Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah

Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah
Sosok Bumi


__ADS_3

●Terima kasih kepada para readers yang masih setia menanti kelanjutan kisah cinta Lyra❤❤


●Menuju ending😊


●Lanjuutt yaa👋☺


🌷🌷🌷


🌻Pukul 09:30


Terios mas Dimas seketika masuk ke sebuah gerbang yang terbuka dan menepi di bawah pohon nan rindang dengan daun-daun kering yang berguguran dan tak tersapu.


Rumah sederhana bercat putih dan bergenteng tanah liat coklat di hadapanku saat ini. Terdapat papan besar dengan yang cat mulai mengelupas dan besi topangan yang mulai berkarat. Tertulis disana "Panti Asuhan CAHAYA MEDINA."


Di lapangan tepatnya di depan rumah tampak 3 orang anak berusia 10 tahun sedang bermain bola, dan di teras 2 orang anak berusia 8 tahun tampak sedang memotong dedaunan dan bermain masak-masakan. Terdengar pula suara riuh bayi yang menangis saling bersahutan dari arah dalam.


"Masss," lirihku pada suamiku kini dengan Dirga dalam gendonganku.


Mas Dimas yang melihat kehawatiranku seketika merangkul bahuku dan memberi beberapa kali sapuan disana, ia terlihat mengangguk dan terus menatapku.


"Ini benar tem-pat a-nakku beradakah, Mas?" ujarku terbata.


"Kau lihat papan yang tertera disana, nama yang sama dengan yang disebutkan Alharhumah Frista, bukan? Dan posisi kecelakaan yang dialami almarhumah juga berkaitan dengan jalur ini. Lihat 50 meter disana ada jalan bercabang, ke kiri arah kota dengan jalan beraspal dan ke kanan perkampungan warga dengan jalan setapak, sudah jelas terpampang disana "Jalanan setapak dan berliku, pengendara mobil dilarang melalui jalur ini," tapi mereka memaksa melewati jalan itu."


"Masss, panti ini ter-lihat tidak ter-urus, aku hawatir dengan kondisi Di-yara di tempat ini." lirihku.


"Jangan berfikir macam-macam, kau lihat anak yg bermain disana, mereka tampak sehat, pasti pengurus disini memberi hak mereka dengan baik. Ayo sekarang kita masuk dan menjemput putri kita."


Akupun mengangguk.


setelah 4 meter berjalan, kami dimuka rumah saat ini. Seorang anak perempuan 8 tahun yang sedang bermain masakan seketika menghampiri kami dan berbicara dengan sangat sopan.


"Bapak Ibu mau cari siapa?" celoteh polos gadis dengan usia yang sepertinya tak jauh dari Mayra putriku tersebut.


"Ibu Panti adakah, Sayang?" ujar mas Dimas dengan tangan mengusap kepala sang gadis.


"Ibu Niken ya Pak? Sebentar aku panggilkan dulu yaa, Bapak dan ibu silahkan duduk di kursi itu," ucap sang gadis kecil dengan sangat sopan kearah kami.


Dan kami duduk di kursi kayu dengan meja bundar dihadapan kami saat ini. Tak berselang lama, anak yang sebelumnya memanggil ibu panti sudah kembali. Ia pun memainkan masakan kembali setelahnya.


Dan dari balik pintu tampak seorang wanita berhijab berusia paruh baya sekitar 50 tahunan mungkin, tubuhnya tinggi dan tidak terlalu gemuk. Ia seketika tersenyum ramah kearah kami, walau gurat letih dan sayu yang seakan menyimpan banyak beban terlihat jelas dimatanya.


"Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu, kah?" ujarnya dengan sangat sopan menyambut kami.


"Selamat pagi Bu, perkenalkan sebelumnya nama saya Dimas, dan ini istri saya Lyra."


"Salam kenal Pak Dimas dan Bu Lyra, saya Niken pengasuh panti asuhan ini. Adakah hal yang yang membawa Bapak Ibu untuk bertandang ke tempat saya?" ucap Bu Niken seraya terus menatap kami.


"Begini Bu, kami sebetulnya belum lama kehilangan bayi kami, bayi kami diculik, sementara yang menculik kecelakaan dan meninggal."


"Saya turut prihatin Pak," iba bu Niken.

__ADS_1


"Namun sebelum meninggal, sang penculik mengatakan telah meletakkan bayi kami di panti ini."


"Ahh, benarkah seperti itu Pak. Tapi tidak ada orang yang datang menyerahkan bayi beberapa hari ini. Apa informasi itu bisa dipercaya?"


"Kejadian penculikan bayi sekitar 8 hari yang lalu Bu, bayi kami perempuan berusia 10 bulan dan memiliki bekas ja-hitan di dadanya," ucap mas Dimas.


"Ohhh," seketika bu Niken membelalakkan matanya dan menutup mulut dengan kedua tangan tampak terkejut.


"Ada apa Bu, a-dakah bayi seperti itu di-sini?" lirihku.


"Bayi perempuan dengan jahitan ...." Bu Niken tampak seperti mengingat sesuatu lantas ia bercerita.


".... Siang itu sekitar pukul setengah 12 siang. Kami semua sedang berkumpul di dalam rumah hingga sebuah tangisan terus terdengar dari arah luar, kamipun berinisiatif melihatnya. Dengan bertopang di pagar, seorang bayi perempuan tampak menangis tersedu di tengah terik. Sungguh tega orang tua yang telah meletakkan begitu saja bayi sekecil itu, fikir kami, kamipun membawanya ke rumah ini," terang bu Niken.


