Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah

Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah
Dan Akhirnya ...


__ADS_3

โ—Lanjuutt yaa๐Ÿ‘‹โ˜บ..


โ—Jangan lupa like, komen, vote dan rate untuk karya Thor ini yaa, happy readingโคโค


๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท


๐ŸŒปSinar purnama yang kuning keemasan menyentuh permukaan malam yang semakin dingin.


Pijar benderang masih menyala di kamar putri kecilku, matanya yang bulat masih sangat kuat terjaga, dibaliknya kembali buku cerita bergambar dalam rengkuhan jemarinya, entah sudah berapa kali kuperhatikan ia membalik di tempat sama, gambar-gambar lucu yang tertangkap matanya masih belum membuatnya mengantuk.


Terdengar bunyi knop pintu yang terputar, dan tak lama terbukalah pintu kamar Mayra putriku. Tampaklah sosok tampan berdiri menatapku disana, ia perlahan mulai berjalan menghampiri dan di dudukanlah tubuh tegapnya disisiku, tepat di sisi ranjang kini.


Tangannya terlihat mulai membelai rambut ikal sang putri yang duduk di hadapannya, dan disapalah putri cantiknya tersebut, "Mayra belum mengantuk Sayang?"


"Belum mengantuk Ayah, Mayla mau baca buku celita dulu," celoteh lucu sang putri lagi-lagi membuatnya tak tahan untuk menciumi wajah mungil putrinya tersebut.


"Kau sholat dulu Sayang, biar aku yang menemani Mayra," ujar Mas Dimas padaku kini.


"Bunda tinggal dulu ya Nak," lirihku sambil kukecup kening putriku sebelum akhirnya kutinggalkan ia bersama mas Dimasku.


Beberapa saat berlalu, kutengok wajahku kearah kanan seiring lantunan salam kuucapkan, dan kutengok pula wajahku ke kiri setelahnya. Lantunan do'a mulai kupanjatkan pada Robbku Sang Maha Besar, do'a untuk kedua orang tuaku, do'a kebaikan dunia dan akhirat, do'a mohon kesehatan, kemudahan serta keberkahan atas setiap yang kami sekeluarga lakukan. Terakhir ku memohon agar dijadikan anakku, anak yang sholeh yang memberi ketenangan saat kami memandang, juga do'a untuk kami sebagai orang tua agar mampu menjadi pemimpin untuk anak-anak kami ...


ุฑูŽุจู‘ูŽู†ูŽุง ู‡ูŽุจู’ ู„ูŽู†ูŽุง ู…ูู†ู’ ุฃูŽุฒู’ูˆูŽูฐุฌูู†ูŽุง ูˆูŽุฐูุฑู‘ููŠู‘ูŽูฐุชูู†ูŽุง ู‚ูุฑู‘ูŽุฉูŽ ุฃูŽุนู’ูŠูู†ู ูˆูŽูฑุฌู’ุนูŽู„ู’ู†ูŽุง ู„ูู„ู’ู…ูุชู‘ูŽู‚ููŠู†ูŽ


ุฅูู…ูŽุงู…ู‹ุง


"Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.


( surat-al-furqan-ayat-74 )


Kuberanjak ke kamar putriku kembali setelahnya. Mas Dimas tampak menepuk-nepuk bahu sang putri yang sudah memeluk gulingnya, kudekati dan ternyata, mata bening sang putri masih tatap terjaga.


"Coba aku tidurkan Mayra Mas, kau keluarlah," ujarku. Dan segera di balas anggukan oleh mas Dimas saat ini.


Akupun tidur merebahkan diri disisi Mayraku, kupeluk sambil kubelai-belai kepalanya. Tak menunggu lama Mayraku beserta aku sendiri terlelap kini tersapu dinginnya malam yang dengan leluasa membasuh raga.


๐ŸŒปPOV DIMAS


Pukul 20:30 saat ini.


Sudah cukup malam sepertinya..


Dan desir anginpun telah membuat malam terasa semakin dingin, namun Lyra dan Mayraku masih asik di lantai atas rumah rumah Fahmi, sahabatku. Aku segera menyampaikan pada Fahmi, untuk membantuku memanggilkan dua wanita kesayanganku untuk keluar, sudah waktunya kami pulang, ujarku.


Lantas Fahmi malah mengajakku masuk dan menggiringku ke lantai atas rumahnya untuk melihat langsung kedua wanitaku disana. Kami berjalan perlahan nyaris tanpa suara. Dan benar wanita kecilku masih sibuk dengan puzzle di tangannya, sedangkan bundanya masih sangat asik berbincang dengan sang Sahabat, bahkan ia tak menyadari kemunculan kami.


