
Lanjuutt yaa👋☺..
●Jangan lupa like, komen, vote dan rate untuk karya Thor ini yaa, happy reading❤❤
🌷🌷🌷
"Kau merasakannya juga? Mas sudah 2x ini ke toilet, bagaimana ini bisa terjadi??
●●●
Tante Arini yang merasa hawatir akan keadaan anak dan menantunya akhirnya memanggil dokter keluarga kerumah. Dr. Rudi, Dokter sekaligus rekan Ayah yang sudah sangat hapal seluk beluk keluarga mereka akhirnya didatangkan untuk mengetahui yang terjadi. Ia juga dokter yang menangani broken heart sindrome Dimas hampir 8 tahun silam yang lalu tersebut.
"Apa yang sebenarnya terjadi pada mereka Rud?" tanya ibu di ruang keluarga setelah Rudi memeriksa Lyra dan Dimas.
"Apa yang terakhir dimakan/diminum keduanya?"
"Kami meminum susu kedelai bersama yang dibawa mbok Rumi ke kamar Bu," ujar Dimas tiba-tiba turun dari kamarnya.
"Akan saya cek susu kedelai yang dibuat mbok Rumi dan gelas bekas susu di kamar Dimas, untuk Dimas sudah saya beri obat tadi diatas, jika masih belum ada perubahan selama 2 jam kedepan, minum 1 tablet lagi. Dan segera kabari kondisimu pada Om setelahnya. Sedang untuk Lyra, Om tidak bisa sembarangan memberikannya obat karna kehamilannya, sudah Om panggil Dr. Erika SpoG, ia akan segera datang sesaat lagi."
"Ayah, bunda panggil Ayah," teriak Mayra dari sisi tangga atas suruhan bundanya.
Dimas bergegas ke kamar segera.
•
•
"Iya Sayang," Dimas terlihat panik melihat tubuh Lyra yang semakin lemas setelah terus mondar-mandir ke toilet sebelumnya.
"Mass, perut bagian bawahku keram Mas, dan bayi kita terus bergerak sejak tadi," lirih Lyra hawatir dengan kondisi kedua bayi dalam kandungannya.
"Sabar Sayang, dokter kandungan segera tiba. Dr. Rudi tidak bisa memberikanmu obat karna kehamilanmu," Dimas tampak menenangkan Lyra sambil terus mengusap lembut kepalanya.
"Bunda, yang mana yang sakit. Apa dede bayi sudah mau keluar?" Mayrapun ikut terlihat bingung melihat kondisi bundanya, iapun ikut menyapu perut Bundanya saat ini.
"Tidak cantiknya Ayah, belum waktunya dede bayi lahir. Mayra main bersama Anty Shifaa dulu ya Sayang..!!"
"Mayra mau dekat Bunda," rengek Mayra tak ingin meninggalkan bundanya.
"Masss, bantu aku ke toilet,"
"Iya Sayang."
"Aku sudah selesai Mas, kau bisa buka pintunya," Dimas segera memapah dan mengarahkan Lyra ke ranjang kembali. Tangannya berkali-kali membasuh keringat yang menetes di pelipis sang istri.
"Dimas, Ini Dr. Erika," ujar ibu masuk bersama seorang dokter rekomenasi dari Om Rudi.
"Tolong tinggalkan kami berdua," ujar sang dokter dan segera seluruh orang yang ada di kamar tersebut segera kluar meninggalkan Lyra yang akan diperiksa.
Tak lama Dr.Erika tampak keluar.
"Bagaimana istri saya Dok?"
"Untuk mengatasi buang airnya sudah saya berikan obat. Tapi kondisi istri Bapak sangat lemah, dia harus mendapat cairan di Rumah Sakit."
"Diinfus maksud Dokter?" ujar ibu Arini memastikan.
"Iya Bu, kondisi BAb yang terus menerus sangat tidak baik untuk ibu hamil terutama kehamilan kembar yang dialami ibu Lyra, sebab dapat merangsang kontraksi rahim, juga dapat menimbulkan kram perut, Ini yang sedang dirasakan ibu Lyra. Kram dibagian bawah perutnya. Dan kondisi ketidaknyamanan itu dirasakan pula pada kedua bayinya sehingga membuat gerakan berlebih sang bayi."
"Saya akan siapkan mobil Dok,"
"Dimas tunggu..!! biarkan Pas Supri yang menyetir," ucap ibu melihat gelagat panik putranya.
"Iya Bu,"
"Jangan lupa minum obatmu Nak," ujar ibu sesaat kemudian dan di jawab anggukan oleh sang anak.
__ADS_1
●●●●
Dan akhirnya aku merasakan tidur di bangsal rumah sakit, batinku.
