
●Lanjuutt yaa👋☺..
●Jangan lupa like, komen, vote dan rate untuk karya Thor ini yaa, happy reading❤❤
🌷🌷🌷
🌻"Akupun baru mengetahui bahwa kau sosok yang akan kutemui hari ini, jika kau heran bagimana ini bisa terjadi. Semua adalah rencana sahabatmu Fida yang hendak menyatukan kita." lirih mas Dimas.
"Jadi ini rencana Kak Fida? Lalu, dimana Mbak Friss Mas??" tanyaku.
"Setelah berpisah aku tak tau ia dimana? mungkin tinggal bersama selingkuhannya," lirih mas Dimas kembali.
"Tidakkah ia rindu dengan putrinya?" ujarku heran bagaimana seorang ibu merasa biasa saja jauh dari putrinya.
"Jika ia mencintai putrinya, sejak awal ia akan mempertahankan Mayra tetap disisinya, tapi ia tidak melakukannya. Ia memilih pergi bersama pria lain dan meninggalkan Mayra bersamaku," ujar Mas Dimas.
"Mengapa aku yang sesak membayangkan prilaku mbak Fris terhadap kalian. Semua pasti berat untukmu membesarkan anak seorang diri selama ini mas," ucapku iba.
"Berat awalnya, tapi aku bahagia melakukannya. Bahkan aku bersyukur Fris tidak memperdulikan Mayra, jadi Mayra hanya milikku seorang kini," ujar Dimas.
"Kau sendiri mengapa belum menikah? kemana laki-laki bernama Firgie itu? bukankah kau dulu dekat dengannya?" tanya mas Dimas tampak keseriusan dimatanya.
"Kami belum berjodoh," jawabku singkat.
"Dia menduakanmu?" selidik mas Dimas.
Aku menggeleng.
"Lalu?" ia masih penasaran dengan jawabku.
"Bisa kita tak membahas dia?" lirihku.
Maaf mas, mendengar kau tadi mengucap namanya saja aku sudah sesak, bagaimana untuk menceritakan tentang perpisahan kami ... suatu saat aku pasti akan menceritakannya padamu, tapi tidak saat ini. Kuharap kau memahaminya mas ... batinku.
Dan dari kejauhan tampak Kak Fida, Mas Fahmi, Mayra dan Irsya berjalan kearah kami saat ini. Setelah jarak semakin mendekat, tampak Mayra berlari kearah Mas Dimas.
"Ayahh, sedang apa disini bersama bunda?" polos Mayra.
Dan aku ... mendengar panggilan bunda disanding dengan panggilan ayah, mengapa terasa risih dan malu aku mendengarnya.
"Bunda, apa ayah Mayla nakal?" ucap Mayra lagi sambil memelukku.
Anak ini, kenapa begitu menggemaskan dan selalu mengakrabkan diri padaku.
"Tidak, ayahmu baik kok," ujarku sambil spontan merapikan rambut Mayra yang tampak berantakan dan dipenuhi keringat. Dan mas Dimas disana terus memperhatikanku, entah apa yang ia fikirkan ...
"Bagaimana? sudah bicara sampai mana?" ucap mas fahmi yang membuyarkan lamunan Dimas saat ini.
Belum lagi dijawab, seketika datang beberapa pelayan rumah makan lesehan membawa sajian ke-meja kami. Sajian ikan bakar, ayam bakar,Udang goreng tepung, cah kangkung dan tumis toge tahu memenuhi meja kami saat ini. Dan pelayanpun segera berlalu setelahnya.
__ADS_1
"Oke mari makan dulu kita lanjut bicara nanti lagi," ujar Mas Fahmi sambil melirik padaku dan Mas Dimas saat ini.
Kamipun melahap makanan saat ini. Beberapa kali aku dan mas Dimas bertemu pandang, tampak senyum menghias di wajahnya namun segera kupalingkan. Karena untuk saat ini aku tak ingin hati yang mengemudikan otakku, tapi kuingin iman yang mengemudikan hati dan otakku.
Sajian makanan di meja tampak nyaris habis, masih ada beberapa lauk tapi karena perut kami sudah tak sanggup untuk menampung, akhirnya Kak Fida mengintruksikan pelayan untuk membungkus lauk yang tersisa. Dan kemudian membersihkan meja lesehan kami setelahnya.
Kami duduk berempat dengan meja lesehan panjang dihadapan kami saat ini, Kak Fida duduk disisiku dengan mas Fahmi di hadapannya, dan mas Dimas ia duduk tepat dihadapanku. Suasana yang membuatku risih sejujurnya, maka kupilih menundukkan wajahku saat ini. Mas Fahmipun memulai obrolannya ...
"Bagaimana? apa kalian merasa cocok dan akan melanjutkan pertemuan ini ke hubungan yang lebih serius," ujar Mas Fahmi tanpa basa-basi.
"Aku serius," mantap mas Dimas.
"Dan kamu Ly?" tanya mas Fahmi padaku.
Kutatap wajah mas Dimas sekilas kembali, kulihat ia menaikkan alisnya keatas seakan turut bertanya, bagaimana?
"Bismillah," hatiku berbisik dan akupun mengangguk sambil diberikan senyumku pada pria di hadapanku kini.
Mas Fahmi dan Kak Fida yang melihat isyarat anggukanku, keduanya bersamaan mengatakan, "Jadi?" pertanyaan untuk memastikan jawabanku.