Dan aku mendengarnya, setiap yang terucap dari bibir mungil Lyra-ku aku sungguh terkesima. Ia menuturkan tentang rasa cintanya pada putri kecilku yang sudah seperti anak kandungnya, dan kata yang terakhir ia bahkan berucap tidak akan membedakan Mayra dengan anak yang kelak hadir dari rahimnya sendiri.


Wanita ini,


Bidadari mana ini??


Setelah drama tanpa ibu yang di pertontonkan Mayra beberapa waktu lalu, dan kini Alloh mengembalikan bidadariku yang sempat hilang dari kehidupanku kembali ke sisiku.


Lyra-ku ...


Sosok yang selalu bisa mencuri hatiku, tatapanku, gerakku teralihkan hanya kepadanya disetiap pertemuan kami.


Dan kini, Lyraku bahkan mampu mencuri hati Mayraku. Malam ini aku mendengar kata indah yang langsung kutangkap dari sang pemiliknya. Pernyataan tulus sang bunda untuk putri yang bahkan belum lama masuk dalam hidupnya.


Akupun berbinar, setelah mengajak Lyraku pulang, kamipun akhirnya pamit untuk kembali ke istana kecil kami. Tak sabar rasanya memberi hadiah atas ketulusan wanitaku.


Purnama hadir sangat menggoda ...

__ADS_1


Namun kecantikannya tak bernilai kini saat wajah cantik istriku serta mata beningnya berada di sekitarmu. Kecantikan wanitaku lebih terpancar dari pesonamu, Sang Purnama ...


Tak ingin sedikitpun aku melepas tatapannya kini, di bawah pancaran sang rembulan, otakku terus mengingat setiap kata yang dilantunkan wanitaku..


Genggaman tanganku semakin erat kuberikan saat angin terus membelaiku hingga terasa menusuk kulitku, kukecup berkali tangan wanitaku. Sebagai pengambaran betapa aku bahagia memilikinya, dan kini aku tambah memujamu saat kau ternyata bersaksi akan menjadi lentera dan sumber kehidupan putri kecilku.


Sampai dirumah, Lyraku segera menggiring putri cantik kami untuk ke kamarnya. akupun segera menjalankan ibadah isyaku.


Dimana Lyraku??


Aku menunggunya di kamar kami, tapi ia tak jua datang ... kuhampiri kamar putri kami, dan benar manik mata bulatnya masih terjaga. Kupinta kemudian Lyraku untuk menjalankan ibadahnya. Hingga tak lama Lyra datang kembali dan mata bening putriku masih belum menandakan kantuk. Ada apa ini? Apakah kau tak ingin bundamu bermanja-manja dengan ayahmu Sayang, batinku.


Kini kembali Lyraku yang menidurkan putri kecilku, setengah jam berlalu, Lyraku masih belum keluar dari kamar Mayraku. Akhirnya kuputuskan untuk melihatnya, Mayraku tampak telah tertidur. Dan aku terkejut ternyata Lyraku juga tengah tertidur disisi putriku.


"Sayang ... Lyra ...," kupanggil berkali-kali istri cantikku.


Apa kau begitu letih Sayang, haruskah kulewatkan malam ini lagi, gejolak dalam batinku.


coba sekali lagi,


Seperti biasa kukecup wajah yang selalu menghipnotisku, "Sayangg ...," bisikku.


Beberapa lama aku mengganggunya, wajahnya-pun sudah habis ku jajaki namun ia masih tak bergeming ...


Hahh ... gagal-lah sudah malam ini, Putri tidurku sudah sangat letih sepertinya. Aku akan sangat egois jika bersikeras membangunkannya ...


Dengan gontai aku mulai berbalik hendak meninggalkan kamar putriku, hingga tiba-tiba ...


Sebuah tangan menahan lenganku ...


Akupun menoleh,


"Kau tidak akan membawaku ke kamar juga kah Mas?" lirih tampak senyum menggoda menghiasi wajah Lyraku.


Belum lagi ku bertanya sebuah telunjuk menempel dibibir Lyraku, akupun langsung memahaminya. Ia tak ingin aku bersuara yang akan membangunkan putri kami.


Segera kubopong tubuh Lyra-ku, tampak ia menahan dan memaksa untuk turun, tapi aku tak membiarkannya, dengan pasrah akhirnya iapun menurut, ia tampak malu melingkarkan tangannya ke leherku.


Sampailah kami saat ini di kamar, perlahan kuturunkan tubuh tinggi nan ramping dalam dekapanku ke atas ranjang.


"Kau nakal sekali Sayang, darimana kau belajar berpura-pura tidur seperti tadi?"


Tangan Lyra mulai menjajahi wajahku, "Kau lupa, beberapa tahun silam ada seseorang yang berpura tertidur untuk bertemu denganku, aku belajar dari orang tersebut," lirih Lyra meledek prilakuku dahulu.


