
●Lanjuutt yaa👋☺..
●Jangan lupa like, komen, vote dan rate untuk karya Thor ini yaa, happy reading❤❤
🌷🌷🌷
🌻Waktu menunjukkan pukul 17.00 saat ini. Tampak tamu sudah mulai sepi, dan hal itu menandakan pula, bahwa pesta resepsi segera berakhir.
Karena rumah kami yang kecil, untuk menampung keluarga besar mas Dimas yang hadir. Ibu menyewa 1 rumah kontrakan yang berada tak jauh dari rumahku. Dan saat ini keluarga mas Dimas masih berkumpul disana, rencananya ba'da Magrib nanti mereka baru akan kembali ke kediaman mereka masing-masing. Rata-rata dari mereka tinggal di Bandung dan Jakarta, sedangkan untuk keluarga ibu Arini yang datang langsung dari Malang, kota asal ibu. Mereka memutuskan untuk menginap dahulu di kediaman ayah dan ibu di Cikarang.
Tampak Bapak, Ibu dan keluarga besarku masih mengontrol pembersihan dan pembongkaran tenda saat ini, karena memang lokasi yang digunakan adalah lapangan sebuah TK, dan TK tersebut akan dipergunakan belajar mengajar esok harinya. Jadi pembersihan harus segera mungkin dilaksanakan.
"Dimas, Lyra kalian langsung pulang kerumah saja ya, Ibu dan Bapak akan mengontrol disini dulu. Ada Ersha, Sherly dan Bude-bude di rumah," ujar Ibu.
"Iya Bu," ujarku dan Mas Dimas bersamaan.
Kamipun menuju kerumahku yang letaknya berselang beberapa rumah dengan kontrakan yang di sewa ibu untuk keluarga besar mas Dimas.
"Ly, Mas mandi di kontrakan ya, Lyra mandi di rumah saja. Ada Ersha dan Sherly Mas merasa kurang nyaman. Nanti tolong bawakan baju ganti Mas di dalam koper Mayra," ucap Mas Dimas sambil terus menggenggam tanganku.
"Iya Mas," ujarku. Dan kami berpisah di depan rumah saat ini.
Beberapa saat berlalu, aku telah siap dengan setelah rok dan long tunik saat ini. Kuambil pakaian dalam mas Dimas, yang sangat risih kusentuh sebetulnya, kuambil pula kaos berwarna abu tua dan celana joger berbahan katun sebagai pasangannya. Segera setelahnya kuarahkan kaki saat ini menuju kontrakan dimana terdapat Mas Dimas dan keluarganya berada. Kulewati Sherly yang tengah asik bercengrama dengan Mayraku di kamarnya.
"Assalamu'alaikum," ucap salamku saat tiba di muka kontakan.
"Wa'alaikumsalam," ujar jawaban bersamaan dari arah dalam, kemudian tampak riuh kerabat mas Dimas ketika melihat kehadiranku.
Mereka segera melempar berbagai tanya kearahku hingga aku tertahan bersama mereka saat ini.
"Heii, Lyra sudah disini ta? Kau masuklah Nak, itu Dimas sudah nunggu pakaiannya di kamar," ujar ibu laksana penyelamat untukku yang sejak tadi bingung bagaimana menuju mas Dimas saat ini.
Akupun segera ke kamar. Bangunan kontrakan yang di sewa ibu memang berbentuk rumah tinggal dengan 3 kamar. Di kamar lainnya tampak Ayah sedang tertidur, dan kamar sebelahnya terdapat Shifa yang sedang bercengkrama dengan ponakan-ponakan yang sepantaran dengannya.
Dan kini aku memasuki kamar yang terdapat mas Dimas didalamnya. Kulihat ke dalam tampak tak ada siapapun disana, hingga tiba-tiba pintu tertutup dengan sendirinya. Dan aku terhenyak saat tangan seseorang memelukku dari belakang.
__ADS_1
"Kenapa lama sekali? suamimu hampir mati kedinginan menunggumu, Sayang," lirih mas Dimas berbisik di telingaku.
"Mas, lepas ... ada keluarga besarmu diluar," lirihku.
"Hmm ... Harum sekali istriku," bisik mas Dimas tak menghiraukan ucapanku. Kurasakan ia beberapa kali mendengus bahuku.
Mas Dimas kini membalikkan tubuhku kearahnya, dan "Ohhh," lirihku sambil kutarik kedua tanganku hingga menutupi mataku.
"Kenapa menutup wajah," mas Dimas tampak heran melihat reaksiku.
"Pakai pakaianmu dulu Mas, aku malu," polosku.
