Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah

Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah
Home Sweet Home


__ADS_3

Lanjuutt yaa👋☺..


Jangan lupa like, komen, vote dan rate untuk karya Thor ini yaa, happy reading❤❤


🌷🌷🌷


Hawa dingin mulai menghujam tiap titik pori-poriku menandakan kami telah memasuki Bandung. Kurubah posisi dudukku dengan tangan yang mulai kulipat mendekap raga. Hingga kurasakan sebuah pakaian penghangat menutupi tubuhku, namun mataku terlalu berat untuk menyibakkkan sang kelopak, dan akhirnya kuterbawa kembali dalam lelapku.


ALLOHU AKBAR ALLÒHU AKBAR


Dan adzan zuhurpun berkumandang, 3 jam sudah ... perjalanan yang dibumbui kemacetan telah kami lalui. Mulai kubuka kelopakku kini, dan langsung tertangkap olehku wajah tampan suamiku, dengan alunan cinta yang terus terputar di tape mobil, membuat getarku padanya semakin dalam, seolah lagu yang terputar memang untukku, luapan hati suamiku.


Ohh khayalku ...


Aku tak ingin


Kau menangis bersedih


Sudahi air mata darimu


Yang aku ingin


Arti hadir diriku


Kan menghapus dukamu


Sayang


Karna bagiku


Kau kehormatanku


Dengarkan


Dengarkan aku


Hanya satu pintaku


Untukmu dan hidupmu


Baik-baik sayang


Ada aku untukmu


Hanya satu pintaku


Di siang dan malammu


Baik-baik sayang


Karna aku untukmu


Semua keinginan akan aku lakukan


Sekuat semampuku sayang


Karna bagiku kau kehormatanku


Dengarkan


Dengarkan aku


Hanya satu pintaku


Untukmu dan hidupmu


Baik-baik sayang


Ada aku untukmu


( Baik-Baik Sayang - Wali Band )



"Heii, putri tidur sudah bangunkah?? Kita mampir masjid dulu yaa," ujarnya tatkala menangkap bola mataku yang telah membulat sempurna.



Akupun menangguk dan seketika senyum terlukis melengkapi mata bening suamiku yang tampak merona.






Kulangkahkan kakiku kini mendekat pada sosok pria yang tampak tertegun menatapku di kejauhan, melihat rambutnya yang basah jadi teringatku akan cerita-cerita masa lalu kala itu ...



Ceritaku yang masih tampak semampai dengan celana jeans, pakaian atasan sebatas panjang di tangan dengan hijab yang kugantung sebatas menutupi kepala dan leher jenjangku saja. Masih kurang ilmu saat itu, dalihku. Tapi In syaa Alloh, aku kini lebih paham untuk apa hijab sesungguhnya, mengapa ada aturan hijab dan bagian mana saja yang harus kujaga dengan hijabku. Tapi inilah proses hidupku. Dan aku bersyukur, walau melewati sesak aku mampu berdiri saat ini dengan ketetapan imanku.

__ADS_1



Dan dia suamiku, kami berproses bersama. Karna kusadari jiwakupun masih sering terbolak-balik, apa pantas aku menuntut lebih dari yang Alloh tetapkan untukku.



Satu yang pasti lelaki ini sungguh menyimpanku dalam hatinya. Dan ketulusan hatinya mampu mengetuk hatiku kembali mendekap padanya.



Kini ia tepat dihadapanku, mata kami masih saling bertatap seakan kami tak peduli sekitar. Kulihat ia mengaggukkan kepalanya meraih bahuku, dan mengantarku masuk pada mobil kami saat ini. Dan disana tampak Mayraku masih asik dengan lukisan bunga tidurnya.



30 menit berlalu gerbang SENTRA DUTA RESIDENCE telah berdiri tegak menunggu kami. Beberapa saat kemudian rumah besar bergaya minimalis dengan cat berwarna soft grey berpadu tosca dan hitam sudah berada di hadapan kami, rasa syukur seketika terucap telah memberikan kami keselamatan dalam perjalanan hingga sampai ke rumah kembali.


Ohh, Home sweet home ...


Nyaman rasanya merebahkan diri kembali di kasur kamar pribadi kami.


"Sayang ... kemarilah ...."


Mas Dimas tiba-tiba memanggilku yang masih fokus membuka hijab kemudian beranjak mengganti gamisku dengan longdress rumahan berlengan pendek saat ini.


Akupun menghampiri mas Dimas saat setelahnya.


"Ada apa Mas?"


"Sini ...,"


Mas Dimas menepuk tangannya ke kasur disisinya yang tampak kosong.


"Mass ...," lirihku yang kemudian ditanggapi anggukan kepalanya yang membuatku tak bisa menolak, kuikut merebahkan diri saat ini.


"Temani Mas tidur siang, mas sangat letih," lirihnya sambil terus membelai kepalaku saat kami tengah berhadapan sangat dekat, iapun mulai mengecup bibirku singkat, menjelajahi wajahku terakhir menarik kepalaku ke dadanya. Terdengar degup jantung yang sangat cepat disana. Detak kehidupan mas Dimas yang seakan irama penghantar tidur, terekam jauh ke sisi otakku terdalam, membuatku terbawa kealam bawah sadar yang sangat melenakanku.



