
"Maafin aku ya sayang, gara-gara aku, kamu gak kerja terus." Sahut Khalisa.
"Sssttt... gak apa-apa sayang, aku kan punya Anak buah, yang bisa handle semua, yang penting, istri aku sehat, Dedek bayi sehat, itu adalah kebahagiaan aku, kalau soal pekerjaan, kamu gak usah khawatir yah! ya udah, sekarang kamu istirahat dulu, nanti, Bi Aning aku suruh bikin bubur buat kamu, buat minum obat!" sahut Desta.
"Iya sayang, makasih yah!" sahut Khalisa.
"Sama-sama, istriku... aku sayang banget sama kamu, kamu kenapa-kenapa aja, aku nangis." Sahut Desta.
"Mas, Mba, saya duluan ke bawah yah! saya gak enak nih!" sahut Dokter Ari.
"Bareng aja sama saya!" minta Desta.
"Ya udah, kamu temanin Dokter Ari sarapan sayang, kasihan." Sahut Khalisa.
Dokter Ari dan Desta ke bawah. Dokter Ari meminum kopi buatan Bi Aning. Dokter Ari langsung bilang ke Desta yang masalah Emak ingin jadi baby sister Khalisa.
"Ayo Rindu, makan! mau bawa gak? buat yang di rumah sekalian!" sahut Desta.
"Gak usah Mas, iya ini lagi minum kopinya, makasih Mas." Sahut Dokter Ari.
"Rotinya makan! ini selainya!" sahut Desta.
"Iya Mas, gampang." Sahut Dokter Ari.
"Maafin saya yah, sekali lagi, jadi banyak ngerepotin!" sahut Desta.
"Mas, saya mau ngomong boleh?" tanya Dokter Ari.
"Ada apa?" tanya Desta.
"Yang soal Emak mau jadi baby sister di sini, tolak aja yah! bukan gak boleh, masalahnya, orangnya tersinggungan, gak boleh dikata sedikit." Sahut Dokter Ari.
"Kok, Ari berpikiran sama kaya saya, saya juga berpikir seperti itu, gini aja, Ari bilang aja sama Emak, bolehin, jangan bilang ngelarang, nanti, kita sendiri yang kabarin Emak, kalau dari pihak Ibu saya, sudah mencari baby sister buat bantu Khalisa, kan jadi kamu gak disalahkan Emak." Sahut Desta.
"Bagus juga idenya Mas, oke deh! mohon maaf sebelumnya ya Mas." Sahut Dokter Ari.
"Justru saya yang minta maaf, sebenarnya, saya mau Emak kerja di sini, tapi, saya mikir lagi, nanti kalau Khalisa atau saya suruh-suruh, takut tersinggung, namanya orang tua, kita juga gak enak nyuruhnya, yang ada, jadi berantem sama Khalisa, saya menghindari itu aja!" sahut Desta.
"Iya, gak apa-apa Mas, saya juga berpikir seperti itu, lebih baik jangan deh, kemarin Syifa sempat tersinggung sama saya, tapi Alhamdulillah, Syifa mengerti maksud saya!" sahut Dokter Ari.
"Ya Allah, saya minta maaf yah! gara-gara saya, jadi bertengkar sama Syifa." Sahut Desta.
"Gak apa-apa Mas, Syifa hanya salah paham saja, tapi dia juga, sudah mengerti, saya makasih banyak lho Mas, sudah belikan baju buat Adhel, saya jadi merasa berhutang budi." Sahut Dokter Ari.
"Jangan ngomong seperti itu, itu hadiah buat Adhel dari istri saya, kita lagi jalan-jalan ke Mall, lihat baju Anak cewek, Khalisa langsung ingat Anaknya Syifa, ya udah, kita beli." Sahut Desta.
"Saya gak tahu harus bilang apa sama Mas, Mas sama Mba Khalisa sudah baik sama saya dan Syifa." Sahut Dokter Ari.
"Gak usah terlalu dipikirin Ri, cukup doakan saja, itu sudah cukup." Sahut Desta.
"Iya Mas, itu pasti, oh, iya, Mas Desta kalau boleh tahu, golongan darah Mas Desta apa?" tanya Dokter Ari.
__ADS_1
"Saya kan O, kenapa emang?" tanya Desta.
"Saya lagi butuh donor darah, buat pasien saya, Anaknya sebatang kara, kalau Ibunya gak segera ditolong, saya takut Anaknya stres dan tinggal dengan siapa." Sahut Dokter Ari.
"Astaghfirullah, kasihan sekali, emang dari Ibunya apa?" tanya Desta.
"Golongan darah dia A negatif Mas." Sahut Dokter Ari.
"Nanti saya tanya istri yah!" sahut Desta.
"Jangan Mas, kan Mba Khalisa lagi hamil, gak boleh, darahnya juga lemah." Sahut Dokter Ari.
