Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah

Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah
Lupa Memberi Kabar


__ADS_3

Bismillah...


Lanjut lagi yaa❤❤


🌷🌷🌷


15:30


Angin sepoi-sepoi menemani langkahku menuju kossanku saat ini. Walau sejak pagi kupergi dan baru kembali, tiada letih kurasa. Namun sebaliknya aku sangat senang hari ini karena memperoleh ilmu banyak hal tentang agamaku.


Agama yang membersamaiku semenjak lahirku, aku merasa belum banyak mengenalmu. Dan mbak Alika seakan hadir di tetapkan Alloh untuk membuka mataku terhadap agama ini, agama yang membersamaiku.


Baru hitungan hari aku mengenal Mbak Alika namun entah mengapa aku merasa sangat dekat dengannya. Kata-katanya yang lembut, pribadinya yang baik serta kecantikan imannya yang membuatku malu dan seakan bertambah haus selalu diriku akan ilmu baru di kajian-kajian berikutnya.


Tiba-tiba sebuah getaran dalam tas yang kupakai menyadarkan kegaduhan otakku yang terus memikirkan teman baruku, mbak Alika.


Kutatap sebuah nama yang tertera di layar ponselku, tak lain ...


Firgie ...


Kenapa lagi-lagi sesak kurasa. Gie, mengapa aku merasa setiap ilmu baru yang kuperoleh seakan tak bersahabat dengan sosokmu dan kebersamaan kita. Bagaimana ini Gie?


Ingin aku bagi dan ceritakan setiap sesak yang kualami semenjak getar-getar iman mulai kurasa, tapi mampukah kau memahaminya?.


Terkadang kumerasa kau memiliki ilmu agama yang lebih dibandingku. Keluargamu lebih fahim terhadap agama ini. Harusnya kau tau hubungan ini salah sejak awal. Tapi kau tetap tak menyerah mendapatkan hatiku. Kini setelah hatiku benar-benar terpaut padamu, getaran iman mulai menyapaku. Dan sungguh dalam hatiku, aku tak ingin kehilanganmu.


Masih kutatap panggilan yang terus saja bergetar menungguku menggapainya.


Setelah berapa lama, tanganku spontan menekan tombol hijau dalam ponselku. Dan tersambunglah suaramu kini.


"Assalamu'alaikum" terdengar suara dingin dari balik ponselku.


"Wa'alaikum salam," jawabku.


"Akhirnya kau menjawab telfonku juga Lyra, kau tahu aku sangat menghawatirkanmu." Masih nada dingin terdengar jelas di suaranya.


"Maaf Gie, aku lupa mengabarimu," jawabku apa adanya.


"Kau dimana sekarang?" tanyanya lagi.


"Sedang berjalan menuju kossan" jawabku.


"Yasudah hati-hati, Assalamu'alaikum" terputuslah panggilannya.

__ADS_1


"Wa'alaikumusaalam," jawabku.


Tumben ia hanya mengatakan hati-hati dan langsung menutup telfonnya. Mengapa aku berfikir "Mungkinkah Firgie menungguku saat ini di kossan?"


Nada suaranya terdengar sangat dingin, Firgie pasti marah karena aku lupa mengabarinya. Sesaat tadi aku memang benar-benar tak mengingatnya, bahkan meraih ponselku pun tidak. Begitu mbak Alika sangat menghipnotisku.


Kupercepat langkah kakiku menuju kossanku saat ini. Dengan perasaan was-was benarkah Firgie menungguku. Duhh mengapa aku jadi sesak seperti ini membayangkan kemarahannya.


Kossan sudah di depanku kini, dan benar saja sebuah satria merah terparkir disana. Detak jantungku semakin memompa dengan cepat. Perasaan yang sama seperti malam itu, saat aku pergi dengan Kak Ridho dan Firgie menungguku, tapi aku sedang tidak berbuat salah besar atau pergi dengan laki-laki lain. Kesalahanku hanya satu, lupa mengabarinya.


Kubuka gerbang besi yang membatasi kami, tampak seorang pria sedang berjongkok disana, didepan kamarku. Firgie..


Tatapan matanya sungguh aku sangat takut melihatnya, kupilih memalingkannya saat ini. Kubuka pintu kamarku, iapun segera masuk dan duduk di tempat biasanya. Kuambilkan air dan tak lama aku ikut duduk disisinya. Firgie..


