
Lanjuutt yaa👋☺..
●Jangan lupa like, komen, vote dan rate untuk karya Thor ini yaa, happy reading❤❤
🌷🌷🌷
Kami turun dari tangga saat ini, tampak mata merona Mayra seketika tertangkap mataku, ia pasti sudah sangat lapar, batinku.
"Bunda dan ayah sangat lama," celoteh Mayra saat aku telah duduk di hadapannya.
"Maaf Sayang ...." ujarku.
Segera kuambil sendok nasi dan bersiap menyiapkan nasi untuk Mayra dan mas Dimas tapi tiba-tiba mas Dimas merebut sendok tersebut dariku.
"Kali ini biar Mas yang melayani Lyra."
"Mass ... ini tugasku,"
Dan dalam sekejap nasi sudah tersaji di piringku dan Mayra, dan disana Mbak Friss terus memperhatikan perilaku mas Dimas, kualihkan wajahku ke Mas Dimas setelahnya, ia tampak tak menghiraukan mbak Friss, seakan tak menganggap keberadaan mbak Friss.
"Buka mulutmu Sayang, Mas ingin menyuapi bayi kita,"
"Apasih Mas?" kulirik mas Friss skilas yang tampak menunduk.
"Hayoo ... A, lebarkan mulutmu Sayang..!!!"
Ahh, mas Dimas ... Apa yang kau lakukan?? batinku.
Dan akhirnya kubuka mulutku setelah mas Dimas terus mengarahkan sendoknya kemulutku.
"Mayra juga mau suapin Adik bayi ... bunda A, buka mulut bunda yang besar, ayo Sayang..!!!" celoteh lucu Mayra mengikuti ucapan mas Dimas.
"Yasudah, sekarang Mayra A, bunda juga mau menyuapi putri cantik bunda, A ...." Mayra-pun membuka mulutnya dan makan dari sendokku.
Dan akhirnya jadilah acara makan malam ini, adegan saling suap-menyuapi antara kami bertiga. Dan mbak Friss mulai menampakkan kegelisahannya, berkali-kali iya menggerakkan jemarinya di atas meja tak menentu.
"Ayah tadi Mayra sudah jadi Kakak yang baik, Mayra menemani bunda ke ruangan dokter,"
"Oyaa, hebat putri Ayah."
"Tadi dokter tanyakan kenapa Dad tidak ikut,"
"Lalu?"
"Bunda jawab, Ayah sedang keluar kota."
"Dokter bilang apa lagi?" tanya mas Dimas sambil sesekali menatapku.
"Adik bayi semakin besar, satu adik bayi memiliki monas dan yang satu tidak ada monas," ucap Mayra ditanggapi kebingungan oleh mas Dimas.
"Apa maksudnya Sayang?" mas Dimas mengarahkan tanya kepadaku kini.
"Hanya sebuah prediksi Mas,"
"Maksudmu??"
"Dari tampilan layar, menurut dokter 1 bayi berjenis kelamin laki-laki dan yang satu berjenis kelamin perempuan," lirihku.
"Benarkah?? terima kasih Sayang," mas Dimas yang duduk di tempat paling depan dan aku disisi kirinya, seketika memajukan duduknya dan mengecup kepalaku.
"Mas ...." Kulirik kembali mbak Friss tak ingin mbak Friss menangkap kemesraan mas Dimas, dan ia sepertinya sudah melihat dan segera membuang wajahnya.
__ADS_1
"Ini baru prediksi Mas, sejatinya isi rahim adalah rahasia Alloh, dan ucapan terima kasih sebaiknya kau panjantkan pada-NYA, bukan padaku."
"Syukur Alhamdulillah Ya Robb, dan terima kasih pula padamu Sayang yang telah menjaga bayi kita di dalam rahimmu," ujar mas Dimas seketika.
Rupanya Lyra mengandung bayi kembar dan sepasang pula, dan mas Dimas terlihat bahagia sekali. Mengapa takdir selalu berbaik padanya, aku benci ... benci padanya, batin mbak Friss.
"Maaf, aku permisi. Makananku sudah habis," ujar mba Friss kearah kami.
"Mbak, lusa ada jadwal kau kemoterapi, kau tidak lupa kan?" ucapku.
"Aku ingat. Permisi ..!!!"
"Friss, aku ingin bicara denganmu !!!" mas Dimas tiba-tiba berujar.
"Kau ingin bicara padaku Mas? Tentu, tentu saja ... " merona tampak di wajah mbak Friss kini.
"Mas tinggal dulu ya Sayang."
Akupun mengangguk.
"Ikuti aku Friss,"
"Iya Mas," jawab mbak Friss.
