Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah

Takdir Cinta Lyra, Antara Cinta Dan Hidayah
Obrolan Serius


__ADS_3

●Lanjuutt yaa👋☺..


●Jangan lupa like, komen, vote dan rate untuk karya Thor ini yaa, happy reading❤❤


🌷🌷🌷


Ibu berbisik dalam hatinya, "Putrinya di bawa juga rupanya dan sudah besar pula ternyata."



🌻Setelah membaringkan Mayra, Mas Dimas kembali duduk di ruang tamu bersama Bapak, Ibu, Mas Fahmi dan Kak Fida. Dan aku masih di dapur membuat minuman dingin untuk mereka.


Tak berselang lama akupun keluar. kusajikan minuman dan beberapa piring kue basah yang kubeli di pasar tadi pagi keatas meja dihadapan mereka. Akupun duduk di sisi Kak Fida setelahnya.


Tampak Mas Fahmi memulai bicaranya,


"Assalamu'alaikum warohmatullohi wabarokatuh ... " ucapan salam mengalun indah tanda suatu keseriusan dari pihak tamu yang saat ini sedang bertandang kerumahku.


Kami semua dalam ruang tamu tersebut seketika menjawab serempak, "Wa'alaikumussalam warohmatullohi wabarokatuh."


Mas Fahmi tak menunggu lama segera memulai pembicaraan kembali ...


"Bapak & Ibu orang tua Lyra yang saya hormati, saya disini selaku sahabat dari Saudari Dimas Anggoro (mas Fahmi menyentuh bahu Dimas) yang hari ini sangat bersemangat untuk bersilaturahmi ke kediaman Lyra. Kami sebelumnya berterima kasih sudah sangat baik di terima di rumah Bapak dan Ibu ...


Duhhh.. mengapa aku jadi gugup sekali mendengar setiap kata dari bibir mas Fahmi. Mas Fahmi tampak sangat serius bicaranya. Kutatap Bapak dan Ibu tampak serius pula mendengar setiap kata yang diucapkan Mas Fahmi sambil sesekali mereka menatap Mas Dimas, dan Mas Dimas ia tampak menunduk merasa sedang diperhatikan Bapak dan ibu. Mas Dimas pasti sangat gugup saat ini, batinku.


Kedatangan kami kesini tentunya bukan tanpa alasan Pak Bu, kami disini datang dengan niat baik dan pengharapan yang tulus untuk putri Bapak yang bernama Lyra. Untuk lebih jelas saya persilahkan sahabat saya Dimas untuk berbicara langsung pada Bapak dan Ibu."


Mas Fahmi tampak mempersilahkan Mas Dimas berbicara ...


Mas Dimas seketika mengangkat kepalanya, pandangannya langsung menuju kearahku (seolah mencari kekuatan & keberanian melalui tatapanku), sebuah senyum kemudian didaratkannya kepadaku yang membuat jantungku kian tak beraturan kini. Kak Fida yang menyadari segera meraih dan menggenggam tanganku seolah sahabatku itu berbicara "Tenang ... santai saja Lyra."


Mas Dimaspun memulai bicaranya kini,

__ADS_1


"Assalamu'alaikum warohmatullohi wabarokatuh," ucap salam mas Dimas dengan tenang.


Kamipun kembali menjawab dengan serempak, "Wa'alaikumussalam warohmatullohi wabarokatuh."


"Bapak dan Ibu, sebelumnya perkenalkan saya Dimas. Jujur saja saya tidak pintar berkata-kata. Seperti yang sahabat saya ucapkan sebelumnya, saya sangat berterima kasih atas penerimaan Bapak dan Ibu terhadap saya di rumah ini. Hari ini saya bersilaturahmi kesini sebagai bukti keseriusan saya terhadap putri Bapak, Lyra.


Mungkin Lyra sudah pernah bicara pada Bapak Ibu, bahwa saya pernah mengalami kegagalan pada pernikahan saya sebelumnya, tetapi mohon dengan sangat, kebesaran hati Bapak Ibu, untuk memberi saya kesempatan membahagiakan Lyra. (Mas Dimas tiba-tiba menunduk dan seketika Mas Fahmi meraih bahunya). Aku yang melihat kehawatiran dimata mas Dimas, ikut terbawa dan terus menahan agar tidak ada bulir yang keluar dari mataku. Tak lama Mas Dimas tampak mengangkat kepalanya kembali ...


Saya disini, ingin memohon restu kepada Bapak dan ibu untuk memberi izin kepada kami untuk mengukuhkan ikatan kami dalam suatu pernikahan. Sudikah kiranya Bapak dan Ibu memberi Restu pada kami?? Jika Bapak Ibu bersedia, segera akan saya bawa kedua orangtua saya untuk melamar Lyra secara resmi," tampak mata mas Dimas terus terfokus kepada Bapak dan Ibu dengan penuh pengharapan.