"Oh, iya, saya lupa!" sahut Desta.
"Ambil darah saya aja Dok, Den, darah saya A negatif." Sahut Bi Aning.
"Wah, serius Bi?" tanya Dokter Ari.
"Seribu rius malah." Sahut Bi Aning.
"Alhamdulillah, Bibi mau donorin darah?" tanya Dokter Ari.
"Mau, kapan?" tanya Bi Aning.
"Mas, saya pinjam Bi Aning, jam tujuh malam bisa? besok pagi, harus sudah operasi." Sahut Dokter Ari.
"Boleh banget." Sahut Desta.
"Bi, nanti jam tujuh malam, saya jemput yah! makasih banyak ya Bi." Sahut Dokter Ari.
"Alhamdulillah." Sahut Desta tersenyum.
"Saya sampai pusing Mas, nyari donor darah yang langka banget." Sahut Dokter Ari.
"Enggak langka, buktinya, Bi Aning ada." Sahut Desta.
"Iya Mas, Alhamdulillah." Sahut Dokter Ari.
"Oh, iya, saya lupa, Bi, tolong buatkan bubur sumsum yah, buat Khalisa nanti minum obat!" minta Desta.
"Oke, siap Den!" sahut Bi Aning.
"Makasih Bi." Sahut Desta.
Gak lama, Umi Sarah datang dan mengucapkan salam. Umi Sarah langsung panik, ingin cepat-cepat ke kamar Khalisa.
"Assalamu'alaikum." Salam Umi Sarah.
"Wa'alaikumsalam. Jawab Desta, Bi Aning, dan Dokter Ari.
"Desta, gimana Khalisa? dia baik-baik aja kan? gimana Dokter?" tanya Umi Sarah.
__ADS_1
"Alhamdulillah, gak ada apa-apa Umi, itu cuma hal biasa pas masuk usia delapan Bulan, cuma tekanan darah dia rendah." Sahut Desta.
"Alhamdulillah, aduh, Umi sampai panik, itu kenapa bengkak kakinya?" tanya Umi Sarah.
"Karena tekanan darah rendah, jadi ada pembekakan pada Kaki Mi, tapi Dokter Ari udah tanganin!" sahut Desta.
"Umi mau lihat!" sahut Umi Sarah berjalan ke kamar Khalisa.
"Mas Desta, kalau gitu, saya pamit pulang yah! kasihan Syifa di rumah sudah nunggu!" sahut Dokter Ari.
"Oke Ri, makasih banyak yah! maaf banget ini, jadi ngerepotin!" sahut Desta.
"Gak apa-apa Mas, Alhamdulillah, saya bisa bantu Mba Khalisa, saya permisi yah, Bi Aning saya permisi, siapin buat nanti malam yah! Assalamu'alaikum." Salam Dokter Ari.
"Wa'alaikumsalam." Jawab Desta dan Bi Aning.
"Ri, sebentar, pegang! buat jajan Adhel." Sahut Desta.
"Gak usah Mas! gak usah!" sahut Dokter Ari.
"Udah, terima!" sahut Desta.
"Makasih ya Mas, aduh, malu saya!" sahut Dokter Ari.
"Ssssttt.. udah! kamu naik apa Ri?" tanya Desta.
"Ini, motor Mas." Sahut Dokter Ari.
"Oke, hati-hati yah!" sahut Desta.
Dokter Ari langsung pulang dan pamit ke semuanya. Pak Jamal langsung mengge mbok gerbangnya kembali.
"Semuanya, udah pada ngopi belum?" sahut Desta ke Bapak-bapak lainnya.
"Udah Den, makasih banyak! gimana keadaan Neng Khalisa?" tanya Bang Joni.
"Alhamdulillah, baik." Sahut Desta.
"Alhamdulillah." Sahutnya semuanya.
"Saya masuk dulu yah! kalau kurang ngopinya, minta sama Bi Aning." Sahut Desta.
Desta langsung masuk rumah, dan masuk kamar. Desta mau izin untuk membeli obat untuk Khalisa di apotik. Umi Sarah bilang kenapa gak menyuruh yang lain, Desta tidak mau menyuruh yang lain, karena gak mau sampai salah beli obat.
Bersambung...
Terima kasih teman-teman dan readersku atas dukungan kalian, sudah setia ikutin cerita Ta'aruf Cinta, semoga ceritanya bisa menghibur dan gak ngebosenin yah, di tunggu episode selanjutnya makasih 🥰🥰🥰🥰
Sambil menunggu cerita Ta'aruf cinta boleh yuk mampir ke ceritaku yang lainnya yuk, gak kalah seru dan romantis banget cekidot 🥰🥰🥰
- CINTA DAN DETIK TERAKHIR
__ADS_1
- CINTA COWOK DINGIN
- CINTA GADIS BISU