"Nakal," Kutarik lembut hidung mungilnya.


"Ahh, sakit Mas. Tapi aku jadi tau satu hal," ujar lyraku.


"Apa?"


"Kau sangat suka menjelajahi wajahku diam-diam," ucap Lyraku malu.


"Aku hanya menjelajahi milikku," bisik mas Dimas kembali bibirnya nakal mengabsen wajahku, membuatku mengeliat kegelian.


"Geli Mas ...."


"Bukankah kau tadi bisa menahannya?"


"Tadi aku bersikeras menahannya Mass ...."


"Ahh ... sudah Mas."


Tak menunggu lama dan meminta izin seperti sebelumnya, aku seketika meraup bibir tipis istriku hingga kemudian kulepas bibirnya saat kurasakan nafas istriku mulai tak beraturan.

__ADS_1


Leher putih istriku menjadi perhatianku saat ini, dan akupun mulai tergerak menjelajahinya. Kubuat tanda di leher jenjang Lyraku.


Kupeluk tubuh Lyraku, kucium kembali bibir mungilnya ...


Tanganku mulai nakal, kubuka resleting bagian depan pakaiannya.


"Mass ...," lirih Lyraku memanggilku.


"Tubuhmu milik Mas bukan?"


Lyraku mengangguk, "Tapi aku malu Mass," lirihnya.


Jangan malu Sayang, "semua pasangan melakukannya, boleh?" tanyaku.


Lyraku kembali mengangguk perlahan.


"Matikan lampunya Mass, aku malu."


Akupun segera mematikan lampu utama hingga tersisa lampu meja yg meredup.


"Mass ... "


"Hmm ... "


"Jangan lupa berdo'a,"


Kukecup kening Lyraku, hampir saja aku melupakannya ...


ุจูุณู’ู…ู ุงู„ู„ู‡ู ุงูŽู„ู„ู‘ู‡ูู…ู‘ูŽ ุฌูŽู†ู‘ูุจู’ู†ูŽุง ุงู„ุดู‘ูŽูŠู’ุทูŽุงู†ูŽ ูˆูŽุฌูŽู†ู‘ูุจู ุงู„ุดู‘ูŽูŠู’ุทูŽุงู†ูŽ ู…ูŽุง ุฑูŽุฒูŽู‚ู’ุชูŽู†ูŽุง


Artinya: Dengan menyebut nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkanlah setan dari rezeki yang Engkau anugerahkan kepada kami.


Aku kembali menyusuri tubuh istriku ...


Dan terakhir kamipun akhirnya melakukan penyatuan kami, hingga benihku tersiram kedalam rahim Lyraku, istri sahku ...


Kembali aku melafadzkan do'a,


ุงูŽู„ู„ู‘ู‡ูู€ู€ู€ู…ู‘ูŽ ุงุฌู’ุนูŽู€ู€ู„ู’ ู†ูุทู’ููŽุชูŽู€ู€ู†ูŽุง ุฐูุฑู‘ ููŠู‘ูŽุฉู‹ ุทูŽูŠูู‘ู€ู€ุจูŽุฉ


Artinya: Ya Allah jadikanlah nutfah kami ini menjadi keturunan yang baik (saleh).


Aku kembali mencium bibir istriku dan mengecup keningnya, kubisikkan rasa terima kasihku padanya, ia terlihat sangat letih. Pasti perih di bawah sana saat ini ia rasakan ... aku memeluk tubuh istriku sambil terus kubisikkan kata cintaku. "Mas Sayang Lyra, sangat Sayang ...," segera kujatuhkan tubuhku disisinya saat kurasakan Lyraku mengangguk memahami ungkapan rasaku.


Akupun kembali berdo'a setelah penyatuan kami selesai kami lakukan.


ุงูŽู„ู’ุญูŽู…ู’ุฏู ูู„ู„ู‡ู ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู’ ุฎูŽู„ูŽู‚ูŽ ู…ูู†ูŽ ุงู„ู…ู’ู€ูŽู€ู€ุงุกู ุจูŽุดูŽู€ู€ู€ุฑู‹ุง


Artinya : Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan air mani ini menjadi manusia (keturunan).


Kupeluk tubuh Lyraku. Kutatap manik matanya sudah mulai terpejam...


Ahhh, putri tidurku ...


kusandarkan kepalanya ke dadaku. Kehangatan ini, keharumanmu, seluruh inci tubuhmu telah menjadi milik Mas. Cinta pertama yang akhirnya kumiliki setelah berbagai hal terjadi.


Lyra-ku ...


Terima Kasih Sayang ...


๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท


๐ŸŒปHappy readingโคโค

__ADS_1


__ADS_2