Dan kulihat bayang keduanya menghilang masuk ke ruang baca saat ini.
•
•
"Apa motifmu masuk ke rumahku Friss?"
"Kau bisa mengelabuhi Lyra, tapi tidak denganku!! Kau menggunakan penyakitmu untuk bisa tinggal di tengah kami, apa yang sebenarnya kau rencanakan??"
"Rencana apa Mas? aku hanya butuh support saat ini. Dan aku masih memiliki Mayra putriku yang akan menjadi penyemangatku."
"Kau tidak malu mengatakan itu!!! setelah dulu kau meninggalkannya, kini kau menyebut ia putrimu??"
"Aku yang melahirkannya Mas, aku tetap ibunya. Apapun yang kulakukan dulu, semua tak akan mengubah Mayra sebagai darah dagingku."
"STOP Friss!!! Aku bukan ingin mendengar celotehmu saat ini. Aku mengajakmu bicara untuk mengingatkanmu, Jangan pernah kau menyakiti Lyra, Mayra juga kedua bayiku. Jika kutau kau sampai melakukan hal bodoh di rumahku, tak segan-segan aku akan melemparmu dari rumahku!!!"
"Kau mengancamku Mas??"
"Iya, aku mengancammu. Kau ada disini karna kemurahan istriku. Jadi jaga sikapmu padanya!!! Dan satu lagi!! Kau bisa lakukan apapun semaumu di bawah, tapi jangan sekali-kali kau injakkan kakimu ke lantai 2 rumahku. CAMKAN ITU!!!
Seketika mas dimas meninggalkan Mbak Friss dengan keterpakuannya.
●●●●
🌻PUKUL 04:00
Alarm tubuhku seperti biasa membuatku terbangun di jam ini. Akupun segera membangunkan mas Dimas untuk melakukan ibadah malam kami, bersujud dan merayu pada sang pencipta.
Dilanjut olehku yang melakukan ibadah subuh di rumah sedang mas Dimas melakukan ibadah subuhnya di masjid.
Kulantunkan beberapa ayat dalam kitab suciku hingga akhirnya kudengar gerbang terbuka menandakan mas Dimas telah kembali dari ibadahnya. Dan tak lama ia telah duduk bersandar di ranjang dengan ponsel menyertainya.
"Kemarilah Sayang," panggil mas Dimas setelah dilihatnya aku telah meletakkan mukena dan Al-Qur'anku ke dalam rak disudut.
Akupun duduk disisi mas Dimasku dan ia seketika menarik kepalaku kebahunya,
__ADS_1
"Apa rencanamu hari ini Sayang?"
"Seperti biasa aku mengantar Mayra ke sekolah Mas,"
"Langsung pulang setelahnya dan jangan mampir-mampir ya..!!!"
"Iya, kau bawa mobil saja Mas, aku biar diantar mang Diman maik motor."
"Jangan, biar Mas yang bawa motor. Mana bisa Mas membiarkanmu dan ketiga anak kita kepanasan dijalan."
"Sepertinya kita butuh 1 mobil lagi Mas, aku tak tega membayangkanmu selalu berpeluh melawan terik. Matic bisa kita gunakan untuk ke area dekat saja."
"Mas juga sudah memikirkan hal yang sama."
"Sayang ...." tiba-tiba Mas Dimas melingkarkan tubuhku dengan lengannya dari belakang dan mengelus perutku kemudian.
"Mass, apa yang kau lakukan? geli ihh,"
"Sedang memeluk 3 orang yang Mas sayang."
bisik mas Dimas ditelingaku yang membuat sinyal tubuhku tak menentu.
Mas Dimas menyibakkan rambutku kedepan dan terus memburu leher jenjangku.
Mass, aku harus membuat sarapan," lirihku.
"Ini masih gelap. Masih ada waktu bukan."
Dan sinyal tubuhku semakin membuatku lemas menerima kecupan dan sentuhan tangan mas Dimas yang mulai menjelajahi tubuhku.
"Mas ingin melakukannya?"
Kurasakan anggukan kepalanya dibahuku.
"Baiklah," jawabku.
"Kita berdo'a ....
Dan terjadilah olahraga pagi kami di ranjang akhirnya.
•
•
•
"Terima kasih, Mas sangat sayang Lyra," bisik mas Dimas setelah penyatuan kami berakhir. Akupun seperti biasa mengangguk atas pernyataannya.
Setelah beberapa saat berjeda ...
"Mas ingin memandikan baby twins Mas, boleh??"
"Yakin hanya mandi??"
"Tidak."
"Hahh nakal. Baiklah ...."
🌷🌷🌷
🌻Happy reading❤❤
__ADS_1