
●Tolong tenang ya readersku, thor sudah punya akhir sendiri untuk Friss.
●Lyra sampai akhir bulan ini saja kok.
Lanjuutt yaa👋☺..
🌷🌷🌷
"Lyra, Dimas, ikut ibu ke ruang tamu..!!!"
●●●
Rona bahagia yang beberapa saat lalu tampak, seakan tiba-tiba sirna. Itulah yang kami tangkap dari wajah ibu.
Tampak ibu menatap kami satu persatu baru setelahnya ia berujar,
"Ada apa ini? Apa ada hal yang kalian sembunyikan? Mengapa Frista bisa datang bersama kalian?"
"Ia sedang butuh support kami Bu," ujar Mas Dimas menutupi bahwa akulah yang mengajak mbak Friss kerumah.
"Lyra yang membawa mbak Friss Bu," lirihku tak ingin mas Dimas menutupi yang terjadi.
"Apa maksud kalian?Jelaskan pada Ibu, Dimas bicaralah..!!!"
"Kami tak tega melihat kondisi Frista Bu. Ia ingin mengakhiri hidupnya jadi kami membawanya kerumah agar dengan melihat Mayra akan muncul kembali semangat hidup Friss," ujar mas Dimas.
"Mass ...."
Dan mas Dimas menggelengkan kepala kearahku. Sebuah isyarat yang memintaku diam.
"Apa ini Dimas? Ibu memang memintamu ber-empati pada Frista tapi bukan dengan membawanya ke rumah kalian. Ini tindakan bodoh Nak, terlebih Lyra sedang mengandung. Apa kau tidak bisa menjaga perasaan istrimu??"
Mas Dimas dimarahi gara-gara aku, ini tidak benar.
"Lyra yang bodoh Bu, Lyra yang membawa mbak Friss ke rumah," ujarku berusaha jujur pada ibu. Dan mas Dimas terus menatapku saat ini.
"Kau tidak harus membela suamimu Sayang," ibu masih bersikeras dengan pemikirannya.
"Lyra tidak membela mas Dimas, tapi memang itu yang terjadi. Lyra yang membawa mbak Friss ke rumah tanpa meminta izin mas Dimas Bu," lirihku.
"Kau yang membawa Friss? Apa yang membuatmu melakukannya Sayang?" ujar ibu menatapku penuh tanya.
"Lyra tak ada pilihan saat itu Bu, kami tak sengaja bertemu di Rumah Sakit saat Lyra kontrol kandungan, dan saat itu mbak Friss mencoba mengakhiri hidupnya, Lyra tidak tega dan mbak Friss meminta tinggal di rumah untuk bisa dekat dengan Mayra sebagai syarat untuk menghentikan aksinya saat itu," ujarku.
"Kenapa kau begitu baik Nak," ujar ibu sambil menyapu bahuku.
"Itupun yang Dimas katakan pada Lyra, kau terlalu baik Sayang. Tidak bisa membedakan mana teman dan musuh."
Dan aku hanya menunduk menanggapi ucapan mas dimas. Apa mbak Friss benar-benar seorang musuh, batinku.
"Sudah-sudah, karena ini sudah terjadi jangan dibahas siapa yang bersalah. Tapi bagaimana kalian harus saling menjaga agar Friss tidak bisa merusak rumah tangga kalian."
"Iya Bu," lirih mas Dimas sedangkan aku menangapi ucapan ibu dengan anggukanku.
"Ibu ada solusi," ujar ibu tiba-tiba.
"Apa itu Bu?"
"Friss butuh dukungan atas penyakitnya bukan, jika kalian balik ke Bandung nanti, Friss biar menetap bersama kami di Cikarang. Kami akan mensupport Friss sampai ia sembuh."
__ADS_1
"Sungguh Bu?" ujar mas Dimas.
"Iya kenapa tidak, ia juga anak dari rekan ayah dan ibu. Ibu akan anggap ia anak selama ia tidak mengganggu kalian. Kalian hidup baik-baiklah di Bandung."
"Terima kasih Bu," ujar mas Dimas meraih dan mencium tangan ibu.
"Tapi Lyra rasa mbak Friss tidak seburuk itu Bu ...."
"Sayang ...." lirih mas Dimas.
"Lyra, bagaimanapun seorang wanita dewasa tinggal 1 atap dalam sebuah keluarga itu tidak baik Nak, dengarkan ibu dan Dimas ya..!!"
Dan akupun mengangguk.
"Sudah kalian istirahatlah..!!!"
●●●●
19:30 saat ini, saatnya seluruh anggota keluarga berkumpul untuk memberi hak perut mereka. Ya, kami telah berkumpul di ruang makan saat ini, berbagai hidangan tampak lengkap disajikan di meja untuk menyambut kedatangan putra tercinta beserta keluarganya.
Berbeda dengan di rumah kami yang sesekali saling bersautan menjadikan ruang makan sebagai tempat berbincang. Tidak dengan suasana di keluarga mas Dimas. Dirumah ini, hanya suara sendok dan garpu yang bersapa dengan piring yang terdengar saat jam makan berlangsung.
Setiap diri hening dan fokus pada makanan di hadapan masing-masing, hingga makanan di piring kami telah habis. Ayah akan mengajak kami berbincang di ruang keluarga.
•
•
Dan kami di ruang kekuarga saat ini ...
"Bagaimana usahamu Dimas, apa semua lancar?" ujar ayah memulai pembicaraan sambil menyeruput teh hangat di tangannya.
"Usaha Ayah sendiri bagaimana?"