Setelah gejala BABku perlahan berkurang, dan cairan infus telah masuk ketubuhku. Kurasakan gerakan bayiku telah normal kembali. Akupun sudah bisa bernafas lega, tinggal letih yang menguasaiku yang membuatku terlelap akhirnya.
"Ibu akan pulang Dimas, ada yang harus ibu lakukan saat ini di rumah," ujar ibu tenang melihat kondisi Lyra lebih baik dan nampak tertidur saat ini.
"Bu, siapapun yang melakukan ini ia harus mendapat pelajaran!! Kurang ajar.!!! obat pencahar dengan dosis tinggi dalam minuman Lyra."
"Tenang Dimas, ingat kondisimu juga. Ibu akan mengurusnya di rumah, kabari terus bagaimana kondisi Lyra dan kedua bayimu. Nanti sore ibu akan kembali."
"Terima kasih Bu."
●●●●
"Mbok Rumi, kemari sebentar?"
Tampak jelas kepanikan di wajah mbok Rumi setelah kejadian beberapa saat lalu yang menimpa Mas dimas Dan istrinya terlebih semua terjadi setelah meminum susu kedelai buatannya.
"Saat Mbok menyiapkan susu untuk Lyra tadi, apa ada orang lain yang bersamamu Mbok? tolong jawab yang jujur dan jangan panik. Saya percaya sepenuhnya pada mbok Rumi, terlebih saat di cek sample susu kedelai mbok dari dapur bersih dan tidak mengandung zat lain, namun sebaliknya ada kandungan zat berlebih pemicu BAB dalam susu di gelas Lyra. Dan saya ingin mencari tahu siapa yang tega melakukan ini semua," ujar ibu dengan tenang kepada ART yang telah lama ikut tinggal bersamanya tersebut.
"Ta- di a- da ...."
"Ucapkan dengan jelas Bik, tidak ada yang perlu kau takutkan di rumah ini, kami percaya denganmu, sebaliknya jika kau menutupinya. Itu malah akan membuatku marah," ibu menaikkan 1 oktaf suaranya.
"Am- pun Bu, saya ti- dak berani menutupi apapun da- ri Ibu?"
"Lalu? Siapa yang bersamamu?"
"Sa- ya menyiapkan sendiri susu untuk mbak Lyra, saat ingin me- nuju kamar, seseorang memanggil Saya,"
"Siapa?"
"Mbak Frista Bu, dia memanggil saya meminta ambilkan obat nyeri di kotak P3K, dan saya meletakkan susu untuk mbak Lyra keatas meja dapur kembali. Saat saya kem-bali Mbak Frista sudah tidak ada, sayapun langsung mengantar susu ke kamar atas."
"Tadi saya lihat mbak keluar rumah saat saya kembali dari kamar mbak Lyra."
"Dia sudah balik?"
"Belum Bu."
"Sekarang kau pergilah."
Dimana Frista, apa rencana anak itu sebetulnya? Sudah baik ia diterima dengan baik di rumah ini, tidakkah ia sadar kelakuannya dapat membahayakan kedua cucuku, batin ibu geram.
•
•
"Haii Bu, kenapa rumah terlihat sepi?" Orang yang sedang di fikirkan tiba-tiba datang tanpa rasa bersalahnya. Ia berkata dengan santun kepada ibu yang tanpa di ketahuinya telah mengetahui segalanya.
"Darimana kau sayang?" ujar ibu lembut menahan emosinya.
"Menebus beberapa obatku Bu, kebetulan obatku ada yang habis."
"Obat apa yang habis? bukankah kau belum lama kontrol penyakitmu sebelum kemari. Cepat sekali obatmu habis..??"
"I- bu tidak per- ca- ya padaku?"
"Tidak lagi, setelah kau memasukkan obat pencahar dalam minuman Lyra."
"I- bu ...."
"Kau heran ibu tau?? Ini rumahku Friss, aku tau segala sesuatu dalam rumahku. Apa kurang kebaikan yang Lyra beri untukmu?"
"Ti- dak, bu- kan aku Bu ...."
__ADS_1
"Kau masih menyangkal? apa perlu Ibu buka CCTV dan kita menontonnya bersama?"
"I- bu ...."
"Cukup katakan Ya atau Tidak, dan berhenti berkilah. Atau Ibu akan sangat menyesal pernah memiliki menantu sepertimu."
"Ma- af Bu."
"Jadi benar??"
Dan mbak Friss-pun mengangguk.
"Tolong jangan usir aku dari sini Bu..!!! Aku tak memiliki siapapun lagi."
"Kenapa kau membenci Lyra? Bukankah dia baik padamu?" tanya ibu mulai tenang setelah Frista akhirnya mengaku.
