
"Makasih ya Nak, Almarhum Umar pasti bangga punya Anak seperti kamu, mangkanya, saat beliau minta saya buat jodohkan Anaknya, saya setuju, ternyata gak salah pilih, saya memiliki mantu yang sangat baik hati dan mulia." Sahut Abi Mahmud.
"Sama-sama Abi, ayo diminum dulu susu hangatnya." Sahut Khalisa.
"Makasih, mantu." Sahut Abi Mahmud.
"Saya juga bangga sama Khalisa, meskipun beribu orang ada yang tidak suka dengan Anak saya, saya tetap tidak percaya, Allah juga tahu yang sebenarnya." Sahut Bunda Maryam.
"Itu, hal biasa, mereka hanya iri dengan kebahagiaan Khalisa, jadi, kalau ada orang ngomongin kita apapun, biarkan saja lah, gak usah terlalu kita tanggapin." Sahut Abi Mahmud.
"Apa lagi, sekarang status saya sama Mba Maryam janda, orang sini banyak yang menghujat kalau janda gak baik, mangkanya kalau Bapak-bapak masih tidur di sini sampai pagi, bisa jadi omongan." Sahut Mirna.
"Orang sini mah, udeh gak heran lagi Mir, pengen tahu aje urusan orang." Sahut Emaknya Syifa.
"Udah ah, kok pagi-pagi jadi ngomongin orang, hari ini gimana Bunda, Mba, Emak, untuk acara tahlilan kedua Ayah?" tanya Khalisa.
"Kita tunggu saja, sampai Umi Sarah datang." Sahut Bunda Maryam.
"Katanya, masih dandan kok." Sahut Abi Mahmud.
"Umi chat Abi yah?" tanya Khalisa.
"Iya Nak." Sahut Abi Mahmud.
☀☀☀☀
Desta telah sampai di kantor. Desta langsung menghubungi Khalisa dan khawatir pada Khalisa. Khalisa langsung menenangkan Desta, agar Desta fokus kerja dan gak memikirkan segala macam.
"Assalamu'alaikum, sayang, gimana kabar kamu?" tanya Desta.
"Wa'alaikumsalam, kabar aku baik sayang, udah kamu fokus kerja aja, kita semua, baik-baik aja kok." Sahut Khalisa.
"Tante Siska belum datang? aku khawatir sayang." Sahut Desta.
"Ya ampun, sampai segitunya kamu, gak apa-apa sayang, aku mohon, kamu fokus kerja aja yah!" minta Khalisa.
"Iya sayang, kalau ada apa-apa, kabarin aku, secepatnya yah!" minta Desta.
"Iya sayang, bawel." Sahut Khalisa.
"Biarin, bawel buat istri aku ini kok." Sahut Desta.
"Ya udah, kamu semangat kerjanya ya Suamiku sayang, aku tutup yah! Assalamu'alaikum." Sahut dan salam Khalisa.
"Semangat dong, demi istri dan Dede bayi, Wa'alaikumsalam." Jawab Desta sambil tersenyum.
Kok aku jadi parno begini yah? mungkin aku, terlalu sayang dan cinta sama Khalisa, jadi gak mau terjadi apa-apa sama dia.
☀☀☀☀
Di kediaman rumah Khalisa dan Desta. Pak Dani, telah sampai rumah Khalisa dan Desta. Pak Jamal langsung membuka gerbang dan menyuruh masuk Pak Dani. Bang Joni membantu membawa alat-alat ke dalam.
"Assalamu'alaikum." Salam Pak Dani.
"Wa'alaikumsalam. Jawab Bi Aning.
"Ya sudah, saya tinggal ya Pak Dani." Sahut Bang Joni.
__ADS_1
"Makasih Pak." Sahut Pak Dani.
"Silakan Pak, ini, Den Desta nitip uang buat Pak Dani." Sahut Bi Aning memberi uang delapan ratus ribu ke Pak Dani.
"Bi, ini kebanyakan, sisanya ambil aja!" sahut Pak Dani.
"Kata Den Desta, itu, lebihnya buat Pak Dani aja, saya hanya menyampaikan Pak." Sahut Bi Aning.
"Masya Allah, Den Desta baik sekali, dan sangat mulia yah, semoga, rezekinya dia lancar, istrinya supaya lahirannya lancar, nanti saya chat Den Desta deh Bi." Sahut Pak Dani.
"Aamiin... Den Desta atau Neng Khalisa, emang seperti itu, suka ngasih uang lebih, kalau kita disuruh apa-apa, berarti, itu rezeki Bapak, oh, iya, ini ada kue, yang selamatan kemarin, masih enak banget kuenya Pak, saya siapkan yah, sambil ngopi!" sahut Bi Aning.
"Boleh Bi, makasih banyak yah, saya turut berduka atas meninggal Mertuanya Den Desta." Sahut Pak Dani.
"Iya Pak, sebentar yah!" sahut Bi Aning.
☀☀☀☀
Gak lama, Umi Sarah sampai rumah Khalisa setelah dua jam setengah. Khalisa langsung mencium tangan Umi Sarah datang.