"Iya, aku mau Mas, Kak." Seketika Kak Fida memelukku, demikian pula Mas Fahmi yang saling berangkulan dengan Mas Dimas meluapkan kelegaan mereka.
"Oke, jadi sabtu ini kita akan ke Tangerang menuju kediaman orang tua Lyra, bagaimana Dim? kau siap?" kulihat mas Fahmi tampak begitu bersemangat sekali.
"In syaa Alloh Fah," ucap Dimas dengan senyum yang masih mengembang di wajahnya.
Ya Robb, restui kami, mudahkan jalan kami jika memang Mas Dimas terbaik untuk hamba, batinku.
"Sabar Bro, kau harus memastikan orang tua Lyra dahulu baru setelahnya baru kita akan bersilaturahmi kerumahmu," ujar Fahmi.
"Oiya ingat, kalian belum memiliki ikatan apapun, tetap jaga kedekatan kalian, oke!!" kami berdua sama-sama mengangguk memahaminya.
"Oke sebentar lagi memasuki waktu ashar, setelah sholat kita akan pulang, oke?" ucap mas fahmi lagi.
"Apakah harus secepat ini?" tanya Dimas.
"Dim, anak-anak kita pasti letih," ujar mas Fahmi menanggapi tanya mas dimas.
●●●●
🌻19:20 KOSSAN LYRA
Apakah yang terjadi tadi siang benar-benar nyata Ya Robb ...
Mas Dimas, akankah menjadi akhir perjalanan cintaku? lirihku.
Kudengar getar ponsel dari atas lemariku, segera kuambil dan tampak panggilan dari Ayah Mayra tertulis disana, angkat tidak ya, batinku. Tapi mas Dimas berhak untuk mengenalku kembali setelah sekian lama, apalagi ia sudah memantapkan serius denganku. Tapi memang harus tetap kujaga batasan kami ...
Kutekan gambar ponsel berwarna hijau kini, dan tersambunglah aku pada Mas Dimas, ayah Mayra, sosok yang in syaa Alloh akan menjadi calon imammku ...
__ADS_1
"Assalamu'alaikum?" ucapku.
"Wa'alaikum salam, apa saya mengganggu anda bunda Irsya?" ujar Mas Dimas menggodaku menggunakan basahaku saat berkirim pesan dengannya tempo hari."
"Jangan menggodaku mas," ucapku.
"Kau sedang apa Lyra?" tanyanya.
"Tidak sedang melakukan apapun, bersantai saja," ucapku kembali.
"Ceritakan tentang kedua orang tuamu Ly? Apakah kira-kira mereka akan mempermasalahkan statusku," tampak mas Dimas serius kini.
"Entah, sebelum mas kesana aku akan berbicara perlahan pada mereka dulu," ucapku.
"Bantu mas ya Ly, jujur mas takut mereka tidak setuju," ujarnya.
"Iya mas. Tapi keluargaku keluarga yang biasa saja, rumahku kecil, Bapak hanya penarik angkot saat ini. Mungkin berbeda jauh dari keluarga mas Dimas, apa mas tidak malu nanti?" jujurku.
"Lyra, jangan berkata seperti itu, mas bukan orang yang suka membanggakan status kok, yang penting ketulusan. Apalagi melihatmu, pasti keluargamu keluarga yang baik," ucap Mas Dimas yang cukup menenangkanku.
"Mas, tentang hati. Aku bahkan tidak tau siapa pemilik hatiku kini. Berbagai hal telah terjadi. Sulit rasanya untukku mengisi hati lain selain kepada Robbku yang selama ini mengisi hari-hariku," lirihku.
"Iya, mas paham. Nanti kita akan mulai lagi dari awal ya Ly, kata Fahmi lebih indah pacaran setelah pernikahan, karna itu yang ia rasakan dulu bersama Fida. Yang jelas, mas senang, sosok yang akan bersama mas adalah kamu, mungkin berbeda denganmu, kau tau Ly, Lyra selalu mas tempatkan disudut hati mas. Tempat yang tidak tergantikan dengan siapapun," lirihnya.
Duuhh, mas Dimas sesakku mendengar penuturanmu barusan, dan mungkin kaupun masih ada di hatiku. Tapi aku tak ingin membukanya sebelum kau benar-benar menghalalkanku ....
"Ly ... Lyra masih disana kan?"
"Oh, i- ya masih mas," jawabku.
"Maaf mas, sudah dulu ya. Ada kajian yang ingin aku dengar di radio saat ini," ujarku.
"Oh begitu ya, di radio apa?" ia tampak penasaran.
"Dakta 107 FM."
"Oh baiklah kalau begitu. Lyraa ...
"Iya Mas,"
"Terima kasih sudah memberi kesempatan kembali untuk Mas," lirihnya.
"Iya. Assalamu'alaikum mas."
"Wa'alaikum salam Ly.. bahagia selalu untukmu ... " Ucap salam dan Do'a mas Dimas, sebelum akhirnya ia memutus panggilan denganku.
●●●●
🌻Happy reading yaa.. maaf upnya sedikit Thor lagi nginep di rumah Utinya anak2 soalnya🙏❤❤
__ADS_1
🌻Rumah makan lesehan saksi pertemuan Dimas dan Lyra❤