🌻Pukul 19:30



Kami sekeluarga telah duduk hendak memberi hak terhadap perut kami. Kusendokkan nasi kepiring Mayra lebih dulu yang tampak sangat lapar tergambar di wajahnya. Baru setelahnya ku beranjak ke piring mas Dimas suamiku, *Mas Dimas pasti juga sangat lapar*. Kusendokkanlah nasi dalam porsi besar saat ini ke piring suamiku. *Supaya suamiku kenyang*, fikirku.



Hingga tiba-tiba,




*Lho, ada apa? kenapa ibu membatasi apa yang kulakukan untuk mas Dimas*, batinku.



"Heii kenapa bengong, maksud ibu mungkin mas tidak boleh makan banyak sendiri. Kita makan bersama yaa..!!! Pasti ini karena ibu hawatir denganmu Ly, apalagi setelah ia mengetahui berat baby twins ada yang lebih kecil. Sekalian Mas ingin menyuapi *baby twins* Mas, hayoo mana lauknya?"



Dan akupun meletakkan lauk saat ini kepiring mas Dimas. *Iya bisa jadi seperti itu maksud ibu, hanya bik Lasmi yang salah mengungkapkannya*.



"Sekarang buka mulut Lyra, hayo A ... suapan pertama untuk Diyara yang masih lebih kecil," akupun membuka mulutku dan seketika 1 sendok suapan masuk penuh kemulutku.



"Yang tadi terlalu banyak Mas," ujarku setelah kutelan suapan pertamaku.



"Maaf Sayang, oke yang ini ... untuk *Baby boy* jagoan Ayah, buka lagi mulutmu Sayang A ...," ujar mas Dimas sambil terus membelai perutku. "Anak pintar," ujarnya setelah suapan masuk kemulutku.



"Ayah, Mayra juga mau disuapi."



"Oh iya, putri cantik Ayah juga jangan sampai kurus. Wahhh, bandara sudah terbuka, pesawat siap masuk.. syuuuuuu ..., alhamdulilllah pesawat sudah sampai, anak pintar," ujar mas Dimas terus mengurusi kami.



"Mas, aku sudah kenyang tapi kau belum makan 1 suap pun," lirihku.



"Sekarang biar aku yang menyuapi Mas," ujarku menyendokkan kembali nasi ke piring kosong mas Dimas.



"Oppp, cukup. Nanti mas tidak bisa tidur kalau makan terlalu banyak," akupun menurut.

__ADS_1



Akupun mulai menyuapi Mas Dimas ...







Hingga ...


"Ini suapan terakhir Mas," mas Dimaspun seketika membuka mulutnya.



"Mas, kenapa matamu berair, kau menangis?"



"Tidak,"



"Bohong..!!! Kau menangis, maaf kalau perkataanku ada yang menyakitimu Mas," lirihku sambil ku-seka air mata yang mulai menetes di sudut mata mas dimas.



Dan mas Dimas seketika menangkap dan mencium tanganku. "Terima kasih," lirihnya.



"Mass ...," dan akupun turut menangis melihat ke-senduannya.



"Heiii, apa ini ....??" Seketika mas Dimas menarikku dalam dekapannya.



"Maaf jadi membuat Lyra menangis, sudah jangan menangis lagi..!!!"



"Ayah, Bunda kenapa?" Mayra yang sedang bermain dengan legonya tampak mendekati kami, ia menyeka air mata kami dan ikut membaur memeluk kami.



🌻KAMAR UTAMA


"Mas, Katakan tadi kenapa kau menangis?" tanyaku setelah mas Dimas selesai dengan aktifitas mendo'akan dan mengusap baby twins kami. Iapun duduk disisiku kini, tampak Mayra sedang asik menggambar di sofa 3 meter dari ranjang kami berada.


"Kita membahas hal yang lain saja, oke!!"


"Katakan dulu kenapa mas menangis??" desakku sambil terus kutatap mata bening suamiku.


"Sungguh ingin tahu?"


Akupun mengangguk.


"Karena Mas begitu bahagia memiliki Lyra disisi Mas, memiliki Mayra juga kedua calon bayi kita, terasa lengkap hidup Mas. Terima kasih Sayang sudah hadir di kehidupan Mas," ujar mas Dimas sambil seketika mendekat dan mencium keningku.


"Mass, jangan cium-cium ada Mayra disana," lirihku sambil kudorong tubuh mas Dimas perlahan.


"Mayra sedang sibuk dengan pensil warnanya," bisik mas Dimas kembali.


"Mundur Mass, tidak baik Mayra melihat kita sedekat ini."


"Hahh, yasudah Mas akan menidurkan Mayra dulu," Mas Dimaspun berlalu sambil mencuri kecupan di kepalaku sebelum beranjak menjauh.




"Hai cantikkk, bobo yuk..!!!" seketika mas Dimas menggendong Mayra sambil menciumi wajah Mayra menuju kamarnya.


"Ayahh,, lepasin ... geli Ayahhh," teriakan yang semakin samar dan kelamaan tak terdengar lagi ....




*Keluarga ibarat kebongkah pohon, setiap rantingnya tumbuh berbeda. Tapi semua bertumpu pada akar yang sama yaitu CINTA dan KASING SAYANG* ...



🌷🌷🌷


__ADS_1


🌻Happy reading.


__ADS_2