Lisa, Mba kangen tahu," sahut Mba Mirna.
"Sama aku juga Mba, yeee, kangen sama si bawel ini," sahut Khalisa.
"Tante, Om gantengnya mana?" tanya Raja.
"Itu Om aku Kakak," sahut Dewa.
"Om aku! Om aku! Om aku!" Raja dan Dewa bertengkar main sahut-sahutan dan Raja mendorong Dewa.
"Hustt, kok pada berantem sih, Raja gak boleh gitu sama adiknya, siapa yang mau ketemu Om? baikan dulu! yang marahan gak boleh ketemu Om," sahut Khalisa, akhirnya Raja berpelukan dengan Dewa.
"Ante, Om pulang kapan?" tanya Raja.
"Nanti pulang sayang, kan Om Desta cari uang buat dede bayi," sahut Khalisa.
"Emang ada dede bayi Ante? kok gak dendut?" tanya Raja cadel.
"Kan dede bayinya belum besar sayang, nanti dendutnya," sahut Khalisa tersenyum.
🍁🍁🍁
Dewa rewel minta tidur, Mirna langsung menggendong dan membawanya ke kamar.
"Lis, Mba bawa Dewa ke kamar dulu yah, ngantuk minta tidur, nanti Mba ke kamar kamu deh, Raja ganti baju dulu ayo!" sahut Mba Mirna.
"Iya Mba, gak apa-apa, kalau capek, istirahat aja dulu, kan Khalisa lama di sini," sahut Khalisa.
"Kaya gitu Nak, kalau punya anak repotnya," sahut Bunda Maryam.
"Tapi kan rame Bun, Khalisa malah senang banyak anak kecil," sahut Khalisa.
__ADS_1
"Nanti kamu juga ngerasain, Mirna masih mending di sini ada Bunda yang bantu, gak tahu nanti kalau ia udah di rumah baru nya," sahut Bunda Maryam.
"Bun, kapan-kapan Bunda nginap di rumah Khalisa yah," minta Khalisa.
"Iya, nanti kalau gak ada jadwal pengajian, mulai besok Bunda udah padat sama jadwal pengajian sayang, nanti Bunda telepon kalau main," sahut Bunda Maryam.
"Iya, Bunda telepon Khalisa, nanti Khalisa jemput," sahut Khalisa.
"Bunda bisa naik taxi online, jangan ngendarain mobil sendiri ah, Bunda Khawatir sama bayi kamu," sahut Bunda Maryam.
"Enggak kok Bun, Khalisa bisa," sahut Khalisa.
Kok Syifa belum pulang yah, kemana tuh anak, katanya mau nginap.
🍁🍁🍁
Khalisa langsung chat Syifa, dan menanyakan kenapa belum datang ke rumah.
"Lo baik-baik aja kan? kenapa belum pulang ke sini?" tanya Khalisa dalam chat.
"Oh, iya, maaf Lis, gue udah sampai rumah, gue gak jadi nginap, besok aja deh, soalnya Kak Edwin mau ketemu orang tua gue tadi," sahut Syifa dalam chat.
"Oh, gitu, kenapa gak chat gue sih, gue kan khawatir, takut terjadi apa-apa sama lo," sahut Khalisa.
"Iya maaf yah Lis, gue lupa," sahut Syifa.
"Dasar, kalau udah senang sama cowok lupa sama gue, besok gue mau ke rumah Mertua, ntar gue kabarin lagi deh, atau lo mau ikut ke rumah Mertua gue?" sahut Khalisa.
"Gue ngampus Lis, lagian gue gak mau ah ke rumah Mertua lo, ntar gue dibacotin lagi," sahut Syifa.
"Siapa yang mau bacotan orang lain, ya enggak bakal lah," sahut Khalisa.
"Gak mau ah gue, dengarnya aja ngeri gue," sahut Syifa.
"Dih, kenapa sih? emang ia macan ngeri," sahut Khalisa.
"Oh, iya, Lis minggu depan gue mau ke Mesir, mau ketemu sama orang tuanya Kak Edwin," sahut Syifa.
"Serius? Alhamdulillah kalau begitu yah, ingat pesan gue pelajarin semua apa yang belum pernah lo pelajarin, semoga lancar," sahut Khalisa.
"Iya Lis, doain gue yah, semoga gue nyusul kaya lo, tapi Lis, kata Kak Edwin kalau nikah sama ia, gak seperti di sini, fanatik Islamnya harus di pakai," sahut Syifa.
"Iya, itu tergantung pihak lo sama pihak Kak Edwin, yang penting ikhlas dari lo berdua dan restu orang tua," sahut Khalisa.
"Tapi lo nikah, gak fanatik banget yah, harusnya kan Lis, lo gak boleh pakai ada prewedding kan?" tanya Syifa.
"Emang, sebenarnya gak boleh, tapi prewedding gue kan gak peluk-pelukan, gak Pegang-pegangan tangan, cuma foto aja sendiri-sendiri kok, emang sih ada dansanya, itu pun cuma lima menit, gue prewedding juga atas izin kedua belah pihak, yang penting gue gak ngelakuin apa-apa kok, itu pun di dampingin sama orang tua Kak Desta, lo lihat aja foto prewedding gue sendiri, gak peluk-pelukan kaya yang lain kok, terus gue dosa gitu pakai prewedding, terlalu fanatik banget, nikah itu harus punya momen Fa, masa gak ada momen, kan sekali seumur hidup," sahut Khalisa.
"Benar juga sih Lis, tergantung dari kedua belah pihak, kalau dari keluarga ia mau kaya gitu ya gue harus ikutin," sahut Syifa.
"Sekarang gini aja, kalau emang dari pihak dia mau nya seperti itu, diskusikan dulu deh sama kedua orang tua lo, setuju atau enggaknya, baiknya gimana, yang penting nikah gak ada paksaan, kalau yang gue lihat sekarang, Ta'aruf itu harus fanatik, tapi kebanyakan kata Kak Desta mereka jalanin Ta'aruf gak ikhlas, karena paksaan orang tua, kalau gue mah awalnya emang Ayah maksa jodohin, tapi dia sadar kalau nikah dipaksa itu gak baik, mangkanya Ayah itu bilang harus ada keikhlasan, perkenalan, kalau dari gue dan Desta sudah saling mengenal, dan sama sama jalanin Ikhlas tanpa paksaan, dia mau nikah sama gue, tapi kalau misalkan dari gue belum ikhlas menerima, ya ia lebih baik batalin, tapi gue ikhlas jalaninnya dan menerima Fa, sampai sekarang Alhamdulillah, baik-baik aja, gak peduli orang mau ngomong Ta'aruf gue gak fanatik atau gak mengikuti islam, yang penting gue sah, bahagia, gak zina, gitu aja sih kalau gue," sahut Khalisa.
Bersambung...
Terima kasih atas dukungan kalian semua, readersku dan teman- teman udah setia ikutin cerita Ta'aruf Cinta, semoga ceritanya bisa menghibur dan gak ngebosenin ya, di tunggu episode selanjutnya 🥰🥰🥰
__ADS_1