
"Memangnya, persidangan kapan Nak Desta?" tanya Bunda Maryam.
"Besok Bun, pokoknya si Jono itu harus dihukum seumur hidup!" sahut Ayah Umar.
"Bunda dengarin aja rekaman tadi kita di kantor polisi!" minta Khalisa.
"Astaghfirullah, dia ngancam gitu? gak ada jeranya yah!" sahut Bunda Maryam.
"Ya udah, sebaiknya, sekarang aja Desta sama Ayah ke rumah Bu Yeyen dan Bu Dede yang si Jono lempar batu, takut kemalaman." Sahut Bunda Maryam.
"Iya Bun." Sahut Desta
" Mirna kamu gak usah ikut! di sini aja!" sahut Bunda Maryam.
"Iya Mba, sini aja!" sahut Khalisa.
"Iya." Sahut Mirna.
Ayah Umar dan Desta langsung ke rumah Warga yang bermasalah dengan Jono.
"Lis, gimana? pencarian Raja sudah belum?" tanya Mirna.
"Mirna! kamu ini, satu-satu lah, emang dikira tangan Desta ada sepuluh!" bentak Bunda Maryam.
"Bun, jangan gitu ah! Mba, soal Raja, Mba gak usah khawatir, Kak Desta sudah mencari orang untuk menemukan Raja, gambar Raja semua sudah dipost di jalan-jalan, bagi yang menemukan, Kak Desta akan memberikan imbalan lima juta bagi yang menemukan." Sahut Khalisa.
"Astaghfirullah, suami kamu benar-benar jiwa penolong Lis, Mba semakin gak enak sama kamu dan suami kamu, jadi ngeluarin uang banyak, gara-gara masalah Mba." Sahut Mirna.
"Kak Desta gitu Mba, Bun, kalau nolong orang, gak nanggung-nanggung, kadang aku juga merasa gak enak sama Kak Desta." Sahut Khalisa.
"Bilang sama Desta Neng, ngasih imbalan jangan besar-besar, kasihan kamu, nanti buat biaya kamu lahiran, beli peralatan bayi." Saran Bunda Maryam.
"Khalisa sudah bilang sama Kak Desta, tapi tetap aja ngotot!" sahut Khalisa.
__ADS_1
"Aduh, Mba harus bilang apa lagi Lis, Mba benar-benar malu!" sahut Mirna.
"Mba yang malu mah Mirna, tuh, kurang apa Khalisa sama kamu, dia sudah baik hati menolong kamu, belum bayar pangacara, terus bayar warga sini buat jadi saksi." Sahut Bunda Maryam.
"Mba, gak usah pikirin Mba harus kaya gimana buat balas kebaikan Kak Desta, kita hanya minta satu, Khalisa sama Kak Desta minta doa Mba, buat si kembar ini, supaya Khalisa lahiran selamat, tanpa kendala apa-apa, bayi Khalisa, Khalisa dan Kak Desta sehat." Sahut Khalisa.
"Mba akan selalu mendoakan kamu, bayi kamu, dan Desta, semoga keponakan Mba ini, lahiran lancar, berkah karena kamu dan Desta sudah menolong orang lain ikhlas." Sahut Mirna.
"Aamiin..." Sahut Khalisa dan Bunda Maryam.
"Luka kamu masih sakit gak Nak?" tanya Bunda Maryam.
"Sedikit kok Bun, untungnya Khalisa bisa lepas dari tangan Jono, kalau enggak, Khalisa sudah digorok!" sahut Khalisa.
"Bukan ada lima bodyguard? kok bisa pada kebabalasan?" tanya Bunda Maryam.
"Emang sih, Bun, Bodyguard gak salah kok, karena mereka sudah berhasil menangkap Jono saat manjat pagar, saat itu Jono lagi ditahan sama bodyguard sambil menunggu aku dan Kak Desta keluar, saat mau cari tambang, Jono lepas dari cengkraman bodyguard dan menarik Khalisa sambil menempelkan pisau ke leher Khalisa, untungnya Kak Desta sudah telepon polisi, ditembak lah Jono, aku lepas kan aku tendang Jono." Sahut Khalisa.
"Insya Allah, Anak Bunda akan selalu dilindungi Allah, asal kita meminta perlindungan sama Allah, dan istighfar ya Nak." Sahut Bunda Maryam.
"Iya Bun, yang Khalisa takutin, Mas Jono itu ngancam Khalisa sama Kak Desta, kalau keluar penjara, aku takut persidangan besok dia hanya beberapa tahun penjara." Sahut Khalisa.
"Kesalahan dia sudah banyak Lis, dia sudah menyiksa Mba, setiap luka Mba, Mba selalu foto luka-luka Mba Lis, besok Mba bawa ke persidangan." Sahut Mirna.
"Astaghfirullah, kenapa sudah lama menyiksa Mba, Mba gak pernah ngomong? kenapa Mba malah nurut sama dia?" tanya Khalisa.
"Karena dia mengancam Lis, dia mengancam akan membawa Anak-anak, Mba takut." Sahut Mirna.
"Terus rumah kamu gimana yang di sana?" tanya Bunda Maryam.
"Atas nama dia Mba." Sahut Mirna.
"Astaghfirullah, bukan kamu juga berhak?" tanya Bunda Maryam.
__ADS_1
"Waktu itu dia mengancam Mirna kalau Mirna gak tanda tangan hak kuasa rumah, Mirna akan dibunuh, Anak-anak juga." Sahut Mirna.
"Dasar gila! rekaman dia Mba rekam gak?" tanya Khalisa.
"Enggak Lis." Sahut Mirna.
"Kirain aku, dia sudah benar-benar taubat, waktu mohon-mohon di rumah sakit, kenyataannya hanya taubat sambal." Sahut Khalisa.
"Bunda juga udah luluh sama dia waktu itu, kalau tahu begini, Bunda larang!" sahut Bunda Maryam.
"Ya sudah, yang udah berlalu, ya sudah Mba, mau gimana lagi, Mba harus sabar menerima semua ini, Mba harus kuat dan tegar yah!" sahut Khalisa tersenyum.
"Iya, Lis, Mba sedang menunggu surat pengajuan cerai Mba, tapi belum keluar." Sahut Mirna.
"Secepatnya Mba harus benar-benar sah bercerai! lebih cepat lebih baik." Sahut Khalisa.
Bersambung...
Terima kasih teman-teman dan readersku atas dukungan kalian, sudah setia ikutin cerita Ta'aruf Cinta, semoga ceritanya bisa menghibur dan gak ngebosenin yah, di tunggu episode selanjutnya makasih 🥰🥰🥰
Sambil menunggu cerita Ta'aruf cinta boleh yuk mampir ke ceritaku yang lainnya yuk, gak kalah seru dan romantis banget cekidot 🥰🥰🥰
- Cinta dan Detik Terakhir
- Cinta Cowok Dingin
- Cinta Gadis Bisu
__ADS_1