"Iya, bayi kami memang sedang belajar berdiri. Ini ... ini kembaran bayi kami, ia sebesar dan setinggi ini. Ma-sss, itu pasti Diyara Mass ... Bu, jadi bayi kami ibu bawa ke rumah ini betul?" isakku.


"Tenang Sayang," ujar mas Dimas.


"Ibu memanggil bayi itu siapa tadi?" ujar bu Niken


"Diyara, Diyara nama putri kami Buu," isakku kembali.


"Diyara, benar nama itu tersulam di pakaiannya," ucap bu Niken seraya menatap Dirga dengan seksama.


"Ohhh, benar mass. Aku menjahit sendiri nama putra-putriku di pakaiannya. Lihat ini Bu, ada nama pula di pakaian putraku, putraku ini bernama Dirga, seperti ini kan Bu jahitan itu?" antusiasku saat ini.


"Benar Buu," bu Niken menjawab tapi ia menundukkan dalam wajahnya.


"Ia memang pernah disini, bahkan saya yang memandikan dan memang ada bekas ja-hitan di dadanya. Malam itu bayi itu demam dan terus menangis, kami membawanya ke klinik ....


"Diyaraku sakit?? Dan bagaimana keadaannya sekarang Bu?" sela-ku atas penuturan bu Niken.


.... Setelah diberi obat, beberapa hari kemudian bayi itu sembuh dan kembali ceria dan bermain."


"Ahhh, syukurlahh. Bisa kami bertemu dengan bayi kami Buu?" pinta mas dimas.


"Tapi maaf ... bayi itu tidak disini lagi sekarang, maafkan saya ...," tampak jelas raut sedih dan penyesalan di wajah bu Niken saat ini.


"Tidak disini, maksudnya? Katakan dimana bayi saya jika tidak disini Buu?" isakku bingung dan panik.


"Seseorang mengasuh bayi itu."


"Hahhh, Diyara ...," lirihku.


"Siapa yang mengasuh bayi kami Bu, tentu ada dokumennya bukan? Siapa namanya? Dimana ia tinggal?" gusar mas Dimas.


"Pria itu membawa KTP, Surat pengantar dari RT, juga Surat Kelakuan Baik dari Polsek."


"Masss ... Diyara bersama siapa?"


"Tenang dulu Sayang, bisa kami lihat datanya Bu!" tegas mas Dimas.

__ADS_1


"Baik, tunggu sebentar."


Beberapa saat kemudian bu Niken kembali dengan sebuah Map berisi data pria yang membawa Diyara.


Kutatap surat pernyataan permohonan asuh di hadapanku, "19 tahun dan ia bahkan belum menikah? Bagaimana ini bisa Bu, kenapa ibu berani menyerahkan putri kami pada pria yang bahkan masih labil jiwanya, jawab bu!!"


"Walau masih muda pemuda itu donasi tetap disini. 3 hari yang lalu itu ia datang seperti biasa menyerahkan donasi dari hasil kerja paruh waktu menurutnya, hingga ia melihat bayi kecil kalian sedang merangkak dengan penuh semangat, putri kalian menghampiri pemuda itu dan berdiri pada lutut sang pemuda. Entah ikatan apa, putri kalian terlihat sangat nyaman dan terus meraih lengan pemuda itu. Pemuda itupun menggendong putri kalian, ia terlihat sangat menyukai putri kalian dan terus menciumnya. Interaksi yang sangat dekat. Sepertinya putri kalian merindukan ayahnya."


Dan kami terisak bersama saat ini.


.... Berhubung di panti kami memang kekurangan donatur, jadi kami jujur agak kesulitan membesarkan bayi dan anak yang dititipkan disini. Terlebih bayi membutuhkan asupan susu dan nutrisi lebih, bahkan kalian lihat anak-anak disana, usia mereka harusnya sudah masuk sekolah tapi kami menahannya dan hanya mengajarkan mereka di rumah, sebab dana yang ada hanya diputar untuk sehari-hari dan biaya sekolah anak yang sudah dijenjang SMA yang kami lebih prioritaskan. Dan pemuda itu melontarkan ingin mengasuh bayi kalian. Karena ia terlihat pemuda yang bertanggung jawab, dengan dokumen seadanya. Saya mengizinkan pemuda itu membawa putri kalian, dengan harapan bayi tersebut akan mendapat penghidupan yang lebih baik daripada disini. Maaffff ...."


Dan bu Niken tersedu kini karena merasa kalah dengan kehidupan dan merasa gagal mengasuh anak-anak yang ada disini. Iapun menyesal menyerahkan Diyara pada pemuda dengan kelengkapan dokumen seadanya tersebut.


"Bisa kami bawa dokumen ini Bu! Kami akan mencari putri kami. Jujur kami sangat kecewa dengan pola fikir mengembangan panti ini. Tolong jangan lakukan hal seperti ini lagi. Saya berjanji akan menjadi donasi tetap panti ini," ujar mas Dimas sebelum akhirnya kami meningalkan panti tersebut.




Kami masih dimobil saat kami mengecek dokumen milik pemuda yang mengasuh Diyara.



"Tunggu, mengapa mas seakan kenal dengan pemuda di foto ini ...."



"Siapa dia Mass?"



*Mas Dimaspun mengamati nama yang tercantum dalam dokumen tersebut, Bumi Pranadipta Abadi, Bumi ... iya benar, pemuda itu. Pemuda yang memiliki hati mulia dan mendonorkan darahnya untuk Mayra* ...



"Benarkah itu dia Mas?"



"Benar Sayang, setidaknya mas sedikit tenang, ia pria baik ... kita ke alamatnya sekarang!!"



🌷🌷🌷



🌻Happy reading❤❤


__ADS_1


🌻Tenang dulu ya my readersku, beberapa bab lagi😉


__ADS_2