
Aku mengikuti langkah Firgie menjauhi Mas Dimasku. Kutatap pria yang berjalan di depanku tangannya masih menggenggam erat jemariku dan aku membiarkannya.
Firgie sangat baik, ia betul-betul menjaga dan melindungiku, inilah isi batinku tentangnya saat ini.
Namun diruang hatiku hanya ada mas Dimasku. Aku hancur mas dan bahkan lebih hancur lagi melihat kesedihan dimatamu, namun rasa kecewa masih menyelimutiku. Biarkan saat ini aku menghindarimu, saat sesakku telah mereda akan kubuka hatiku untuk mendengarkan penjelasanmu, biarkan saat ini aku dengan diamku. Menyimpan rasaku yang telah salah kupautkan untukmu, yang ternyata kelak akan bersanding dengan yang lain.
"Lyra, apa lelaki tadi menyakitimu?" ucapan Firgie membuyarkan lamunanku.
Kulihat tangannya masih menggenggamku, kulepaskan jemari yang mengait kedua jemari kami.
"Maaf," ujarnya saat merasa aku melepas jemariku. Rupanya ia juga baru tersadar kalau sejak tadi kami saling berpegangan.
Kujawab maafnya dengan senyum kecilku.
"Makasih ya Gie," ujarku singkat. Tampak wajah sedih belum bisa kulepaskan sepenuhnya. Bayangan Mas Dimas dan Mbak Friss masih terasa jelas, kata-kata tentang pernikahan mereka masih terekam dalam otakku.
Tiba2 Mas Dimas kembali memasuki tenda acara. Diikuti Mbak Friss tak lama di belakangnya. Mata mas Dimas masih memancarkan kepedihan namun iya tutup dengan senyuman didepan para bawahannya, ia masih berusaha mencuri tatapanku namun aku mengabaikannya.
"Jika kau merasa tidak nyaman kita pulang sekarang Ly!!" ujar Firgie seolah tau yang aku rasakan.
Akupun mengangguk mengiyakan.
Kami lantas berpamitan dengan mbak Dew, Mbak Dew mengajak kami berfoto sebelum kepergian kami. Dan selanjutnya aku berpamitan pula pada rekan satu lineku.
Mas Dimas yang melihat aku dan Firgie hendak beranjak pergi, segera mengajak mbak Friss meninggalkan acara itu juga.
"Aku masih mau disini, kenapa cepat-cepat sih Mas?" ujar mbak Friss.
"Aku ada urusan, kalau kau mau kuantar pulang sekarang atau kau pulang sendiri nanti," mendengar jawaban mas Dimas terpaksa mbak Fris mengiyakan, iyapun berlalu meninggalkan rekan leader lain yang masih asik berbincang.
Terdengar sayup azan Zuhur berkumandang.
"Kita cari masjid dulu ya Ly!!" ujar Firgie.
Aku mengangguk mengiyakan.
Motor Firgie menelusuri jalan sambil mata kami mencari masjid di sekitar jalan yang kami lewati.
Tiba di pemberhentian lampu merah, tampak sebuah honda Jazz berhenti disisi kami. Terlihat kaca mobil mulai terbuka dan terlihatlah wajah Mbak Friss disana.
"Gie, kasihan tuh Lyra kepanasan?" Entah mbak Friss benar-benar peduli padaku atau hanya meledek kami, biarkanlah.
"Lyra, kau ikut mobil kami saja. Mas Dimas pasti tau rumahmu." Karna ucapan sebelumnya tak memperoleh respon dari kami ia kembali berujar seolah memanasi kami.
Aku menoleh sesaat memberi senyum pada mbak Friss dan kulihat tatapan Mas Dimas disana, Mas Dimasku bersama wanita lain ... kembali teringat aku akan posisiku.
Kuarahkan kembali pandanganku kedepan mengalihkan pandangan dari Mas Dimas.
Terdengar sayup suara lelaki dari arah dalam mobil.
"Hentikan Friss!!"
__ADS_1
"Tutup jendela itu!!"
Tak lama jendela mobil telah tertutup.
Firgie memberhentikan motornya di sebuah masjid. Langsung kuarahkan kakiku menuju dalam masjid tak sabar rasanya ingin kuluapkan sesak yang kurasa hari ini pada Robbku.
Beberapa saat berlalu tampak Firgie sudah berada di teras masjid menungguku.
"Maaf lama Gie," lirihku.
"Santai saja," jawab dengan senyum di bibirnya.
"Kita cari makan ya, tadi kamu nggak memakan makananmu kan?" tambahnya lagi.
"Aku belum lapar," ujarku.
Tiba-tiba perutku berbunyi, Krukk ...
Duhh sungguh gak sinkron, mulutku berkata tidak tapi perutku nggak bisa berbohong. Memang aku belum sarapan dari pagi. Dan Firgie ternyata mendengarnya, malunya ... batinku
"Ayo ikut! Mau makan apa? Ketoprak mau?"
Aku mengangguk, sepertinya aku mulai tau makanan kesukaan Firgie ketoprak. Karena sejak kemarin selalu ketoprak yang ia tawarkan. Tapi gak masalah karna aku juga menyukainya. Tiba-tiba aku ingin tersenyum karna sebuah ketoprak.
Firgie memergokiku sedang tersenyum,
Entah apa yang membuatmu tersenyum tapi aku senang melihatnya Ly, senyuman yang terasa hilang sejak tadi kau bertemu dengan lelaki itu. Penuh tanya diotakku Ly, tapi aku tak bisa menanyakannya padamu. Akan kutunggu kau menceritakan smuanya ...
"Ada tempat yang ingin kau kunjungi Ly?" tanya Firgie saat makanan telah habis dipiring kami masing-masing.