"Assalamu'alaikum." Salam Umi Sarah.
"Wa'alaikumsalam. Jawab Abi Mahmud dan semuanya.
"Umi, kok lama banget sih, sampai ngantuk Abi nunggu." Sahut Abi Mahmud.
"Maaf Abi, macet, Abi mau pulang? Mamad nanti kamu sama Abi ke sini lagi kan sore." Sahut Umi Sarah.
"Iya Umi." Sahut Abi Mahmud dan Pak Mamad.
"Umi masuk dulu yuk, mau Khalisa buatkan sirup?" tanya Khalisa.
"Panas emang Umi?" tanya Bunda Maryam.
"Banget, macet banget." Sahut Umi Sarah.
"Jakarta emang begitu Umi." Sahut Mirna.
"Umi sudah makan belum? saya sama Khalisa tadi masak nasi goreng, resep Khalisa." Tawar Bunda Maryam.
"Boleh deh, karena macet, jadi laper." Sahut Umi Sarah.
"Neng, ambilin sekalian nasi goreng buat Umi Neng!" sahut Bunda Maryam.
"Iya Bun, siap!" sahut Khalisa.
"Kayanye enak tuh sirup, Emak juga mau dong!" minta Emaknya Syifa.
"Emak mau juga? oke, Khalisa buatin yah!" sahut Khalisa tersenyum.
"Segar Mak." Sahut Umi Sarah.
"Ini, buat Emak, Bunda sama Mba Mirna mau gak?" tanya Khalisa.
"Bunda enggak Neng, kalau mau, Bunda ambil sendiri." Sahut Bunda Maryam.
"Sama Lis, Mba juga." Sahut Mirna.
__ADS_1
"Umi, jadi hari ini, kita gimana? tahlilan kedua pakai besek?" tanya Bunda Maryam.
"Pakai Besan, nanti biar saya sama Mirna yang ke pasar." Sahut Umi Sarah.
"Gak apa-apa nih, Umi?" tanya Bunda Maryam.
"Besan suka gitu deh, gak apa-apa, mau kan Mirna?" tanya Umi Sarah.
"Mau Umi." Sahut Mirna.
"Umi, semuanya, Abi pulang dulu yah! nanti Abi balik lagi sorean." Sahut Abi Mahmud.
"Abi gak makan dulu?" tanya Umi Sarah.
"Enggak Umi, nanti aja di rumah." Sahut Abi Mahmud.
"Suruh makan gak mau Umi." Sahut Bunda Maryam.
"Abi emang gitu, pagi jarang makan, makannya juga susah, sampai bingung saya!" sahut Umi Sarah.
"Cekokin aje pake kunyit Mi, he-he-he." Sahut Emaknya Syifa.
"Hussttt... sembarangan!" sahut Bunda Maryam.
"Maksud Emak minum kunyit." Sahut Emaknya Syifa.
"Mana mau Abi minum kunyit." Sahut Umi Sarah.
"Umi, aib Abi, jangan dibuka-buka ah!" sahut Abi Mahmud.
Akhirnya, Abi Mahmud pulang bersama Pak Mamad. Abi Mahmud pamit pada semuanya. Abi Mahmud meminta maaf pada Pak Mamad mohon maaf kalau bulak-balik, tapi Pak Mamad santai dan tersenyum.
"Pak Mamad, maafkan saya sama Umi yah, Pak Mamad pasti pusing, bulak-balik terus." Sahut Abi Mahmud.
"Ah, santai aja Abi, kan emang tugas saya sebagai supir, kemana majikan pergi, saya akan selalu siap mengantar." Sahut Pak Mamad.
"Makasih ya Pak Mamad, nanti, kan saya sore atau habis magrib ke rumah Besan, kamu istirahat aja tidur, atau ngopi yah!" minta Abi Mahmud.
"Siap Abi!" sahut Pak Mamad.
"Saya beruntung lho, punya supir dan pembantu-pembantu saya baik hati kaya Pak Mamad dan yang lainnya." Sahut Abi Mahmud.
"Saya kemarin, gak lihat Bang Boro sama Bang selamat ya Bi, kemana mereka?" tanya Pak Mamad.
"Kan mereka pulang kampung, sekampung mereka berdua, emang gak pamit yah?" tanya Abi Mahmud.
"Oh, gitu? ya ampun, Mungkin, saya lagi keluar ngantar Umi atau kemana kali Bi, jadi gak tahu." Sahut Pak Mamad.
Bersambung...
Terima kasih teman-teman dan readersku atas dukungan kalian, sudah setia ikutin cerita Ta'aruf Cinta, semoga ceritanya bisa menghibur dan gak ngebosenin yah, di tunggu episode selanjutnya makasih 🥰🥰🥰🥰
Sambil menunggu cerita Ta'aruf cinta boleh yuk mampir ke ceritaku yang lainnya yuk, gak kalah seru dan romantis banget cekidot 🥰🥰🥰
- CINTA DAN DETIK TERAKHIR
- CINTA COWOK DINGIN
__ADS_1
- CINTA GADIS BISU