"Alhamdulillah hampir semua restoran berjalan stabil, ada 1 yang kurang berkembang sedang ayah cari masalahnya, semoga masih bisa ditanggulangi dan berjalan efektif," ujar Ayah yang masih tampak semangat di usianya. Walau beberapa kali kadar gula dan kolesterolnya tinggi, ibu dengan sigap mencari ramuan herbal dan menjaga pola makan ayah untuk mengobatinya.
"Alhamdulillah,
"Ayah dengar dari ibu, calon cucu ayah kembar, benarkah?"
"In Syaa Alloh Yah, mohon do'a agar Lyra di beri kesehatan selalu hingga lancar sampai persalinan kelak."
"Itu tidak perlu diminta Nak, ayah dan ibu pasti mendo'akan Lyra dan seluruh keluargamu tanpa kalian minta," ujar ibu tiba-tiba yang baru saja masuk ke ruang keluarga dengan menggandeng Mayra di tangannya.
"Kaki Mayra pegal? sini julurkan kaki Mayra, biar Uti pijat." Mayra yang sedang bermain boneka di tangannya tampak menurut dan menjulurkan kakinya ke sofa, ia tampak menikmati sentuhan dari sang nenek.
"Kau tau Yah, cucu kita nanti In sya Alloh sepasang lho, laki-laki dan perempuan. Ibu sangat tidak sabar Yah, membayangkan lucunya kedua cucu kita nanti," ucap antusias ibu.
"Ayah sih mau sepasang, laki-laki semua atau perempuan semua itu tidak masalah. Yang penting cucu-cucu Ayah sehat dan sempurna."
"Aamiin," jawab kami bersamaan setelah mendengar ujaran ayah.
Tiba-tiba ibu yang sedang menyeruput teh hangat di tangannya menangkap kehadiran Frista yang sedang berdiri di sudut.
"Friss, kenapa berdiri saja disana, kemarilah Nak..!!!" panggil ibu kearah Friss saat ini.
Dan Mbak Friss-pun seketika berjalan menghampiri kami di ruang keluarga, ia duduk disisi ibu saat ini.
"Bagaimana kondisimu pasca kemoterapi yang telah kau lakukan Friss?" tanya ayah yang di jawab kepanikan oleh Friss.
__ADS_1
"Kau kenapa Friss, apa kau sakit?" ibu tampak heran melihat rona Friss yang berubah.
"Aku izin ke kamar Bu, dadaku sangat nyeri saat ini," lirihnya.
"Kau bawa obatmu Nak?" tanya ibu.
Mbak Friss tampak mengangguk. Dan segera berlalu ke kamarnya.
"Setelah lulus SMA rencana melanjutkan kemana Dek?" tanya Dimas pada Shifaa yang sejak tadi sibuk mengerjakan tugasnya yang menumpuk di atas meja.
"Gak tau Mas, langsung kerja aja ahh. Pusing belajar terus," jawab spontannya.
"Emang ada gambaran mau kerja dimana?"
"Di Toko roti Mas," jawabnya sambil melempar senyum kearah masnya tersebut.
"Dasar, kamu kerja di toko roti Masmu yang ada bukan kerja tapi makan terus," sanggah ibu yang sudah hapal anaknya sangat suka tiramisu cake di toko Masnya tersebut.
"Ihh ibu tau aja, itu dia maksud Shifaa," ujar Shifa sambil terus tersenyum.
"Kalau mau tiramisu tinggal minta aja Dek ke toko yang di Jababeka," ujar Dimas setelahnya.
"Yang bener Mas, besok Shifaa kesana ahh,"
Ibu yang mendengar penuturan putrinya terlihat menggeleng-geleng. Anak yang satu ini, kalau disuruh melanjutkan kuliah susah, maunya kerja. Shifaa, shifaa ... batin ibu.
"Sudah malam, ajak anak dan istrimu ke kamar Dim?" tutur Ayah yang segera diiyakan oleh mas Dimas.
"Oya, besok kita belanja ke Mall yuk Ly," sela ibu tiba-tiba.
"Mayra juga ikut ya Utii,"
"Pasti dong Sayang ... "
"Ayo Bu, boleh kan Mas??" tanyaku meminta persetujuan mas Dimas yang selama di bandung tak pernah membiarkanku ke Mall sendiri tanpa didampingi olehnya.
"Iya boleh. tapi jangan terlalu lama yaa,"
"Kalau itu sih ibu gak janji Dim, namanya juga perempuan," ibu menimpali lagi dan mas Dimas hanya menggeleng-geleng.
"Ya sudah, nanti kabari saja kalau mau pulang biar Dimas jemput di Mall," ujar Dimas lagi.
"Hmm, okelah," ucap ibu.
"Sudah, kami ke kamar dulu ya Bu, Yah,"
"Iya, selamat tidur cucu-cucu Uti," ibu mengelus perutku tatkala melewatinya.
"Mayra bobo dulu ya Uti," celoteh Mayra sambil menciumi wajah ibu, kemudian ayah juga pada Shifaa.
"Mayra bobo sama Anty Shifaa aja yuk.!! Anty punya banyak boneka lho. Nanti Mayra boleh pilih dan bawa ke Bandung deh," rayu Shifaa yang selalu gemas pada ponakan kecilnya tersebut.
"Bund, Mayra boleh bobo sama Anty?"
"Boleh," ujarku dan langsung di tanggapi keceriaan oleh Mayra.
Beberapa saat kemudian, suasana ruang keluarga tampak hening karena penghuni rumah telah masuk ke kamar mereka masing-masing.
🌷🌷🌷
__ADS_1
🌻Happy reading❤❤