"Terserah kau saja Gie," jawabku.
"Kita ke Taman KENCANA saja gimana? disana pemandangannya indah," ujarnya.
"Aku malah belum tau banyak tempat di Bekasi ini, terserah kau saja." Aku percaya padamu Gie karna kau pasti akan menjagaku, batinku.
***
Ternyata benar Taman KENCANA memiliki pemandangan yang sangat indah. Pohon-pohon yang berdiri tegak dan berbaris rapi seakan menjadi penjaga bagi bunga-bunga dan tumbuhan di sekelilingnya. Angin sepoi-sepoi menggerak-gerakkan dedaunan seakan saling berbisik dan bercerita. Udara yang sangat asri jauh dari asap dan polusi terasa sangat menyegarkan.
Terasa hilang sesak yang kurasa hari ini,
terbayar dengan keindahan suasana yang kurasa saat ini.
Firgie mengajakku duduk di sebuah kursi kayu di pinggir sebuah danau dengan deretan bunga teratai yang indah, terdapat pohon-pohon tertata rapi di belakang kursi tempat kami duduk menambah kenyamanan bagi siapa saja yang duduk disana.
"Terima kasih Gie, tempat yang sangat indah jauh dari hiruk pikuk keramaian, sangat tenang. Aku suka tempat ini," ujarku membuka obrolan dengannya.
"Syukurlah kamu menyukainya Ly, aku sering datang kesini saat merasa sepi dan letih dengan rutinitas serta butuh ketenangan," jawabnya.
"Oya, dengan siapa kau kemari?"
__ADS_1
"Sendiri saja," jawabnya santai.
"Kufikir kau kesini bersama wanita, mungkin," lirihku.
"Iya, saat ini aku memang bersama wanita," jawabnya melirik kearahku.
"Kau bisa saja," jawabku sambil tersenyum kearahnya.
"Wanita yang lain maksudku," tambahku lagi.
"Tidak ada. Tersenyumlah lagi Ly!! Kau terlihat cantik saat tersenyum," ujarnya tampak serius.
"Ternyata kau pintar menggombal Gie."
"Tidak juga, hanya pada beberapa wanita yang kusuka," jawabnya tanpa beban.
Aku berpura-pura tak mendengarnya. Oh Gie, jangan begitu, setidaknya jangan saat ini. Aku sedang tidak ingin mendengar rayuan saat ini, batinku
Firgie menatapku dengan keteduhan di matanya. Matanya sangat indah dan teduh. Oh Lyra apa yang kau fikirkan bahkan masalah dengan mas Dimas belum selesai, mengapa kumerasa berbagai masalahku hilang dan tak pernah ada saat bersama pria ini? Seakan terlupa sesaat dengan Mas Dimasku, mas Dimas yang telah menyakitiku.
"Gie ... apa kau punya adik perempuan?" tanyaku tiba-tiba sesaat melihat tatapan teduhnya teringat kembali pada sosok pria dengan gadis kecil di gramedia tempo hari. Mungkinkah itu Kau Gie?? batinku
"Ya, ada. Aku memiliki banyak adik Ly. Salah satunya adik kecilku yang cantik," jawab Firgie dengan senyum di wajahnya, tampak kasih sayang terpancar di wajahnya. Dan ia tampak berseri saat menceritakan sang adik cantiknya.
"Ia 7 tahun?" tanyaku lagi menegaskan.
"Lama-lama kau seperti paranormal Ly," ia menjawab dengan senyum yang masih mendarat di bibirnya.
"Iya adikku 7 tahun, sangat tepat tebakanmu. Hmm ... mengapa kau tiba-tiba menanyakan tentang adikku Ly?" tanya Firgie heran.
"Kau percaya kalau kubilang kita pernah bertemu sebelumnya, lebih tepatnya mungkin aku merasa itu kau."
"Maksudmu?"
Kuceritakan tentang Sosok yang kulihat dengan seorang gadis kecil sekitar 2 bulan lalu di Mall XX. Kuceritakan pula tentang tatapan teduhnya yang mirip tatapan Bapakku. Dan aku sesaat terpesona dengan kesabaran pria tersebut menjaga adiknya.
"Hmm ... aku lupa, mungkin benar itu aku. Aku memang sering mengajak adik perempuanku itu ke Gramedia. Dia sangat senang membaca, lebih tepatnya dia hobi mengacak-acak buku disana." Dia tampak serius dengan jawabnya namun membuatku ingin tertawa mendengarnya.
"Kau bilang tadi apa Ly? Kau terpesona padaku?? Hahh, Harusnya kau menyapaku saat itu Ly jadi aku lebih cepat mengenalmu," ujarnya sambil menatapku.
Iya Gie andai saat itu aku mengenalmu lebih dulu mungkin aku tidak akan merasa sesak seperti saat ini. Aku masih menatapnya ...
"Hallo ... Lyra, Kok melamun sih? Berhenti menatapku Ly!! Nanti Kau bisa terpesona olehku," ia tampak tersenyum menggodaku.
"Kau jangan terlalu serius ya Ly," ujarnya lagi sambil menatapku yang masih terdiam.
Entah berapa banyak tawa yang kucurahkan hari ini. Yang kami curahkan bersama tepatnya.Ternyata Firgie sangat menyenangkan, padahal kufikir sebelumnya dia lelaki yang kaku.
Pada awalnya kufikir Mbak Dew mengenalkanku untuk meredakan sesak yang dirasa Firgie namun sebaliknya, kehadiran Firgie saat ini justru meredakan sesak yang kualami.
Terima kasih Gie... Batinku.
__ADS_1
●●●●
🌻happy reading❤❤