"Ohh, istriku yang manis," ujar mas Dimas langsung mengambil pakaian dari tanganku dan memakainya, akupun berbalik terasa risih dengan situasi saat ini. Seorang pria mengganti pakaian sangat dekat denganku. Oh Lyra ... tenang, lelaki itu suamimu, mas Dimas-mu, batinku.
Tiba-tiba terdengar suara dari balik pintu,
"Dimas, Lyra ... ayah dan ibu ingin bicara. Kami tunggu di kamar ya Nak!" suara ibu sangat lembut terdengar di telingaku kini.
"Baik Bu," ujarku dan mas Dimas seketika.
"Berapa lama kalian menginap disini?" ujar ibu memulai obrolan kepada kami.
"Sepertinya besok kami juga sudah balik Bu, tidak apa kan Sayang, hanya menginap semalam di rumahmu?" ujar Mas Dimas.
Akupun mengangguk mengiyakan.
"Karna memang ada pekerjaan yang menunggu Dimas, ada apa ibu bertanya seperti itu?" heran Mas Dimas.
"Setelah dari sini kalian akan langsung kerumah kalian atau menginap di Cikarang dahulu?" tanya ibu kembali.
"Kami langsung ke rumah kami Bu ... " Mas Dimas tampak menatapku, akupun mengangguk mendengar pernyataannya.
"Saat akhir pekan, kami akan bertandang dan menginap di Cikarang," tambah Mas Dimas.
"Sebenarnya Ibu menginginkan kalian menginap 2-3 hari di Cikarang Nak," ujar Ibu.
__ADS_1
"Nanti kami pasti akan menginap Bu, tapi tidak sekarang. Rumah di harapan baru seminggu ini tidak Dimas tengok, pasti debunya sudah sangat tebal. Mumpung Dimas masih bisa senggang 2 hari kedepan, Dimas akan bantu Lyra bersih-bersih," ujar mas Dimas meyakinkan ibu Arini.
"Sudahlah Bu, Dimas sudah dewasa. Ia pasti juga ingin merencanakan berbagai hal bersama istri dan anaknya," ayah tampak membela mas Dimas.
"Hmm, Ayah tidak mendukung Ibu. Baiklah. Tapi kau carilah Dim, seseorang untuk membantu Lyra di rumah kalian. Agar Lyra tidak letih," tutur Ibu.
"Nanti Dimas akan membicarakannya dengan Lyra, Bu." Mas Dimas kembali menatapku dan akupun kembali mengangguk.
"Lyra, kalau nanti Dimas menyakitimu, jangan sungkan bercerita pada Ibu. Nanti Ibu yang akan memukul anak itu," ucap Ibu berusaha menempatkan dirinya sebagai ibu untukku juga.
"Terima Kasih Bu," ujarku. Aku melirik mas Dimas yang tersenyum padaku kini.
"Jangan pernah mengumbar aib suami keluar, atau pergi dari rumah jika ada masalah antara kalian, bicarakanlah dengan baik-baik. Ibu sih yakin Lyra paham, iya kan Nak?" tanya ibu. Kutatap mas Dimas yang menarik alisnya keatas, kuberikan senyum kecil padanya.
"Iya Lyra paham Bu," lirihku.
"Kalau begitu Ibu tenang meninggalkan kalian. Oya, ibu punya hadiah untukmu Lyra," ujar ibu tampak mengambil sebuah kotak besar dari atas meja.
"Apa ini Bu? Lyra tidak ingin menyusahkan Ibu, sudah banyak yang mas Dimas dan Ibu berikan kepada Lyra dan keluarga, Lyra tidak membutuhkan perhiasan Bu," lirihku.
"Heiii, siapa yang susah. Ini hadiah, dan tidak baik menolak pemberian. Sini biar ibu pakaikan kalungnya. Walaupun berhijab dan perhiasan tidak terlihat, tapi perhiasan akan lebih mempercantik wanita. Apa ibu betul Dimas?" tanya ibu seketika pada mas Dimas.
Mas Dimas yang melihat perlakuan ibu terhadapku, iapun berdiri dan segera memeluk sang ibu dari belakang.
"Semua yang Ibu katakan selalu benar, Dimas sayang Ibu." Mas Dimas seketika itu pula menghujani wajah sang Ibu dengan ciumannya.
"Heii, anak nakal. Kau tidak malu diperhatikan istrimu menciumi ibumu," ibu menarik hidung putranya agar menjaga sikap kekanakannya.
Dan akupun hanya bisa tersenyum melihat aktifitas di hadapanku tersebut.
🌷🌷🌷
🌻Happy Reading❤❤
__ADS_1