Mendengar tanya dari Dimas, Bapakpun seketika bicara,


"Sebelumnya, mari disambi (disambi\=dinikmati) dulu minumannya dan ini ada kue seadanya mas Fahmi, Nak Dimas, Mbak Fida," ujar bapak mempersilahkan dan berusaha menghilangkan ketegangan yang terjadi beberapa saat lalu. Tampak Ibu tidak banyak bicara namun matanya terus mengamati Dimas.


Tak menunggu lama ketiganya seketika meminum es sirup yang telah dibuatkan Lyra sebelumnya.


Bapakpun kemudian mulai bicara ...


"Saya terima niat baik dari Nak Dimas, dan terima kasih juga Mas Fahmi dan Mbak Fida sudah ikut bersilaturahmi ke gubug kami. Lyra sudah sering bercerita tentang Mas dan Mbak (menunjuk Fahmi dan Fida). Terima kasih kalian sudah menjadi sahabat dan membantu Lyra selama di Bekasi, karena Bapak sendiri untuk berpergian jauh naik motor sudah ringkih (ringkih\=sakit-sakitan/gak kuat untuk perjalanan jauh) jadi paling memantau Lyra hanya lewat hp saja.


"Saya 30 tahun Pak," jawab mas Dimas mantap.


"Ohh ... Nak Dimas, seperti yang Bapak bilang tadi, Bapak sangat menghargai niat baik Nak Dimas. Tapi yang seperti Nak Dimas lihat sendiri, beginilah kehidupan keluarga Lyra, kami hanya keluarga sederhana, Bapak juga hari-hari cuma narik angkot. Bapak perhatikan Nak Dimas bukan dari keluarga seperti kami. Apa Nak Dimas gak malu punya istri anak sopir angkot?" ujar Bapak sungguh-sungguh.


"Astagfirulloh Pak, Insyaa Alloh Dimas tidak mempermasalahkan hal itu, Dimas mencintai Lyra (melirik Lyra), dan menerima apapun kondisi Bapak dan Ibu. Dan Dimas tidak malu Pak," ucap mas Dimas sungguh-sungguh pula.


Tiba-tiba ibu yang sejak tadi terdiam tampak membuka suara ...


"Nak Dimas, dulu pernah bercerai bukan? boleh ibu tau kenapa?" tegas Ibu.


"Ibu," panggilku lirih tak suka dengan pertanyaan yang ibu lontarkan.


"Gpp Ly (ujar mas Dimas kearahku). Iya, memang Dimas pernah berpisah dengan istri Dimas sebelumnya Bu, semua karena istri Dimas telah bermain di belakang Dimas dengan pria lain, dan Dimas sudah memberi kesempatan istri Dimas untuk memperbaikinya, tapi ternyata ia tetap tidak menghargai Dimas dan melakukan kesalahan kembali, akhirnya Dimas memutuskan berpisah dengannya." Mas Dimas tampak menjelaskan.

__ADS_1


"Apa Nak Dimas yakin Lyra bisa menjadi istri yang baik?" tanya ibu.


"Insyaa Alloh Dimas yakin Bu," jawab mas Dimas.


"Dimana mantan istri Nak Dimas? kalian ada anak, ibu gak mau suatu saat dia cari masalah atau hadir lagi di kehidupan kalian?" tegas Ibu.


"Dimas sudah lama loose kontak dengannya Bu, dia juga gak menginginkan putrinya. Jadi Dimas yakinkan dia gak akan muncul lagi Bu," ucap Mas Dimas.


Seketika kurasakan sebuah tangan kecil memeluk tubuhku ...


"Bunda ... " ucap Mayra dengan nada manjanya.


"Kau sudah bangun Nak?" ucapku sambil kuraih tubuh mungilnya kepangkuanku.


"Lumah Bunda sangat jauh, Mayla sampai teltidul tadi di mobil bund," celoteh Mayra sambil tersenyum padaku tampak sangat menggemaskan.


Berkali-kali kukecup pangkal rambutnya, aku suka harum anak kecil, batinku.


"Siapa yang memandikan Mayra tadi pagi, harum sekaliii," ujarku.


"Ayahh yang memandikan Mayla Bund ... " polos Mayra.


"Lyra, jawab ibu!! Sedekat apa hubungan kalian sebenarnya? Ini anak Dimas kan? kenapa ia sudah memanggilmu Bunda?" ujar ibu heran.


"Tante, mohon jangan salah paham, Mayra memanggil bunda kepada Lyra, sebetulnya ikut-ikutan Irsya putra kami yang juga memanggil seperti itu, dan semua sebelum Lyra tau kalau Mayra putri Dimas," ucap Kak Fida membantuku menjawab.


"Begitukah?" ibu memastikan.


"Iya bu," jawabku.


Tak berselang lama sebuah motor berhenti di pekarangan rumahku, seorang pria dan wanita tampak turun dan berjalan mendekat ke rumahku, sang wanita tampak menggendong balita berusia 1 tahun ...


Apakah reader disini tau kira-kira siapa pasangan yang baru tiba di rumah Lyra dengan menggendong putra kecilnya tersebut??

__ADS_1


🌷🌷🌷


🌻Happy reading❤❤


__ADS_2