Melihat kediamannya, aku memutuskan memulai obrolan dengannya.


Kutarik nafasku panjang..


"Gie, maaf tadi aku lupa mengabarimu.." ucap dengan nada polosku.


"Apa tidak ada artinya aku untukmu Ly?" setelah beberapa saat terdiam ia mulai bertanya.


"Kenapa berbicara seperti itu? Aku hanya lupa mengabari dan tidak melakukan hal buruk dibelakangmu" ujarku.


Iya memang tadi aku benar-benar seakan tak ingat pada Firgie, tapi bukan berarti aku menghilangkanmu dari hatiku..berkata tentang hati. Apa ini?? Robbku pasti marah terhadapku, batinku.


"Tidak seperti itu Gie.." ujarku.


Firgie menarik tanganku,


"Lyra, tolong jangan pernah lupa mengabariku lagi!! Aku sangat hawatir." Tatapan dan ucapan yang tadi dingin kini berubah menjadi tatapan sendu dan ucapan yang lirih.


Ku anggukan kepalaku. Dan tiba-tiba terngiang ucapan Umi Farida di otakku. "Apa ada pacaran islami, apa bisa menjamin tidak ada tatapan dan sentuhan.." Dadaku sesak seketika, kutarik tanganku dari genggaman Firgie. Iapun menatapku.


"Ada apa Lyra?" tanyanya heran.


"Tidak ada apa-apa Gie." jawabku dengan mengurangi tatapan padanya..


"Oya tadi kau kemana saja? Apa isi kajian hari ini?" tanya Firgie padaku.


"Setelah kajian tadi aku ikut Mbak Alika ke gramedia, menemaninya mencari beberapa buku. Tentang isi kajian, tadi membahas fikih wanita mengenai Mencari teman yang baik."


"Seperti apa teman yang baik itu?" Firgie kembali bertanya.

__ADS_1


Aduh Gie, apa yang harus ku katakan padamu. Bahkan akupun ragu apakah kau teman yang baik menurut Alloh untukku. lagi-lagi aku berbicara pada hatiku.


"Teman Baik i- tu teman yang menjadikan kita lebih dekat kepada ALLOH SWT," jawabku.


"Lalu?" tanya Firgie lagi.


Sungguh kau ingin mengetahui kelanjutannya kah Gie? bahkan aku belum siap mengatakannya padamu, mendikte salah dan benar tentang kita yang akan berpengaruh pada hubungan ini. Yaa... Aku belum siap, untuk kehilangan atau meninggalkan.. Firgiee ...


"Lyra...??"


"Oh maaf Gie, Ya kita harus hati-hati mencari teman. Belum tentu orang yang baik, benar-benar memiliki niat baik kepada kita."


Duhh... apa yang kukatakan, aku hanya berkata yang muncul di otakku saja. Bukan materi yang sebenarnya.. Maaf Ya Robb, aku belum siap.


"Ada lagi??"


Aku menggeleng..


Sebetulnya banyak yang ingin kusampaikan Gie, tentang kemungkinan besar Alloh tidak menyukai hubungan kita dan mbak Alika yang melakukan ta'aruf. Tetapi aku bahkan tidak bisa mengatakan tentang pernikahan orang lain, hawatir menyinggungmu. Aku sendiri belum pernah bertanya tentang keseriusan dalam hubungan kita, yang aku tahu kau memiliki hatiku dan sebaliknya. Kita sudah tidak mencari yang lain dan saling nyaman, tapi untuk keseriusan. Apa ini terlalu cepat untukku mempertanyakannya. Usiaku bahkan baru memasuki kepala 2.


"Ly.. Lyra.. " panggil Firgie.


"Eh.. i-ya Gie.."


"Kenapa kau banyak melamun akhir-akhir ini sayang?" ujar Firgie.


Kubalas ucapannya dengan senyuman.


"Kau sudah sholat?" tanya Firgie.


"Sudah." Jawabku.


"Jalan Yuk..!!" ajar Firgie tampak matanya penuh pengharapan dan terlihat bersemangat.


Duhh gimana yaa??


Dan lagi-lagi, otakku mengatakan "Jangan Lyra." Tapi hatiku membuatku mengangguk mengiyakannya..


*Maafkan aku Ya Robb...


🌷🌷🌷


# Happy reading❤❤

__ADS_1


#Jangan lupa tinggalkan jejak🐾 kalian yaa😍😍


__ADS_2