"Karena Dimas sejak dulu hanya mencintai Lyra Bu. Dan saat ini, ia bahkan memiliki cinta putriku Mayra, Ibu, Ayah, Shifaa ditambah sebentar lagi dia akan dikaruniai sepasang bayi kembar. Kenapa Lyra memperoleh segalanya dan aku tidak Buu," lirih mbak Friss dengan air mata yang terus mengalir.
"Kau telah memiliki Dimas bahkan kami semua di masa lalumu Frista, tapi kau tidak menggunakan kesempatan yang kau miliki untuk membuat Cinta Dimas berpaling untukmu. Kau menyiakannya, bahkan kau bermain dengan pria lain. Kalau bukan karena Lyra yang membawamu ke rumah ini jujur ibu sangat menolak kehadiranmu."
"Aku sudah berusaha keras di masa itu Bu, tapi putramu menutup hatinya, ia membiarkan satu nama yang ada di hatinya, Lyra. Hanya gadis itu yang selalu Dimas fikirkan. Bahkan dalam tidur sekalipun Dimas terus menyebut nama Lyra. Hati istri mana yang tak hancur jika hanya memiliki raga tapi hati suaminya milik wanita lain," rapuh Friss saat mengingat kenangannya dulu saat menjalani pernikahan bersama Dimas.
"Semua sudah berlalu Friss, Ibu sedang tidak membahas masa lalu karena nyatanya kalian telah berpisah dan memutuskan hidup masing-masing. Sekarang jawab ibu dengan jujur Frista.!!! Apa motifmu sebetulnya masuk ke rumah Dimas di Bandung? Mungkinkah kau masih berharap memiliki Dimas??"
"A- ku ...."
"Jika kau masih berharap, buang harapanmu jauh-jauh Frista. Biarkan Dimas bahagia dengan kehidupannya kini. Raihlah kebahagiaanmu sendiri Nak ..!!!"
Ta- pi Bu ...."
"Kemarilah Sayang, Kau memiliki kami, kami akan menjadi keluargamu, mensupport penyakitmu. Tapi buang keinginanmu untuk masuk dalam rumah tangga Dimas Nak, masamu bersama Dimas telah lewat. Jangan kotori lagi dirimu dengan prilaku dan fikiran burukmu. Kau mau mendengarkan ibu kan Nak?" ibu tampak memeluk Frista dengan penuh ketulusan.
"Ibuu ...." tangis Frista kembali pecah, ia membalas pelukan ibu, ia seakan memperoleh tumpuan dalam menghadapi problema hidupnya yang selama ini hanya dipendamnya sendiri.
"Maafkan aku Bu, aku wanita yang buruk. Aku tak bisa menjadi istri dan ibu yang baik. Dan bahkan sekarang aku nyaris mencelakakan calon cucumu," lirih Friss menyesali segala prilakunya.
Ibu yang mendengar tampak lega setelah Frista menyadari kesalahannya. Iapun mengeratkan pelukannya pada wanita yang saat ini terlihat rapuh tersebut.
Beberapa saat kemudian ...
•
•
"Sekarang ceritakan kondisi penyakitmu. Ibu akan carikan dokter terbaik untukmu Nak."
"Penyakitku ... Sebetulnya dokter telah menyatakan aku bersih dari sel kanker Bu," dan mbak Friss pun menangis kembali menuturkan kenyataan yang sebenarnya.
"Maafkan aku Buu,"
"Jadi, Lyra dan Dimas belum tau?"
Fristapun menggeleng. "Aku hawatir bila ku jujur, mereka akan menjauhkan aku dari Mayra, aku mulai menyayangi Mayra putriku Bu,"
"Frista, kita akan bicara dengan Dimas dan lyra saat mereka kembali dari rumah sakit, tapi ingat Sayang, hentikan kebohongan apapun. Karena sepintar apapun kau berbohong suatu saat kebenaran akan terungkap. Hidupmu pun tak kan tenang. Kau mau kan jadi anak baik Ibu??"
"Iya Bu, terima kasih mau memberiku kesempatan. Bu, maaf ... Lyra sampai dirawat gara-gara ulahku? Bagaimana keadaan bayinya Bu?"
"Alhamdulillah semua telah membaik, tinggal sedikit pemulihan saja. Berhentilah meminta maaf Sayang. Terima kasih kau mau mendengarkan Ibu Nak," lirih ibu kembali dan menghapus sisa air mata Frista.
"Terima kasih Buu," lirih Frista.
"Sekarang kau istirahatlah Nak, nanti sore kita sama-sama menjenguk Lyra ...."
"Iya Bu."
🌷🌷🌷
__ADS_1
🌻Happy reading ❤❤